ログインMona pov:
Sudah dua hari semenjak hari itu berlalu, dan sampai saat ini juga Hans masih berada di mension Alex. Hans, pria itu sungguh sangat-sangat menganggu ku. Kenapa? Karna pria itu sering kali membuat Sean menangis. Niatnya ingin membuat Sean tertawa tapi malah membuat bocah kecil itu menangis. Seperti saat ini aku tengah menyuapi Sean makanan. "Hei! Lebih baik kau pergi daripada membuatnya menangis lagi!" Ucapku sedikit berteriak kepadanya. "Kenapa kau selalu emosi ketika aku bermain bersama Sean?" Tanya-nya kepadaku. "Kenapa tidak emosi? Kau selalu membuatnya menangis." Ucapku sambil memukul pelan kepalanya. "Aw! Kau adalah wanita kejam yang pernah aku temui!" Ucapnya sambil memegang kepalanya seolah-olah sangat menyakitkan. "Uuuu apakah sangat sakit sekali? Sini aku akan memukul kepalamu sekali lagi." Ucapku lalu kembali memukul kepalanya yang kali ini menggunakan tenaga dalamku. "Apakah kalian berdua tidak memiliki pekerjaan lain?" Ucap Alex yang tiba-tiba sudah berdiri didepanku dan Hans. "Hei Alex. Kenapa kau mau mempekerjakan wanita kejam sepertinya?" Ucap Hans sambil mentap Mona kesal. "Aku tidak kejam, kau saja yang memancing sisi kejam ku!" Ucapku juga membalas tatapannya. "Kau, pergilah cari pekerjaan lain!" Ucap Alex menunjuk ke arah Hans. "Tidak mau." Ucap Hans lalu duduk di sofa yang berada disebelah Alex. Aku kemudian lanjut menyuapi Sean makan. Bocah kecil ini sedari tadi untung saja hanya diam dan memperhatikan. "Apa kau tidak bosan berada disini?" Ucap Hans setelah beberapa menit terdiam. Hans menatapku juga Alex yang ikut menatapku. "Hm, tentu saja bosan. Jika Tuan Alex mengijinkanku untuk keluar berkeliling kota ini selama sehari, aku akan sangat senang." Ujarku sambil menatap Alex memohon. "Itu tidak akan pernah terjadi." Ujar Alex bersidekap dada memperhatikanku. "Kau lihat? Aku tidak boleh pergi kemanapun bukan?" Ucapku menatap Hans cemberut. "Kau Tuan yang sangat kejam, Alex." Ucap Hans yang terlihat juga kasihan terhadapku. "Bagaimana jika malam ini kita bersenang-senang?" Ucap Hans yang terlihat bersemangat. "Bersenang-senang?" Beoku. "Ya, ikutlah jika kau mau." Ujarnya yang langsung aku angguki dengan semangat. Ku tatap Alex yang hanya diam namun sepertinya dia mengizinkan ku. "Aku ikut." Ucap Alex yang membuatku senang begitupun Hans. "Baiklah malam ini jam 8 malam." Ucap Hans lalu kami semua sibuk kembali dengan kegiatan masing-masing. Mona pov end •••• Sesuai apa yang dikatakan oleh Hans tadi siang, sekarang mereka bertiga sudah dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. "Apakah Ed tidak salah memilihkan ku sebuah pakaian?" Ucap Mona bertanya-tanya. Hans yang tengah mengendarai mobil menatap Mona dari kaca mobil sambil tersenyum. "Ed tidak salah, kau tampak menawan menggunakan gaun itu." Puji Alex yang membuat Mona tersenyum malu. "Hei, sejak kapan kau pintar memuji seorang wanita?" Goda Hans kepada Alex yang berada di kursi sebelahnya. "Apakah itu masalah bagimu?" Ujar Alex menatap Hans dengan menyeringai. "Tidak." Ucap Hans lalu fokus kembali menyetir mobil. Beberapa menit kemudian mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah tempat yang sangat ramai dengan lampu kerlap kerlip dari luar. Mona memperhatikan tempat itu yang diatasnya tertulis