แชร์

Apakah Restu itu nyata ?

ผู้เขียน: Aisyah Ahmad
last update วันที่เผยแพร่: 2025-01-23 09:53:12

"Minggir mas, tolong jangan halangi jalanku." Zahra berucap sembari terus berjalan tanpa memperdulikan suaminya.

"Neng, tolong neng... Jangan gini, jangan pergi, neng mau kemana ? Ini sudah hampir sore,"

"Minggir, Mas. awas dulu !" Zahra berucap lagi. Ia pun berhenti sejenak, tapi hanya membenarkan gendongan Zahwa yang hampir melorot. Dimas masih berusaha merayu Zahra, sesekali juga dia mencoba mengajak bicara Rayyan dengan membujuknya. Sayang sekali, akibat perbuatannya siang tadi masih membuat Rayyan trauma.

"Kita selesaikan dulu masalahnya, Neng. Aku..."

"Nggak sekarang, mas." ucap Zahra sembari melihat ke arah kedua anaknya. Zahra berusaha memberi kode pada Dimas agar tak membahasnya di depan anak-anak. Sayang sekali Dimas tak paham akan hal itu.

"Tapi kenapa ?" Tanya Dimas. Zahra menggeleng.

"Mas, minggir, tolong jangan halangi jalanku. Ini sudah sore kan?."

"Iya mangkanya itu, ini sudah hampir sore. Kamu mau kemana ? Mau kamu bawa kemana anak-anak, neng ? Tolong, jangan pergi ya."

"Bunda... " Zahra merengek, ia menatap wajah bundanya dengan tatapan yang sulit di artikan. Jelas, dari wajahnya itu menyimpan banyak pertanyaan, tapi tentu saja ia tak mengerti apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.

"Sebentar sayang. Kamu sama kak Ray masuk mobil dulu ya," ucap Zahra sembari mendudukkan Zahwa dan Rayan di jok belakang mobil grab yang ia pesan lima belas menit yang lalu. Beruntung mobil pesanannya datang tepat waktu hingga Zahra tak perlu menunggu terlalu lama.

"Neng, jangan pergi, ku mohon. Masih bisa kita bicarakan baik-baik kan,"

Zahra menggeleng pelan, "Tunggu aku di rumah, jam 8 malam." ucap Zahra, lantas ia segera menaiki mobil hitam itu bersama anak-anak.

"Neng, tunggu neng... Neng, kita bicarakan saja sekarang, kamu jangan pergi, neng !!!" Teriak Dimas saat mobil itu  sudah mulai berjalan perlahan meninggalkan halaman rumahnya.

"Ck. Arrrghhh !!!!" Dimas berteriak frustasi sembari memukulkan tangannya ke udara.

Berkali-kali terdengar suara dering ponsel dari Handphonenya, tapi ia masih mengabaikannya. Dari siapa lagi kalau bukan Nisa. Saat ini, pikirannya benar-benar runyam.

Banyak orang mengatakan bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk berpulang, dan orang tua akan selalu siap melebarkan tangan untuk merengkuh kita dengan sepenuh kasih. Terutama seorang ibu. Sayang sekali, kini Zahra tak punya tempat berpulang. Kedua orang tuanya sudah lebih dulu pulang ke pangkuan ilahi sejak ia masih menginjakkan kaki di bangku SMA. Dan dia adalah anak satu-satunya sehingga saat seperti ini Kemana lagi ia akan berpulang ?

"Bunda... Bunda menangis ?" tanya Rayyan dengan lembut. Ya, anak laki-lakinya ini selalu peka dengan nya. Kasih sayangnya pada bunda dan adiknya juga sangat luar biasa. Bocah seusianya, dia jauh lebih dewasa dari pada teman sebayanya.

"Tidak sayang, bunda tidak nangis kok." jawab Zahra berusaha memaksakan senyumnya.

"Tapi, pipi bunda kok basah. Mata bunda juga merah ?" tanyanya lagi sembari mengelus pipi bundanya. Zahra pun segera meraih tangan mungil anak tujuh tahun itu, lalu menggenggamnya.

"Enggak, ini tadi bunda cuma kelilipan, kak. Nggak apa kok."

"Memangnya di dalam mobil ini ada debu bunda ?" tanya Zahwa dengan polosnya. Zahra hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis kecilnya.

