ログインArman mengembuskan napas berat, membiarkan tubuhnya bersandar pasrah pada kepala ranjang saat Monica kembali menarik selimutnya."Jangan lama-lama, Mon... sebentar lagi subuh," bisik Arman serak sambil memejamkan mata.Monica tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis di balik kegelapan selimut sebelum melanjutkan niatnya. Sensasi hangat dan basah yang mendadak menyelimuti kejantanannya membuat Arman menyertakan desahan napas yang tertahan di tenggorokan."Ahh... Mon..." genggaman tangan Arman meremas pelan sprei di samping tubuhnya, menahan gejolak mendadak yang merayapi kesadarannya.Monica bergerak makin telaten dan ritmis, menikmati tiap respons pasrah dari Arman yang tak mampu menolak perbuatannya di remang udara subuh itu.Monica merayap perlahan ke atas tubuh Arman, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi dada bidang pria itu. Tatapannya begitu tajam dan penuh penguasaan di tengah remangnya udara subuh."Sekarang giliran aku yang pegang kendali, Man..." bisik Monica serak t
"Sebentar!" sahut Arman sedikit meninggikan suara ke arah pintu.Keysha yang mendengar sautan itu di seberang telepon langsung menaruh curiga. "Siapa, Mas?""Itu pekerja di sini... kayaknya mau bawain kopi," jawab Arman dengan nada pelan, mencoba sesantai mungkin agar adiknya tidak bertanya lebih jauh."Ohh gitu... terus gimana di sana, Mas? Nyaman gak?" tanya Keysha lagi."Nyaman kok, yaa baru sehari lah," balas Arman jujur sembari mengulas senyum tipis."Oh gitu. Yaudah Mas, sana ngopi dulu. Aku mau keluar ya sama Bella, mau jajan, Mas..." ucap Keyshapamit."Yaudah Key, hati-hati ya..."Telepon pun terputus.Arman meletakkan ponselnya di atas meja kecil, lalu melangkah menuju pintu. Saat gagang pintu diputar dan ditarik, sosok Ayu sudah berdiri di sana.Ayu mengenakan daster tidurnya yang longgar, rambutnya terurai bebas menutupi sebagian bahu. Tatapannya ragu-ragu saat matanya bertemu dengan pandangan Arman."Aku boleh masuk, Mas?" tanya Ayu pelan, suaranya hampir menyerupai bisika
Arman mengangguk pelan, memahami keseriusan proyek besar yang sedang disiapkan Monica. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil yang empuk."Oke, Mon. Kalau emang itu urusan proyek besar, aku siap berangkat besok," jawab Arman tenang tanpa ragu.Monica menginjak pedal gas saat lampu lalu lintas berubah hijau, menyunggingkan senyum puas atas kesiapan Arman. "Bagus. Aku butuh ketajaman analisis kamu waktu kita tinjau lahannya langsung di sana.""Nanti malam aku bakal siapin berkas pendukungnya sekalian," tambah Arman."Sip. Nanti sampai rumah, kamu kasih tahu Ayu biar dia gak bingung kalau kita gak pulang beberapa hari," balas Monica santai sambil membelokkan kemudi memasuki kawasan perumahan mewahnya.Mobil sedan Monica akhirnya berhenti dengan mulus di garasi rumah. Begitu pintu depan dibuka, aroma harum rempah yang menggugah selera langsung menyambut kedatangan mereka berdua, memenuhi seluruh sudut ruangan utama.Ayu yang baru keluar dari arah dapur dengan celemek yang
"Bekas OB bukan berarti gak bisa baca situasi, Mon," balas Arman santai, sama sekali tidak berniat memperpanjang cerita soal masa lalunya di vila Nyonya Veronica. "Kalau kita sibuk ngungkit masa lalu, target ekspansi minggu ini malah gak bakal keburu."Monica tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang sarat akan kekaguman lolos dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala pelan melihat cara Arman memutar arah pembicaraan dengan begitu mulus."Kamu bener-bener licin juga ya, Man," gumam Monica, lalu melangkah masuk duluan ke dalam ruang kerjanya. "Ya udah, masuk. Masih banyak berkas di meja yang harus kamu bedah buat strategi minggu depan."Di dalam ruang kerja pribadi Monica yang tertutup rapat, suasana berubah drastis menjadi serius. Arman berdiri di hadapan meja kerja besar, membuka lembar demi lembar dokumen proyek yang baru saja diserahkan oleh staf administrasi.Monica duduk di kursinya, memperhatikan setiap gerakan tangan Arman dengan saksama. "Bagaimana pembagian tugas untuk divisi logis
"Selamat pagi semuanya. Silakan duduk," ujar Monica dengan nada suara tegas yang mendominasi ruangan.Seluruh staf kembali duduk dengan rapi, pandangan mereka yang penuh rasa ingin tahu tertuju sepenuhnya pada Arman."Pagi ini saya mengumpulkan kalian untuk menyampaikan keputusan penting terkait arah ekspansi bisnis perusahaan kita," lanjut Monica, pandangannya menyapu seisi ruangan. "Mulai hari ini, proyek ekspansi besar-besaran yang sudah kita rencanakan akan dipimpin langsung oleh Arman."Bisik-bisik halus sempat terdengar di antara beberapa manajer senior. Seorang pria berkacamata berjas abu-abu tampak menatap Arman dengan sorot meremehkan.Monica menepuk bahu Arman pelan, mengalihkan perhatian kembali padanya. "Arman memegang wewenang penuh atas operasional dan pengambilan keputusan strategi di lapangan. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama secara profesional dan mendukung penuh kepemimpinannya."Monica lalu menoleh ke arah Arman, memberikan gestur agar pria itu mengambil al
Di balik pintu kayu itu, isak tangis tertahan yang tadinya terdengar lirih langsung terhenti."Mas Arman...?" suara Ayu terdengar bergetar dari dalam, disusul suara gesekan kain dan langkah kaki yang terburu-buru mendekat.Begitu pintu terbuka selebar belokan angin, wajah Ayu yang pucat dan basah oleh air mata langsung menyambut pandangan Arman. Tanpa menunggu waktu lama, Ayu langsung menghambur dan memeluk pinggang Arman erat-erat, seolah takut pria itu akan lenyap jika ia melepaskannya sedetik saja.Arman langsung membalas pelukan itu, sebelah tangannya mengusap lembut rambut Ayu yang acak-acakan. "Sstt... udah, jangan nangis terus, ya," bisik Arman tepat di sebelah telinga Ayu, mencoba menenangkan debar ketakutan yang masih merajai dada wanita itu."Aku takut, Mas... tempat ini asing, aku sendirian..." cicit Ayu terisak di balik dada Arman, napasnya masih naik-turun menahan sisa syok yang teramat sangat."Aku ada di sini, Yu. Kamarku memang di lantai atas, tapi kalau ada apa-apa, k