dengan huruf besar yang Mona tau itu artinya tempat ini merupakan tempat dimana para wanita dan pria mencari kenikmatan malam. "Apakah ini tempat bersenang-senang bagimu?" Tanya Mona kepada Hans. Raut wajahnya sudah mulai panik. Pantas saja Ed memilihkan baju seperti ini kepadanya, sekarang dirinya mengerti. "Ya, kau pasti akan senang berada di tempat ini." Ucap Hans lalu keluar dari mobil diikuti Alex dan Mona. "Pegang tanganku jika kau takut." Bisik Alex kepada Mona. Mereka akhirnya memasuki klub mewah itu yang tentunya dipersilahkan langsung oleh penjaga itu. Baru saja memasuki tempat ini, suara dentuman musik yang cukup keras langsung memekakan telinga. Tampak disetiap sudut setiap pasangan melakukan hal mesum dengan lampu temaram yang sangat mendukung bagi mereka melakukan hal tersebut. Tampak juga kerumunan orang-orang yang tengah meliuk-liuk kan tubuhnya mengikuti irama musik yang kian keras. Alex tiba-tiba menggenggam tangan Mona yang membuat sang empu kaget dan lagi-lagi merasa aneh akan dirinya. Mona mengikuti langkah Alex yang terus menggenggam tangannya hingga mereka berdua sampi disalah satu ruangan yang didalamnya sudah ada meja beserta kursi dan tak lupa minuman memabukan sudah terletak disana. Hans yang sudah sampai duluan terlihat sudah meneguk sebotol minuman. Saat melihat kedatangan Alex dan Mona dirinya langsung mengarahkan dua botol minuman kepada keduanya. "Kalian berdua minumlah, minumlah sepuasnya!" Ujarnya lalu tertawa terbahak-bahak dan meneguk kembali minumannya. "Kau mau?" Ucap Alex memberikan sebotol Minuman itu. Mona lantas menggeleng karna dirinya tidak pernah meminum bahkan melihat minuman alkohol seperti ini. "Aku lupa jika kau masih seorang gadis remaja," ucap Alex lalu tertawa. "Hei! Aku sudah 22 tahun kau tau!?" Ucap Mona membantah ucapan Alex barusan. Alex kemudian menghentikan tawanya dan kembali mengarahkan minuman tadi kepadanya. "Minumlah jika kau sudah dewasa." Tawarnya lagi yang kali ini dengan tatapan meremehkan. Namun Mona dengan pendirian nya tidak akan pernah meminum minuman alkohol seperti itu. "Tidak, dan tidak akan pernah." Ucapnya lalu mengernyit ketika Alex meminum minuman itu tepat didepannya. "Ada apa dengan ekspresi mu?" Tanya Mona aneh karna saat Alex menegak minuman itu terlihat kerutan didahinya. "Beginilah jika kau meminum minuman ini." Jawabnya lalu kembali meminum minuman itu. Hingga beberapa menit kemudian Mona lebih memilih memainkan handhponnya. Entah itu membuka I***a storynya atau memainkan game. Sampai seseorang menarik bahunya yang membuat kepalanya berantukan dengan dada bidang. Dilihatnya yang ternyata itu adalah Alex yang masih terus meminum minumannya padahal matanya sudah memerah dengan wajah yang ikut memerah. "Berhenti lah, kau sudah mabuk!" Ucap Mona lalu menarik botol minumannya dan meletakan diatas meja. "Kembalikan minumanku!" Ucap Alex lalu kembali mengambil minumannya. Mona menghela nafas lalu membiarkan Alex kembali meminum minumannya. Dilihatnya Hans yang juga sudah tergeletak di sofa sambil memainkan jari-jarinya. "Apakah orang mabuk akan bertingkah di luar pikirannya?" Heran Mona memperhatikan dua pria yang ada dihadapnnya. "Hei gadis asia! Kenapa kau sangat cantik, hm?" Ucap Alex tiba-tiba lalu tersenyum. Alex kemudian