Home / Rumah Tangga / Madu Pemberian Ipar / Tamparan Untuk Runi.

Share

Tamparan Untuk Runi.

Author: Kurnia_cy
last update publish date: 2025-10-09 18:44:46

"Ngapain Mbak melototin aku? Kalau udah miskin ya diakui aja. Salah Mbak juga sih, nggak mau ikut kerja, cuma ngandelin uang suami. Coba kalau Mbak kerja, tentu kalian akan bisa mendapatkan uang yang banyak dan bisa merenovasi rumah ini sehingga aku akan betah tinggal di sini. Lagian kan kalian belum punya anak, jadi nggak masalah kalau Mbak juga ikutan kerja. Tapi emang susah sih, kalau orang dasarnya pemalas. Mana mau dia peduli pada suaminya yang pontang panting cari uang di luar sana!"

Plak!

Sebuah tamparan hinggap di pipi Runi. Walau tidak terlalu keras, tapi tamparan itu cukup membuat pipinya yang putih itu menjadi agak kemerahan.

Runi membelalakkan kedua matanya. Ekspresi kaget bercampur amarah tergambar jelas di wajahnya.

"Kau!" seru Runi sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah kakak iparnya.

"Dek!" tegur Yanto yang juga tak kalah kagetnya.

"Kenapa? Mau marah? Mau protes? Silakan, aku nggak ngelarang. Orang berlidah tajam sepertimu memang pantas ditampar. Tadi kau bilang aku pemalas? Hei, bukannya semua perkataan itu cocok untukmu? Selama kau menikah, apa pernah kau bekerja membantu suamimu? Tidak, kan? Pekerjaan rumah tangga pun tak pernah kau sentuh, semua diserahkan sama pembantu. Sekarang udah cerai, malah ngerepotin orang lain. Sadar diri, dong! Kau ini cuma numpang di sini. Jadi tau dirilah sedikit!" ucap Viana dengan emosi.

"Itu karena Mas Andri sangat mencintaiku, makanya dia tidak ingin aku melakukan itu semua. Lagipula kami orang kaya, kalau bisa membayar orang untuk bekerja, kenapa kami pula yang harus turun tangan. Emangnya kalian, orang kere yang apa – apa harus dikerjakan sendiri dan siapa bilang aku numpang di sini, ini rumah abangku. Jadi nggak ada salahnya kalau aku mau tinggal di sini," balas Runi tak mau kalah.

Viana membuka mulut, bersiap untuk membalas ucapan Runi, tetapi keburu dicegah oleh Yanto yang mulai jengah dengan perdebatan kedua wanita itu.

"Dek, Runi! Sudahlah! Kalian ini apa – apaan, baru bertemu sudah ribut kayak gini. Apa kalian tidak malu didengar oleh tetangga?"

"Dia yang mulai duluan, Bang," kilah Runi sambil menunjuk ke arah Viana.

"Apa kau bilang?" tukas Viana sambil berkacak pinggang.

"Kubilang diam! Jangan ada yang bicara lagi!" bentak Yanto dengan suara keras, membuat keduanya langsung mingkem dan suasana pun menjadi hening untuk beberapa saat.

"Mas, tolong urus adikmu itu. Aku ke dalam dulu," ucap Viana memecahkan keheningan.

Setelah berkata demikian, Viana segera berlalu meninggalkan kedua orang itu menuju ke kamarnya. Dia butuh waktu sejenak untuk meredam emosinya akibat kelakuan adik iparnya itu.

"Dasar ipar jahat," sungut Runi sambil mengusap pipinya yang mendapat hadiah tamparan tadi.

"Kamu juga keterlaluan, Run! Kamu menghina rumah ini, padahal kamu sendiri yang minta tinggal di sini," tegur Yanto.

"Lho, kenapa jadi aku yang salah? Aku kan cuma memberikan pendapatku. Kalian aja yang kelewat sensi," sewot Runi.

Yanto menyugar rambutnya dengan kasar, dia kesal sekali melihat tingkah sang adik yang menyebalkan itu. Padahal tadi dalam perjalanan menuju ke rumah, Yanto sudah berulangkali mewanti-wanti Runi agar tidak berperilaku yang membuat orang menjadi emosi.

"Sudahlah! Abang tidak mau lagi berdebat. Yang jelas, kalau kamu mau tinggal di sini, ikuti peraturan kami dan jangan bertingkah seenaknya," tandas Yanto yang mulai merasa gerah dengan situasi saat itu.

"Ayo, sekarang ikut abang. Kita ke kamar kamu," lanjut Yanto sembari menarik koper Runi menuju ke kamar tamu.

"Huh, dasar. Nggak abang, nggak ipar, dua-duanya sama nyebelin," gerutu Runi pelan.

Meskipun hatinya mendongkol, Runi tetap mengikuti langkah abangnya itu.

