Accueil / Male Adult / Main Api / Nama Di Balik Kardus

Partager

Nama Di Balik Kardus

Auteur: NomNom69
last update Date de publication: 2026-09-21 17:33:23

Tangan Keysha yang sedang merapikan rambut mendadak berhenti di udara. Melalui pantulan cermin, matanya bertemu dengan tatapan Arman yang berdiri tepat di belakangnya.

“Gedung Altama?” ulang Keysha. Wajahnya sempat menegang, tetapi hanya dalam hitungan detik. “Mas ngomong apa, sih? Aku sudah bilang, seharian tadi aku pergi sama teman-temanku.”

Arman tidak langsung membantah.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka foto kiriman Budi. Layar itu disodorkannya ke hadapan Keysha.

“Kalau begitu, ini siapa?”

Keysha menatap foto tersebut.

Gambar itu memang diambil dari kejauhan. Wajah perempuan di dalamnya tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut panjang, serta tas merah yang menggantung di bahunya terlalu familier bagi Arman.

Beberapa detik berlalu sebelum Keysha tertawa pendek.

“Foto buram begini kamu pakai buat nuduh aku?” Keysha menepis tangan Arman. “Perempuan yang rambutnya panjang dan punya tas merah bukan cuma aku.”

“Aku kenal istriku sendiri.”

“Dari belakang?”

“Gaun itu ada di lemari kita.”

Senyum Keysha menipis.

Arman memperbesar foto tersebut, lalu mengarahkan layar pada tas merah yang dibawa perempuan itu.

“Dan tas ini baru kamu pakai tadi pagi.”

Keysha terdiam. Pandangannya beralih sesaat ke arah tas merah yang tergeletak di sofa dekat meja rias.

“Ya sudah, iya. Aku sempat ke Gedung Altama,” akhirnya ia mengaku dengan nada kesal. “Temanku mengajak ke sana. Memangnya kenapa?”

“Teman yang mana?”

“Mas enggak kenal.”

“Namanya?”

Keysha langsung bangkit dari kursinya. “Kenapa aku harus sebutin semua nama temanku? Mas mau interogasi mereka satu-satu?”

“Aku cuma tanya karena sejak awal kamu bohong.”

“Aku enggak bohong!”

“Tadi kamu bilang enggak pergi ke sana.”

“Aku lupa!” Keysha membentak. “Kami berpindah-pindah tempat. Memangnya aku harus menghafal semua gedung yang aku datangi?”

Arman menatapnya lama.

Bahkan ketika terdesak, Keysha selalu menemukan cara untuk mengubah pertanyaan sederhana menjadi pertengkaran. Dahulu Arman akan memilih meminta maaf agar masalah cepat selesai. Namun, malam ini ada terlalu banyak kejanggalan untuk kembali ditelannya sendiri.

Tatapan Arman turun menuju bercak keunguan di bawah rahang istrinya.

“Terus, bekas di lehermu itu dapat dari mana?”

Keysha refleks menutupinya dengan telapak tangan.

“Sudah aku bilang, mungkin alergi atau digigit serangga.”

“Kamu yakin?”

“Mas mau aku jawab berapa kali?”

“Aku cuma mau kamu jujur.”

“Jujur apa lagi?” Keysha mendengus kasar. “Aku pergi sama teman, kami datang ke sebuah acara, lalu aku pulang. Selesai. Enggak ada yang perlu dijelaskan lagi.”

Ia naik ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi bahu, lalu membelakangi Arman.

“Aku capek. Besok saja kalau Mas masih mau cari gara-gara.”

“Key—”

“Matikan lampunya.”

Arman berdiri mematung di sisi ranjang.

Ada begitu banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi ia tahu Keysha tidak akan memberikan jawaban malam ini. Kalau dipaksa, istrinya hanya akan semakin marah dan menutup diri.

Ia mematikan lampu kamar, lalu berjalan keluar tanpa berkata apa-apa.

Pintu ditutupnya perlahan.

Ruang tengah kontrakan itu gelap dan sunyi. Hanya cahaya dari lampu jalan yang menyelinap melalui ventilasi, membentuk garis pucat di lantai.

Arman menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Ia mengambil bungkus rokok dari atas meja, tetapi kemudian teringat kantong martabak yang sejak semalam belum disentuh. Makanan yang dibelinya untuk merayakan pengangkatan dirinya sebagai pegawai tetap itu kini sudah dingin dan mengeras.

Amplop pengangkatannya masih tersimpan di dalam tas kerja.

Kabar yang kemarin begitu ingin dibagikannya kepada Keysha sekarang terasa tidak berarti lagi.

Arman menyalakan sebatang rokok. Asap pertama memenuhi tenggorokannya, pahit dan menyesakkan.

Tatapannya jatuh pada lima kardus yang masih bertumpuk di sudut ruangan.

Paket-paket itulah yang pertama kali menimbulkan kecurigaannya.

Selama tiga bulan terakhir, seluruh gajinya selalu diserahkan kepada Keysha. Setelah sewa kontrakan, tagihan listrik, dan kebutuhan makan dibayar, seharusnya tidak ada cukup uang untuk membeli tas, pakaian, dan kosmetik mahal sebanyak itu.

Namun, Keysha bersikeras tidak menggunakan uangnya.

Kalau begitu, siapa yang membayar semuanya?

Arman mematikan rokoknya di asbak, lalu berjalan mendekati tumpukan kardus. Ia berjongkok dan memeriksa satu per satu label pengiriman yang masih menempel.

