Home / Romansa / Mahar Rahasia Tukang Kebun / Mimpi Hidup yang Sempurna

Share

Mahar Rahasia Tukang Kebun
Mahar Rahasia Tukang Kebun
Author: Gudet

Mimpi Hidup yang Sempurna

Author: Gudet
last update publish date: 2025-12-29 14:49:05

Wajah yang biasanya merah segar dan penuh percaya diri itu kini pucat pasi. Dasinya sudah longgar, dan langkahnya tampak goyah.

"Papa? Papa tidak apa-apa?" tanya Arumi, meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang agak keras.

Pak Broto tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk di kursi rotan di depan Arumi, menatap kosong ke arah taman. "Arumi... Kevin sudah pulang?" suaranya parau, jauh dari nada berwibawa yang tadi siang ia pamerkan.

"Sudah sejam yang lalu, Pa. Ada apa? Wajah Papa menakutkan sekali," Arumi mulai merasa tidak nyaman. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

Belum sempat Pak Broto menjawab, asisten pribadi sang ayah, seorang pria kaku bernama Pak Hendra, datang dengan langkah terburu-buru. Ia memegang tablet yang menampilkan grafik saham dan beberapa portal berita yang baru saja meledakkan kabar buruk.

"Tuan... mereka sudah bergerak. Rekening perusahaan di Singapura sudah dibekukan oleh otoritas. Dan... surat panggilan dari Kejaksaan Agung sudah sampai di gerbang depan," lapor Pak Hendra dengan suara rendah namun tajam.

Arumi mengerutkan kening. "Panggilan? Kejaksaan? Maksudnya apa, Pa? Ini pasti salah paham, kan? Perusahaan kita tidak pernah ada masalah."

Pak Broto menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Ini bukan salah paham, Arumi. Rival bisnis Papa... mereka menjebak Papa dalam kasus aliran dana proyek pemerintah yang tahun lalu. Dan yang paling buruk, mereka mengincar aset rumah ini dan seluruh harta atas nama Papa."

Dunia Arumi seolah berputar. "Harta? Tapi... pernikahanku dengan Kevin? Kita sudah bayar semua vendor, Pa! Gaun pengantin, gedung, semuanya!"

"Arumi, dengar!" Pak Broto memegang bahu anaknya dengan gemetar. "Jika ini terus berlanjut, besok pagi rumah ini akan dipasangi garis polisi. Semua aset Papa akan disita negara. Kamu dan Papa akan tidur di jalanan. Kevin... keluarganya sangat menjaga reputasi. Kalau mereka tahu kita sedang dalam penyelidikan korupsi, mereka akan membatalkan pernikahan itu dalam sekejap!"

"Tidak mungkin! Kevin mencintaiku!" Arumi berdiri, suaranya melengking karena panik. "Kita harus cari pengacara, Pa! Gunakan uang kita!"

"Uang yang mana, Arumi? Semuanya sedang dipantau!" potong Pak Broto putus asa.

Di tengah kebingungan dan teriakan tertahan di teras itu, Pak Darman lewat sambil membawa selang air untuk menyiram tanaman sore. Ia melihat pemandangan itu dari kejauhan. Wajah majikannya yang hancur dan Arumi yang tampak seperti burung merak yang kehilangan bulunya.

Pak Hendra, sang asisten, tiba-tiba menatap Pak Darman, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Pak Broto. "Tuan, hanya ada satu cara hukum untuk mengamankan aset utama dan mengalihkan perhatian penyidik. Kita butuh seseorang yang benar-benar bersih, orang luar yang tidak punya catatan keuangan sama sekali, untuk 'menampung' status kepemilikan melalui ikatan yang sah secara hukum."

Pak Broto menoleh ke arah Pak Darman. Matanya yang tadinya penuh keputusasaan kini berkilat dengan ide yang mengerikan.

"Maksud Papa apa?" tanya Arumi, nafasnya memburu. "Siapa orang luar itu?"

Pak Broto menunjuk perlahan ke arah Pak Darman yang sedang menunduk menyiram mawar. "Dia. Pak Darman."

