로그인Maira merasa sesak berada di rumah, wanita itu ingin menghindari lelaki yang sudah tega mengkhianati dirinya untuk beberapa jam saja.
Entah disengaja atau tidak, kaki jenjang Maira memasuki toko perlengkapan anak mulai dari bayi sampai anak usia tujuh tahun di sebuah mall terbesar di kota ini. Maira tersenyum tipis menyentuh beberapa helai baju bayi yang sangat lembut. Tiba-tiba saja tangan Maira bergerak mengusap perut ratanya. “Kalau kamu perempuan, pasti akan sangat lucu pakai baju ini, Sayang,” gumam Maira dengan senyum bahagia yang tak dapat disembunyikan. Maira memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan masalah Revan yang berkhianat. Ia lebih memilih menjaga janinnya baik-baik, lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk Maira berikhtiar menunggu anak yang sedang ia kandung. ‘Bahkan aku rela melepaskan laki-laki itu asalkan anak ini lahir dengan selamat,’ batin Maira. “Permisi, Kak. Kakaknya mau cari baju bayi?” Seorang gadis yang bekerja di toko itu menghampiri Maira dengan senyum yang sangat ramah. Maira ikut tersenyum. “Bukan, Kak. Saya cuma mau lihat-lihat dulu, nanti kalau ada yang cocok saya beli.” Pegawai itu pergi setelah berucap ramah pada Maira. Tapi beberapa saat setelahnya, Maira mendengar suara-suara yang sangat familiar di telinganya. “Ini baju yang cocok untuk ibu hamil, Riri. Bahannya lembut, pasti selama masa hamil ini baju ini akan sangat nyaman untuk kamu gunakan.” Maira melihat jelas wanita sudah berumur tengah memberikan beberapa perlengkapan ibu hamil pada seorang wanita yang dipanggil Riri. Selain menjual barang-barang anak-anak, ternyata di sini juga menyediakan perlengkapan ibu hamil sampai ibu menyusui. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Maira, melainkan sepasang orang tua yang menggandeng bahagia si Riri itu. “Kalau nanti anak kamu perempuan, Papa akan belikan baju ini untuk dia.” Pria berumur dengan rambut yang sudah memutih semua itu terlihat sangat bahagia memegang baju bayi berwarna pink. “Bukan, Pa. Anak Riri pasti laki-laki yang akan menjadi seorang pewaris.” Bagaikan ditikam seribu panah, seluruh tubuh Maira terasa sakit melihat pemandangan di depan sana. Perhatian yang seharusnya menjadi miliknya malah didapatkan oleh wanita lain. “Aku nggak nyangka, ternyata Mama sama Papa mertua juga mendukung penuh dan juga udah tahu pengkhianatan anak mereka,” lirih Maira. Sekuat tenaga Maira menahan air matanya. “Aku yang berjuang menemani dari nol sampai dia sukses, anak orang lain yang akan menjadi pewaris dia. Sungguh takdir yang lucu.” Maira terkekeh sinis di balik hatinya yang sangat sakit. Ayah mertua dan ibu mertua yang selama ini selalu mendesaknya agar hamil lagi tanpa mau tahu penyebab dirinya sempat keguguran sampai sulit hamil lagi gara-gara anak mereka, kini mereka justru sedang berbahagia menjaga kehamilan selingkuhan anak mereka. “Aku nggak boleh lemah.” Dengan langkah anggun, Maira menghampiri tiga manusia itu. Maira bisa melihat dengan jelas mertuanya itu begitu terkejut melihat dirinya ada di sana. “A–Maira, kamu juga ada di sini?” Ayah mertua Maira tergagap dan terlihat pucat seperti seseorang yang tertangkap basah sedang mencuri. “Seperti yang Papa lihat,” jawab Maira dengan santai dan elegan. “I-ini istri sepupu jauh Revan, dia