LOGIN
"Jadi, sudah berapa lama Mas ?" Zahra bertanya sembari memegangi ponselnya yang masih menampakkan foto dua manusia tanpa busana di atas ranjang sebuah hotel. Keduanya tersenyum merekah hingga senyuman mereka itu menciptakan sayatan luka yang amat dalam di hati Zahra.
"Dua tahun, Neng." jawab Dimas menunduk. "Astaghfirullah, Astagfirullahal'adzim... Laaillahaillallah," ucap Zahra lagi sembari memegangi dadanya yang kian terasa sesak. Lagi-lagi bulir bening itu lolos dari matanya. mengingat perselingkuhan lelaki yang selama ini ia percaya. "Neng, aku bisa jelasin Neng. Aku bisa jelasin semuanya. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan." "Cukup mas ! Cukup ! Sudahi omong kosong mu itu ! Hah, kamu memang pantas dengannya mas. Cukup! aku sudah jijik denganmu !" ucap Zahra. Ia segera menepis tangan sang suami saat hendak membujuknya. "Neng... " "Aggrrrhhhh..... " Zahra melempar semua apapun yang berada di atas meja riasnya hingga hancur berantakan. Ia menangis pilu, "Tega kamu mas ! Jahat kamu ! Kamu memang tidak bisa di percaya ! Kamu jahat, kamu sudah janji padaku mas, kamu ijin pergi dengan dalih kuliah disana, tapi disana kamu bersenang-senang dengan perempuan lain ? Tega kamu mas ! Tega ! Kurang apa aku mas ?! Kurang apa aku hingga kamu tega berselingkuh. Kurang apa aku ?! Aku tidak mandul, aku bisa memberimu keturunan yang cantik dan tampan, apa aku kurang cantik ? aku selalu mencoba tampil cantik untukmu, aku setia untukmu dan aku mengabdikan hidupku sepenuhnya untukmu, KURANG APA AKU MAS ?! KATAKAN !!!" Zahra terus berteriak histeris meluapkan segala lara yang ia dapat dari lelakinya itu. Tampaknya ia benar-benar sangat marah. Wanita yang biasa di kenal dengan kelembutan dan kesabarannya itu, kini menampakkan sisinya yang lain. "Dengerin penjelasanku dulu, Neng. Tolong... " "Stop ! Jangan sentuh aku mas, lepaskan ! aku mau pergi !" ucap Zahra. Lantas ia berjalan menuju almari jati miliknya dan mengambil koper besar di atasnya. "Neng, jangan begini, Neng. Kita bisa omongin ini baik-baik, tolong... Jangan begini, tolong pikirkan juga anak-anak, kasihan anak-anak." Dimas masih berusaha membujuk Zahra. "Hahahaha, hahahaha," Justru Zahra malah tertawa terbahak-bahak tapi masih dengan air matanya. Dari tawanya itu justru menggambarkan luka yang teramat dalam. Dia tertawa tapi hatinya menangis pilu. "Hahaha. Jangan ngelawak, Mas. Seharusnya aku yang bilang begitu. Kamu, Apa kamu memikirkan anak-anak saat mengambil keputusan itu, hah ? Aku tanya padamu, saat kamu melakukannya, kamu mikir nggak kalau kamu sudah punya anak, Sudah punya Istri Dan sekarang kamu mengajariku untuk berpikir ? Hahahaha, konyol !" Lagi-lagi Zahra tertawa sambil menangis bersamaan dan menuding wajah Dimas dengan telunjuknya. seumur-umur juga baru kali ini Zahra melakukannya. Itu pula karena dia yang sudah teramat sakit. "Sudah sudah. Jangan melawak lagi. Minggir !" Zahra mengusap air matanya dengan kasar. lalu membuka lemarinya dan memasukkan semua baju miliknya kedalam koper. "Neng... Beri aku kesempatan, Neng. Aku janji aku akan adil pada kalian." "Adil katamu ? Adil yang seperti apa, Mas ? Katakan padaku, adil yang seperti apa ? Adil yang gimana ? Kamu memberikan sebagian besar waktumu untuk dia, kamu berikan separuh lebih gajimu untuk dia, sementara ada anak anak yang sangat butuh kamu nafkahi baik itu materi atau non materi tapi kamu mengabaikannya. Adil yang seperti apa mas. Katakan padaku !!!" "Neng, maaf... Nisa sedang menjalani program hamil. Jadi butuh banyak biaya dan juga butuh