Home / Rumah Tangga / Madu Pilihan Mertua / Bab 5. Kamu hamil?

Share

Bab 5. Kamu hamil?

last update Last Updated: 2025-10-27 08:46:31

Maira menahan perih di setiap langkahnya, tubuhnya gemetar hebat namun ia tetap memaksa untuk berdiri. Kasur sudah penuh darah. Udara kamar menyesakkan dada bagi Maira yang kesakitan sendirian. Dengan tangan gemetar ia meraih ponselnya, memesan taksi daring agar bisa sampai rumah sakit.

Maira takut jika terus menahan sakit sendirian, janinnya tidak akan tertolong. Ia pergi dari rumah diam-diam tanpa memberitahu mertuanya karena percuma saja, mereka tidak akan peduli meskipun ia meninggal sendirian di kamar.

“Pak, tolong ke rumah sakit terdekat, cepat ya, Pak,” bisiknya lirih begitu ia sudah berada di dalam taksi.

Supir itu menatap khawatir saat melihat celana Maira yang sudah basah darah. “Ibu sedang hamil?”

“Iya, Pak. Makanya saya minta agar cepat sampai rumah sakit, Pak,” jawab Maira.

“Ibu kuat? Suaminya mana, Bu?” Supir taksi itu sangat menyayangkan tidak ada seorang pun keluarga Maira yang mendampingi.

“Suami saya sibuk, Pak.”

“Sabar ya, Buk.” Supir taksi itu berusaha mempercepat laju kendaraannya agar Maira bisa cepat mendapatkan pertolongan.

Maira hanya mengangguk lemah, kedua tangannya memegangi perut yang berdenyut hebat. Setiap guncangan mobil membuat tubuhnya menegang, napasnya tersengal. Air matanya mengalir, Maira menangis tanpa suara. Dalam hati ia hanya berdoa agar janin di rahimnya selamat, janin yang selama ini ia tunggu bertahun-tahun bisa tetap lahir ke dunia dengan sehat.

Maafkan Mama, Nak. Kamu jadi menderita karena masalah Mama, batin Maira yang merasa gagal menjadi orang tua.

Sesampainya di rumah sakit, petugas langsung berlari membawa tandu. Maira nyaris pingsan begitu tubuhnya diangkat. “To-long anak saya, tolong selamatkan dia.”

Itu adalah kalimat terakhir Maira sebelum kesadarannya menghilang.

Maira ditangani dokter yang tepat dalam keadaan tak sadarkan diri tanpa satu pun keluarga yang mendampingi. Untungnya dokter di sini kenal dengan Maira karena dia adalah dokter yang selama ini membantu program hamil Maira, jadi dokter itu tidak takut mengambil keputusan meskipun tanpa ada persetujuan dari keluarga Maira.

“Pantau terus keadaan pasien, kemungkinan besok pasien baru sadar,” ujar dokter itu setelah penanganan selesai.

---

Saat membuka mata, sinar putih lampu ruang rawat menyilaukan pandangannya. Tubuhnya terasa ringan, hanya sedikit nyeri di perut bagian bawah. Infus menempel di tangan, dan suara alat medis berdentang pelan di sampingnya.

Maira berusaha duduk, tapi rasa lemah membuatnya kembali bersandar. Pintu terbuka, seorang dokter perempuan masuk sambil memegang berkas. Senyum profesionalnya menenangkan, tapi matanya menyiratkan simpati pada Maira.

“Syukurlah Ibu sudah sadar.”

Maira menatap dokter itu dalam bingung. “Saya di rumah sakit mana, Dok?”

“Rumah Sakit Mitra Sehat. Ibu semalam datang dalam kondisi perdarahan hebat. Tapi beruntung masih bisa kami tangani.” Dokter itu menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Kandungan Ibu selamat, tapi—”

Maira menegakkan tubuh dengan cemas. “Tapi apa, Dok?”

Dokter menatap Maira penuh hati-hati. “Ada benturan di bagian perut bawah dan terlambat penanganan. Kami khawatir janin di rahim Ibu mungkin tidak akan berkembang dengan baik. Kalau pun bisa bertahan, kemungkinan besar bayi nanti akan lahir cacat.”

Deg!

Seolah dunia berhenti berputar. Maira terpaku. Ucapan dokter itu seakan menggema di kepalanya, dadanya terasa sesak. Air mata mulai menetes tanpa bisa ditahan lagi.