Jangan tanya soal hati, yang pasti hancur sehancur hancurnya. Kalau bukan karena dua malaikat ini entah seperti apa dan bagaimana Zahra bisa berdiri tegak menghadapi situasi sekarang.

"Bunda... Kita mau kemana ?" tanya Rayyan bingung. Zahra mengelus rambut Rayyan dengan lembut. "Ke rumah Nenek sayang," jawab Zahra asal.

Sebenarnya dia bingung mau kemana, tapi pada akhirnya, ia mengatakan akan ke rumah neneknya anak-anak.

"Yeeee, asik. Kita kerumah Nenek. Hore... Besok Ray mau ajak Nenek main ke bukit ah,"

"Zahwa juga, mau main boneka sama tante Dinda," ucap Zahra tak kalah girang.

Beruntungnya, Zahra masih punya mertua yang sangat baik, bahkan menganggapnya sama seperti anak anaknya yang lain, tanpa membedakan mana anak mana menantu. Terkadang malah ibunya Dimas lebih berpihak pada Zahra, ketika ada masalah.

"Sesuai aplikasi ya, mbak." ucap Sopir itu setelah mobil berhenti tepat dihalaman rumah orang tua Dimas. Rumah dengan halaman yang luas serta asri, di tumbuhi berbagai tanaman dan bunga-bunga. Biasanya, dua pekan sekali Zahra membawa anak-anaknya berkunjung kesini. Ini pun juga baru empat hari yang lalu Zahra pulang dari rumah ini di antar oleh Dani, adik laki-laki Dimas yang masih kuliah. Dimas tiga bersaudara, punya dua adik, Dani dan Dinda. Keduanya pun juga sangat akrab dengan Zahra.

Tak ada itu istilah ipar julid dalam kamus hidup Zahra. Hidupnya sangat sempurna bukan ? Tentunya Sebelum badai mulai menyerang bahtera dan Nahkodanya mulai membawa penumpang baru.

"Loh, mbak Zahra ?" ucap Dinda kaget. Dirinya yang baru saja duduk di teras sembari membaca buku itu terkejut melihat kakak iparnya datang tanpa memberi kabar. Apalagi dengan membawa koper besar, tak seperti biasanya saat Zahra bermalam disini.

Zahra berjalan perlahan sembari menggandeng Rayyan, sementara Zahwa sudah berlari lebih dulu mendekati tantenya. Zahwa ini memang paling akrab dengan adik perempuan Dimas.

"Buk... Ibuk... Ibuk... " Teriak Dinda.

"Apa sih, nduk teriak-teriak ? Loh, Zahra ? Sama siapa, nduk ?" tanya mertuaZahrar kaget dengan kedatangan menantunya.

"Yang ti... " Rayyan langsung berlari memeluk Neneknya dan langsung mendapat balasan pelukan dari neneknya juga.

"Duh, cucu cucu yang ti, ayo masuk masuk. Kebetulan nih, Yang ti masak rawon. Kesukaan kalian."

"Asik... " Mereka berdua langsung berlari masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Dinda.

"Bu." Zahra meraih tangan mertuanya dan menciumnya dengan takdzim. Ia tak banyak bertanya walau heran. Tapi dengan kedatangannya, dia tahu pasti ada sesuatu. Apalagi Zahra datang sendiri tanpa Dimas, padahal dia tahu, Dimas sudah di rumah sejak bulan lalu.

"ndang masuk nduk... angin sore nggak apik... makan kalo belum makan? terus istirahat... arek2 cek main bareng Dinda."

"Buk... Tapi, Zahra kok tiba-tiba pengen rujak cingur bikinan ibuk, loh. Enak soalnya. Bikin nagih,"

"Hahaha, kamu itu. Gampang. Yo wes, ayo masuk dulu nanti bikin sama-sama."

"Ye, makasih ibuk. Sayang ibuk." ucap Zahra sembari memeluk ibu mertuanya. Begitu saja sudah menghangatkan kembali hati Zahra. Zahra nggak kebayang, bagaimana nanti jika Bu Sukma tahu, jika anaknya sudah menduakannya dengan wanita lain.

"Lho, ayo masuk kok malah melamun."

"Eh, i iya buk."

