Beranda / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Jangan Sentuh Anakku !

Share

Jangan Sentuh Anakku !

Penulis: Aisyah Ahmad
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-23 09:48:38

Berbagai pilihan itu terus berputar-putar di kepala. Salah satu di antaranya telah ia pertimbangkan matang-matang dan tentunya itu tidak mudah. Memang perlu ada yang di korbankan untuk mengurai semuanya.

"Em, aku... Pamit dulu ya, Res. Nanti aku kabari lagi. Perasaanku nggak enak," ucap Zahra. Lantas ia segera memberesi barang-barangnya. Setelah 3 jam keluar dari rumah dan menumpahkan segala pikirannya dengan sang sahabat sudah cukup membuat perasaannya lebih tenang dari sebelumnya.

"Oh ya, tapi kamu tidak apa-apa kan, Za ? Aku antar pulang, ya ?"

"Nggak perlu, Resti. Terimakasih ya, Aku bisa sendiri kok. lagian aku sudah pesan grab tadi," ucap Zahra. lantas ia segera beranjak karena mobil pesanannya sudah datang. Oa sengaja pulang dengan memesan taxi online agar segera sampai rumah. Entah mengapa, perasaannya mulai tak tenang. Ini juga pertama kali, ia pergi tanpa anak-anak selain kegiatan sekolah.

Mendung tanpa hujan kini menghiasi langit kota Malang. Ya, sejak tiga hari lalu, langit hanya memamerkan mendungnya tanpa mau menurunkan setetes airnya. sehingga membuat jalanan dipenuhi debu berterbangan. Sama halnya hati Zahra saat ini. hanya bisa bersedih tanpa bisa menumpahkan air matanya. Sudah terlalu sakit, bahkan menangis darah pun juga tak dapat merubah keadaan. Semuanya sudah terlanjur.

"Sesuai lokasi ya, mbak." ucap seorang pria yang duduk di kemudi itu. Zahra pun mengangguk, ia kini duduk di bangku belakang  seperti biasanya, sembari menatap rerumputan yang sudah kering akibat tak terkena hujan di musim kemarau.

'Seandainya air mataku bisa mewakili hujan, mungkin saat ini lebih baik ku berikan saja pada rerumputan itu. dari pada hanya untuk menangisinya, sepertinya jauh lebih bermanfaat. batin nya. Ia pun kini beralih menatap lurus kejalanan hingga tak lama, fokusnya menghilang karena banyaknya hal yang kini ia pikirkan.

"Sudah sampai, mbak," ucap sopir mengagetkannya.

"Loh, sudah sampai pak ?"

"Hehe, iya sudah mbak. Itu... Benar rumahnya kan ?"

"Oh iya, benar pak. Duh... Ini tadi mobilnya jalan kan ya pak, nggak terbang ?"

"Ah, mbak Zahra ini bisa saja. Ya jalan to mbak, pakai roda. Mana mungkin mobil saya bisa terbang. Mbak ini kok ya ada ada saja."

"Hehe, ya kali aja terbang, pak. Soalnya nggak kerasa jalannya. Tahu tahu sudah ada di depan rumah aja. ya sudah ini pak uangnya. Sisanya buat bapak saja ya," ucap Zahra sembari menyerahkan 3 lembar uang pada sopir tua itu.

"Maasyaallah, mbak. Ini terlalu banyak lho," ucapnya.

"Nggak apa pak, buat beli susu Nindi," ucap Zahra lagi. Ya, Dia memang sudah berlangganan dengan grab satu ini saat hendak pergi kemana saja ketika Dimas tak ada dirumah. Jadi dia sudah lumayan akrab, bahkan sudah seperti ayahnya sendiri karena memang pak Supri ini seumuran dengan Almarhum ayahnya dan sedikit banyak Zahra juga tahu tentang hidupnya yang serba pas pas an dan juga harus menghidupi cucu-cucunya setelah di tinggal mati oleh orang tua cucunya.

"Alhamdulillah, terimakasih mbak Zahra. Berkah barokah ya untuk panjenengan. Semoga selalu di limpahkan rejeki dan nikmat sehat."

"Aamiin, aamiin. Ya udah pak saya masuk dulu ya,"

"Eh, tunggu mbak Zahra," ucap sopir itu menghentikan langkahnya.

"Iya pak ? Ada apa ?" Zahra pun menoleh.