“Cacat?” Suara Maira hampir tak terdengar.

Dokter mengangguk pelan. “Kami akan pantau lagi. Tapi demi keselamatan Ibu, kami menyarankan mempertimbangkan aborsi medis karena jika dilanjutkan, kehamilan ini sangat berisiko bagi Ibu sendiri.”

Maira menatap kosong ke arah plafon. “Anak ini saya tunggu lima tahun, Dok. Saya nggak sanggup kehilangan dia begitu saja.”

Dokter itu menepuk lembut bahu Maira untuk sekadar memberi kekuatan. “Saya mengerti. Tapi pikirkan juga keselamatan Ibu.” Dokter itu berdiri. “Kami beri waktu untuk memutuskan.”

Begitu pintu tertutup, tangis Maira pecah. Ia menekan wajahnya ke bantal, tubuhnya bergetar hebat. “Kenapa harus begini, Tuhan?” bisik Maira begitu lirih, “padahal aku baru saja mau bahagia, kenapa cobaan selalu datang bertubi-tubi?”

Maira menangis sampai suaranya habis. Barulah beberapa jam kemudian, ketika matanya sembab, pintu kamar terbuka lagi dengan kasar.

Revan muncul dengan wajah panik, rambut berantakan, dan napas terengah. Tadi saat pulang ke rumah, Revan dikagetkan dengan isi surat di kamar yang isinya Maira ada di salah satu rumah sakit terdekat dari rumah mereka.

“Maira! Kamu kenapa? Kok bisa sampai dirawat segala?”

Maira menoleh perlahan, tanpa senyum. “Mas datang juga akhirnya.”

Revan mendekat dengan cepat, sangat khawatir. “Kata Mama kamu cuma nyeri haid. Mana mungkin sampai separah ini?”

Maira tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi wajah suaminya yang tampak khawatir, tapi di lehernya jelas terlihat bekas merah samar — dan Maira sangat tahu itu bekas apa.

Dengan suara lembut namun getir, Maira bertanya, “Mas semalam ke mana? Aku nunggu sampai hampir pingsan.”

Revan tersentak, lalu menunduk menutupi lehernya. “Aku lembur di kantor. Ada urusan penting yang nggak bisa aku tunda.”

Maira tersenyum kecil, senyum yang menyesakkan dada tapi Revan tidak paham arti senyum itu. “Lembur di kantor, ya?” Maira menatap lurus ke mata Revan. “Kalau misal aku hamil, gimana, Mas?”

Mata Revan membulat. “Kamu... hamil?” Suaranya bergetar antara kaget dan gembira. “Serius, Sayang? Kamu hamil beneran?”

Maira menggeleng. “Bukan, Mas. Aku cuma berandai-andai, kalau aku hamil dan anaknya lahir cacat gimana?”

Senyum di wajah Revan langsung sirna. “Kamu jangan ngomong aneh-aneh, Sayang. Fokus buat sembuh aja, kalaupun seandainya kita punya anak, maka anak itu harus sehat.”

“Ini kan cuma seandainya, Mas,” balas Maira.

“Aku nggak tahu, Sayang. Cuma aku nggak mau memelihara anak yang cacat, pasti nyusahin.”

Perih. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari luka fisiknya. Dengan begini Maira semakin yakin untuk tidak memberitahu Revan tentang dirinya yang hamil dan kehamilannya yang bermasalah.

“Istirahat yang cukup, Sayang. Kamu harus cepat sembuh, jangan mikirin yang aneh-aneh lagi.” Revan mengecup pucuk kepala Maira.

Pintu tiba-tiba terbuka, muncul Riri dengan pakaian rapi. Perutnya yang datar ia elus lembut seolah menegaskan sesuatu pada Maira.

“Oh, Mbak Maira ternyata masih kuat juga, ya.” Suaranya manis yang dibuat-buat, tapi matanya menunjukkan tatapan licik. “Saya kira kamu nggak akan sampai rumah sakit cuma gara-gara darah haid aja, Mbak.”

Maira tertegun, tapi tak lagi kaget. Mendengar suara Riri, Maira jadi teringat dengan semalam. Suara yang semalam ia dengar di telepon, bersamaan dengan desahan pria yang seharusnya hanya menjadi miliknya.

Ya, semalam saat di taksi menuju rumah sakit, Maira menghubungi Revan sekali lagi. Tapi begitu panggilan terhubung, suara desahan suaminya dengan wanita ini yang Maira dengar.

