Beranda / Rumah Tangga / MADU YANG BERACUN / Bab 7 | Tiket Honeymoon

Share

Bab 7 | Tiket Honeymoon

Penulis: Dara Kirana
last update Tanggal publikasi: 2023-06-04 10:54:59

Embun menenggak segelas air putih meredakan haus dan tenggorokannya yang seperti tercekik. Matanya menerawang jauh memikirkan kesakitan hidupnya. Embun belum ingin beranjak dari dapur karena tidak kuasa ketika melewati kamar Jasmine.  Wanita itu menghela napas kasar menghalau sesak yang menghimpit dada. 

"Berbagi itu indah, tapi berbagi suami itu menyakitkan," gumam Embun lalu kembali menenggak air minum. 

"Embun." Suara Lintang membuyarkan lamunannya. 

Embun terperanjat karena tiba-tiba Lintang sudah berada di sampingnya. Mata Embun memperhatikan Lintang dari ujung rambut sampai ujung kaki, terlihat keringat masih mengalir di pelipis lelaki itu. Embun bergidik, ia jijik membayangkan apa yang sudah Lintang dan Jasmine lakukan. Wanita itu menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Lintang. 

"Mas mau apa di sini?" tanya Embun pada akhirnya. 

"Aku haus," jawabnya singkat sambil tangannya terulur hendak mengambil gelas di tangan Embun. Embun segera menjauhkan gelas milikya, tidak sudih bibir lelaki itu menempel di gelasnya. 

"Kamu kenapa, Embun?" tanya Lintang heran. 

"Ambil saja gelas sendiri, Mas. Aku naik dulu." Embun memutar badan beranjak meninggalkan Lintang. Namun, gerakannya tertahan karena cekalan tangan Lintang dilengannya. 

"Jangan sentuh aku!" Refleks Embun menghempas tangan Lintang membuat lelaki itu semakin keheranan. 

"Kamu kenapa, Embun?" Lintang mengernyitkan dahi, bingung atas sikap sang istri. 

"Kau berkeringat, Mas? Apa AC di kamar kalian mati?" Bukannya menjawab Embun malah melontarkan pertanyaan yang membuat Lintang tidak nyaman. 

"Aku lupa menyalakannya," jawab Lintang asal, otaknya tidak bisa berpikir jernih. Lelaki itu mengusap tengkuknya. .

"Oh, kenapa bisa lupa?" 

"Aku dan Jasmine terlalu mengantuk, jadi kami langsung tidur saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?" 

"Tidak, aku hanya penasaran saja kenapa kau bisa berkeringat seperti itu, Mas. Seperti kita …." 

"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Tidak baik, Ini sudah malam," sela Lintang. 

"Kenapa? Sepertinya kau takut sekali aku berpikir yang aneh-aneh, Mas? 

"Aku hanya tidak ingin kau sakit karena pikiranmu sendiri."

Embun tergelak menutupi lukanya yang semakin menganga. Nyatanya ia sudah tau yang sebenarnya, ia bukan lagi anak kecil yang dengan mudah Lintang bohongi dengan cerita karangan. Embun memutar badan dan beranjak meninggalkan Lintang. 

"Kau mau kemana?" 

"Aku ngantuk!" Embun segera melesat ke kamarnya, tanpa menoleh sedikitpun pada sang suami. Lintang hanya menatap kepergian Embun hingga ke anak tangga. 

*****

Pagi-pagi pak Yolan dan bu Inggrid juga pak Wijaya datang berkunjung. Canda tawa menghiasi meja makan, semua orang berbahagia, kecuali Embun. Ingin rasanya ia undur diri dari meja itu, mereka seakan tidak melihat keberadaan dirinya. Sejak tadi Embun hanya menjadi pendengar setia celotehan-celoteh dua keluarga itu. Terlihat Jasmine diperlakukan dengan begitu istimewa oleh mertuanya, sebagai wanita biasa ada rasa iri yang menyelinap ke dalam hatinya. 

"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kau bahagia? Apa Lintang memperlakukanmu dengan baik?" tanya pak Wijaya pada putrinya. 

"Iya, Pa. Jasmine bahagia, Mas Lintang memperlakukan Jasmine dengan sangat baik. Iya, kan, Mas?" sahut Jasmine sambil melirik suaminya dengan penuh arti. 

"I-iya," jawab Lintang. Ekor mata lelaki itu melirik Embun yang terlihat sedih. 

