แชร์

Pertikaian ... LAGI!

ผู้เขียน: Aisyah Ahmad
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-14 23:42:51

"Maaf, kalau di mata ibuk Zahra sudah sangat lancang ya, Zahra tampak bukan wanita baik baik ya Buk ? Maaf, di sini Zahra juga butuh bertahan hidup. Kalau hanya nungguin mas Dimas, mengandalkan Mas Dimas. Zahra... Ya Zahra nggak bisa apa-apa. Anak anak Zahra butuh makan, butuh biaya sekolah, keperluan harian mereka. Dan aku juga butuh itu juga. Aku paham kok, paham kalau aku masih masa Idah. Tapi bukan berarti aku harus diam di rumah kan? Dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Apa iya aku biar
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Yuni Anti
lanjut dong
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Madu Suamiku   Topeng Zahra

    ​Zahra menunduk, meremas jemarinya sendiri di pangkuan. Rasa sakitnya bukan lagi fisik, melainkan rasa bersalah yang teramat besar pada suaminya. Mengingat bagaimana Zean selalu memperlakukannya bak ratu, vonis ini terasa seperti hantaman yang menegaskan kekurangannya sebagai seorang istri.​Zahra menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang bergemuruh. Ia harus pulang sebentar lagi. Ia harus mengulas senyum di depan Zean, merangkai kebohongan demi kebohongan tentang "program promil" yang sebenarnya sudah mati sebelum dimulai.​Zahra menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap tas jinjingnya dengan pandangan kosong. Meratapi impiannya yang baru saja terkubur, di dalam ruangan yang awalnya ia masuki dengan penuh tawa.Zahra tidak langsung pulang. Dengan pikiran yang berkabut, ia meminta taksi daring yang ditumpanginya untuk berputar-putar tanpa arah mengelilingi sudut-sudut Malang Kota. Menatap jalanan Ijen yang rindang lewat jendela kaca, ia ber

  • Madu Suamiku   Vonis ditengah Harapan

    Zulfa perlahan menjauhkan alat pemindai dari perut Zahra. Ia berbalik menatap sahabat lamanya itu, mencoba sekuat tenaga menyembunyikan badai kepanikan yang mendadak melanda benaknya, meski getaran di sudut matanya tidak bisa berbohong.​"Ra..." suara Zulfa tercekat di tenggorokan, terdengar begitu berat. "Kita... kita pindah duduk ke meja depan lagi, ya? Ada hal penting yang harus aku jelaskan."​Zahra melangkah turun dari ranjang periksa dengan lutut yang mendadak terasa lemas. Gel bening yang tersisa di perutnya terasa sedingin es, sedingin firasat buruk yang kini mulai mencengkeram dadanya. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berjalan mengekor di belakang Zulfa.​Zulfa duduk kembali di kursi kebesarannya. Ia tidak langsung berbicara. Tangannya bergerak gelisah, membolak-balik rekam medis Zahra seolah mencari celah kekeliruan, sebelum akhirnya mengembuskan napas berat.​"Zul, jangan bikin aku takut," bisik Zahra, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "A

  • Madu Suamiku   Ruang USG yang hening

    ​[Zul, ini aku Zahra. Makasih ya buat obrolannya tadi di cafe. Oh ya, Senin nanti kalau jadwal praktik kamu nggak padat, aku boleh main ke rumah sakit tempatmu dinas? Mau mulai tanya-tanya soal program yang aku bilang tadi, hehe. Kebetulan ada riwayat lama yang mau aku konsultasikan juga.]​Sent.​Zahra mengembuskan napas lega setelah menekan tombol kirim. Gawai pintarnya ia letakkan kembali ke dalam tas. Ia menoleh ke arah Zean yang fokus menyetir, lalu dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami.​Zean melirik sekilas, lalu melepaskan satu tangannya dari kemudi untuk mengusap lembut puncak kepala Zahra. "Sudah selesai kirim pesannya, hmm?"​"Sudah, Mas. Hari Senin aku mau main ke tempat Zulfa," sahut Zahra dengan nada riang.​Zean hanya tersenyum tipis, meski di dalam hati kecilnya, insting tajamnya masih menyisakan sedikit riak ganjil tentang pertemuan sore tadi. Namun demi kebahagiaan istrinya, Zean memilih untuk menggenggam jemari Zahra erat, membiarkan sisa perj