"Mbak Zahra. Apapun masalahnya, selalu libatkan Allah. Ingat, Inna ma'al usri yusro. Dari tadi saya lihat mbak Zahra melamun. Banyak pikiran, maaf saya lancang mbak,"

"Hehe, aman pak, insyaallah saya baik baik saja kok. Terimakasih ya," ucap Zahra berusaha tersenyum, walau sebenarnya hatinya ambyar. orang lain saja bisa merasakan apa yang di rasakannya.

Sebelum masuk rumah, Zahra sudah berusaha mengatur hatinya agar tak kembali di kuasai oleh emosi hingga tak bisa berpikir jernih. Dengan langkah mantab ia membuka pintu rumah dan seketika terdengar jeritan Rayyan dan Zahwa berbarengan dari kamar atas. Sontak membuat Zahra kaget dan langsung lari ke atas.

Dan ketika sampai di lantai atas, dia lebih terkejut dengan pemandangan di depannya. Di lantai atas, terutama di lantai kamar anak-anak air bening menggenang meluas hingga keluar melewati pintu. di duga berasal dari kran kamar mandi anak-anak.

"Astagfirullah, Mas !!!" Zahra pun berteriak histeris juga saat mengetahui Dimas tengah memegang gayung hampir di pukulkan ke Rayyan. Bahkan di dahi Rayyan juga seperti gosong. entah jatuh atau karena di pukul gayung oleh Dimas, Zahra belum mendapatkan keterangan lebih lanjut. Ia segera menarik anak tujuh tahun itu ke pelukannya.

"Ada apa ini sih, mas ? Apa yang terjadi ?" Rayyan tampak ketakutan dan memeluk bundanya. Ia bersembunyi di belakang sang bunda.

"Hiks... Hiks... Huhuhu," di saat yang bersamaan juga terdengar suara Zahwa menangis. Zahra pun baru teringat dengan satu anaknya lagi. Ia mencarinya, dan ternyata Zahwa duduk di bawah sisi kanan ranjangnya dengan membawa botol susu kosong. Celananya pun tampak basah. entah karena ngompol atau karena air yang menggenang itu.

"Ya Allah, sini sayang." Zahra meraih gadis mungil tiga tahun itu. pun tampak mendekat dan memeluk erat seolah takut untuk di tinggalkan lagi.

"Maafin bunda ya sayang," ucap Zahra sembari mengelus rambut keriting putrinya.

Sungguh, ini penyesalan terdalam yang pernah ia rasakan selama ini. Sangat menyesal telah meninggalkan anak-anaknya bersama Ayahnya. Baru tiga jam saja seperti ini, bagaimana sehari ? Seminggu ? Sebulan ? Atau setahun ? Yang ada malah anak anak akan mati di tangannya.

"Adik Wawa kenapa sayang ? Hm ? Kenapa nangis ?"

"Susu," jawab Zahwa sembari menunjukan botol susu kosongnya.

"Iya, ayo kita bikin sekarang yuk. Sudah jangan nangis lagi ya, Bunda disini." Zahra menggendong Zahwa dan menggandeng Rayyan untuk di bawa ke dapur. Sebelum itu Zahra juga sudah mengganti baju-baju mereka. Dengan sabar dan telaten Zahra merawat keduanya dengan tulus.

"Kak Ray mau makan ?" Rayyan menggeleng pelan. Lantas Zahra meraih tangannya, "kak Ray, maafin bunda ya nak. Maafin Ayah juga." Zahra memeluk Rayyan dengan erat. Hatinya kembali teriris, bahkan yang ini lebih sakit. Bukan hanya tentang perasaannya lagi, tapi kini anak. Ya, sering terjadi Anak akan selalu menjadi korban atas pertengkaran kedua orang tua. Padahal anak tidak tahu apa-apa.

"Bunda, Ray nakal ya ?"

Zahra pun melepaskan pelukannya dan beralih menatap manik mata coklat milik anak sulungnya. "Nggak sayang, kak Ray nggak nakal kok. Kak Ray anak pintar, Kak Ray anak Sholeh. Kebanggaan Bunda dan Ayah."

"Tapi kata Ayah, Ray nakal. Ray pantas di hukum. Maafin Ray ya Bunda, Ray Janji nggak nakal lagi." Sekali lagi Zahra memeluk erat putra sulungnya.

"Memangnya, kenapa tadi Ray sampai dihukum Ayah ? Apa yang Ray lakukan, nak ? Hm ?"