membelai rambut hitam panjang Mona layaknya membelai seekor kucing. Berdebar? Tentu tidak karna setau Mona, kalau orang yang tengah mabuk tidak akan mengucapkan sesuatu yang benar. "Aku tidak akan mengijinkan mu keluar dari mension ku. Ini terakhir kalinya bagimu, ingat itu!" Ucap Alex lagi yang masih membelai rambut Mona. "Kenapa aku tidak boleh keluar?" Tanya Mona diiringi dengan tawa. Entah kenapa sosok Alex yang tengah mabuk seperti ini terlihat sangat lucu dan dalam sekejap sisi yang awalnya cool hilang begitu saja. "Karna kau cantik." Jawabnya lalu tertawa. Mona yang mendengar itu hanya tertawa pelan lalu membuka handphone nya. Tidak ada gunanya bagi Mona berbicara dengan orang yang sedang mabuk bukan? Alex menyandarkan kepalanya di bahu Mona sambil menghirup dalam wangi tubuh gadis itu. "Kenapa kau sangat wangi, hm?" Ucapnya lagi yang tidak dibalas oleh Mona yang tengah bermain handphone-nya. "Kenapa kau mengabaikanku? Apa kau tidak menyukaiku?" Ucap Alex lagi yang kali ini juga diabaikan oleh mona. "Aku akan membuatmu untuk tidak mengabaikanku lagi." Ucap Alex lagi lalu merampas dan membuang handphone itu kesembarang arah. Mona yang menyadari hp nya dibuang lantas mentap Alex marah lalu tanpa diduga sesuatu yang basah menempel dibibirnya. Alex menciumnya?Mona pov:Sudah dua hari semenjak hari itu berlalu, dan sampai saat ini juga Hans masih berada di mension Alex. Hans, pria itu sungguh sangat-sangat menganggu ku.Kenapa? Karna pria itu sering kali membuat Sean menangis. Niatnya ingin membuat Sean tertawa tapi malah membuat bocah kecil itu menangis. Seperti saat ini aku tengah menyuapi Sean makanan."Hei! Lebih baik kau pergi daripada membuatnya menangis lagi!" Ucapku sedikit berteriak kepadanya."Kenapa kau selalu emosi ketika aku bermain bersama Sean?" Tanya-nya kepadaku."Kenapa tidak emosi? Kau selalu membuatnya menangis." Ucapku sambil memukul pelan kepalanya. "Aw! Kau adalah wanita kejam yang pernah aku temui!" Ucapnya sambil memegang kepalanya seolah-olah sangat menyakitkan."Uuuu apakah sangat sakit sekali? Sini aku akan memukul kepalamu sekali lagi." Ucapku lalu kembali memukul kepalanya yang kali ini menggunakan tenaga dalamku."Apakah kalian berdua tidak memiliki pekerjaan lain?" Ucap Alex yang tiba-tiba sudah berdiri dide
Mona pov: Aku tidak tahu kenapa, tapi yang jelas sekarang aku berada disebuah pesta. Entah pesta apa ini tapi semua orang terlihat sangat memukau dengan pakaian-pakaian mahal mereka. Ya, kuakui aku terlihat sedikit mencolok saat ini karna aku satu-satunya seorang gadis Asia disini. Sekarang aku hanya berdiri disalah satu sudut menjauhi kerumunan orang-orang yang tengah berbicara itu. 'jika bukan karna sebuah Handphone aku tidak akan menerima tawaran ini!' batinku. Ya, semalam Ed memanggilaku dan aku dibawa keruangan Alex. Disana terlihat Alex dan juga pria tadi sore yang bernama Hans. Flashback: "Apa kau mau melakukan sebuah misi?" Tanya Hans memulai percakapan. Ku tatap Hans yang terlihat menampilkan wajah serius begitupun Alex yang duduk dikursi kerjanya sambil memperhatikanku lekat. "Misi apa?" Tanyaku menatap Hans penasaran. "Mudah saja. Kau tinggal hadiri disebuah pesta dan setelah kau masuk, kau harus membuka pintu belakang dari rumah itu lalu semuanya serahkan kepadaku.