Suasana hangat itu terasa sekali di tengah keluarga Dimas. Canda, tawa, tak pernah ada batasan di antaranya. Lagi-lagi Zahra bersyukur, bisa memiliki mertua sebaik bu Sukma, di tengah banyaknya yang mengeluhkan konflik antar mertua dan menantu, Justru Zahra malah sangat akrab dengan keluarga Dimas.

"Buk... "

"Gimana, nduk ?"

"Zahra... Izin pulang dulu sebentar, boleh ? Tapi Zahra titip anak-anak dulu, biar disini sebentar" ucap Zahra hati-hati.

Bu Sukma yang tadi tengah mengupas kulit kacang itu menoleh ke arah Zahra. Pandangan matanya bertemu sehingga Bu Sukma dapat membaca, ada yang berbeda dari Zahra hari ini. Dia cukup diam sesaat sebelum menjawab, "yo wes tapi hati-hati yo. Biar di antar Dimas aja kalau gitu,"

"Eum, nggak usah buk. zahra sudah pesan grab."

"Oh, yo wes, hati-hati yo nduk." ucap Bu Sukma.

Mobil sudah berada di depan rumah. Bu Sukma hanya memandanginya dengan diam. dia tahu, pasti anak dan menantunya sedang ada masalah. Hanya saja Dia tak mau ikut campur sebelum benar-benar dilibatkan. Ia masih percaya, anak dan menantunya bisa menyelesaikan dengan bijak.

Tepat jam 8 malam, Zahra sampai lagi di rumahnya. Rumah berlantai dua itu tampak sepi dan gelap, Zahra melangkah perlahan menuju rumahnya.

Lantas ia menarik gagang pintu rumah yang ternyata tidak di kunci.

"Kemana Mas Dimas?" gumamnya. Ia melangkah hati-hati.

Dan ia kaget, saat tiba-tiba seorang memeluknya dari belakang,

"Hua ! Astagfirullah !"

"Zahra, akhirnya kamu pulang sayang. Hm ?" ucap Dimas sembari memeluk erat tubuh Zahra dari belakang. Sesekali tangannya juga meraba bagian tubuh sensitif Zahra.

"Mas ! Kamu apa-apa an sih, lepasin !" Sontak Zahra melepaskan pelukan Hakim, lalu berlari menuju saklar lampu dan menyalakannya.

"Astagfirullah, mas." ucap Zahra. Ia terkejut melihat Dimas, tampak terlihat kacau dengan penampilannya yang acak-acakan. Bajunya masih sama seperti sejak sebelum Zahra pergi. Tapi kini tampak lebih lusuh, kusut, kancingnya saja tak beraturan. Entah apa yang dilakukannya.

"Duduk mas,"

"Neng, tolong Neg, maafin Mas. Tolong, jangan pergi ya, Mas nggak bisa. Mas nggak bisa tanpa kamu, Mas Nggak bisa tanpa anak-anak."

"Nggak bisa tanpa dia juga ?" tanya Zahra tenang, tapi menusuk.

Dimas tampak diam tak menjawab. Zahra pun tersenyum menyeringai. "Siapa namanya mas ?"

Dimas akhirnya mendongakkan kembali kepalanya, "Namanya... Nisa." jawab Dimas.

Zahra pun mengangguk-angguk.

"Orang mana ?" Tanya Zahra. Kali ini dia lebih tenang dari sebelumnya. Tentunya dia sudah menata hatinya sejak kemarin.

"Bogor. Tapi orang tuanya asli Jawa tengah."

"Kamu, serius men,cintainya Mas ?" tanya Zahra lagi. Dimas masih diam, tak berani menjawab dan menatap mata Zahra.

"JAWAB !!! "

"I iya, Neng. Maaf," ucap Dimas pelan.

"Baik, kalau gitu. Bawa dia kemari segera." ucap Zahra.

"Neng, kamu serius ?"

"Tentu. Kenapa tidak ? Kamu takut aku labrak dia, terus aku jambak-jambak dia ? Hahaha. Basi mas ! Aku bukan anak putih abu-abu yang baru mengenal apa itu cinta."

"Neng... "

"Terserah. Itu kalau kamu mau aku menerimanya, mas." ucap Zahra lagi.

"Neng... Ini... Beneran Serius ?"