"Pak Wijaya jangan khawatir, Lintang tidak akan menyakiti Jasmine. Dia anak yang baik, kami tidak pernah mengajarkan anak kami untuk tidak menghargai perempuan, Lintang pasti akan sangat mencintai Jasmine," sahut pak Yolan. 

Perkataan pak Yolan membuat hati Embun berdenyut perih, dirinya memang menantu yang tidak diharapkan oleh lelaki tua itu. Dirinya seperti tidak berharga setelah menjadi wanita yang tidak sempurna. 

"Ayah … Ibu …," batin Embun sambil teringat kepada kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia. Tidak ada yang bisa menerima kekurangannya, tidak ada cinta yang benar-benar tulus untuknya selain orang tuanya. 

"Syukurlah, Jasmine harus selalu bahagia, saya tidak ingin putri saya menderita. Sejak umur lima tahun Jasmine sudah kehilangan mamanya, sejak saat itu dia tidak bisa lagi merasakan kasih sayang mamanya," papar pak Wijaya sembari mengenang almarhumah isinya. Lelaki itu tampak sedih. 

"Pak Wijaya tenang saja, saya akan memperlakukan Jasmine seperti putri kandung saya. saya akan memberikan apa yang hilang dari Jasmine," ucap bu Inggrid. 

"Jasmine merasa seperti punya mama, walaupun Mama Inggrid bukan mama kandung Jasmine. Jasmine senang, Pa. Papa jangan khawatir, Mama Inggrid, Papa Yolan juga Mas Lintang akan menyayangi Jasmine." Jasmine melirik Lintang. Lintang menelan ludah kasar, entah apa yang dirasakannya. 

"Mama juga seperti punya anak perempuan, kan, Mama cuma punya anak satu."

"Syukurlah, Papa bahagia kalau kamu bahagia." Pak Wijaya menyeka lelehan air mata yang hampir lolos. Terharu karena semua orang menyayangi putri bungsunya, ia tidak menyesal menyerahkan Jasmine menjadi menantu keluarga Svarga, meskipun jadi yang kedua.

"Jasmine sudah seperti anak kandung kami, San," imbuh pak Yolan. 

Embun bergeming, ia merasa asing. Tidak ada yang melibatkannya dalam cengkrama hangat itu. Mereka terlalu bahagia menyambut menantu baru, menantu yang akan memberikan mereka cucu nantinya, sehingga dirinya seperti dianggap tidak kasat mata karena memang tidak berguna. Embun tersenyum getir. 

"Tuti, apa barangnya sudah semua?" tanya bu Inggrid saat Tuti melewati meja makan. 

"Sudah, Nya," jawab Tuti sambil menunduk khas asisten rumah tangga. 

"Barang apa?" tanya Jasmine penasaran. 

"Kado pernikahan kalian, Mama bawa saja kemari."

"Oh, ya benar, kami hampir saja melupakannya. Terima kasih, Ma."

"Iya, sayang."

Diakhir acara makan pagi itu pak Yolan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya dan meletakkan dua buah kertas di atas meja. Mama Inggrid tersenyum.

"Apa ini, Pa?" tanya Jasmine. 

"Itu tiket untuk kalian bulan madu, hadiah pernikahan kalian dari Mama dan Papa" ujar pak Yolan kemudian melirik istrinya. 

Mata Embun pedih melihat dua buah tiket itu, ada sesuatu yang mendesak ingin segera keluar dari sudut matanya. Jujur ia sangat iri. Apakah kebahagiaan hanya milik mereka yang sempurna, pikir Embun. 

"Iya, biar segera dapat kabar baik, ya, kan, Pa?" 

"Iya, Ma."

Kemudian orang-orang di sana tergelak, sementara Jasmine tersipu malu. Aura bahagia terpancar dari masing-masing wajah, kecuali Embun. Ia terlihat biasa saja, meski dalam hati menangis. Tidakkah orang-orang itu memikirkan perasaannya, kenapa harus sekarang? Kenapa harus di depan matanya? Embun hanya bisa meratapi nasibnya yang merasa seperti pajangan. 

"Tapi, Ma, Pa, kalau aku dan Jasmine pergi, Embun sendirian di rumah, kasihan dia." Perkataan Lintang seketika menghentikan tawa bahagia orang-orang tersebut, 

"Embun tidak akan sendirian. Di sini ada bi Marsinah dan Tuti. Kenapa harus risau? Sekarang yang harus kamu pikirkan bagaimana caranya agar bisa segera memberi kami cucu."

Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut bu Inggrid bagaikan mata pedang yang membelah jantung Embun, ia hanya bisa menjerit dalam hati sembari membendung air mata, sementara Lintang hanya terdiam. 

"Iya, kan, Embun? Kamu tidak keberatan, Mama yakin kamu pasti mengerti. Kalau Lintang dan Jasmine punya anak otomatis anak itu akan jadi anak kamu juga, kamu juga bisa membantu mengasuhnya dan merasakan menjadi seorang ibu." Bu Inggrid melihat ke arah menantu pertamanya. 

"I-iya, Ma," jawab Embun dengan berat hati, urat-uratnya seperti tercabut. Embun menghela napas menekan sesak yang bersarang di dada. 

"Benar kata Mama kamu, Lintang. Kalian fokus saja sama diri kalian, jangan pikirkan yang tidak terlalu penting dulu. Kami sebagai orang tua sangat menantikan kabar bahagia dari kalian dan yang terpenting jangan sampai setetes air mata putriku jatuh karenamu," tegas pak Wijaya. 

"Berarti aku tidak penting," batin Embun sambil menatap sendu ke dalam piring. Meja makan itu terasa seperti neraka, dimana orang-orang itu menyiksa hati dan perasaannya. 

"Kalau sampai Lintang melakukan itu, biar saya sendiri yang menghukumnya," sahut pak Yolan. 

"Tapi Papa percaya kamu tidak akan melakukan itu, iya, kan, Lintan?" tambah pak Yolan sambil melirik putranya. 

"I-iya, Pa." Lintang menelan ludah kasar. 

"Jadi, aku ratu apa di hatimu, Mas?" batin Embun lalu tersenyum getir. Ia merasa seperti menenggak racun dan racun itu menyebar ke seluruh tubuh. Semejak tinggal bertiga dibawa atap yang sama, kesakitan dalam hidupnya tidak berhenti, belum kering luka yang kemarin sudah ditoreh lagi dengan luka yang baru.

Di bawah meja tangan Lintang menggem tangan Embun, wanita itu terkejut merasakan sentuhan di kulitnya. Embun menatap wajah lelaki yang menggenggam tangannya, mata mereka bertemu untuk beberapa saat sebelum deheman pak Wijaya mengakhiri semua itu. 

Dua keluarga itu meninggalkan meja makan, termasuk Lintang yang dirangkul oleh ayah mertuanya menyisakan Embun seorang diri di meja itu. 

"Mengapa kau begitu kejam Mas. Menahanku tetap di sini hanya untuk menonton kebahagian kalian," batin Embun, setetes air mata mengalir begitu saja selepas kepergian mereka. 

*****

Keesokan harinya, Lintang dan Jasmine bersiap pergi berbulan madu ke tempat yang dihadiahkan oleh mertuanya. Embun menatap sendu dengan hati teriris-iris melihat Lintang dan Jasmine menyeret koper pakaian mereka menuju mobil. Ingin rasanya ia mencegah agar sang suami tidak pergi. Namun, ia tidak punya hak, mereka adalah pasangan sah. 

"Aku hanya bisa mendoakan kebaikan untukmu, Mas. Aku akan ikut bahagia jika kau bahagia, meskipun hatiku sakit," batin Embun sambil matanya tidak lepas dari Lintang dan Jasmine. 

"Aku akan terus membiarkan rasa sakit ini menggerogoti hati dan perasaanku hingga perlahan-lahan rasa cinta ini mati. Untuk saat ini, kubiarkan air mataku terus tumpah hingga saatnya tiba aku pergi dari sisimu, tidak ada lagi perasaan yang tersisa," batin Embun seraya tertunduk dengan mata menatap lantai. 

"Embun." Suara Lintang membuat Embun terperanjat, wanita itu mengangkat kepala dan menatap sang suami yang berada di depannya. 

"Kamu baik-baik di rumah, ya, aku pergi dulu."

Embun bergeming, bagaimana mungkin ia bisa baik-baik saja ketika sang suami pergi untuk berbulan madu dengan wanita lain, istri mana yang tidak sakit. Setiap bangun tidur  Embun mensugesti dirinya untuk kuat. Namun, ada saja hal yang membuat kekuatan yang susah payah ia kumpulkan runtuh. Setiap hari ia berusaha untuk tidak menangis. Namun, air mata itu kembali tumpah ketika kepedihan melanda. 