"Musnahkan semuanya!" Ucap Alex , lalu dalam seperskian detik suara ledakan terdengar. Sebuah rumah yang berada dipinggir kota meledak tanpa menyisakan apapun.Alex yang berada sedikit jauh dari rumah itu. Memperhatikan dari jauh keadaan rumah yang lambat laun mulai hangus terbakar."Semunya sudah selesai, lalu apa rencanamu sekarang, Xander?" Ucap seorang pria yang berdiri disamping Alex."Tidak ada, cukup kau peringatkan mereka untuk tidak kembali bermain-main dengnku!" Ucapnya lalu masuk kedalam mobil diikuti oleh pria tadi." Huh, kenapa tidak kau basmi saja semua hama-hama pengganggu itu?" Ucap Pria itu lagi yang sudah duduk manis disamping Alex."Aku tidak akan membiarkan mereka mati terlebih dahulu, karna permainan belum dimulai." Jawabnya lalu tersenyum layaknya iblis."Hm, aku jadi penasaran apa yang akan kau lakukan terhadap mereka." Ucap Pria itu bersemangat."Tunggu saja kapan mainnya." Ucap Alex mengakhiri percakapan antara mereka berdua.••••Sore hari ini, Mona berencan
Alex mengendarai mobil sport-nya dengan kecepatan yang sangat laju hingga membuat para pengendara lain mengumpat kepadanya. Walaupun begitu, Alex terus melajukan kendaraannya tanpa peduli umpatan-umpatan yang dilontarkan pengendara lainnya."Berani bermain-main denganku, hm?" Ucap Alex dengan mata lurus menatap jalanan besar didepan sana. Berani mengganggu iblis yang sedang tidur? Maka rasakan akibatnya.Alex sampai disebuah gedung yang berada ditengah hutan. Gedung ini terlihat kumuh dan tak terawat dengan ditumbuhi tumbuhan rambat yang menutupi sebagian dinding gedung.Tapi siapa tau jika gedung yang terlihat kumuh dan tertinggal itu merupakan sebuah tempat dimana semua aset berharga milik Alex berada disana.Tempat ini terpencil dan jarang orang-orang mengetahuinya, sehingga tidak ada orang yang mengetahui jika ada sebuah gedung kecil yang berisi sebuah harta milik seorang Alexander De Franciso."Salam, Tuan Xander." Ujar beberapa orang-orang berotot besar yang ada disekitar sana.
"Mafia." Satu kata namun seperti suatu bencana besar yang melanda pikiranku. Sungguh. Apakah mafia itu benaran ada? Kukira mafia itu hanya cerita sebagian kalangan."Ma, mafia?" Beo ku sambil menatapnya tak percaya. Kutatap penampilannya dari atas hingga bawah hingga berhenti tepat di wajah tampan bak dewa yunani itu."Apakah aku tidak terlihat seperti seorang mafia?" Tanya-nya kepadaku yang membuatku tersadar lalu mengalihkan tatapanku dari wajahnya."Em, tidak. Kau sangat-sangat terlihat seperti seorang mafia." Ujarku gelagapan. Oh ayolah! Bagaimana bisa seorang mafia berpenampilan tampan seperti ini? Kupikir mafia itu seorang yang sudah tua dan memiliki wajah yang mengerikan dengan ada luka sayatan di wajah ataupun tubuhnya. Tapi mafia di depanku ini berbeda.Alex hanya terlihat seperti seorang pria muda matang dengan karir yang sukses dan besar. Dia tidak seperti seorang mafia, kecuali jika sedang marah."Suatu hari kau akan melihatku layaknya seperti mafia." Ujarnya diakhiri de
Sudah hampir dua minggu aku berada di mension ini dan sudah dari empat hari yang lalu Alex selalu berada di mension yang membuatku selalu merasa dipantau.Iya, karna dirinya yang memiliki rumah ini. Tapi jika setiap hari Alex selalu duduk tidak jauh dari aku dan Sean bermain bagaimana aku tidak kaku dan sedikit risih.Saat ini aku sedang menggendong Sean ke taman belakang mension ini yang cukup besar. Aku melihat bunga-bunga yang indah dan kolam ikan yang cukup besar.Pemandangan disini cukup indah dan udaranya juga segar. Aku menduduki diriku diatas tikar yang tadi sudah digelar oleh salah seorang pria berbadan besar yang membantuku membawakan mainan dan makanan Sean.Kududuki Sean diatas tikar ini sambil diriku mengeluarkan mainan dan juga beberapa biskuit kesukaanya.Hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkam beberapa helai rambutku. Sudah lama aku tidak menghirup udara segar karna sebelumnya aku hanya bermain didalam mension ini saja.Kurebahkan badanku diatas tikar sambil menatap la
Entah dia seorang penolong yang diberikan tuhan kepadaku agar aku tidak menjadi gelandangan di negara ini atau bukan. Tapi aku sangat bersyukur karna dengan pekerjaan ini aku akan bisa menerima gaji dan kembali ke negara asal ku sesuai janji dan surat kontrak yang sudah aku tandatangani semalam.Fl
Aku Mona Gelora. Aku berusia 20 tahun dan statusku adalah seorang singel. Ayahku merupakan seorang yang dimabuk kerja sedangkan ibuku sudah meninggal saat aku berumur 12 tahun.Walaupun begitu, ayahku tidak memilih untuk menikah lagi dan malah semakin gila dengan pekerjaannya dan hasilnya juga sang