sedang hamil dan kami mencarikan hadiah.” Maira tahu ibu mertuanya sedang mengarang bebas. “Mbak Maira ngapain ada di sini?” Si Riri terang-terangan menatap sinis Maira. “Katanya Mbak nggak bisa hamil lagi ya? Kok berani datang ke tempat ini?” Riri seakan sedang menyombongkan dirinya yang tengah hamil pada seseorang yang selama ini selalu berjuang agar bisa hamil. Tidak mudah menjadi pejuang garis dua seperti Maira, di saat telah mendapatkan apa yang dia inginkan, sang suami malah berselingkuh dengan wanita spek lintah. “Aku sadar diri kalau aku ini sulit hamil lagi, tapi bukan berarti nggak bisa hamil lagi kan? Dan untuk tujuan aku ke tempat ini cuma mau beli kado buat temanku yang akan menjadi seorang ibu sebentar lagi,” jawab Maira dengan santai. Sama sekali Maira tidak terpengaruh dengan semua hinaan Riri tadi. Ia tahu, semakin dia bersikap tenang, maka lawan akan semakin kepanasan. Maira diam-diam berdecih melihat ayah dan ibu mertuanya yang saling pandang dengan wajah gugup. Mereka seolah takut ketahuan, padahal sebenarnya Maira tahu segalanya. Riri mengambil dua pasang baju bayi perempuan. “Menurut Mbak Maira, mana yang paling cantik di antara dua baju bayi ini?” Belum sempat Maira menjawab, Riri sudah berbicara lagi. “Mana mungkin Mbak tahu yang terbaik, Mbak kan belum pernah punya anak.” Maira tetap tersenyum meskipun hatinya sangat sakit. Bertepatan dengan itu, seorang pria dengan stelan kasualnya masuk dengan begitu percaya diri. Tapi baru sampai di ambang pintu toko, pria itu langsung memucat melihat istrinya ada di antara Riri dan orang tuanya. Mata Revan melotot pada ibunya sebagai kode, sedangkan wanita tua itu hanya melemaskan bahu sebagai kode bahwa ini di luar prediksi BMKG—eh, prediksi mereka maksudnya. Karena sudah terlanjur dilihat oleh Maira, Revan tetap masuk walau dengan langkah yang berat. “Kebetulan Mas Revan udah datang, menurut Mas Revan baju mana yang paling bagus?” Riri begitu tak tahu malu bertanya seperti itu pada Revan di depan istri sah Revan sendiri. Para pelakor itu nyatanya memang tak tahu diri dan hatinya sudah mati. Sebagai sesama wanita, bisa-bisanya mereka merebut laki-laki yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang lain. Tapi dalam kasus ini tidak hanya pelakor yang harus disalahkan, tapi juga laki-laki itu sendiri. Jika memang mereka lelaki yang setia, tidak mungkin mereka tergoda. Revan tidak melirik Riri sedikitpun, Revan langsung menghampiri Maira yang kini terlihat seolah tak tahu apa-apa. “Sayang, kenapa kamu ada di sini?” tanya Revan begitu lembut. Revan bersikap seolah tak terjadi apa-apa, sikapnya masih sama seperti saat pertama kali mereka menikah dulu. Ingin rasanya Maira meludahi wajah pria itu, pandai sekali dia menyimpan bangkai busuk ini walaupun pada akhirnya tetap akan tercium juga. “Ihk, Mas Revan. Aku nanya kamu loh, mana yang bagus?” Riri cemberut karena diabaikan Revan. “Kamu pilih sama Mama saja.” Revan melirik Maira. “Sayang, kamu belum jawab loh. Kenapa kamu ada di tempat ini?” Maira menggeleng sambil tersenyum. “Aku cuma lihat-lihat aja, Mas. Siapa sangka aku malah mendapatkan pelajaran berharga di sini, mungkin aku yang susah hamil ini emang nggak pantas datang ke tempat ini.” Maira sengaja melirik Riri. Air mata Maira hampir luruh, untung