"I-iya, Mas. Hati-hati." Dengan berat hati Embun mengatakan itu, meski dalam hati tidak rela. Namun, mau tidak mau ia harus merelakan. Lintang memegang kedua pundak Embun, mengamati setiap inci wajah wanita yang sudah satu tahun menemaninya.Terlihat jelas segala kesakitan yang dirasakan oleh wanita itu, Lintang kemudian memeluknya. Dalam hati Lintang meminta maaf atas ketidakberdayaannya saat ini. 

Jantung Lintang berdebar-debar, perasaannya masih sama. Ia masih sangat mencintai Embun. "Maafkan aku," ucap Lintang tanpa suara, lelaki itu memejamkan mata meresapi rasa yang ada. 

"Mas! Ayo berangkat, nanti ketinggalan pesawat." Suara Jasmine mengurai pelukan Lintang dan Embun. Jasmine berdiri ditambang pintu sambil menatap tidak suka pada pasangan tersebut. 

Bersambung …. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • MADU YANG BERACUN   Bab 84 | Menjadi Ibu ( End)

    "Tolong … beri aku kesempatan sekali lagi, Embun?" pinta Lintang, tangannya meraih jemari Embun dan menggenggamnya.Kepalanya mendongak menatap wajah Embun yang memandang ke arah lain."Maaf, Mas. Aku tidak bisa.""Embun ... Aku mohon ...., " tambahnya. "Pikiran Bintang, dia baru saja kehilangan ibu kandungnya, sekarang kau juga ingin meninggalkannya?" tambahnya.Tanpa sadar kalimat itu hanya menambah luka hati, menegaskan jika dia hanyalah seorang pengganti pengganti."Kita akan besarkan Bintang sama-sama,” Rayunya. Dia tahu Embun sangat mendambakan seorang anak.“Dia juga anakmu, Embun,” tambahnya berharap Embun luluh.Embun tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Dari dulu lelaki itu tidak pernah sadar, setiap kata, setiap keputusan yang diambilnya seperti pisau yang selalu merobek hatinya.Embun mengembus napas berat. "Keputusanku tetap sama, Mas. Aku yakin kelak kau bisa mendapatkan ibu yang lebih baik untuk Bintang.”Genggaman tangan Lintang perlahan lepas, seperti harapannya. Ke

  • MADU YANG BERACUN   Bab 83 | Karena Aku Ingin Bahagia

    Lintang kembali mengunjungi rumah sakit sebelum berangkat ke kantor. Beberapa hari terakhir ini, dia selalu menyempatkan melihat keadaan Bintang terlebih dahulu.Lintang berdiri cukup lama menatap dari balik kaca. Diperhatikannya dada itu masih bergerak, naik turun pelan. Banyak alat yang menempel padanya.Sebuah ketakutan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, bayi itu akan pergi menyusul Jasmine. Membayangkannya saja hatinya perih.Segera dia menggelengkan kepala pelan mengusir bayangan itu. Dia kembali menatap Bintang. “Sayang … apapun yang terjadi jangan tinggalkan papa,” ucap Lintang lirih. “Papa sayang Bintang,” lanjutnya pedih. Setelah itu Lintang berangkat ke kantor. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Sepanjang rapat, beberapa Lintang dia kehilangan fokus. Matanya terasa berat karena kurang tidur. Kepalanya pun sesekali berdenyut.Setelah rapat selesai, Lintang menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Dia mengusap wajah kasar.Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah habis d

  • MADU YANG BERACUN   Bab 82 | Kamu Mencintai Jasmine

    Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pelayat pergi, meninggalkan Lintang yang membeku di samping pusara sang istriMatanya menatap lekat pada gundukan tanah yang ditaburi bunga itu, seakan masih belum percaya itu benar-benar terjadi. Di sisi lelaki itu berharap jika ini hanyalah mimpi buruk dan seseorang segera membangunkannya. Namun, rasa hancur terlalu nyata untuk disebut mimpi. “Nak …,” Bu Inggrid menyentuh pundak Lintang. Pria itu bergeming. “Ayo pulang, sebentar lagi mau hujan,” lanjutnya. Lelaki itu tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras. Mata itu kembali memerah.“Jasmine sendirian di sini.” Kalimat itu membuat suasana kembali sesak. Bu Inggrid menutup mulutnya karena air mata hendak menerobos. “Jasmine pasti kesepian,” kata Lintang meracau. Bu inggrid semakin tidak kuasa menahan tangisnya. “Bagaimana kalau dia kedinginan?” lanjutnya pilu. Bu Inggrid menatap sayu melihat keadaan anaknya saat ini. “Nak ….” suara Bu Inggrid bergetar. “Lintang masih mau di sini