'Tentu. Tapi... '

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Madu Suamiku   Madu Suamiku (The End)

    Gelap. ​Hal terakhir yang kuingat saat kesadaranku direnggut adalah kegelapan yang teramat dingin, sunyi, dan bunyi denging panjang yang memekakkan telinga. Namun, di balik kegelapan itu, jiwaku seolah dipaksa mendengar jeritan-jeritan pilu dari dunia atas yang kutinggalkan.​Aku mendengar raungan Mas Zean yang terus memanggil namaku, hancur bagai laki-laki yang kehilangan seluruh arah hidupnya. Aku mendengar isak tangis Resti yang histeris. Dan sayup-sayup, aku merasakan getaran hebat dari pijatan di dadaku, disusul suara Zulfa yang bergetar parau memohon agar aku kembali demi anak-anak, demi dia yang kini telah mengikat janji suci sebagai maduku.​“Kembali, Ra... Tolong kembali. Jangan biarkan pernikahan ini menjadi penyesalan seumur hidup kami...”​Mungkin, Tuhan belum mengizinkanku pulang hari itu. Embusan napas yang sempat terhenti itu ditarik kembali oleh takdir. Aku terbangun beberapa hari kemudian di ruang rawat yang sunyi, menatap dua wajah yang begitu kuyu dan bersimbah air

  • Madu Suamiku   Akad Dadakan

    "Sorry Zean. Tapi ini permintaan Zahra. Aku udah berusaha nolak, tapi Istrimu sendiri yang kekeuh. Kalau kamu mau menolak, protes. Lanhsung sampaikan saja kepada Zahra. Aku sudah menyerah," ucap Resti Pasrah. "Zahra... kamu dengar Mas, kan? Mas nggak mau! Demi Allah, Mas cuma mau kamu, Ra!"​Zulfa pun sama terkejutnya. Wajah dokter itu mendadak pias sempurna. Tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tiang infus di dekatnya. "Mbak Resti... Mas Dani... ini salah. Aku nggak bisa. Aku ini sahabatnya Zahra! Aku tidak pernah punya niat untuk merebut posisinya, demi Allah!"​Zulfa menatap Zahra dengan tatapan terluka dan menggeleng cepat. "Zahra, please... jangan hukum aku seperti ini. Aku murni ingin menyembuhkanmu, bukan menggantikanmu!"​Di atas brankar, di tengah badai penolakan dan kepanikan dari dua orang yang paling dicintainya, Zahra perlahan menggerakkan tangannya. Alat pulse oximeter di jarinya berbunyi semakin cepat seiring dengan detak jantungnya yang tidak stabil

  • Madu Suamiku   Permintaan Terakhir

    Suara Zulfa memecah keheningan koridor. Mendengar ucapan itu, Resti, Dani, dan semua yang ada di sana spontan menoleh ke arah Zulfa. Suasana sempat bergeming sejenak, diselimuti kecanggungan dan ketegangan yang aneh di tengah situasi kritis ini.​Zulfa yang menyadari tatapan penuh selidik. terutama dari Resti. tidak mundur. Ia justru melangkah maju dengan tegas. "Ayo... kenapa pada bengong? Kita tidak punya banyak waktu bukan?!" ucap Zulfa, suaranya naik satu oktav demi menyadarkan mereka semua. ​Semua orang langsung tersentak. Dokter piket yang menyadari urgensi situasi segera mengangguk. "Baik, Dokter Zulfa, mari ikut saya ke ruang tindakan laboratorium untuk skrining kilat dan proses donor." Tanpa membuang waktu, Zulfa langsung melangkah cepat mengekor di belakang dokter, membiarkan jubah putih dokternya berkibar di koridor rumah sakit.​Peninggalan Zulfa menyisakan keheningan baru di depan ruang ICU.​Zean kembali terduduk dengan kedua tangan menopang kepala. Pikirannya carut-mar

  • Madu Suamiku   Kabar Buruk

    Pria itu tertegun menatap Zulfa yang baru saja keluar dari koridor poli kandungan dengan jas putih dokternya. "Zahra... belum sampai sini, Dok?"​"Belum, Mas," Zulfa mengernyitkan dahi, ikut bingung. "Malahan ini aku sudah nunggu dari satu jam lalu loh. Aku pikir dia nungguin kamu di luar. Soalnya pagi tadi pas aku telepon, dia bilang mau datang bareng kamu."​"Nggak ada, Dok. Saya baru selesai meeting dengan klien, pulang sebentar ganti baju langsung kesini," sahut Zean, napasnya mulai tidak beraturan. Jantungnya berdegup makin kencang. "Aku pikir Zahra sudah nunggu di sini. Karena tadi pagi dia bersikeras minta janjiannya langsung ketemu di klinik."​Raut wajah Zulfa langsung berubah serius melihat kecemasan Zean. "Coba Mas Zean hubungi nomor siapa gitu. Soalnya dari tadi saya sudah telepon nomor Zahra berkali-kali tapi tidak aktif. Atau barangkali Zahra punya nomor telepon darurat lain yang bisa dihubungi?"​"Ck..." Zean berdecak frustrasi.​Ia segera mengeluarkan ponselnya dari sa