saja ia masih bisa menahannya. Melihat Revan, entah kenapa hatinya menjadi lemah. Selama ini Maira selalu mengadu apa pun itu pada Revan, tapi sekarang tempatnya mengadu itu sudah tidak ada lagi. Riri yang tak terima diabaikan Revan langsung bertindak. Riri menarik tangan Revan lalu merengek manja. “Ayolah, Mas. Bantu pilihin perlengkapan bayinya.” Revan mengepalkan tangan. “Itu anak kamu sendiri, kenapa harus ngerepotin aku?” “Masss!!” Riri semakin bertingkah manja pada Revan di depan mata Maira. “Kamu bantu saja dia, Mas. Aku permisi!” Maira pergi membawa sakit hati yang tak tertolong lagi.Hari ini Maira kembali tenggelam dalam rutinitasnya. Setelah lama menghilang dari masa lalu yang penuh luka, kini ia berdiri di titik kehidupan yang berbeda. Maira mandiri, tenang, dan jauh lebih kuat. Mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gedung kaca berlapis tinggi milik Jevan Group. Maira menghela nafas singkat sebelum melangkah masuk. Sebenarnya Maira tidak benar-benar bisa menghilangkan ingatan tentang alasan sebenarnya dibalik perselingkuhan Revan. Karena jauh di lubuk hati Maira, dia sangat yakin Revan bukakanlah laki-laki seburuk itu jika tidak punya maksud tertentu. Memilih mengabaikan isi ingatan untuk sesaat, Maira kembali fokus pada rutinitas nya hari ini. Resepsionis langsung mengenalinya dan mempersilakan Maira naik ke lantai teratas. Ruang CEO Jevan dipenuhi cahaya matahari. Jendela-jendela besar menghadap kota, sementara aroma kopi masih hangat tercium samar. Maira masuk dengan langkah anggun, tata kerjanya rapi, rambutnya disanggul sederhana. Maira be
Davin sebenarnya ingin menyingkirkan pusing yang sejak pagi menusuk sampai ke tengkuknya, tapi dia memaksa dirinya untuk tetap menatap layar laptop. Angka-angka mulai bergoyang di pandangan Revan, huruf-huruf terlihat ganda. Jantungnya berdebar tidak normal. Napasnya juga mulai terasa berat.Sampai akhirnya—“Pak Revan!!"Jeno memekik ketika melihat Revan abruk ke sisi meja. Kursi berderit keras, tubuh Revan jatuh nyaris tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya."Pak! Pak Revan, astaga, jangan bercanda, Pak." Jeno langsung panik, meraih ponselnya dengan tangan gemetar.Tak butuh waktu satu menit, Jeno sudah memanggil ambulans dan menyeret Revan ke dadanya, menopang tubuh bosnya yang semakin lemas. “Bertahan, Pak. Kita akan segera ke rumah sakit.”Sejauh ini Jeno dan orang lain belum ada yang mengetahui penyakit mematikan yang Revan derita. Hanya orang tua Revan saja yang tahu tentang hal ini.Begitu ambulans tiba di rumah sakit, Revan langsung
``` "Vin, kalau kamu tidak mau dirawat di rumah sakit, minimal kamu minum obat-obatan dari dokter. Kamu pasti masih bisa sembuh." Revan kaget melihat Wita sudah ngomel-ngomel di depannya. Padahal Revan sudah mewanti-wanti semua karyawan di kantor ini agar tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruangannya, termasuk orang tuanya sendiri. “Mama ngapain di sini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Wita dengan sopan, Revan justru membalas dengan ketus. "Mama ke sini karena khawatir sama kamu, Revan. Sejak keluar dari rumah sakit kamu itu tidak pernah lagi datang untuk kemo atau hanya sekedar memeriksa kondisi tubuh kamu ke rumah sakit." Wita sudah tak tahan melihat Revan menyerah atas hidupnya. "Terus Mama maunya aku gimana? Mama mau aku menghabiskan hidup aku yang singkat ini di rumah sakit?" sinis Revan yang tak mau melihat ketulusan Wita sedikitpun. "Kamu pasti sembuh, Revan. Ayolah, Nak. Berobat ya," bujuk Wita agar Revan luluh. "