"Ray patahin cran kamar mandi, bunda. Tapi beneran, Ray nggak sengaja bunda. Ray cu..." ucapannya terhenti saat ia melihat sang Ayah memandangnya dari kejauhan, lantas ia kembali bersembunyi di belakang ibunya. Memar bekas di pukul gayung di kepala Rayyan masih terlihat jelas. Jelas sangat sakit, apalagi hatinya. Tentu kejadian itu sangat membekas. Sebenarnya Dimas juga memandang keduanya dengan penuh penyesalan. Ia juga menyesal telah lepas emosi. Dan ini pertama kali ia lakukan, karena selama ini, Dimas tak pernah main tangan pada Zahra apalagi anak-anak. Dia hanya terbawa emosi saat Zahwa menangis meminta susu. Ia sudah berusaha membuatkan tapi ternyata caranya salah. Susunya tak ada rasa. tidak sesuai keinginan Zahwa hingga Zahwa tantrum. Dimas yang saat itu sedang bertengkar dengan Nisa via telephon juga semakin emosi. Apalagi di tambah dengan teriakan Rayyan dari kamar mandi, yang mana lantai sudah banjir akibat cran yang patah itu. Emosinya tambah berkali lipat hingga ia reflek memukul kepala Rayyan dengan gayung di kamar mandi. Ah, Ternyata memang tidak mudah di posisi Zahra, batin Dimas.

"Kak Ray, sama Zahwa ke kamar bunda dulu ya, nak. Biar bunda bersihin kamar kalian." Kedua anak manis itu mengangguk dan menuruti perintah bundanya.

"E.... Eum,. A aku... " Dimas tampak serba salah ketika Zahra menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dari sorot matanya itu, tampak dia Marah dan juga kecewa.

"Kamu boleh marah, kesal, atau... Terserahlah. Tapi jangan pernah kau melampiaskan pada anak-anakku. Aku merawatnya dengan seluruh kasih sayangku, sekali lagi kau melakukannya, jangan harap kamu akan bertemu mereka lagi. Apapun alasannya." ucap Zahra, lantas ia berlalu begitu saja. Hatinya masih sangat sakit melihat anaknya di perlakukan demikian. Walau oleh ayahnya sendiri. Ibu mana yang sanggup ? Sepertinya, se galak apapun seorang ibu ia tak kan rela membiarkan orang lain menyakitinya. Bahkan induk ayam saja akan marah jika anak-anaknya di sentuh oleh tangan-tangan manusia.

Dimas mengusap kepalanya dengan kasar setelah Zahra berlalu meninggalkannya begitu saja di dapur. Semuanya menjadi semakin rumit sekarang.

"Agrrrh... !!!"

Tak berapa lama, Zahra turun kembali dengan membawa sebuah koper besar. Ia menggendong Zahwa yang tertidur serta menggandeng tangan Rayyan.

Dimas yang duduk di sofa sembari bermain ponsel itu pun kaget.

"Loh... Neng... Mau kemana, Neng ? Kalian pada mau kemana?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Madu Suamiku   Memar dipunggung Zahwa

    Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman.Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi.Lampu-lampu kecil masih menyala.Bunga-bunga segar belum layu.Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk hari yang seharusnya sempurna, tapi malah berantakan.Zahra berdiri diam. Ia mengembuskan napas, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng.Begini caranya hidup bercanda, batinnya.Ia melangkah masuk.Di dalam, kursi pelaminan masih berjajar megah. Background floral-nya tetap berdiri gagah. Tenda catering masih terisi hampir penuh. mungkin para tetangga pulang terburu-buru, mungkin juga tidak ada yang tega menyentuhnya, saat kehebohan tadi pagi terjadi.Zahra menyentuh gaun pengantin yang ia pakai. Kain putih itu masih sempurna. Sayangnya, gaunnya tidak pernah mendapat giliran berada di tengah keramaian.Sunyi.Tapi bukan sunyi yang menyedihkan. lebih seperti... jeda.Zean menyusul masuk beber

  • Madu Suamiku   Nahkoda kapal yang baru

    "Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju membelah jalanan yang mulai ramai. Udara terasa berat, bukan karena panas, melainkan karena perasaan yang tak terucap. Zahra menatap lurus ke depan, jemarinya saling bertaut di pangkuan, sesekali menghela napas pendek. Di luar, deretan masjid mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. suara merdu yang saling bersahutan, menggema dari pengeras suara, menandai waktu yang kian mendekati sholat Jumat.Lantunan itu seharusnya menenangkan, namun justru menambah rasa tegang yang menggantung di dalam mobil. Seolah setiap ayat membawa doa, juga kegelisahan yang berlapis. Rayyan duduk diam, sembari sesekali memperhatikan wajah bundanya. Sementara Zahwa terlelap di pangkuan bundanya, belum sepenuhnya terba

