Home / Male Adult / Main Api / Wanita Yang Sudah Menunggu

Share

Wanita Yang Sudah Menunggu

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-09-21 17:37:31

Semalaman Arman tidak berhasil memejamkan mata.

Setelah Keysha masuk kamar, ia kembali duduk di sofa dan membuka mesin pencarian melalui ponselnya. Nama suplemen yang ditemukan di antara barang-barang istrinya dimasukkan ke kolom pencarian.

Beberapa hasil segera muncul.

Produk tersebut memang suplemen impor untuk menjaga stamina. Komposisi, izin edar, serta toko yang menjualnya tercantum dengan jelas. Tidak ada kandungan aneh seperti yang sempat dicurigainya.

Arman kemudian mengambil kartu nama yang ditemukan di dalam tas Keysha.

Kartu hitam itu hanya memuat sebuah logo angsa berwarna merah muda, nama Fony Allister, nomor kontak perusahaan, dan tulisan Pink Swan Production.

Arman mencari nama perusahaan tersebut.

Situs resmi Pink Swan muncul di halaman pertama. Mereka menangani iklan, video musik, pemotretan model, hingga produksi film untuk pasar luar negeri. Portofolionya terlihat cukup besar dan profesional.

Alamat kantornya tercantum di Gedung Altama.

Semuanya terlihat legal.

Namun, hasil pencarian itu tidak menjelaskan alasan Keysha menyimpan kartu pribadi pemilik rumah produksi tersebut. Pekerjaan legal juga tidak mengharuskan istrinya menyembunyikan penghasilan, mengganti sandi ponsel, dan berbohong mengenai tempat yang didatanginya.

Arman mematikan layar ponselnya.

Masalahnya bukan terletak pada suplemen ataupun Pink Swan.

Masalahnya adalah Keysha tidak pernah berniat memberitahunya.

Keesokan paginya, Arman berdiri di depan cermin sembari mengancingkan seragam kerjanya. Dari pantulan kaca, ia melihat Keysha keluar dari kamar dengan penampilan jauh lebih rapi daripada biasanya.

Rambutnya ditata bergelombang. Riasan tipis menghiasi wajahnya, sedangkan tas merah yang tampak di dalam foto kembali menggantung di bahunya.

Keysha mengambil sepatu hak tinggi dari rak tanpa memandang Arman.

“Aku mau keluar sama teman-teman,” katanya sembari memasukkan kaki ke dalam sepatu. “Pulangnya mungkin malam.”

Arman memasukkan dompet ke saku celananya. “Dengan Bunga?”

Gerakan Keysha berhenti sesaat.

“Iya.” Ia segera memasang tali sepatunya. “Kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

Jawaban tenang itu justru membuat Keysha mendongak curiga.

Arman mengambil tas kerjanya. “Hati-hati di jalan.”

Keysha tidak membalas. Ia hanya merapikan tali tasnya, kemudian berjalan keluar.

Pintu depan tertutup rapat.

Arman mendekati jendela dan mengintip melalui celah gorden. Keysha berdiri di tepi jalan sampai sebuah mobil yang dipesan melalui aplikasi berhenti di depannya.

Begitu istrinya masuk dan mobil tersebut bergerak keluar gang, Arman mengambil kunci motor.

Ia menghubungi atasannya sebelum menyusul.

“Selamat pagi, Pak.” Arman memasang helm sambil menjepit ponsel di antara bahu dan telinganya. “Saya izin datang setelah makan siang. Ada urusan keluarga yang harus saya selesaikan.”

“Pekerjaan lantai tujuh bagaimana?” tanya atasannya.

“Saya selesaikan sebelum pulang. Kalau perlu, saya tambah satu jam.”

Atasannya terdiam sejenak. “Baik. Jangan terlalu sore.”

“Siap, Pak. Terima kasih.”

Arman memutus sambungan, menyalakan motornya, lalu menyusul mobil Keysha.

Ia sengaja menjaga jarak. Beberapa kali Arman membiarkan kendaraan lain masuk di antara mereka agar keberadaannya tidak mudah disadari.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil tersebut berhenti di pelataran Gedung Altama.