  • Madu Suamiku   Promil baru

    Mobil SUV hitam itu mendadak berhenti sedikit mendadak di tepi jalan setelah Zean menginjak rem dengan refleks yang cukup mengejutkan. Beruntung, jalanan menuju hotel siang itu tidak terlalu padat, sehingga manuver Zean tidak membahayakan kendaraan lain.​Zean langsung memutar tubuhnya menghadap Zahra sepenuhnya. Gurat canda di wajahnya menguap, digantikan oleh ekspresi serius, namun sarat akan pancaran rasa sayang yang begitu dalam. Ia menatap lekat sepasang mata Zahra yang kini tengah menatapnya dengan binar menuntut sekaligus rapuh.​"Hei... dengar Mas," ucap Zean lembut, suaranya berat dan menenangkan. Ia meraih kedua tangan Zahra, menggenggamnya erat di atas pangkuan wanita itu. "Kenapa bicaranya begitu, hmm?"​Zahra terdiam, melirik ke luar jendela sekilas sebelum kembali menatap suaminya. "Ya lagian... respons Mas selalu begitu setiap kali aku bahas soal anak. Seolah-olah Mas sengaja membatasi diri, atau... Mas memang merasa kehadiran Rayyan dan Zahwa sudah merepotkanmu?"​Mend

  • Madu Suamiku   Rencana Promil

    Zahra hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.​Zulfa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan wajah yang mendadak pias, campur aduk antara tidak percaya dan kecewa yang mendalam. Di dalam hatinya, sosok Dimas, pria yang dulu ia kagumi diam-diam karena kesalehan dan ketegasannya di organisasi masjid seketika runtuh berkeping-keping. Pria yang dulu sempat membuatnya patah hati karena lebih memilih Zahra, ternyata bisa berbuat sekeji itu pada wanita sebaik Zahra.​"Aku... aku benar-benar nggak menyangka Dimas bisa seperti itu," bisik Zulfa, suaranya terdengar agak serak. Ia menatap Zahra dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus iba. "Maaf ya, Ra... aku malah mengorek luka lama kamu."​Zahra tersenyum tulus, menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, Zul. Itu sudah lewat. Sekarang aku sudah jauh lebih bahagia bersama Mas Zean. Masa lalu itu yang membentuk aku jadi wanita yang lebih kuat sekarang."​Zulfa beralih menatap Zean yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh kedewasaan

  • Madu Suamiku   Mengenang...

    ​"Zulfa...?" sebut Zahra, suaranya nyaris tenggelam di antara bisingnya pengeras suara supermarket yang mengumumkan diskon akhir pekan.​Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi kedua wanita itu. Tangan Zahra masih menggantung di udara, memegang pelembap wajah milik Zulfa yang belum sempat berpindah tangan.​Zulfa. Agadis yang dulu sama-sama aktif di organisasi dakwah kampus bersama Zahra dan Dimas, kini berdiri di hadapannya dengan penampilan yang jauh lebih matang. Jika dulu ia identik dengan gaya mahasiswi kedokteran yang selalu membawa diktat tebal dan tampak lelah, kini Zulfa terlihat anggun, memancarkan aura seorang wanita karier yang mapan.​"Zahra, ini beneran kamu?" Zulfa akhirnya bersuara, mencoba tersenyum meskipun gurat kecanggungan dan keterkejutan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia segera menerima barangnya dari tangan Zahra, lalu berdiri tegak. "Ya ampun, sudah berapa tahun ya kita nggak ketemu?"​Zahra ikut berdiri, berusaha menguasai diri dan menata detak j

  • Madu Suamiku   Memar dipunggung Zahwa

    Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman.Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi.Lampu-lampu kecil masih menyala.Bunga-bunga segar belum layu.Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk

  • Madu Suamiku   Nahkoda kapal yang baru

    "Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju

  • Madu Suamiku   Tabir yang tersingkap

    "Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka ke

  • Madu Suamiku   Villa 2

    Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin te

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status