  • Madu Suamiku   Tabir yang tersingkap

    "Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka kesini dan memblokir nomor aku, ha ? Kamu sengaja kan ? Dimana mereka sekarang ?" Kali ini sudah habis kesabaran Zahra. "Wow wow wow... Chill... mereka ada kok. Dan mereka baik-baik saja.""Ya udah. Mana mereka ? Biar aku bawa mereka sekarang." Zahra mau langsung menerobos untuk nyari anak-anak, tapi di hadang lagi oleh Dimas. "NO ! kuncinya sama aku." ucap Dimas sembari mengacungkan kunci seolah mengejek Zahra. "Kamu kunci mereka, Mas ? Gila kamu Mas ! Siniin kuncinya. Pasti merkeka ketakutan sekarang. Bener-bener gila kamu !" "Eits. Enggak ! Nggak akan aku serahkan sebelum kamu mau balik lagi sama aku ! Menikah sama aku lagi, dan aku akan kembalikan mereka. Kalau tidak, Nggak akan !" "

  • Madu Suamiku   Villa 2

    Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin tegang setelah ponsel Dimas berbunyi.Dimas semakin lepas kendali hingga mobil yang ia bawa menuju tempat yang asing menurutnya. Tiba di sebuah tempat, sebuah Villa, Dimas menyeret Rayyan dan Zahwa keluar dari mobil. Menyeretnya dengan kasar hingga mereka menangis, dan membanting mereka di lantai kamar vila itu sambil Dimas marah-marah tidak jelas."Aduh Mas, kemana kita harus cari mereka. Kita udah muter-muter satu jam, tapi tidak ketemu. Aku khawatir." ucap Zahra cemas.Sementara Zean masih fokus dengan kemudi sembari sesekali melirik jalanan. Tapi tetap saja dia juga tak melihatnya."Apa kita lapor polisi aja ya, Mas?"Zean diam sesaat. Berusaha berpikir dengan fikiran jernih."Sepertinya

  • Madu Suamiku   Villa

    "Kenapa kamu disini, nduk ? Terus, ini..." Bu Sukma tampak kaget, sembari memandangi Zahra yang tiba-tiba didepannya dan masih mengenakan baju pengantin."Iya, aku disini bu. Anak-anak dimana bu, kenapa mereka belum sampai sana. Dimana mereka ?""Loh. Tadi pagi sudah berangkat, jam 7 pagi sama Dimas, Zahra. Tadi mereka sudah pada dndan, sudah berangkat. Dimas juga tadi berangkatnya buru-buru kok. Ibu rencananya juga mau ikut. Tapi tiba-tiba perut ibu mules setelah sarapan tadi, mangkanya ibu suruh Dimas berangkat aja duluan, takutnya telat.""Ya Allah. Nggak ada bu. Nggak ada Mas Dimas dan anak-anak sampai sana. Aku sudah nungguin dari tadi pagi, tapi nggak ada. Mereka tidak datang.""Ya Allah nduk. Tenan ! Dimas wes berangkat dari pagi. Demi Allah !""Ya tapi nggak ada, buk ! Enggak ada. Iya kan mas ?" Zahra menoleh ke Zean seolah minta validasi."Nggih, Bu Sukma. Dimas ataupun anak-anak belum datang. Itulah sebabnya kami kesini. Kami khawatir, soalnya nomor Dimas tidak bisa dihubung

  • Madu Suamiku   Akad yang tertunda

    Langit Malang Jum'at pagi itu sedikit di hiasi dengan awan hitam yang menggantung disisi barat. Di teras itu, Zahra sedang berdiri sembari memandang cemas ke arah jalanan. Matanya tak luput dari beberapa motor dan mobil yang lewat begitu saja tanpa henti."Ck. Ya Allah... mana nih mereka, kenapa belum datang sampai jam segini" ucapnya cemas. Beberapa kali ia juga menengok mesin waktu yang menggantung di atas dinding teras. Meskipun teras itu di hiasi dengan dekorasi pernikahan, tapi masih terlihat jelas, Jarum jam panjang yang terus berputar melewati angka sepuluh."Gimana Sayang, belum datang juga ?" tanya Zean mendekat."Belum Mas, aduuuh... gimana ya mas, udah mau dimulai ya akadnya ? Aduh... ini mana sih Mas Dimas ?! Semalam janjinya pagi mau di antar tepat waktu, tapi sampai jam segini kenapa mereka belum sampai sini sih," Zahra semakin panik. Apalagi melihat jarum jam yang terus berputar dan seorang penghulu sudah duduk di kursi yang disediakan. Para saksi dan para tamu juga sud

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status