aku untuk menemaninya. dia juga perlu perawatan pasca operasi kista ovarium. Dan... " "Ck, sudahlah mas. Sudah jangan di lanjut lagi ucapanmu. Memang seharusnya kau bersama dia saja. Biarkan aku yang pergi !" Zahra kembali lagi melanjutkan kegiatannya, memasukkan seluruh pakaiannya kedalam koper. "Nggak, Neng. Jangan. Kamu tidak boleh pergi. Kamu harus tetap disini tetap bersamaku. Kita sama-sama dengan anak-anak. Disini. Di rumah ini, di rumah kita." "Baik kalau begitu, tinggalkan dia !" Dimas terdiam. "Kenapa diam ? Kamu nggak mau kan tinggalkan dia ? Ya sudah, aku saja yang pergi !" "Neng, jangan Neng." "Untuk apalagi ? Kalau kamu mau aku tetap tinggal, ya lepaskan dia. Gimana ? Gimana, kamu tidak bisa memilih kan ?" "Aku... tidak bisa melepaskannya, Neng. Aku juga tak bisa melepaskan mu. Aku mencintai kalian. Bolehkah Mas meminta untuk kalian akur ? Menjalin keluarga bahagia bersama. Kita raih surga bersama. Bukankah itu juga salah satu sunah Nabi ?" "Surga ? Surga seperti apa yang kamu janjikan, Mas ? Surga yang bagaimana jika di awali dengan kebohongan, perselingkuhan dan nafsu belaka. Surga yang seperti apa ?" "Neng, kamu tahu kan... Jika laki-laki di perbolehkan untuk men... " "Sudah, cukup ! Aku tidak mau lagi mendengar dongengmu itu ! minggir !" "Neng... " "MINGGIR !!!" "Bunda... " Suara lembut dari sang malaikat kecil itu menghentikan pertengkaran mereka. Rayyan dan Zahwa. Mereka berdua berdiri di ambang pintu dengan sorot mata ketakutan. "Bunda... Wawa takut," ucapnya. Sementara sang kakak yang berusia tujuh tahun itu merangkulnya dari sisi kanan. "Sayang... " Zahra buru-buru menghapus air matanya dan segera mendekati kedua buah hatinya. buah cintanya dengan laki-laki yang sembilan tahun ini menjadi Nahkoda dalam bahtera rumah tangganya. Nadia tampak berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak. Lalu ia merengkuh keduanya. "Maafkan Bunda sayang," ucap Zahra. "Zahwa takut Bunda, Bunda kenapa marah ? Apa Zaha nakal ya Bunda?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya. Dalam hati Zahra teriris pilu. Ia menyesal kedua buah hatinya harus menyaksikan keributan ini. Satu-satunya hal yang paling ia takutkan dan ia hindari dalam mengasuh anak yaitu pertengkarannya dengan Ayahnya anak anak "Ndak apa sayang. Bunda tidak marah. Kalian ngantuk ya ? Ayo tidur, Bunda temani." Zahwa mengangguk. "Kak Ray, ajak adik ke kamar dulu ya, nanti bunda susul." Si sulung pun mengangguk. Kemudian anak lelaki itu menjalankan perintah Bundanya. Setelah kedua anak itu kembali ke kamar, zahra segera mengambil handphonnya dan hendak menyusul kedua anaknya. "Neng... " "Jangan sekarang !" ucap Zahra Dimas menghela nafas. Ia masih tak menyangka jika semua akan se kacau ini. Sudah dua tahun memang, Ia menyembunyikan hubungannya dengan Nisa. wanita yang ia nikahi secara siri saat ia masih menempuh pendidikan di Negara tetangga. Rencana kepulangannya kali ini sebenarnya ia akan jujur kepada Zahra tentang hubungannya dengan Nisa. Sebelumnya Ia yakin jika Zahra akan luluh dan bisa menerima Nisa menjadi adik madunya. Apalagi sekarang Nisa juga sudah merengek minta di nikahi sah secara hukum dan tercatat negara. Tapi sayang, semua rencana berantakan. Zahra lebih dulu tahu tentang itu. bahkan lebih parahnya, pertama kali yang Zahra lihat adalah foto momen saat keduanya selesai melakukan ritual malam di sebuah Hotel di Madinah. Bodohnya, Dimas tidak menghapus foto itu. Wanita mana yang tidak sakit mengetahui suaminya berbagi ranjang dengan wanita lain ? *** Krieeek, Jam 9 pagi, Zahra