LOGIN
Wanita mana yang tidak akan bahagia saat bisa hamil setelah penantian lima tahun lamanya. Dan sekarang, hal itu dirasakan oleh Maira.
Namanya Maira Nayara Adisti. Sejauh ini, Maira merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Punya suami baik, kaya raya, dan mencintainya meskipun Maira susah hamil. Sekarang kebahagiaan Maira bertambah saat dokter mengatakan dirinya tengah hamil tiga minggu. “Mas Revan pasti seneng banget saat tau aku hamil.” Sepanjang berjalan di depan ruangan dokter kandungan, Maira tak hentinya tersenyum sambil meraba perut ratanya. Setelah penantian yang begitu lama, akhirnya sekarang Maira bisa memberi sang suami gelar seorang ayah. “Sayang, pelan-pelan jalannya!” Deg! Tubuh Maira membeku ketika melihat seseorang yang amat ia percaya dan selama ini ia kira adalah pria terbaik di dunia, kini sedang berjalan di depan sana menuntun seorang wanita asing. “I-itu nggak mungkin Mas Revan kan?” gumam Maira, mencoba menolak kenyataan di depan matanya. Namun saat sepasang manusia itu semakin dekat, Maira semakin yakin pria itu memang suaminya. Ia tidak mungkin salah mengenali seseorang yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya — dari suara, aroma parfum, hingga postur tubuhnya, semua terlalu familiar. “Tenang aja, Mas. Kata dokter kandungan aku udah lewat tiga bulan, jadi harusnya udah jauh lebih aman kan?” Wanita yang terlihat lebih muda dari Maira itu tersenyum bahagia menikmati perhatian dari lelaki yang Maira panggil suami. Senyum bahagia Maira langsung redup. Orang yang paling ia percayai, orang yang ia cintai, kini sedang memanjakan wanita lain. “Tadinya aku mau kasih dia kejutan, tapi malah aku yang dapat kejutan.” Dada Maira terasa sesak. Pria yang selama ini bersikap manis padanya, ternyata juga bersikap sama pada wanita lain. “Tetap aja aku nggak tenang. Kamu tunggu di sini, biar aku aja yang ambil vitamin dari dokter,” ujar Revan sambil menuntun wanita itu duduk. Begitu Revan pergi, Maira buru-buru bersembunyi. Ia tidak mau bertemu dengan suaminya dalam situasi seperti ini. ‘Kenyataan macam apa ini, Tuhan? Di saat aku ingin memberinya kejutan tentang kehamilan ini, kenapa dia malah datang ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan selingkuhannya?’ Maira membekap mulutnya, menahan jerit dalam hati. Rasa sakitnya luar biasa saat tahu suaminya bukan hanya berselingkuh, tapi juga menghamili wanita lain. Dia Revan Pradipta, pengusaha muda yang sukses. Banyak wanita memimpikan menjadi istrinya. Revan dan Maira menikah lima tahun lalu, di usia yang masih muda — dua puluh empat tahun — karena cinta. Tapi sekarang, Maira merasa dibodohi. Lima tahun hidupnya sia-sia bersama pria pembohong dan tukang selingkuh. Ketika Revan sudah pergi, Maira keluar dari persembunyiannya. Ia menatap wanita yang tengah mengandung benih suaminya dari kejauhan. Wanita itu — Riri — bahkan tersenyum remeh sambil mengusap perutnya yang sudah menonjol, seolah mengejek ketidakmampuan Maira. “Dia pasti tau aku,” gumam Maira sinis. Mana mungkin tidak. Semua orang di kota ini tahu bahwa Maira adalah istri Revan. Mereka sering menjadi sorotan media karena keharmonisan rumah tangganya dan karier gemilang sang suami. Tidak ingin berurusan dengan si pelakor itu, Maira pergi dengan elegan. Untuk anak yang sedang ia kandung, Maira bersumpah tidak akan memberitahu Revan soal kehamilannya. “Nggak ada maaf untuk seseorang yang selingkuh. Rasa sakit ini akan aku pendam sendiri, Mas.” Maira menghapus kasar air matanya. Meskipun bibirnya mengutuk suaminya ribuan kali, nyatanya hatinya tak bisa bohong. Ia masih mencintai Revan — dan itu yang paling ia benci dari dirinya sendiri. ***** Kenyataan pahit yang Maira lihat siang tadi masih menghantui pikirannya hingga larut malam. Pukul satu pagi, Revan belum juga pulang. “Pasti Mas Revan lagi sama wanita itu,” lirih Maira sembari menatap nanar foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding kamar. Ia berdiri di depan foto itu, menatap wajah bahagianya sendiri lima tahun lalu. “Sejak kapan, Mas? Sejak kapan kamu mengkhianati pernikahan kita?” Air mata kembali jatuh. Matanya bengkak, jiwanya runtuh. Ceklek! Pintu kamar terbuka, menampilkan Revan dalam keadaan berantakan. ‘Tuhan, apakah suamiku baru saja menghabiskan malamnya dengan wanita itu?’ “Loh, Sayang. Kenapa belum tidur?” tanya Revan lembut, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Maira. “Ini udah malam, nggak biasanya kamu belum tidur jam segini.” Maira memejamkan mata. Sikap lembut itu — yang dulu membuatnya jatuh cinta — kini terasa seperti racun. “Aku nggak bisa tidur, Mas. Banyak sekali yang terjadi hari ini,” ucap Maira lirih, menahan amarah yang hampir pecah. “Kenapa, Sayang? Ada masalah apa? Coba cerita sama aku,” bisik Revan sambil menciumi lehernya. “Bukan masalah besar, Mas. Oh ya, kamu darimana jam segini baru pulang?” “Abis lembur di kantor, Sayang.” Maira tahu itu bohong besar. Leher Revan dipenuhi bekas merah seperti polkadot. “Kamu masih ingat kan, Mas, kenapa aku susah buat hamil lagi?” tanya Maira tiba-tiba. “Seumur hidup aku nggak akan lupa, Sayang,” jawab Revan sambil mempererat pelukan. Revan sangat menyayangi Maira, hanya Maira yang ia cintai — setidaknya itu yang selalu ia katakan. Tapi entah alasan apa yang membuatnya tetap berselingkuh dengan Riri. “Kalau waktu itu kamu nggak mabok, kita nggak akan kecelakaan. Mungkin sekarang anak kita udah usia empat tahun,” lirih Maira. Lima tahun lalu, Maira tengah hamil delapan bulan. Mereka menghadiri acara bisnis, dan di sana Revan dijebak minum alkohol sampai mabuk berat. Maira sudah ingin menyetir sendiri, tapi Revan bersikeras mengemudi. Akhirnya, mereka menabrak pohon besar. Benturan keras menghantam perut Maira yang besar, membuat bayi mereka tak terselamatkan. Sejak itu, ia sulit untuk hamil lagi. Dan kini, di saat keajaiban itu datang, Revan justru mengkhianatinya. “Maafin aku, Sayang,” bisik Revan dengan mata memerah. Ia masih menyesali kejadian itu. “Aku sakit banget, Mas… tiap saat dituntut sama keluarga kamu buat segera punya anak. Aku capek.” “Aku ngerti, Sayang. Makanya kita nyerah aja. Nggak usah program bayi tabung lagi yang bikin kamu disuntik tiap hari.” “Terus kamu maunya kita gimana?” Maira melipat tangan di dada, berusaha menahan emosi. “Kita nyerah aja, Sayang. Kita masih bisa adopsi anak.” Maira tidak menjawab. Ia hanya naik ke ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia menangis diam-diam. ‘Jelas aja kamu nyuruh aku menyerah, Mas. Kamu sudah mau punya anak dari wanita lain.’ Sementara Revan duduk termenung di sisi ranjang, menyusun rencana yang ia pikir sempurna — hidup bahagia dengan Maira dan dengan anak kandungnya juga. “Aku tidak akan membiarkan rencana itu gagal,” gumam Revan pelan.Meskipun dalam hatinya Maira sangat mengutuk wanita di hadapannya ini, tapi bibir Maira tetap tersenyum. Tidak akan Maira tunjukkan dengan lantang bahwa dia membenci Riri.“Untuk maaf mungkin nggak semudah itu, Riri. Tapi kalau kamu udah sadar ya itu bagus, aku harap nggak ada lagi korban berikutnya dari serakahnya kamu,” balas Maira sangat menohok hati Riri.Maira masih mempertahankan senyumnya. “Aku permisi, carilah kehidupan terbaik dan aku harap kamu terhindar dari rasa sakit yang aku rasakan karena ulah kamu.”Riri hanya bisa menelan ludah dengan kelu menatap punggung Maira perlahan menghilang.Sedangkan Revan, pria itu sangat kacau. Revan sampai jalan kaki dari pengadilan agama sampai ke rumahnya sambil melamun. Revan bahkan sampai melupakan mobilnya yang masih ditinggal di pengadilan agama.Pria itu sangat linglung dan ingin menolak kenyataan bahwa Maira sudah bukan lagi miliknya.Sesampainya di rumah, Revan
Di depan ruang sidang, beberapa orang sudah duduk menunggu. Namun pandangan Maira langsung tertarik pada satu sosok yang berdiri dekat pintu.Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas hitam, tapi wajahnya terlihat jauh lebih kusut dibandingkan biasanya. Di sampingnya berdiri seorang pengacara, merapikan berkas-berkasnya sambil sesekali berbisik pada Revan, namun Revan tidak mendengarkan. Tatapannya terpaku pada Maira sejak detik ia muncul di lorong.Maira merasakan tatapan itu seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak terucap. Tapi Maira memilih memalingkan mata. Ia sudah terlalu lelah untuk mencari makna dari sorot pria itu.Pintu ruang sidang akhirnya dibuka. Panitera mempersilakan kedua pihak masuk.Maira duduk di kursi sebelah kiri bersama pengacaranya, sementara Revan duduk di kanan bersama tim hukumnya. Suasana tegang, namun hening. Hanya suara kertas yang dibalik dan detak jam di dinding yang terdengar jelas.Majelis hakim memasuki r