Arumi tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya dan jijik. "Pak Darman? Tukang kebun itu? Apa hubungannya dengan masalah kita, Pa? Kenapa Papa menunjuk dia?"

"Kamu harus menikah dengannya, Arumi. Secara rahasia. Sekarang juga," ucap Pak Broto dengan nada mati.

"MENIKAH?!" Arumi berteriak, air mata mulai menggenang. "Papa sudah gila! Aku akan menikah dengan Kevin! Aku tidak mau menikah dengan kakek-kakek kumal itu! Dia itu... dia itu cuma pembantu kita, Pa!"

Di kejauhan, Pak Darman yang mendengar namanya disebut, mematikan kran air. Ia mendekat dengan bingung, wajah tuanya tampak polos dan penuh tanda tanya. "Ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"

Pak Broto tidak menjawab Arumi. Ia menatap Pak Darman dengan tatapan memohon sekaligus menuntut. "Darman... aku butuh bantuanmu. Bukan untuk menyiram bunga, tapi untuk menyelamatkan nyawa anakku."

Pak Darman tampak bingung, ia memandang Arumi yang menatapnya dengan kemarahan luar biasa, lalu memandang Pak Broto. "Saya tidak mengerti, Tuan. Saya cuma orang kecil..."

Suasana sore itu berubah menjadi mencekam. Tidak ada solusi, hanya ada Arumi yang mulai terisak karena kehinaan yang membayanginya, Pak Broto yang terpojok oleh hukum, dan Pak Darman yang terjebak dalam masalah yang bahkan tidak ia pahami. Kevin, sang kekasih, tidak ada di sana untuk menolong, dan telepon genggam Arumi terus bergetar—mungkin dari vendor pernikahan yang meminta pelunasan, atau mungkin dari Kevin yang belum tahu bahwa dunianya dan Arumi baru saja runtuh.

Suasana di teras belakang kini terasa sangat menyesakkan. Suara kicau burung sore hari yang biasanya terdengar merdu, kini justru terdengar seperti ejekan bagi Arumi. Ia mondar-mandir di atas lantai pualam dengan tangan gemetar, sementara ayahnya duduk merosot di kursi, terlihat seperti pria yang kehilangan jiwanya.

"Pa, pikirkan lagi! Ini tidak masuk akal!" Arumi membuka pembicaraan dengan suara tinggi. "Kenapa harus Pak Darman? Kenapa bukan pengacara kita? Atau kenapa kita tidak minta tolong keluarga Kevin saja? Mereka punya banyak koneksi, Pa!"

Pak Broto menggelengkan kepala dengan lemah. "Arumi, kamu tidak mengerti dunia bisnis dan hukum yang kotor. Keluarga Kevin itu sangat menjaga nama baik. Begitu mereka tahu rekening Papa dibekukan karena kasus korupsi, mereka akan langsung memutuskan pertunangan kalian. Papa kenal ayahnya Kevin, dia tidak akan mau berbesan dengan narapidana."

"Tapi kita bisa pinjam uang mereka untuk bayar pengacara terbaik!" seru Arumi lagi.

"Bukan soal uangnya, Arumi!" Pak Hendra, sang asisten, menyela dengan tenang namun tegas. "Masalahnya adalah aset. Rumah ini, vila di Bali, semua saham atas nama Tuan Broto akan disita dalam waktu hitungan jam. Jika kita mengalihkannya ke keluarga Kevin, itu akan terlihat jelas sebagai pencucian uang. Penyidik akan langsung mengendus itu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Menutupi Semua

    "Rapatnya selesai lebih cepat karena aku menekan mereka habis-habisan. Aku merindukanmu, jadi aku langsung pesan tiket pesawat pertama untuk pulang," kata Kevin dengan nada yang tidak biasanya, ia tampak sangat bersemangat.Malam itu, Kevin bersikap sangat berbeda. Dia yang biasanya langsung sibuk dengan urusan kantor, kali ini justru terus menempel pada Arumi. Saat Arumi hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Kevin mengikutinya dari belakang."Arumi, biarkan pelayan saja yang mengurus pakaian kotor itu. Sini, duduklah sebentar bersamaku," pinta Kevin sambil menarik tangan Arumi ke arah tempat tidur.Kevin merebahkan kepalanya di pangkuan Arumi, sebuah gerakan manja yang sangat jarang ia lakukan. Arumi terpaksa mengusap rambut suaminya dengan lembut, meskipun pikirannya masih tertinggal di teras rumah Pak Darman. Ia merasa sangat canggung. Hanya beberapa jam yang lalu ia bersandar di bahu pria tua di desa, dan sekarang suaminya yang sah sedang mencari perhatian di pangku