keluar dari kamar anak-anak. Ia sudah berdandan rapi lengkap dengan setelan hijabnya. Walaupun begitu, matanya masih tampak bengkak sisa menangis semalam. "Neng, kamu mau kemana pagi-pagi begini ?" tanya Dimas. "Pergi." "Kemana ?" "Cari angin." "Neng... Kita perlu... " "Sudahlah mas, aku tak ingin membahasnya sekarang." "Tapi Neng... Terus, anak-anak gimana kalau kamu pergi ?" "Kan ada kamu !" "Neng... " Zahra tetap pergi walau Dimas terus memanggilnya untuk kembali. Biarlah, biar suaminya itu juga merasa bagaimana merawat anak-anak di rumah juga mengurus rumah serta semuanya. Dia pikir pekerjaan seorang wanita itu mudah ?. Bahkan segala apapun yang seorang lelaki berikan pada wanitanya itu tidak akan bisa sebanding dengan pengorbanan wanita bertaruh nyawa melahirkan sang anak. Seharusnya laki-laki tidak akan tega menyakitinya jika dia ingat bahwa dia juga lahir dari rahim wanita dan dengan bertaruh nyawa pula seorang ibu melahirkannya. Di bawah terik panasnya kabupaten Malang, Zahra berjalan menyusuri jalanan setapak. Terus terang saja dia berjalan tanpa tujuan. Mau pulang ke rumah juga bingung. orang tua yang mana ? Curhat di atas tanah merah yang sudah mulai mengering itu ? Atau... Haruskah Zahra mengadu ke orang tua Dimas? Ah, sepertinya juga tidak mungkin. Itu bukan ide yang bagus. Hingga di persimpangan jalan, ia bertemu dengan kawan lamanya, "Loh... Zahra ? Kok jalan kaki mau kemana ?" Zahra yang kaget itu segera menghapus air matanya. "Resti ?" "Duh, ayo sini masuk ! Kamu sendirian ? anak-anak sama siapa ?" "Sama Ayahnya, Res." jawab Zahra. "Za, Kamu ada apa ? Kenapa kamu jalan sendirian kayak tadi? Ada masalah ? Cerita sama sini aku. Jangan di pendam sendiri." Mendapat pertanyaan itu, Zahra langsung menumpahkan air matanya. ia menangis hingga sesenggukan. Resti langsung mengusap punggungnya dan membawa mobilnya menepi. Ia memilih berhenti di dekat alun-alun dan membawa Zahra keluar dari mobil. Resti membiarkan Nadia tenang. Setelah itu, ia baru memberikan sebotol air mineral pada Nadia. "Res... " Sambil terisak Zahara menceritakan semuanya yang terjadi. Tentang segala hal yang Dimas perbuat. "Astagfirullahal'adzim, Za. Ya Allah aku nggak nyangka banget. Padahal selama ini kalian baik-baik saja kan ?" "Baik-baik saja, Res. Bahkan sehari sebelumnya kami masih seromantis biasanya. hingga pada akhirnya aku menemukan foto itu." "Ya Allah, sumpah. Aku nggak nyangka, Za. Tega banget. Ya Allah kamu yang spek bidadari gini aja masih di duain. Za... Ku beri saran deh, Seumur hidup itu terlalu lama. Kalau kamu butuh pengacara, aku siap dampingi. Pengadilan agama juga buka setiap hari senin sampai kamis, kalau kamu mau!" "Res... Terimakasih. Aku memang sempat berpikir kesana. Tapi... Aku berpikir ulang," ucap Zahra, lantas ia menghela nafas. "Jika aku mundur sekarang artinya aku kalah Res." Resti tampak mengangguk paham. Tidak mudah memang di posisi Zahra. Dia sudah menemani sepak terjang seorang lelaki bernama Dimas dari nol sampai di titik atas, lalu terjatuh lagi dan berjuang lagi. Dia sudah melewati berbagai badai, ujian, Pahit, asin, asem manisnya kehidupan sudah ia kecap. Tak mudah memang melepaskannya begitu saja. Apalagi menyerahkannya pada wanita baru dalam posisi yang sudah tinggal menikmati hasilnya. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Za ? Apa kamu mau kayak gini terus?" "Tentu tidak, Res! Tunggu saja tanggal mainnya!"Zahra menarik napas panjang, berusaha menata hatinya yang terasa hancur berkeping-keping. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, topeng yang kali ini terasa lebih berat dari biasanya. lalu menatap Zean dengan sorot mata yang berusaha terlihat tenang."Enggak apa-apa, Mas," ucap Zahra pelan. "Mungkin cuma efek kecapekan saja, jadi tensiku drop. Bentar lagi juga sembuh dan aku semangat lagi kok, Mas jangan khawatir berlebihan ya."Zean menggeleng cepat, tatapannya justru semakin intens. "Please, Zahra... kalau kamu ada apa-apa, berbagilah sama aku. Dokter tadi sudah bilang sama aku kalau ada masalah serius kan sama rahim kamu ?"Pertanyaan itu menohok tepat di ulu hati Zahra. Ia terdiam, kaget karena Zean sudah tahu sebagian kebenarannya. Lidahnya mendadak kelu, dadanya terasa sesak seolah ada tangan yang meremas jantungnya. Zahra memalingkan wajahnya sejenak, menghalau air mata yang sudah mendesak ingin tumpah, sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata suaminya kembali."Mas... se
Zean memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, membelah jalanan kota dengan kecepatan di luar batas wajar. Cengkeraman tangannya pada setir begitu erat hingga jemarinya memutih.Pikiran Zean berkecamuk hebat. Ketakutan yang sejak kemarin ia tepis, kini mewujud menjadi kenyataan di depan mata. Zahra sakit. Istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum.Suasana IGD siang itu tampak sibuk saat tubuh pias Zahra didorong masuk menggunakan brankar oleh petugas medis dan rekan kantornya. Tidak berselang lama, Zean tiba dengan napas tersengal-sengal. Penampilannya yang biasa rapi kini berantakan.Langkah Zean mendadak melemah saat melihat tubuh ringkih Zahra sudah terbaring di salah satu bilik asuhan dengan tirai setengah terbuka."Sayang... ini aku. Bangun, Sayang..." ratap Zean serak. Ia berlutut di samping brankar, meraih tangan dingin Zahra dan mengecupnya berkali-kali. Namun, istrinya tetap ber
Zahra tersentak. Pertanyaan lembut Zean justru terasa seperti alarm yang memintanya untuk segera menjauh. Ia tahu, satu detik saja ia lengah menatap mata suaminya, topengnya akan runtuh berkeping-keping.Dengan gerakan cepat, Zahra menarik tangannya dari genggaman Zean, lalu berbalik menuju lemari pakaian. "Nggak apa-apa, Mas. Aku cuma agak kesiangan aja ini, ada rapat penting di kantor jam sembilan nanti," sahutnya buru-buru, mengambil selembar blazer kerja dengan asal demi menghindari kontak mata.Zahra langsung melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamar, mengunci pintunya sebelum Zean sempat mengeluarkan sepatah kata pun.Di luar kamar mandi, Zean berdiri mematung. Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup rapat itu. Dadanya bergemuruh oleh rasa ganjil yang semakin kuat. Sikap menghindar Zahra yang begitu kentara membuat instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat besar yang sedang disembunyikan sang istri.Apa aku tanya Zulfa aja, ya? Pikir Zean sempa
Zahra menunduk, meremas jemarinya sendiri di pangkuan. Rasa sakitnya bukan lagi fisik, melainkan rasa bersalah yang teramat besar pada suaminya. Mengingat bagaimana Zean selalu memperlakukannya bak ratu, vonis ini terasa seperti hantaman yang menegaskan kekurangannya sebagai seorang istri.Zahra menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang bergemuruh. Ia harus pulang sebentar lagi. Ia harus mengulas senyum di depan Zean, merangkai kebohongan demi kebohongan tentang "program promil" yang sebenarnya sudah mati sebelum dimulai.Zahra menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap tas jinjingnya dengan pandangan kosong. Meratapi impiannya yang baru saja terkubur, di dalam ruangan yang awalnya ia masuki dengan penuh tawa.Zahra tidak langsung pulang. Dengan pikiran yang berkabut, ia meminta taksi daring yang ditumpanginya untuk berputar-putar tanpa arah mengelilingi sudut-sudut Malang Kota. Menatap jalanan Ijen yang rindang lewat jendela kaca, ia ber
