LOGINDada Arman masih naik turun teratur, irama napasnya beradu dengan deru tipis angin malam yang bertiup di gang sempit itu. Layar ponsel di genggamannya baru saja meredup, menyisakan jejak percakapan dengan Fony yang terus menari-nari di ruang matanya.Lima juta rupiah untuk satu kali produksi.Angka itu terus berputar di dalam kepalanya, memukul mundur seluruh prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Sebagai seorang pekerja biasa di bagian kebersihan, gaji pokok Arman bahkan tidak mencapai empat juta rupiah dalam sebulan penuh. Uang itu harus ia peras lewat cucuran keringat dari pagi hingga malam, menggosok lantai dan membersihkan sisa kotoran orang-orang elite."Lima juta..." bisik Arman pelan.Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang tak pernah absen menyapa setiap awal bulan. Sewa kontrakan sempit ini, biaya listrik, belanja harian, hingga cicilan motor tua yang kerap menyerap sisa gajinya tanpa ampun. Jika ia memegang lima juta rupiah setiap beberapa hari sekali, ia
“Saya tidak tertarik.”Arman mengembalikan kartu nama Fony, lalu menekan tombol lift. Pengalaman beberapa menit di dalam studio tadi sudah cukup membuatnya memahami jenis produksi yang dijalankan perempuan tersebut.Fony menerima kartunya tanpa terlihat tersinggung.“Tidak masalah.” Ia menyelipkan kartu itu kembali ke saku kemeja Arman. “Simpan saja. Siapa tahu kebutuhan membuatmu berubah pikiran.”Arman mengeluarkan kartu itu lagi. “Saya datang untuk mencari istri saya, bukan pekerjaan.”“Dan saya sudah menjawab bahwa Keysha bukan talent kami.” Fony melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu ingin menemukan jawabannya, cari tahu siapa yang mengantarnya ke gedung ini.”Pink Swan jelas menjalankan jenis produksi yang tidak pernah dibayangkan Arman. Namun, Fony tidak mengenal Keysha sebagai talent. Nama istrinya juga tidak terdaftar di perusahaan tersebut.Artinya, selama ini Arman mengejar arah yang salah.Keysha memang datang ke Gedung Altama, tetapi bukan untuk bekerja di Pin
“Mas baru pertama, ya?”“Pertama apaan?” Arman makin tidak yakin bahwa perusahaan ini perusahaan aneh!“Sudah, jangan banyak tanya.” Perempuan pembawa obat menekan tablet itu ke telapak tangan Arman. “Obatnya aman. Semua talent pria juga pakai kalau diperlukan.”Arman mengembalikan tablet tersebut. “Saya enggak akan minum obat yang enggak jelas.”“Kalau nanti susah berdiri bagaimana?”“Saya bisa berdiri sendiri.” Tawa kecil kembali terdengar di ruangan itu. Namun, tidak satu pun dari mereka menjelaskan maksud perkataan tersebut kepada Arman.Seorang staf datang membawa celana berbahan tipis dan menyerahkannya kepadanya. “Ganti pakai ini.”Arman membentangkan pakaian tersebut. Bentuknya menyerupai celana pendek, tetapi ukurannya terlalu kecil dan bahannya begitu tipis. “Saya disuruh pakai ini?”“Iya. Kemeja sama celananya dilepas semua.”“Memangnya saya mau melakukan apa?”“Kok banyak tanya, sih?” Staf itu melihat jam tangannya. “Naskah dan arahannya nanti dijelaskan sutradara. Sekaran
Semalaman Arman tidak berhasil memejamkan mata.Setelah Keysha masuk kamar, ia kembali duduk di sofa dan membuka mesin pencarian melalui ponselnya. Nama suplemen yang ditemukan di antara barang-barang istrinya dimasukkan ke kolom pencarian.Beberapa hasil segera muncul.Produk tersebut memang suplemen impor untuk menjaga stamina. Komposisi, izin edar, serta toko yang menjualnya tercantum dengan jelas. Tidak ada kandungan aneh seperti yang sempat dicurigainya.Arman kemudian mengambil kartu nama yang ditemukan di dalam tas Keysha.Kartu hitam itu hanya memuat sebuah logo angsa berwarna merah muda, nama Fony Allister, nomor kontak perusahaan, dan tulisan Pink Swan Production.Arman mencari nama perusahaan tersebut.Situs resmi Pink Swan muncul di halaman pertama. Mereka menangani iklan, video musik, pemotretan model, hingga produksi film untuk pasar luar negeri. Portofolionya terlihat cukup besar dan profesional.Alamat kantornya tercantum di Gedung Altama.Semuanya terlihat legal.Namu
Tangan Keysha yang sedang merapikan rambut mendadak berhenti di udara. Melalui pantulan cermin, matanya bertemu dengan tatapan Arman yang berdiri tepat di belakangnya.“Gedung Altama?” ulang Keysha. Wajahnya sempat menegang, tetapi hanya dalam hitungan detik. “Mas ngomong apa, sih? Aku sudah bilang, seharian tadi aku pergi sama teman-temanku.”Arman tidak langsung membantah.Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka foto kiriman Budi. Layar itu disodorkannya ke hadapan Keysha.“Kalau begitu, ini siapa?”Keysha menatap foto tersebut.Gambar itu memang diambil dari kejauhan. Wajah perempuan di dalamnya tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut panjang, serta tas merah yang menggantung di bahunya terlalu familier bagi Arman.Beberapa detik berlalu sebelum Keysha tertawa pendek.“Foto buram begini kamu pakai buat nuduh aku?” Keysha menepis tangan Arman. “Perempuan yang rambutnya panjang dan punya tas merah bukan cuma aku.”“Aku kenal istriku sendiri.”“Dari belakang?”“
"Pinter apanya sih, Bud. Ngaco lu, ah! lagian mana mungkin Keysha kerja di tempat elite kayak gitu," tanggap Arman terkekeh pelan, menolak percaya. "Serius Man! Gua tadi liat dia jalan sama cewek berdua, mana cakep banget lagi tuh cewek yang sama dia tadi," ucap Budi makin berapi-rapi. "Bentar, gua kirim fotonya ke WA lu sekarang!" "Haaahh.. Yaudah.. yaudah! kirim coba!" sahut Arman. Sambungan telepon langsung terputus dari pihak Budi. Arman mematung di tempatnya, menatap layar ponsel yang baru saja meredup dengan jantung yang mulai berdegup tak karuan. "Ngapain Budi bohong soal Keysha?" gumam batin Arman cemas. Notifikasi obrolan masuk bersamaan dengan sebuah berkas gambar. Arman menurunkan ponselnya, lalu mengusap layar untuk membuka foto kiriman Budi. Arman menatap foto itu lebih lama. Wajah perempuan di dalamnya memang tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut, dan tas yang dibawa Keysha terlalu familiar untuk dianggap kebetulan. Jemarinya berhenti bergerak di