Hari ini adalah sidang pertama perceraian Maira dan Revan. Suasana di sekitar pengadilan agama sudah cukup ramai, namun di sebuah restoran kecil tak jauh dari gerbang utama, Maira duduk berdua dengan Zila ditemani segelas teh hangat yang sudah mulai kehilangan asapnya. Maira menatap jam. Masih ada satu jam sebelum sidang dimulai. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri. Perasaannya tegang, tapi hatinya sudah mantap dengan keputusan ini. Ia sudah mempersiapkan mental sejak lama untuk hari seperti ini. Namun sebelum Maira sempat menyesap tehnya, suara langkah tergesa-gesa datang dari arah pintu masuk restoran. “Maira!” Maira langsung menoleh. Wita dan Mario berdiri di sana dengan wajah kusut, jelas sekali mereka sudah menunggu momen untuk bisa menemui Maira sebelum sidang dimulai. Maira hanya merapikan duduknya, tidak kaget, tidak pula ramah melihat dua orang yang paling berperan dalam hancurnya rumah tangga
"Sangat berusaha," jawab Revan, "hanya kalian yang menutup mata dari perjuangan Maira sampai aku pun tersesat lewat jalan pilihan kalian." "Tapi tetap saja kan dia susah untuk punya anak." Wita masih tidak mau disalahkan. "Ma, jangan kayak orang yang nggak tau terimakasih gitu. Dulu Maira keguguran sampai susah hamil lagi juga gara-gara kebodohan aku sebagai suami, jadi stop nyalahin Maira," tegas Revan. Wita berdiri mematung di ruang tamu, menggenggam tas tangannya begitu erat hingga buku jarinya memutih. Mario hanya bisa menatap barang-barang mereka yang sudah menumpuk dekat pintu, koper, kardus, dan beberapa tas besar yang tadi mereka sendiri bantu kemas. Rumah yang biasanya terasa luas dan nyaman kini berubah jadi ruang penghakiman yang menyesakkan. “Revan, Mama mohon, pikirkan lagi,” kata Wita dengan suara Wita bergetar, bukan sekadar sedih, tetapi juga terpukul oleh kenyataan bahwa putranya benar-benar
“Ha-halo, Riri?” Suara Wita terdengar dari ponsel itu. “Kenapa kamu telepon jam segini? Kamu sama Revan, kan?” Begitu mendengar nama Revan, tangis Riri pecah lagi. “Ma,” Suara Riri parau dan sesenggukan. “Aku, aku keguguran, Ma.” Wita langsung terdiam. Lalu suara pecahan kaca terdengar dari arah sana, entah apa yang terjatuh. “A-apa yang kamu bilang? Riri, astaga Tuhan, Riri aa,” jerit Wita, napasnya tersendat-sendat. “Cucu Mama, cucu Mama lagi—” Tangis Wita pecah. “Ya Allah, pertama Maira, sekarang kamu, kenapa, jadi seperti ini?" Riri memejamkan mata, membiarkan tangis Wita melebur dengan isakannya sendiri. “Mas Revan pergi. Dia ninggalin aku, Ma. Dia bilang dia nggak mau sama aku lagi, Aku takut, Ma. Aku nggak punya siapa-siapa.” Wita menangis semakin keras. “Riri, kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Mama, kamu datang ke rumah. Kamu tinggal sama Mama. Revan itu memang keras kepala, tapi dia pasti bali
Revan berlari di koridor rumah sakit dengan napas tak beraturan. Pak Hans mengabarkan kegawatannya, dan meski seluruh tubuh Revan masih diliputi amarah pada Riri, darah daging tetaplah darah daging. Begitu pintu ruang IGD terbuka, suster keluar sambil menunduk. “Maaf, Pak. Kami sudah berusaha. Janinnya tidak bisa diselamatkan.” Deg! Dunia seakan berhenti sesaat. Namun bukan kesedihan yang menyeruak yang ia rasakan, melainkan sebuah kepahitan yang menohok dada. Revan mengembuskan napas panjang, menunduk, tetapi bukan karena kehilangan. Melainkan karena menyadari satu hal, segalanya kini kembali ke titik nol. Dia kehilangan Maira dan calon anak mereka, dan sekarang anak yang selama ini ia harapkan dari Riri juga sudah tiada. Di dalam ruangan, Riri terbaring lemah, wajahnya sembab, rambut berantakan, tangannya meremas selimut erat-erat. Begitu melihat Revan masuk, Riri langsung







