Home / Romansa Pria / Main Api / Pecah Perawan

Share

Pecah Perawan

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-10-09 09:17:15

Ayu menatap Arman lekat-lekat, lalu tersenyum tipis nan getir.

Ayu tersenyum tipis, meski raut wajahnya masih menyiratkan kecanggungan.

"Aku senang Mas Arman memikirkan aku. Tapi kalau nanti bertugas menemani investor, aku tetap harus menghadapi tuntutan pekerjaan ini. Bayarannya juga besar."

Ia menatap Arman dengan lebih mantap.

"Jadi, aku tetap ingin melanjutkan penilaian ini, Mas."

Arman menghela napas. Ia tak bisa memaksakan keputusannya sendiri kepada Ayu.

Arman mendekatkan wajahnya ke te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Main Api   Stay New Home

    Arman mengangguk pelan, memahami keseriusan proyek besar yang sedang disiapkan Monica. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil yang empuk.​"Oke, Mon. Kalau emang itu urusan proyek besar, aku siap berangkat besok," jawab Arman tenang tanpa ragu.​Monica menginjak pedal gas saat lampu lalu lintas berubah hijau, menyunggingkan senyum puas atas kesiapan Arman. "Bagus. Aku butuh ketajaman analisis kamu waktu kita tinjau lahannya langsung di sana."​"Nanti malam aku bakal siapin berkas pendukungnya sekalian," tambah Arman.​"Sip. Nanti sampai rumah, kamu kasih tahu Ayu biar dia gak bingung kalau kita gak pulang beberapa hari," balas Monica santai sambil membelokkan kemudi memasuki kawasan perumahan mewahnya.Mobil sedan Monica akhirnya berhenti dengan mulus di garasi rumah. Begitu pintu depan dibuka, aroma harum rempah yang menggugah selera langsung menyambut kedatangan mereka berdua, memenuhi seluruh sudut ruangan utama.Ayu yang baru keluar dari arah dapur dengan celemek yang

  • Main Api   Tempat Baru Yang Lebih Nyaman

    "Bekas OB bukan berarti gak bisa baca situasi, Mon," balas Arman santai, sama sekali tidak berniat memperpanjang cerita soal masa lalunya di vila Nyonya Veronica. "Kalau kita sibuk ngungkit masa lalu, target ekspansi minggu ini malah gak bakal keburu."Monica tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang sarat akan kekaguman lolos dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala pelan melihat cara Arman memutar arah pembicaraan dengan begitu mulus."Kamu bener-bener licin juga ya, Man," gumam Monica, lalu melangkah masuk duluan ke dalam ruang kerjanya. "Ya udah, masuk. Masih banyak berkas di meja yang harus kamu bedah buat strategi minggu depan."Di dalam ruang kerja pribadi Monica yang tertutup rapat, suasana berubah drastis menjadi serius. Arman berdiri di hadapan meja kerja besar, membuka lembar demi lembar dokumen proyek yang baru saja diserahkan oleh staf administrasi.Monica duduk di kursinya, memperhatikan setiap gerakan tangan Arman dengan saksama. "Bagaimana pembagian tugas untuk divisi logis

  • Main Api   Akuisisi Awal Dari Permainan

    "Selamat pagi semuanya. Silakan duduk," ujar Monica dengan nada suara tegas yang mendominasi ruangan.Seluruh staf kembali duduk dengan rapi, pandangan mereka yang penuh rasa ingin tahu tertuju sepenuhnya pada Arman."Pagi ini saya mengumpulkan kalian untuk menyampaikan keputusan penting terkait arah ekspansi bisnis perusahaan kita," lanjut Monica, pandangannya menyapu seisi ruangan. "Mulai hari ini, proyek ekspansi besar-besaran yang sudah kita rencanakan akan dipimpin langsung oleh Arman."Bisik-bisik halus sempat terdengar di antara beberapa manajer senior. Seorang pria berkacamata berjas abu-abu tampak menatap Arman dengan sorot meremehkan.Monica menepuk bahu Arman pelan, mengalihkan perhatian kembali padanya. "Arman memegang wewenang penuh atas operasional dan pengambilan keputusan strategi di lapangan. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama secara profesional dan mendukung penuh kepemimpinannya."Monica lalu menoleh ke arah Arman, memberikan gestur agar pria itu mengambil al