Zulfa perlahan menjauhkan alat pemindai dari perut Zahra. Ia berbalik menatap sahabat lamanya itu, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan badai kepanikan yang mendadak melanda benaknya, meski getaran di sudut matanya tidak bisa berbohong."Ra..." suara Zulfa tercekat di tenggorokan, terdengar begitu berat. "Kita... kita pindah duduk ke meja depan lagi, ya? Ada hal penting yang harus aku jelaskan."Zahra melangkah turun dari ranjang periksa dengan lutut yang mendadak terasa lemas. Gel bening yang tersisa di perutnya terasa sedingin es, sedingin firasat buruk yang kini mulai mencengkeram dadanya. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berjalan mengekor di belakang Zulfa.Zulfa duduk kembali di kursi kebesarannya. Ia tidak langsung berbicara. Tangannya bergerak gelisah, membolak-balik rekam medis Zahra seolah mencari celah kekeliruan, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat."Zul, jangan bikin aku takut," bisik Zahra, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "A
[Zul, ini aku Zahra. Makasih ya buat obrolannya tadi di cafe. Oh ya, Senin nanti kalau jadwal praktik kamu nggak padat, aku boleh main ke rumah sakit tempatmu dinas? Mau mulai tanya-tanya soal program yang aku bilang tadi, hehe. Kebetulan ada riwayat lama yang mau aku konsultasikan juga.]Sent.Zahra mengembuskan napas lega setelah menekan tombol kirim. Gawai pintarnya ia letakkan kembali ke dalam tas. Ia menoleh ke arah Zean yang fokus menyetir, lalu dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami.Zean melirik sekilas, lalu melepaskan satu tangannya dari kemudi untuk mengusap lembut puncak kepala Zahra. "Sudah selesai kirim pesannya, hmm?""Sudah, Mas. Hari Senin aku mau main ke tempat Zulfa," sahut Zahra dengan nada riang.Zean hanya tersenyum tipis, meski di dalam hati kecilnya, insting tajamnya masih menyisakan sedikit riak ganjil tentang pertemuan sore tadi. Namun demi kebahagiaan istrinya, Zean memilih untuk menggenggam jemari Zahra erat, membiarkan sisa perj
Teriakan frustrasi Melisa menggema nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia berdiri dengan napas memburu, dadanya naik turun menahan murka yang membakar seluruh dadanya. Harga dirinya diinjak-injak, dan ego wanitanya benar-benar terluka oleh pria yang sangat ingin ia hancurkan itu.Melisa melan
Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi mereka dari kebisingan jalanan kota yang terik. Zean memutar kemudi, membawa mobil membelah jalanan menuju kafe bergaya Jepang yang jaraknya memang tidak begitu jauh dari gedung Dirgantara Group. Di kursi penumpang, Zahra langsung mencopot sepatu hak tinggin
Sementara itu, di sudut lain kota, suasana di dalam kantor Dirgantara Grup tampak berbanding terbalik dengan ketegangan di kafe pinggir kota tadi. Di balik kubikel kerjanya yang rapi, Zahra sedang berkutat dengan tumpukan berkas perkara perdata yang menggunung. Jemarinya bergerak lincah di atas kib
Zean mencengkeram erat kemudi, matanya menatap lurus ke aspal jalanan yang seolah menyempit di depannya. Napasnya memburu, berat dan tertahan di dada.Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, menjelma menjadi rasa sesak yang membakar. Zean menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan wajah terseny