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kembali ke Kota

    "Terima kasih untuk teh dan ceritanya, Pak. Saya merasa jauh lebih baik sekarang," kata Arumi.Pak Darman mengantar Arumi sampai ke depan pagar kayu. Tidak ada lagi pelukan yang penuh nafsu, hanya sebuah jabat tangan erat yang penuh rasa hormat. Namun, saat Arumi hendak melangkah pergi, Pak Darman membisikkan sesuatu yang membuat Arumi tertegun."Jaga diri baik-baik, Non. Akal sehat Non adalah pelindung Non, tapi hati Non adalah penunjuk jalan. Jangan biarkan orang lain memadamkan cahaya di mata Non."Arumi mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya. Dia merasa tenang, namun ketenangan itu sedikit terusik saat dia melihat sebuah mobil hitam misterius yang tadinya terparkir di ujung jalan kini mulai menyalakan lampu mesinnya saat mobil Arumi mulai bergerak.Arumi melangkah perlahan menuju mobil yang sudah menunggunya di bawah pohon besar. Sebelum membuka pintu, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah rumah kecil itu. Ia melihat Pak Darman masih berdiri di depa

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Obrolan yang Dalam

    Arumi tersentak kecil. Bayangan wajah Kevin yang sedang bekerja di Surabaya, bayangan statusnya sebagai Nyonya Adiwangsa, dan kenyataan bahwa kontrak pernikahan mereka sudah lama berakhir, mendadak muncul seperti pagar yang tinggi. Dia sadar bahwa sekarang mereka bukan lagi suami istri, bahkan secara rahasia sekalipun. Apa yang sedang dia lakukan ini adalah sebuah pengkhianatan yang sangat nyata."Pak... tunggu sebentar," bisik Arumi sambil memegang tangan Pak Darman yang mulai meraba ke arah atas.Pak Darman menghentikan gerakannya. Dia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Arumi dengan tatapan yang penuh tanya namun tetap sabar. "Ada apa, Non? Apa Bapak terlalu kasar?""Bukan, Pak. Bukan itu," Arumi membalikkan badan, menatap Pak Darman dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya... saya mendadak takut. Kita sekarang bukan siapa-siapa lagi, Pak. Saya istri orang. Saya takut kalau saya kebablasan, saya tidak akan bisa kembali lagi ke hidup saya yang dulu."Arumi mencoba merapikan pakaiannya

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Gairah yang Menuntut

    Arumi masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya. Dia mengambil ponsel rahasianya dengan tangan gemetar. Dia sangat ingin menelepon Pak Darman, hanya untuk mendengar suara parau yang menenangkan itu. Arumi meraba perut dan dadanya sendiri, merasakan sensasi panas yang tidak tersalurkan. Dia mengingat betapa nikmatnya saat Pak Darman bergerak cepat di dalam dirinya, memberikan rasa sesak yang membahagiakan."Kenapa hidupku jadi begini," bisik Arumi sambil menahan tangis.Dia merasa tersiksa. Di satu sisi dia adalah istri terhormat yang harus menjaga martabat, namun di sisi lain, dia adalah wanita yang sedang kelaparan akan cinta yang nyata. Kehidupan kota yang gemerlap ini tidak bisa memberikan kehangatan yang ia dapatkan dari pelukan seorang pria tua di pinggiran desa. Gairah yang menumpuk itu kini menjadi beban yang sangat berat bagi Arumi.Malam itu, Arumi tidur di samping Kevin yang sudah mendengkur halus. Di dalam mimpinya, dia kembali ke kamar kayu di desa. Dia merasakan tangan Pa