Dan itu semua ulah Riri. Riri sengaja menjawab panggilan dari Maira saat bersenang-senang dengan Revan tanpa sepengetahuan Revan.

“Riri, kamu ngapain ke sini?” Revan mendesis, wajahnya berubah tegang.

Riri tersenyum santai. “Periksa kandungan, Mas. Semalam kan ada seseorang yang ngajak olahraga berat.” Ia menatap Revan dengan tatapan yang penuh makna. “Takutnya bayinya kenapa-kenapa.”

Wajah Revan pucat seketika. Ia mati kutu, takut kalau Riri membeberkan segalanya pada Maira.

Sementara Maira menatap mereka berdua, bukannya marah-marah, ia justru tersenyum lembut. “Oh, begitu. Selamat ya, Riri. Jaga kandungan kamu baik-baik. Di usia kehamilan yang masih muda, katanya memang harus hati-hati.”

Riri mendengus pelan, pura-pura tersenyum. “Ah, Mbak Maira masih sempat ngasih nasihat soal kehamilan? Padahal katanya Mbak sendiri mandul. Aneh ya, mandul tapi masuk rumah sakit bagian kandungan.”

“Cukup, Riri!” bentak Revan dengan keras. “Jangan kurang ajar di sini!”

Riri menatap sinis. “Lho, aku cuma ngomong apa adanya. Banyak yang bilang kalau dia susah hamil, kan?”

“Diam!” Revan menahan amarah, tapi Riri semakin senang melihat Maira hanya diam di tempat.

Suasana tegang itu mendadak terpecah ketika seorang suster masuk tergesa, membawa hasil cek laboratorium. “Maaf, bisa tolong jangan buat keributan di depan pasien hamil muda? Kami butuh ketenangan di ruangan ini.”

Ruangan hening seketika.

“Sayang, kamu beneran hamil?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 48. Memikirkan

    Meskipun dalam hatinya Maira sangat mengutuk wanita di hadapannya ini, tapi bibir Maira tetap tersenyum. Tidak akan Maira tunjukkan dengan lantang bahwa dia membenci Riri.“Untuk maaf mungkin nggak semudah itu, Riri. Tapi kalau kamu udah sadar ya itu bagus, aku harap nggak ada lagi korban berikutnya dari serakahnya kamu,” balas Maira sangat menohok hati Riri.Maira masih mempertahankan senyumnya. “Aku permisi, carilah kehidupan terbaik dan aku harap kamu terhindar dari rasa sakit yang aku rasakan karena ulah kamu.”Riri hanya bisa menelan ludah dengan kelu menatap punggung Maira perlahan menghilang.Sedangkan Revan, pria itu sangat kacau. Revan sampai jalan kaki dari pengadilan agama sampai ke rumahnya sambil melamun. Revan bahkan sampai melupakan mobilnya yang masih ditinggal di pengadilan agama.Pria itu sangat linglung dan ingin menolak kenyataan bahwa Maira sudah bukan lagi miliknya.Sesampainya di rumah, Revan

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 47. Permintaan maaf

    Di depan ruang sidang, beberapa orang sudah duduk menunggu. Namun pandangan Maira langsung tertarik pada satu sosok yang berdiri dekat pintu.Pria itu mengenakan kemeja putih dan jas hitam, tapi wajahnya terlihat jauh lebih kusut dibandingkan biasanya. Di sampingnya berdiri seorang pengacara, merapikan berkas-berkasnya sambil sesekali berbisik pada Revan, namun Revan tidak mendengarkan. Tatapannya terpaku pada Maira sejak detik ia muncul di lorong.Maira merasakan tatapan itu seolah ingin mengatakan sesuatu yang tak terucap. Tapi Maira memilih memalingkan mata. Ia sudah terlalu lelah untuk mencari makna dari sorot pria itu.Pintu ruang sidang akhirnya dibuka. Panitera mempersilakan kedua pihak masuk.Maira duduk di kursi sebelah kiri bersama pengacaranya, sementara Revan duduk di kanan bersama tim hukumnya. Suasana tegang, namun hening. Hanya suara kertas yang dibalik dan detak jam di dinding yang terdengar jelas.Majelis hakim memasuki r