Arman menepi di seberang jalan.

Keysha turun, lalu menghampiri seorang perempuan muda yang sudah menunggunya. Setelah berbicara sebentar, keduanya berjalan masuk melewati pintu kaca gedung.

Arman menunggu hampir sepuluh menit sebelum memarkir motornya.

Lobi Gedung Altama dipenuhi orang-orang berpakaian rapi. Arman sempat menarik bagian bawah seragam birunya yang kusut sebelum berjalan menuju meja resepsionis.

“Selamat pagi, Pak.” Petugas perempuan di balik meja mengangkat wajah dari layar komputer. “Ada yang bisa dibantu?”

Arman mengeluarkan kartu hitam dari dompet, lalu meletakkannya di atas meja.

“Saya mau bertemu Bu Fony.”

Petugas itu mengambil kartu tersebut. Tatapannya bergerak mengamati wajah dan tubuh Arman sebelum senyum ramah mengembang di bibirnya.

“Oh, calon talent baru, ya?”

Dahi Arman berkerut. “Talent?”

“Bukan?” Petugas itu kembali melihat kartu di tangannya. “Biasanya yang datang membawa kartu pribadi Bu Fony mendapat rekomendasi langsung.”

Arman memilih tidak menjelaskan. “Saya perlu bicara dengannya.”

“Sudah membuat janji?”

“Belum.”

Petugas tersebut tampak ragu, tetapi akhirnya mengangkat telepon meja. Ia menyebutkan keberadaan seorang pria yang datang membawa kartu pribadi Fony tanpa menjelaskan urusannya.

Beberapa saat kemudian, sambungan ditutup.

“Silakan menuju lantai sembilan belas.” Petugas itu mengembalikan kartu tersebut. “Akan ada staf yang menjemput.”

Arman mengangguk. “Terima kasih.”

Pintu lift terbuka di lantai sembilan belas.

Belum sempat Arman melangkah keluar sepenuhnya, seorang perempuan berkemeja hitam yang berdiri di depan lift langsung menghampirinya.

“Mas Arman, ya?”

Arman mengangguk pelan. “Iya. Saya mau bertemu—”

“Ya ampun, akhirnya datang juga!” Perempuan itu memotong ucapannya sembari menarik lengan Arman. “Ayo cepat. Semuanya sudah menunggu dari tadi.”

“Sebentar, Mbak. Saya sebenarnya mau—”

“Nanti saja ngomongnya. Kita sudah terlambat hampir setengah jam.”

Perempuan itu berjalan begitu cepat hingga Arman terpaksa mengikutinya. Mereka melewati pintu kaca berlogo Pink Swan Production, kemudian memasuki lorong panjang yang dindingnya dipenuhi poster iklan dan foto para model.

Arman mencoba melepaskan lengannya.

“Saya mau bertemu Bu Fony.”

“Iya, nanti ketemu.” Perempuan itu menoleh sekilas tanpa memperlambat langkah. “Kalau hasilnya bagus, Bu Fony pasti datang sendiri.”

Jawaban itu membuat kening Arman semakin berkerut.

Ia hendak menjelaskan lagi, tetapi perempuan tersebut sudah membuka sebuah pintu dan mendorongnya masuk ke ruang rias.

Beberapa orang langsung bergerak mengelilinginya.

Seorang penata rias mengangkat wajah Arman dengan memegang dagunya. Perempuan lain membuka kancing teratas kemejanya, sementara seorang pria membawa meteran mulai mengukur lebar bahunya.

Arman menepis tangan mereka.

“Sebentar. Kalian mau apa?”

“Mau siapin kamu, lah,” jawab penata rias sambil mengoleskan sedikit bedak ke wajah Arman. “Wajahnya sudah bagus. Enggak perlu riasan tebal.”

“Saya bukan mau dirias.”

Pria yang memegang meteran mencatat hasil ukurannya. “Bahu bagus, tinggi masuk, badan juga proporsional. Celananya ukuran tiga puluh dua?”

“Saya enggak tahu.” Arman mundur satu langkah. “Saya datang ke sini untuk bertemu—”

“Mas sudah minum obatnya?”

