Home / Romansa / Mahar Rahasia Tukang Kebun / Jalan Keluar yang Buntu

Share

Jalan Keluar yang Buntu

Author: Gudet
last update Last Updated: 2025-12-29 14:50:09

Hendra menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Tapi, jika aset itu berpindah tangan melalui pernikahan dengan seseorang yang 'tidak terlihat'—seseorang yang tidak punya sejarah bisnis, tidak punya harta, dan tidak dicurigai—kita bisa mengklaim bahwa itu adalah hibah atau mahar yang sudah diatur lama. Pak Darman adalah orang yang paling aman karena dia tidak punya siapa-siapa dan sudah puluhan tahun setia di sini."

Arumi menoleh ke arah Pak Darman yang masih berdiri kaku di pinggir taman, memegang topi capingnya dengan erat. Wajah tua itu tampak sangat bingung dan ketakutan.

"Tapi dia itu tukang kebun, Pa! Bagaimana cara aku menjelaskannya pada Kevin? Bagaimana kalau orang tahu?" Arumi mulai terisak. "Ini menjijikkan. Aku tidak mau!"

Arumi kemudian berlari menghampiri Pak Darman. Pria tua itu mundur selangkah, tampak segan.

"Pak Darman, Bapak dengar kan? Bapak menolak, kan? Bapak tidak mau menikah dengan saya, kan?" tanya Arumi mendesak, berharap pria tua itu akan berkata 'tidak'.

Pak Darman menunduk dalam-dalam. "Non Arumi... saya ini orang dusun. Saya cuma mau kerja tenang di sini. Saya tidak berani macam-macam, apalagi jadi suami Non Arumi. Saya tahu diri, Non. Saya tidak mau."

Arumi menoleh ke ayahnya dengan wajah penuh kemenangan yang getir. "Lihat, Pa! Dia saja tidak mau! Dia takut! Cari cara lain, Pa. Tolong..."

Pak Broto berdiri dengan susah payah, ia mendekati Arumi dan memegang kedua tangan anaknya. "Arumi, dengar Papa sekali ini saja. Ini hanya di atas kertas. Hanya rahasia antara kita, Pak Hendra, dan Pak Darman. Setelah badai ini lewat, setelah semua aset aman dan Papa bisa membuktikan Papa tidak bersalah, kalian bisa cerai diam-diam. Kamu bisa tetap menikah dengan Kevin bulan depan seolah tidak terjadi apa-apa."

"Tapi aku harus tanda tangan dokumen pernikahan dengan... dengan dia?" Arumi menunjuk Pak Darman dengan jari gemetar.

"Hanya itu satu-satunya cara agar kamu tidak kehilangan segalanya, Arumi. Apa kamu mau besok pagi kita diusir dari sini? Apa kamu mau melihat Papa membusuk di penjara karena semua akses keuangan Papa dikunci?"

Arumi terdiam. Pikirannya berperang hebat. Ia membayangkan wajah Kevin yang tampan dan rencana pernikahan mewah mereka. Lalu ia melihat Pak Darman—pria tua dengan kulit gelap terbakar matahari dan tangan yang kasar karena tanah. Perbedaan itu bagaikan langit dan bumi.

"Kenapa harus pernikahan?" Arumi bertanya lagi, suaranya mengecil. "Kenapa tidak dihibahkan saja langsung ke Pak Darman tanpa menikah?"

"Hibah kepada orang asing dalam jumlah besar saat sedang diselidiki itu akan langsung dibatalkan oleh pengadilan, Non," jelas Pak Hendra. "Pernikahan adalah ikatan hukum yang paling kuat untuk melindungi perpindahan aset. Itu dianggap sah sebagai urusan rumah tangga."

Pak Darman tiba-tiba bersuara, suaranya bergetar. "Tuan Broto... saya takut. Saya tidak punya apa-apa kalau nanti ditangkap polisi karena ikut-ikutan urusan ini."

"Saya jamin kamu aman, Darman. Saya yang akan urus semuanya. Kamu hanya perlu duduk, tanda tangan, dan tetaplah jadi tukang kebun di sini. Tidak akan ada yang berubah kecuali statusmu di kertas itu," bujuk Pak Broto.

Arumi jatuh terduduk di kursi. Ia merasa dunia yang ia bangun dengan susah payah runtuh dalam sekejap. Tidak ada solusi lain. Semua pintu seolah tertutup rapat, hanya menyisakan satu pintu kecil yang sangat kotor untuk ia lalui.

"Aku benci ini..." bisik Arumi sambil menutup matanya. Air matanya jatuh mengenai majalah desain rumah mewah yang tadi ia baca. "Aku benar-benar benci ini."