  • MADU YANG BERACUN   Bab 81 | Suasana Duka

    Lorong rumah sakit terasa sunyi dan dingin. Lintang berdiri di depan kaca bulat ruang NICU, melihat putranya berjuang di dalam sana. Tampak bayi itu terbaring lemah di dalam inkubator, dengan selang-selang yang terpasang di tubuhnya. Diperhatikannya, dada itu naik turun pelan dibantu alat pernapasan. Mata Lintang berkaca-kaca. Hatinya teriris melihat pemandangan itu. Perihnya menjalar ke seluruh tubuh. “Anakku …,” ucapnya lirih. Tangannya bergetar, menempel pada kaca seolah menyentuh si bayi. Embun yang berada di samping Lintang hanya terdiam. Dia tidak tau harus apa. Matanya ikut menatap bayi merah di dalam. Hatinya terenyuh. Ingin rasanya dia membenci bayi itu, tetapi tidak bisa. Bayi itu tidak berdosa, dia tidak berkhianat, meski kehadirannya lahir dari sebuah pengkhianatan. “Kasihan sekali kamu, nak,” batin Embun. Sebuah bulir bening mengalir begitu saja di pipi, Embun cepat-cepat menghapusnya sebelum Lintang menyadarinya.“Meski tante membenci ibumu, tapi tante tidak ingin

  • MADU YANG BERACUN   Bab 80 | Kehadiran Dan Kepergian

    “Kenapa memangnya, Ma?” tanya Embun. Kepalanya langsung dipenuhi oleh berbagai prasangka buruk. Pasalnya selama ini, setiap apa yang keluar dari mulut ibu mertua selalu menggores hatinya. “Mama mau kamu menemani Lintang.” Suaranya terdengar bergetar.Embun mengernyitkan dahi mendengar perkataan Bu Inggrid. Prasangka buruk di. Kepalanya makin kuat. “Jasmine kemana, Ma?”“Jasmine … tadi pagi kecelakaan. Sekarang masih di ruang operasi,” sahut Bu Inggrid lesu.Embun menegang mendengarnya. Wanita yang telah melabraknya dengan buas kini terbaring di rumah sakit. Mungkin itu karma pikirnya, seperti tidak punya empati. Persetan dengan empati, hatinya tidak merasakan apa-apa mendengar kabar itu. Tubuhnya menegang karena terkejut. “Lintang terpukul sekali sejak tadi,” lanjut Bu Inggrid lirih. “Mama takut dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri,” lanjutnya. Jujur saja hatinya menolak permintaan itu, dadanya terasa panas. Seolah, jika sesuatu yang buruk dilemparkan kepadanya dan dipaksa

  • MADU YANG BERACUN   Bab 79 | Selamatkan Bayi Saya

    Mobil ambulance berhenti di depan IGD. Pintu langsung dibuka cepat. Beberapa perawat segera berlari membawa brankar. “Cepat! Pasien kritis!”Tubuh Jasmine langsung dipindahkan lalu didorong cepat memasuki ruang tindakan. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari pahan hingga membasahi kain yang menutupinya.“Tekanan darah turun!”“Siapkan ruang operasi!”Para dokter dan perawat bergerak cepat. Suara alat medis saling bersahutan memenuhi ruangan dengan tegang.“Detak janin melemah, Dok!” kata salah satu perawat. Jantung dokter itu langsung mencelos. “Kita harus hentikan perdarahannya sekarang.”Di tengah kepanikan itu, jemari Jasmine bergerak lemah. Kelopak matanya perlahan terbuka.“Bu Jasmine? Anda dengar saya?” tanya dokter. Napas Jasmine tersengal. Pandangannya buram.” “Bayi saya…” lirihnya pelan sambil memegangi perut.“Kami sedang berusaha menyelamatkan Anda dan bayi Anda.”Air mata Jasmine jatuh. Dengan sisa tenaganya, ia menggeleng lemah. “Bayi saya dulu …,” suaranya hampir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status