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 46. Sidang pertama

    Hari ini adalah sidang pertama perceraian Maira dan Revan. Suasana di sekitar pengadilan agama sudah cukup ramai, namun di sebuah restoran kecil tak jauh dari gerbang utama, Maira duduk berdua dengan Zila ditemani segelas teh hangat yang sudah mulai kehilangan asapnya. Maira menatap jam. Masih ada satu jam sebelum sidang dimulai. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri. Perasaannya tegang, tapi hatinya sudah mantap dengan keputusan ini. Ia sudah mempersiapkan mental sejak lama untuk hari seperti ini. Namun sebelum Maira sempat menyesap tehnya, suara langkah tergesa-gesa datang dari arah pintu masuk restoran. “Maira!” Maira langsung menoleh. Wita dan Mario berdiri di sana dengan wajah kusut, jelas sekali mereka sudah menunggu momen untuk bisa menemui Maira sebelum sidang dimulai. Maira hanya merapikan duduknya, tidak kaget, tidak pula ramah melihat dua orang yang paling berperan dalam hancurnya rumah tangga

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 45. Bangga

    "Sangat berusaha," jawab Revan, "hanya kalian yang menutup mata dari perjuangan Maira sampai aku pun tersesat lewat jalan pilihan kalian." "Tapi tetap saja kan dia susah untuk punya anak." Wita masih tidak mau disalahkan. "Ma, jangan kayak orang yang nggak tau terimakasih gitu. Dulu Maira keguguran sampai susah hamil lagi juga gara-gara kebodohan aku sebagai suami, jadi stop nyalahin Maira," tegas Revan. Wita berdiri mematung di ruang tamu, menggenggam tas tangannya begitu erat hingga buku jarinya memutih. Mario hanya bisa menatap barang-barang mereka yang sudah menumpuk dekat pintu, koper, kardus, dan beberapa tas besar yang tadi mereka sendiri bantu kemas. Rumah yang biasanya terasa luas dan nyaman kini berubah jadi ruang penghakiman yang menyesakkan. “Revan, Mama mohon, pikirkan lagi,” kata Wita dengan suara Wita bergetar, bukan sekadar sedih, tetapi juga terpukul oleh kenyataan bahwa putranya benar-benar

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 44. Sangat berusaha

    “Ha-halo, Riri?” Suara Wita terdengar dari ponsel itu. “Kenapa kamu telepon jam segini? Kamu sama Revan, kan?” Begitu mendengar nama Revan, tangis Riri pecah lagi. “Ma,” Suara Riri parau dan sesenggukan. “Aku, aku keguguran, Ma.” Wita langsung terdiam. Lalu suara pecahan kaca terdengar dari arah sana, entah apa yang terjatuh. “A-apa yang kamu bilang? Riri, astaga Tuhan, Riri aa,” jerit Wita, napasnya tersendat-sendat. “Cucu Mama, cucu Mama lagi—” Tangis Wita pecah. “Ya Allah, pertama Maira, sekarang kamu, kenapa, jadi seperti ini?" Riri memejamkan mata, membiarkan tangis Wita melebur dengan isakannya sendiri. “Mas Revan pergi. Dia ninggalin aku, Ma. Dia bilang dia nggak mau sama aku lagi, Aku takut, Ma. Aku nggak punya siapa-siapa.” Wita menangis semakin keras. “Riri, kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Mama, kamu datang ke rumah. Kamu tinggal sama Mama. Revan itu memang keras kepala, tapi dia pasti bali

  • Madu Pilihan Mertua    Bab 43. Keguguran

    Revan berlari di koridor rumah sakit dengan napas tak beraturan. Pak Hans mengabarkan kegawatannya, dan meski seluruh tubuh Revan masih diliputi amarah pada Riri, darah daging tetaplah darah daging. Begitu pintu ruang IGD terbuka, suster keluar sambil menunduk. “Maaf, Pak. Kami sudah berusaha. Janinnya tidak bisa diselamatkan.” Deg! Dunia seakan berhenti sesaat. Namun bukan kesedihan yang menyeruak yang ia rasakan, melainkan sebuah kepahitan yang menohok dada. Revan mengembuskan napas panjang, menunduk, tetapi bukan karena kehilangan. Melainkan karena menyadari satu hal, segalanya kini kembali ke titik nol. Dia kehilangan Maira dan calon anak mereka, dan sekarang anak yang selama ini ia harapkan dari Riri juga sudah tiada. Di dalam ruangan, Riri terbaring lemah, wajahnya sembab, rambut berantakan, tangannya meremas selimut erat-erat. Begitu melihat Revan masuk, Riri langsung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status