Setibanya di kamar yang dimaksud, lagi-lagi Runi dibuat nelangsa karena kamar tersebut tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Di dalam ruangan berukuran 3x3 meter itu, hanya terdapat sebuah tempat tidur yang dilapisi dengan kasur biasa beralaskan sprei warna biru cerah dan di atasnya terdapat sebuah bantal dan guling bersarungkan kain yang senada dengan spreinya. Di samping tempat tidur, terdapat sebuah meja kecil lengkap dengan kursinya dan di salah satu sudut ruangan, berdiri tegak sebuah kipas angin berwarna hijau cerah. Di sebelahnya terdapat lemari pakaian berwarna cokelat yang terbuat dari kayu. Pada bagian dinding yang berhadapan dengan tempat tidur, tergantung sebuah jam berbentuk bulat, berdampingan dengan sebuah cermin berbentuk persegi.

Runi memandang ke sekeliling kamar dengan wajah masam, sebuah kamar yang benar – benar jauh dari bayangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Madu Pemberian Ipar    Feyla Hamil

    Yanto serasa tidak mempercayai pendengarannya sendiri sehingga dia mengulangi kembali ucapan dokter Rico.“Benar, Pak. Tapi saat memeriksa kondisi pasien tadi, kami menemukan bahwa tekanan darahnya naik. Pasien sempat bercerita kalau tadi dia sedang emosi. Kondisi ini dapat membahayakan kandungannya. Jadi Pak, saya harap dengan mengetahui kehamilan ini, Bapak bisa membantu istri Bapak untuk menjaga emosinya agar lebih stabil dan tidak gampang marah-marah,” papar dokter Rico.Wajah Yanto yang tadinya sumringah kini berubah sedikit muram. Rasa penyesalan timbul di dalam hatinya. Bagaimana tidak, karena ulahnya yang nekat mencari Viana secara diam-diam membuat dirinya bertengkar dengan Feyla yang berujung pada terancamnya calon anak mereka yang saat ini ada dalam rahim istrinya itu meskipun pada awalnya dia sama sekali tidak mengetahui perihal kehamilan Feyla tersebut.“Baik, Dok. Terima kasih telah menolong istri saya.”“Sama-sama, Pak. Itu sudah merupakan tugas kami. Saat ini istri Bap

  • Madu Pemberian Ipar    Perdebatan Suami Dan Istri

    Langit pada siang hari itu tampak mendung. Awan-awan hitam menggantung di angkasa, menyembunyikan sang surya dalam dekapannya. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan pasir dan debu yang ada di jalanan membuat pedih mata orang yang dimasukinya. Orang-orang yang sedang berlalu lalang tampak bergegas dan mempercepat langkah karena mereka sudah bisa memprediksi bahwa sebentar lagi sekumpulan air dalam jumlah besar akan mengguyur bumi.Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian hujan turun dengan deras disertai angin yang makin kencang. Udara terasa dingin seketika membuat tubuh menggigil.Akan tetapi, suasana tersebut berbanding terbalik dengan suasana di dalam sebuah ruangan di suatu gedung perkantoran yang saat ini sedang diliputi aura ketegangan karena adanya suatu masalah.“Jelaskan padaku, Mas! Kenapa bisa ada surat panggilan dari kepolisian untukmu? Apa yang sudah kau lakukan sampai kau harus berurusan dengan pihak kepolisian?!” cecar Feyla dengan nada keras sambil mengacung-acun

  • Madu Pemberian Ipar    Ke Kantor Polisi

    Tendangan itu cukup membuat Yanto kesakitan sehingga gunting yang tadi dipegangnya terlepas dan jatuh ke lantai sedangkan cekalannya pada Viana mulai melonggar. Menyadari ada kesempatan untuk membebaskan diri, Viana segera mendorong tubuh Yanto ke samping dan dengan cepat dia berlari menjauhi Yanto, bersembunyi di belakang bu Nining dengan tubuh yang masih gemetaran karena syok dengan perilaku Yanto tadi.“KURANG AJAR! SIAPA YANG MENENDANGKU?!” teriak Yanto dengan suara keras. Matanya berputar cepat menyapu wajah orang-orang di sekitarnya. Kilatan amarah terpancar jelas dari bola matanya yang memerah.“AKU!”Sesosok tubuh ramping berbalut baju kaos dan celana jeans dengan potongan rambut pendek maju dan berdiri tegap di hadapan Yanto.‘Vera?’ gumam Viana terkejut dalam hatinya. Vera adalah anak pemilik toko bangunan yang ada di sebelah minimarket bu Nining. Gadis itu berusia dua puluh lima tahun dan Viana sudah berkenalan dengan Vera beberapa hari setelah dia bekerja di minimarket ter