  • Main Api   Permainan Baru

    Di balik pintu kayu itu, isak tangis tertahan yang tadinya terdengar lirih langsung terhenti."Mas Arman...?" suara Ayu terdengar bergetar dari dalam, disusul suara gesekan kain dan langkah kaki yang terburu-buru mendekat.Begitu pintu terbuka selebar belokan angin, wajah Ayu yang pucat dan basah oleh air mata langsung menyambut pandangan Arman. Tanpa menunggu waktu lama, Ayu langsung menghambur dan memeluk pinggang Arman erat-erat, seolah takut pria itu akan lenyap jika ia melepaskannya sedetik saja.Arman langsung membalas pelukan itu, sebelah tangannya mengusap lembut rambut Ayu yang acak-acakan. "Sstt... udah, jangan nangis terus, ya," bisik Arman tepat di sebelah telinga Ayu, mencoba menenangkan debar ketakutan yang masih merajai dada wanita itu."Aku takut, Mas... tempat ini asing, aku sendirian..." cicit Ayu terisak di balik dada Arman, napasnya masih naik-turun menahan sisa syok yang teramat sangat."Aku ada di sini, Yu. Kamarku memang di lantai atas, tapi kalau ada apa-apa, k

  • Main Api   Perpindahan

    Monica melangkah maju, memecah ketegangan di ruangan itu sambil merapikan mantel mewahnya. Ia melirik sekilas ke arah jam tangan bermerek di pergelangan tangannya."Waktu kita gak banyak, ayo berangkat sekarang sebelum macet di jalan tol," ajak Monica dengan nada tegas namun santai.Arman mengangguk dan mempererat rangkulannya pada Ayu, membimbing wanita itu berjalan beriringan meninggalkan ruang utama. Di belakang mereka, Marni berdiri mengawasi tanpa suara, sementara Nyonya Veronica hanya tersenyum tipis menyaksikan kepergian ketiganya dari balik sofa.Udara malam luar vila yang dingin langsung menyambut kulit mereka begitu pintu utama terbuka lebar. Sebuah mobil sedan hitam mewah ber-AC dingin sudah terparkir rapi di halaman depan, dengan pintu penumpang yang telah dibukakan oleh sopir pribadi Monica."Masuklah di kursi belakang," perintah Monica, berjalan lebih dulu menuju kursi kemudi atau kursi depan.Arman membukakan pintu mobil lebih lebar dan membiarkan Ayu masuk terlebih dah

  • Main Api   Penjaga Yang Baik

    Arman mendorong pintu kamar dengan terburu-buru, melangkah lebar memangkas jarak menuju ranjang. Di atas pembaruan itu, Ayu terduduk meringkuk memeluk lututnya sendiri, dibalut selimut yang ditarik hingga sebatas dada.Ayu perlahan mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat. Begitu tatapannya bertemu dengan mata Arman, butiran air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh melintasi pipinya yang pucat. Meski Arman menyaksikan seluruh adegan itu dari balik kaca—bagaimana Ayu dipaksa menikmati dan melayani tiap sentuhan klien Jepang tersebut—Arman tahu pasti betapa hancur dan tertekan wanita di hadapannya ini."Harusnya kan gak gini, Mas..." bisik Ayu dengan suara bergetar dan serak, menatap Arman penuh keputusasaan. "Harusnya aku cuma sama Mas Arman... kenapa harus sama orang Jepang itu...?"Arman tak sanggup berkata-kata lagi. Ia langsung merengkuh tubuh Ayu yang gemetar hebat ke dalam pelukannya, merapatkan wanita itu ke dadanya seraya mengusap lembut kepala dan punggungnya."Ini bagi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status