Malam itu, suasana di dalam rumah besar itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski semua pendingin ruangan telah dimatikan. Di ruang kerja Pak Broto yang remang-remang, suasananya sangat mencekam. Jam dinding terus berdetak, terdengar seperti suara palu hakim yang menghantam meja.

"Satu jam lagi, Arumi. Hanya satu jam," ucap Pak Hendra sambil terus menatap layar ponselnya. "Pihak kejaksaan sudah mengeluarkan surat pencekalan. Jika sebelum subuh status kepemilikan aset ini tidak berpindah melalui akta pernikahan yang sah, besok pagi kita tidak punya tempat tinggal lagi."

Arumi duduk di pojok ruangan, memeluk lututnya sendiri. Riasan wajahnya yang cantik tadi siang sudah luntur karena air mata. Ia merasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar-tawar. Di sisi lain ruangan, Pak Darman berdiri mematung di dekat rak buku. Ia sudah mengenakan kemeja batik usang yang tampak kebesaran di tubuhnya yang kurus. Ia terus menunduk, meremas-remas jemarinya yang kasar.

"Pa, bagaimana dengan Kevin?" tanya Arumi dengan suara serak. "Besok dia akan datang untuk membicarakan bunga dekorasi. Apa yang harus aku katakan padanya?"

Pak Broto menghampiri anaknya, berlutut di depan Arumi. Matanya merah karena kurang tidur dan stres yang luar biasa. "Jangan katakan apa-apa pada Kevin. Untuk dunia luar, kamu masih calon istri Kevin. Pernikahan malam ini hanya sah secara hukum negara dan agama untuk melindungi harta kita. Pak Darman sudah setuju untuk merahasiakan ini seumur hidupnya. Iya kan, Darman?"

Pak Darman tersentak, lalu mengangguk pelan tanpa berani menatap Arumi. "Iya, Tuan. Saya... saya tidak akan bicara pada siapa-siapa. Saya tahu posisi saya."

Arumi menatap Pak Darman dengan kilat kemarahan di matanya. "Tahu posisi? Bapak tahu tidak, kalau Bapak sedang merusak hidup saya? Menikah dengan pria seumuran ayah saya... yang bahkan baunya saja bau tanah dan pupuk! Ini menjijikkan!"

Pak Darman terdiam. Ia menerima hinaan itu tanpa membela diri. Dalam hatinya, ia pun merasa terhina, namun rasa utang budi pada Pak Broto yang telah mempekerjakannya selama puluhan tahun membuatnya tetap berdiri di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Paket Anonim

    "Kamu hebat ya Arumi bisa bersikap tenang padahal kamu tidak tahu betapa berantakannya Kevin dulu kalau sudah bosan dengan satu wanita" bisik Siska tanpa melihat ke arah Arumi.Arumi mematikan keran air lalu menoleh ke arah Siska dengan tatapan yang sangat tajam tapi tetap elegan. "Mbak Siska setiap orang punya masa lalu yang mungkin ingin mereka hapus tapi saya adalah masa depan Kevin jadi apa pun yang terjadi dulu tidak akan pernah merubah posisi saya sekarang sebagai istrinya".Arumi keluar dari toilet dengan langkah yang tegak meninggalkan Siska yang terpaku di sana. Dia kembali ke sisi Kevin dan sepanjang sisa acara dia tetap menjadi pusat perhatian sebagai istri yang sempurna. Arumi menyadari bahwa pernikahan di kelas atas memang penuh dengan orang yang ingin menjatuhkan tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga martabat rumah tangganya.Saat di dalam mobil perjalanan pulang Kevin memegang tangan Arumi dengan erat. "Maaf ya Arumi soal omongan teman-temank

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Diperkenalkan oleh Suami

    "Iya aku tahu Kevin aku sudah siapkan tim terbaik untuk itu" kata Arumi lagi.Tiba-tiba ponsel Arumi bergetar ada pesan masuk dari sekretaris pribadinya di kantor. Arumi membacanya sebentar lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja."Siapa yang kirim pesan pagi-pagi begini" tanya Kevin dengan nada sedikit penasaran."Cuma sekretarisku dia tanya soal jadwal pengiriman bahan kain dari Italia saja" jawab Arumi dengan sangat santai."Oh begitu kirain ada hal penting lain" sahut Kevin sambil kembali fokus pada makanannya.Setelah sarapan selesai Arumi mengantar Kevin sampai ke depan mobil. Dia menunggu sampai mobil Kevin keluar dari gerbang rumah sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam. Arumi berjalan menuju taman belakang rumah yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Dia melihat seorang tukang kebun baru sedang memotong rumput dengan rapi. Arumi berhenti sebentar dan memperhatikan kerja orang itu."Pak tolong mawar yang di sud