Maira berhenti di depan pintu besar menyebutkan CEO Room, Zila Ghassani. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong pintu itu dan langsung masuk seolah-olah dia adalah tamu terhormat. Zila yang sedang menatap layar laptop dengan wajah kusut langsung melorot. “Astaghfirullah, Runa. Kamu masuk kaya debt collector–eh tunggu, kok muka kamu kusut juga?” Zila salfok melihat muka Maira yang seperti seseorang yang sedang memikirkan beban negara. Maira menutup pintu dengan hati-hati, lalu menatap sahabatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Harusnya aku yang nanya itu.Kenapa kamu kaya habis berantem sama gorila?” Zila mendecak, memutar kursinya, lalu menyilangkan tangan di dada. "Jangan sebut gorila. Yang ada, aku baru saja perang dunia ketiga sama manusia paling ngeselin di bumi ini." Maira mengangkat alis. “Siapa?” Maira jadi penasaran, dengan siapa lagi sahabatnya itu bermasalah. “Nggak lain dan nggak bukan, si ember mulut itu. Jevan.” Maira spontan menahan tawa. "Kamu ketemu Pak Jevan
“ Maira, sini dulu duduk sama Aa.”Maira yang baru pulang dari butik dibuat heran ketika Beno memanggil dirinya seserius itu.Maira mendekat sambil bertanya, "apa ada 'A?"Beno tak langsung menjawab, Beno sengaja datang ke rumah orang tuanya hanya untuk berdiskusi dengan sang adik untuk membahas sesuatu yang penting.Beno hanya datang sendiri tanpa anak dan istrinya. Entah hal penting apa yang akan dibahasnya dengan Maira."Kamu sudah melihat sesuatu yang sedang viral di Indonesia tentang para pebisnis?" tanya Beno setelah diam cukup lama."Yang lagi viral? Emang ada apa 'A?" Maira semakin bingung dibuatnya.Meski kini dia adalah seorang desainer yang sangat terkenal di level dunia, Maira tetap tidak tertarik dengan media sosial. Apalagi tentang negara yang meninggalkan trauma di hatinya.Beno menghela nafas, Beno bingung juga bagaimana cara menjelaskannya pada Maira."Ngomong aja 'A, Maira siap mendengar berita apapun itu karena Maira sudah bisa menerima dan berdamai dengan semua yan
Zila tidak yakin kalau Maira baik-baik saja, sejak tadi Zila memperhatikan Maira melamun tanpa sebab dan wajahnya cukup murung.Zila jadi bertanya-tanya, hal apa yang Maira pikirkan sampai-sampai Maira gagal fokus dengan pekerjaannya.Tapi Zila tidak berani bertanya, Zila tau ada yang Maira sembunyikan darinya. Zila hanya ingin memberi Maira ruang untuk berpikir sebelum nanti Zila akan mendesak Maira untuk berbicara jujur padanya."Na, kamu udah makan siang belum? Kita ke restoran Indo yang gak jauh dari sini yuk, katanya restoran itu baru buka dan asli Indo banget." Zila mencoba mencari topik lain agar beban Maira sedikit berkurang.Meskipun Maira mengatakan dia tidak apa-apa, tapi Zila tetap tahu bahwa Maira pasti ada masalah atau beban pikiran yang berat."Besok aja bisa nggak sih, Zil? Aku lagi mager dan lagi nggak minat kemana-mana, mau di sini aja sambil mandangin karya-karya terbaru aku." Maira menjawab tanpa menoleh."Ayolah, Na. Itu restoran lagi viral sekali, aku penasaran s