Pertanyaan itu datang dari seorang perempuan yang baru memasuki ruangan sambil membawa botol air mineral dan sebuah tablet kecil.

Arman menatap benda di telapak tangannya.

“Obat apa?”

“Belum dikasih dari bawah?” Perempuan itu tampak kesal. “Aduh, koordinasinya bagaimana, sih?”

Ia menyodorkan tablet tersebut kepada Arman.

“Minum sekarang. Biar nanti cepat bangun dan bisa tahan lama.”

Tangan Arman yang hendak menerima botol langsung berhenti.

“Apanya yang bangun?”

Orang-orang di ruang rias saling berpandangan sebelum salah seorang dari mereka tertawa. "Loh punya masnya, nanti kalau bangunnya lama gimana?"

Arman memutar tubuhnya, ini pekerjaan apa sebenarnya!?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Main Api   Aku Pun Bisa

    Dada Arman masih naik turun teratur, irama napasnya beradu dengan deru tipis angin malam yang bertiup di gang sempit itu. Layar ponsel di genggamannya baru saja meredup, menyisakan jejak percakapan dengan Fony yang terus menari-nari di ruang matanya.Lima juta rupiah untuk satu kali produksi.Angka itu terus berputar di dalam kepalanya, memukul mundur seluruh prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Sebagai seorang pekerja biasa di bagian kebersihan, gaji pokok Arman bahkan tidak mencapai empat juta rupiah dalam sebulan penuh. Uang itu harus ia peras lewat cucuran keringat dari pagi hingga malam, menggosok lantai dan membersihkan sisa kotoran orang-orang elite."Lima juta..." bisik Arman pelan.Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang tak pernah absen menyapa setiap awal bulan. Sewa kontrakan sempit ini, biaya listrik, belanja harian, hingga cicilan motor tua yang kerap menyerap sisa gajinya tanpa ampun. Jika ia memegang lima juta rupiah setiap beberapa hari sekali, ia

  • Main Api   Menakhlukan

    “Saya tidak tertarik.”Arman mengembalikan kartu nama Fony, lalu menekan tombol lift. Pengalaman beberapa menit di dalam studio tadi sudah cukup membuatnya memahami jenis produksi yang dijalankan perempuan tersebut.Fony menerima kartunya tanpa terlihat tersinggung.“Tidak masalah.” Ia menyelipkan kartu itu kembali ke saku kemeja Arman. “Simpan saja. Siapa tahu kebutuhan membuatmu berubah pikiran.”Arman mengeluarkan kartu itu lagi. “Saya datang untuk mencari istri saya, bukan pekerjaan.”“Dan saya sudah menjawab bahwa Keysha bukan talent kami.” Fony melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu ingin menemukan jawabannya, cari tahu siapa yang mengantarnya ke gedung ini.”Pink Swan jelas menjalankan jenis produksi yang tidak pernah dibayangkan Arman. Namun, Fony tidak mengenal Keysha sebagai talent. Nama istrinya juga tidak terdaftar di perusahaan tersebut.Artinya, selama ini Arman mengejar arah yang salah.Keysha memang datang ke Gedung Altama, tetapi bukan untuk bekerja di Pin

  • Main Api   Undangan Pribadi

    “Mas baru pertama, ya?”“Pertama apaan?” Arman makin tidak yakin bahwa perusahaan ini perusahaan aneh!“Sudah, jangan banyak tanya.” Perempuan pembawa obat menekan tablet itu ke telapak tangan Arman. “Obatnya aman. Semua talent pria juga pakai kalau diperlukan.”Arman mengembalikan tablet tersebut. “Saya enggak akan minum obat yang enggak jelas.”“Kalau nanti susah berdiri bagaimana?”“Saya bisa berdiri sendiri.” Tawa kecil kembali terdengar di ruangan itu. Namun, tidak satu pun dari mereka menjelaskan maksud perkataan tersebut kepada Arman.Seorang staf datang membawa celana berbahan tipis dan menyerahkannya kepadanya. “Ganti pakai ini.”Arman membentangkan pakaian tersebut. Bentuknya menyerupai celana pendek, tetapi ukurannya terlalu kecil dan bahannya begitu tipis. “Saya disuruh pakai ini?”“Iya. Kemeja sama celananya dilepas semua.”“Memangnya saya mau melakukan apa?”“Kok banyak tanya, sih?” Staf itu melihat jam tangannya. “Naskah dan arahannya nanti dijelaskan sutradara. Sekaran