  • Madu Pemberian Ipar    Pertemuan Yang Tidak Diinginkan 

    Beberapa hari kemudian...Viana sedang menata kemasan makanan ringan dan bumbu dapur di rak pajangan ketika sebuah suara menyapa indra pendengarannya dari arah belakang."Viana."Seketika tubuh Viana menegang mendengar suara yang familiar itu, suara yang sosok pemiliknya sudah mulai Viana lupakan. Kemasan bumbu dapur yang semula berada dalam genggamannya, tanpa sadar terlepas dan menimbulkan bunyi 'pluk' ketika benda itu bertemu dengan lantai.Dengan dada berdebar kencang, Viana memutar tubuhnya perlahan dan ketika tubuhnya sudah berdiri sempurna berhadapan dengan orang yang menyerukan namanya itu, sepasang bola matanya sontak terbelalak lebar."M-mas Yanto," desisnya lirih.Ya, ternyata orang yang memanggil Viana itu adalah Yanto. Berbanding terbalik dengan Viana yang tampak terkejut melihat kehadiran Yanto, Yanto malah terlihat sangat gembira dan tersenyum lebar melihat sosok yang selama ini begitu dirindukannya sedang berdiri di hadapannya."Benar, Dek. Ini aku, suamimu," sahut Yan

  • Madu Pemberian Ipar    Usaha Yang Gagal

    Galuh menatap Yanto dengan tatapan datar. Wanita yang kini memegang mandat dari Viana untuk mengurus perceraiannya itu tetap bersikap tenang, tak tergoyahkan meski lawan bicaranya terkesan mengintimidasi lewat perkataannya barusan. Sudut bibirnya sedikit melengkung, dia bisa merasakan nada keputusasaan dalam gertakan Yanto itu."Saya memang mengetahui alamat Viana, tetapi Viana sudah berpesan kepada saya untuk tidak memberitahukannya kepada Anda dan saya akan memegang amanat dari Viana itu. Jadi mohon maaf, saya tidak bisa membantu Anda, Pak Yanto," ucap Galuh jujur."Tolonglah saya, Bu. Beritahukan alamatnya. Saya tidak akan menganggunya, saya hanya ingin mengetahui keadaannya, apakah dia baik-baik saja atau tidak," pinta Yanto dengan memelas, berharap Galuh akan luluh.Tidak pernah terlintas dalam pikiran Yanto bahwa Viana akan kembali ke rumah orang tua angkatnya karena Yanto beranggapan bahwa Viana pasti tidak akan berani pulang ke sana. Viana pasti akan malu kalau ketahuan kabur

  • Madu Pemberian Ipar    Persidangan Pertama 

    Di siang hari yang terik itu, sebuah mobil mewah berwarna merah metalik memasuki halaman luas sebuah gedung. Mobil tersebut terus meluncur menuju area parkiran. Setelah menemukan tempat parkir yang pas, mobil pun berhenti dan dari dalam turunlah dua orang pria dan wanita. Keduanya berjalan menuju gedung dengan langkah lebar.Ketika hendak memasuki area dalam gedung, tiba-tiba langkah si pria terhenti dan itu membuat wanita yang berjalan di sampingnya menjadi heran dan bertanya-tanya."Bang, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya si wanita.Si pria tidak menjawab. Dia malah menatap nanar bangunan bercat putih yang berdiri kokoh di hadapannya, mulai dari bagian atas gedung hingga ke bawahnya."Bang!" tegur si wanita sekali lagi.Si pria memandang si wanita lalu menghembuskan napas berat."Abang kenapa sih? Kok jadi galau kayak gini?" protes si wanita."Apakah ini akhirnya, Run? Apa memang harus begini nasib pernikahanku dengan Viana?""Ish, Abang ini gimana sih, tadi sebelum datang ke sini, A

  • Madu Pemberian Ipar    Susi Diinterogasi

    "Pulang? Apa tadi dia tidak ke sini untuk meminta es batu kepada Mbok?" tanya Feyla dengan dahi berkerut."Ada, Non. Hanya saja, dia mengompresnya sebentar saja dan sekarang sudah pergi. Duh, kasihan den Yanto nya ya, Non. Kejedot pintu sampai wajahnya lebam begitu," cerocos Mbok Nah."Hah? Kejedot

  • Madu Pemberian Ipar    Berbicara Empat Mata 

    Sejenak hatinya meragu, tapi dengan cepat dia memantapkan kembali hatinya."Iya, Pak. Saya tetap pada keputusan saya."Mendengar jawaban Yanto yang mantap itu, Feyla tersenyum lebar dan dia merasa sudah menjadi pemenang dalam memperebutkan cinta Yanto.Sementara itu, Pak Indra terdiam untuk sesaat

  • Madu Pemberian Ipar    Keputusan Yanto

    Pak Indra tidak menanggapi ucapan Feyla. Tangannya memijat kepalanya yang terasa pening memikirkan dampak dari perbuatan putrinya itu. Nama baiknya dan nama baik perusahaan menjadi taruhannya jika berita ini sampai bocor ke publik."Lantas apa pernah terpikir olehmu Feyla, akan nama baik perusahaan

  • Madu Pemberian Ipar    Disidang

    Dengan patuh, Feyla dan Yanto melakukan apa yang disuruh oleh Pak Indra.Setelah keduanya duduk, Pak Indra pun mulai berbicara."Feyla, Yanto, jujur aku amat sangat marah melihat perbuatan kalian ini. Tidak pernah terlintas di pikiranku kalian bisa berbuat begini. Kalian, dua orang yang ku sayangi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status