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Gairah yang Semakin Tinggi

    Setiap malam setelah pulang dari kantor, Kevin biasanya langsung sibuk dengan tabletnya atau menonton berita ekonomi di ruang tengah. Dia jarang bertanya tentang bagaimana perasaan Arumi, atau apa yang sedang dipikirkan istrinya. Dia merasa sudah cukup menjadi suami yang baik dengan memberikan segalanya yang bisa dibeli dengan uang."Arumi, besok kita harus hadir di pembukaan galeri seni milik Pak Surya. Pastikan kamu pakai kalung berlian yang baru aku beli ya," ujar Kevin tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya."Iya Kevin, aku sudah siapkan," jawab Arumi singkat dari balik pintu kamar mandi.Lama Arumi di kamar mandi mulai menjadi rutinitas baru. Di sana, di balik pintu yang terkunci, Arumi duduk di tepi bathtub sambil menggenggam ponsel kecil yang ia sembunyikan di dalam kotak kosmetik. Dia baru saja mengirim paket berisi ponsel serupa ke desa untuk Pak Darman lewat kurir rahasia. Arumi menunggu dengan jantung berdebar sampai sebuah pesan singkat masuk."Non, ponselnya sud

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Kerinduan

    "Arumi, kenapa dari tadi kamu terus memegang lehermu? Dan kenapa kamu terlihat sedikit pincang saat berjalan?" tanya Kevin dengan nada yang mulai menyelidik.Arumi membeku sejenak. Ia sadar bahwa tubuhnya memang masih terasa sedikit pegal dan perih akibat gerakan cepat Pak Darman yang luar biasa tadi pagi."Oh, ini... sepertinya aku salah posisi tidur saat di perjalanan tadi, Kevin. Mobilnya kan sempat mogok dan aku harus menunggu lama di tempat yang kurang nyaman," jawab Arumi cepat dengan alasan yang sudah ia siapkan.Kevin mengangguk pelan, meskipun matanya masih menatap Arumi dengan aneh. "Lain kali kalau mobil bermasalah, langsung telepon aku saja agar aku kirim helikopter. Aku tidak mau istriku harus menderita di tempat sembarangan."Malam itu, saat mereka sudah berada di kamar tidur dan Kevin mencoba untuk mendekati Arumi untuk bermesraan, Arumi segera berpura-pura mengantuk dan membelakangi Kevin. Ia merasa tidak sanggup jika harus disentuh Kevin saat ingatan tentang penyatuan

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Rencana Sandiwara

    Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap ke arah taman, Pak Darman duduk di atas sebuah kursi kayu kecil. Ia tidak berani menyentuh kasur, bahkan tidak berani menginjak karpet bulu milik Arumi. Pria tua itu hanya duduk membeku dengan tas kain kusam di pangkuannya. Ia masih mengenakan batik us

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Tertekan

    Para petugas mulai menggeledah setiap sudut. Mereka memeriksa lemari, memotret interior rumah, dan mencatat nomor mesin mobil-mobil di garasi. Pak Darman hanya bisa berdiri gemetar saat beberapa petugas mendekatinya untuk menanyakan identitas dan latar belakangnya."Bapak Darman, Bapak benar-benar

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Badai di Depan Gerbang

    Selama pembicaraan itu, Arumi melirik Pak Darman yang sedang merapikan meja. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada kilat kesedihan dan rasa bersalah di mata tua Pak Darman, namun Arumi membalasnya dengan tatapan penuh kebencian dan peringatan agar pria itu tetap tutup mulut."Ayo, Vin, kita ke dep

  • Mahar Rahasia Tukang Kebun   Sandiwara hari Pertama

    Tiba-tiba, suara sirine terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Wajah Pak Hendra menegang. "Itu mungkin bukan untuk kita, tapi kita tidak punya waktu lagi. Penghulu sudah menunggu di ruang bawah tanah. Kita harus turun sekarang.""Aku tidak mau!" Arumi berteriak, mencoba lari menuju pintu.Namun, Pak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status