  • Madu Suamiku   Insting gawat darurat

    Sepeninggalan Zahra, suasana rumah terasa sedikit berbeda. Meski anak-anak sudah besar, Zean tetap harus memastikan pagi ini berjalan lancar. Rayyan yang sudah kelas 1 SMP tampak tenang menghabiskan sarapannya, sementara Zahwa yang kelas 3 SD sibuk merapikan tas sekolahnya di ruang tengah.​"Kak, hari ini pulang sekolah jam berapa? Biar Papa tahu jam jemputnya," tanya Zean sembari merapikan dasinya di depan cermin ruang tamu.​"Jam satu siang, Pa. Hari ini ada ekskul sebentar," jawab Rayyan mandiri.​"Oke. Papa antar kalian sekarang. Kakak sama Adik ayo masuk mobil."​Setelah mengantar kedua buah hatinya ke sekolah masing-masing, Zean langsung memacu mobilnya menuju sebuah restoran di dekat area perkantoran. Hari ini dia ada janji temu penting dengan seorang klien korporasi besar terkait kasus sengketa tanah yang cukup pelik. Sebagai pengacara ternama, Zean harus tampil prima dan fokus, meskipun sebagian pikirannya masih tertinggal pada kondisi kesehatan istrinya.​Pertemuan hukum itu

  • Madu Suamiku   Pagi yang... Indah ?

    Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Zahra membuka kelopak matanya. Kamar masih temaram, namun jiwanya terasa begitu terjaga. Menatap wajah Zean yang masih terlelap pulas di sampingnya, Zahra tersenyum tipis. sebuah senyum yang menyimpan misteri mendalam. Perlahan, ia menyibak selimut, melangkah turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. ​Pagi itu, Zahra mendadak menjelma menjadi sosok yang luar biasa ceria. Tubuhnya yang kemarin pias dan lemas, kini bergerak lincah ke sana kemari. Ia merapikan ruang tamu yang sempat agak berantakan, menyapu lantai, hingga beralih ke dapur. Aroma harum nasi goreng mentega dan ayam suwir langsung memenuhi penjuru rumah, bersanding manis dengan kotak-kotak bekal anak yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Tidak sampai di situ, seragam sekolah Rayyan dan Zahwa, serta kemeja kerja Zean pun sudah ia setrika halus dan disiapkan di hanger kamar masing-masing.​Bahkan, dirinya sendiri pun sudah mandi, berdandan tipis, dan mengenakan pa

  • Madu Suamiku   Villa 2

    Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin te

  • Madu Suamiku   Moment Akward

    Sambungan pun terputus. Zahra meletakkan ponselnya di meja samping ranjang, lalu merebahkan diri. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena amarah atau sedih—melainkan karena hangat. Rasa takut yang tadi membebani hatinya seakan mencair, diganti dengan rasa tenang. Ia menarik selimut, menutup

  • Madu Suamiku   Jangan Sentuh Anakku !

    Berbagai pilihan itu terus berputar-putar di kepala. Salah satu di antaranya telah ia pertimbangkan matang-matang dan tentunya itu tidak mudah. Memang perlu ada yang di korbankan untuk mengurai semuanya."Em, aku... Pamit dulu ya, Res. Nanti aku kabari lagi. Perasaanku nggak enak," ucap Zahra. Lant

  • Madu Suamiku   Pertengkaran

    "Jadi, sudah berapa lama Mas ?" Zahra bertanya sembari memegangi ponselnya yang masih menampakkan foto dua manusia tanpa busana di atas ranjang sebuah hotel. Keduanya tersenyum merekah hingga senyuman mereka itu menciptakan sayatan luka yang amat dalam di hati Zahra. "Dua tahun, Neng." jawab Dimas

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status