  • Main Api   Wanita Yang Sudah Menunggu

    Semalaman Arman tidak berhasil memejamkan mata.Setelah Keysha masuk kamar, ia kembali duduk di sofa dan membuka mesin pencarian melalui ponselnya. Nama suplemen yang ditemukan di antara barang-barang istrinya dimasukkan ke kolom pencarian.Beberapa hasil segera muncul.Produk tersebut memang suplemen impor untuk menjaga stamina. Komposisi, izin edar, serta toko yang menjualnya tercantum dengan jelas. Tidak ada kandungan aneh seperti yang sempat dicurigainya.Arman kemudian mengambil kartu nama yang ditemukan di dalam tas Keysha.Kartu hitam itu hanya memuat sebuah logo angsa berwarna merah muda, nama Fony Allister, nomor kontak perusahaan, dan tulisan Pink Swan Production.Arman mencari nama perusahaan tersebut.Situs resmi Pink Swan muncul di halaman pertama. Mereka menangani iklan, video musik, pemotretan model, hingga produksi film untuk pasar luar negeri. Portofolionya terlihat cukup besar dan profesional.Alamat kantornya tercantum di Gedung Altama.Semuanya terlihat legal.Namu

  • Main Api   Nama Di Balik Kardus

    Tangan Keysha yang sedang merapikan rambut mendadak berhenti di udara. Melalui pantulan cermin, matanya bertemu dengan tatapan Arman yang berdiri tepat di belakangnya.“Gedung Altama?” ulang Keysha. Wajahnya sempat menegang, tetapi hanya dalam hitungan detik. “Mas ngomong apa, sih? Aku sudah bilang, seharian tadi aku pergi sama teman-temanku.”Arman tidak langsung membantah.Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka foto kiriman Budi. Layar itu disodorkannya ke hadapan Keysha.“Kalau begitu, ini siapa?”Keysha menatap foto tersebut.Gambar itu memang diambil dari kejauhan. Wajah perempuan di dalamnya tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut panjang, serta tas merah yang menggantung di bahunya terlalu familier bagi Arman.Beberapa detik berlalu sebelum Keysha tertawa pendek.“Foto buram begini kamu pakai buat nuduh aku?” Keysha menepis tangan Arman. “Perempuan yang rambutnya panjang dan punya tas merah bukan cuma aku.”“Aku kenal istriku sendiri.”“Dari belakang?”“

  • Main Api   Wanita Di Seberang Jalan

    "Pinter apanya sih, Bud. Ngaco lu, ah! lagian mana mungkin Keysha kerja di tempat elite kayak gitu," tanggap Arman terkekeh pelan, menolak percaya. "Serius Man! Gua tadi liat dia jalan sama cewek berdua, mana cakep banget lagi tuh cewek yang sama dia tadi," ucap Budi makin berapi-rapi. "Bentar, gua kirim fotonya ke WA lu sekarang!" "Haaahh.. Yaudah.. yaudah! kirim coba!" sahut Arman. ​Sambungan telepon langsung terputus dari pihak Budi. Arman mematung di tempatnya, menatap layar ponsel yang baru saja meredup dengan jantung yang mulai berdegup tak karuan. "​Ngapain Budi bohong soal Keysha?" gumam batin Arman cemas. ​Notifikasi obrolan masuk bersamaan dengan sebuah berkas gambar. Arman menurunkan ponselnya, lalu mengusap layar untuk membuka foto kiriman Budi. ​Arman menatap foto itu lebih lama. Wajah perempuan di dalamnya memang tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut, dan tas yang dibawa Keysha terlalu familiar untuk dianggap kebetulan. Jemarinya berhenti bergerak di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status