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Minta Cucu

    Kehidupan Arumi sekarang sudah sangat teratur dan sibuk setiap hari. Dia bangun pagi saat matahari belum terlalu terik lalu menyiapkan keperluan Kevin sebelum suaminya itu berangkat ke kantor. Meskipun di rumah mereka punya banyak asisten rumah tangga Arumi tetap turun ke dapur untuk memastikan kopi Kevin tidak terlalu manis dan rotinya dibakar dengan pas.Pagi itu Kevin turun ke ruang makan sambil merapikan dasinya. Arumi menghampiri Kevin dan membantu merapikan kerah kemejanya supaya terlihat lebih gagah."Terima kasih Arumi kamu selalu tahu cara membuat penampilanku sempurna" kata Kevin sambil tersenyum puas melihat bayangannya di kaca ruang makan."Itu sudah jadi tugas aku Kevin kan kita harus selalu terlihat kompak di depan orang banyak" jawab Arumi pelan sambil memberikan tas kerja Kevin."Nanti malam jangan lupa ya kita ada undangan makan malam dengan kolega dari Singapura kamu pakai gaun yang kita beli di Paris kemarin saja" ujar Kevin lag

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Nyonya Adiwangsa

    Siang harinya, mereka tiba di gedung perkantoran mewah di kawasan kota. Di hadapan para investor Eropa, Arumi dan Kevin adalah definisi dari "Pasangan Emas". Arumi tampil begitu berwibawa, mempresentasikan rencana ekspansi mereka dengan kecerdasan yang memukau para hadirin.Kevin duduk di sampingnya, sesekali merangkul bahu Arumi atau menggenggam tangannya saat negosiasi mencapai titik krusial. Siapa pun yang melihat mereka akan menyangka bahwa mereka baru saja melewati malam pengantin yang paling romantis dalam sejarah. Arumi memainkan perannya dengan sangat mahir; ia tertawa pada lelucon Kevin dan menatap suaminya itu dengan binar kebanggaan yang meyakinkan.Namun, setiap kali Kevin menyentuhnya, Arumi merasakan sebuah getaran yang hampa. Ia menyadari bahwa ia kini berada di dalam sebuah sangkar emas yang sangat kokoh. Kevin mencintainya dengan cara memiliki, cara yang sama seperti Kevin mencintai koleksi mobil mewah atau saham perusahaannya.Selesai per

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kehidupan Setelah Pernikahan

    Malam di Paris seharusnya menjadi puncak dari segala penantian. Setelah keriuhan pesta pernikahan di Jakarta dan padatnya jadwal pertemuan bisnis di hari pertama mereka tiba, malam ini adalah waktu yang dijanjikan sebagai "penyatuan" yang sesungguhnya. Kevin telah menyiapkan segalanya dengan kesempurnaan seorang Adiwangsa: kamar Royal Suite yang dipenuhi kelopak mawar putih, aroma lilin esensial yang menenangkan, dan pemandangan Menara Eiffel yang berpendar keperakan di balik jendela besar.Arumi, yang telah memantapkan hati dengan segala keikhlasannya, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegugupan. Ia keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur sutra berwarna putih tulang yang anggun. Di dalam hatinya, ia sudah bersiap memberikan seluruh pengabdiannya kepada Kevin. Ia ingin malam ini menjadi fondasi baru, menghapus memori masa lalu yang pernah ia lalui secara sembunyi-sembunyi.Namun, realita seringkali memiliki cara yang pahit untuk menunjukkan wajah aslinya.

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Cinta & Kehormatan

    Mendengar itu, Arumi merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Kevin, dengan segala ambisinya, juga memiliki sisi empati yang dalam. Kevin menerima Arumi seutuhnya, termasuk bagian-bagian yang tidak pernah diceritakan secara lisan.Arumi menggenggam tangan Kevin, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. "Terima kasih, Kevin. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan saat aku menjadi orang yang paling sulit untuk dicintai. Malam ini, aku memberikan seluruh diriku padamu. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi tembok."Malam itu menjadi momen di mana kasta, bisnis, dan gengsi keluarga melebur menjadi satu perasaan yang tulus: rasa memiliki. Arumi merasakan kenyamanan yang berbeda. Jika dulu ia menyerahkan diri dalam rasa takut dan sembunyi-sembunyi, kini ia menyerahkan diri dalam kedaulatan seorang istri yang sah dan terhormat.Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang banyak hal, bukan soal merger

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status