Semuanya mencantumkan nama Keysha sebagai penerima.

Bagian pengirim hanya berisi kode gudang dan nama toko yang tidak dikenalnya. Tidak ada alamat Gedung Altama maupun nama orang yang bisa dihubungi.

Arman hampir menyerah ketika melihat salah satu kardus telah terbuka di bagian atas. Selotipnya sudah disayat dan dilipat kembali tanpa direkatkan.

Ia membuka penutup kardus itu perlahan.

Di dalamnya terdapat sebuah kotak sepatu kosong, beberapa lembar kertas pembungkus, dan kantong kain hitam dengan logo berbentuk angsa berwarna merah muda.

Arman mengambil kantong tersebut.

“Pink Swan,” gumamnya membaca tulisan kecil yang tercetak di permukaan kain.

Nama itu sama sekali tidak familier.

Ia membalik kantong tersebut, tetapi tidak menemukan keterangan apa pun. Ketika hendak meletakkannya kembali, sebuah kartu plastik terjatuh dari sela lipatan kain.

Arman memungutnya.

Kartu itu berwarna hitam dengan logo angsa yang sama di bagian atas. Tidak terdapat alamat perusahaan maupun nama pemilik. Hanya ada sebuah foto kecil Keysha dan tulisan berwarna emas di bawahnya. Ia membalik kartu tersebut. Pada bagian belakang hanya tercetak nomor telepon.

Jantung Arman berdetak semakin cepat.

Percakapan Keysha semalam kembali bergema di kepalanya.

Katanya harus diminum malam ini sama besok pas sebelum mulai.

Mulai apa?

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Main Api   Aku Pun Bisa

    Dada Arman masih naik turun teratur, irama napasnya beradu dengan deru tipis angin malam yang bertiup di gang sempit itu. Layar ponsel di genggamannya baru saja meredup, menyisakan jejak percakapan dengan Fony yang terus menari-nari di ruang matanya.Lima juta rupiah untuk satu kali produksi.Angka itu terus berputar di dalam kepalanya, memukul mundur seluruh prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Sebagai seorang pekerja biasa di bagian kebersihan, gaji pokok Arman bahkan tidak mencapai empat juta rupiah dalam sebulan penuh. Uang itu harus ia peras lewat cucuran keringat dari pagi hingga malam, menggosok lantai dan membersihkan sisa kotoran orang-orang elite."Lima juta..." bisik Arman pelan.Pikirannya langsung melayang pada tumpukan tagihan yang tak pernah absen menyapa setiap awal bulan. Sewa kontrakan sempit ini, biaya listrik, belanja harian, hingga cicilan motor tua yang kerap menyerap sisa gajinya tanpa ampun. Jika ia memegang lima juta rupiah setiap beberapa hari sekali, ia

  • Main Api   Menakhlukan

    “Saya tidak tertarik.”Arman mengembalikan kartu nama Fony, lalu menekan tombol lift. Pengalaman beberapa menit di dalam studio tadi sudah cukup membuatnya memahami jenis produksi yang dijalankan perempuan tersebut.Fony menerima kartunya tanpa terlihat tersinggung.“Tidak masalah.” Ia menyelipkan kartu itu kembali ke saku kemeja Arman. “Simpan saja. Siapa tahu kebutuhan membuatmu berubah pikiran.”Arman mengeluarkan kartu itu lagi. “Saya datang untuk mencari istri saya, bukan pekerjaan.”“Dan saya sudah menjawab bahwa Keysha bukan talent kami.” Fony melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu ingin menemukan jawabannya, cari tahu siapa yang mengantarnya ke gedung ini.”Pink Swan jelas menjalankan jenis produksi yang tidak pernah dibayangkan Arman. Namun, Fony tidak mengenal Keysha sebagai talent. Nama istrinya juga tidak terdaftar di perusahaan tersebut.Artinya, selama ini Arman mengejar arah yang salah.Keysha memang datang ke Gedung Altama, tetapi bukan untuk bekerja di Pin

  • Main Api   Undangan Pribadi

    “Mas baru pertama, ya?”“Pertama apaan?” Arman makin tidak yakin bahwa perusahaan ini perusahaan aneh!“Sudah, jangan banyak tanya.” Perempuan pembawa obat menekan tablet itu ke telapak tangan Arman. “Obatnya aman. Semua talent pria juga pakai kalau diperlukan.”Arman mengembalikan tablet tersebut. “Saya enggak akan minum obat yang enggak jelas.”“Kalau nanti susah berdiri bagaimana?”“Saya bisa berdiri sendiri.” Tawa kecil kembali terdengar di ruangan itu. Namun, tidak satu pun dari mereka menjelaskan maksud perkataan tersebut kepada Arman.Seorang staf datang membawa celana berbahan tipis dan menyerahkannya kepadanya. “Ganti pakai ini.”Arman membentangkan pakaian tersebut. Bentuknya menyerupai celana pendek, tetapi ukurannya terlalu kecil dan bahannya begitu tipis. “Saya disuruh pakai ini?”“Iya. Kemeja sama celananya dilepas semua.”“Memangnya saya mau melakukan apa?”“Kok banyak tanya, sih?” Staf itu melihat jam tangannya. “Naskah dan arahannya nanti dijelaskan sutradara. Sekaran

  • Main Api   Wanita Yang Sudah Menunggu

    Semalaman Arman tidak berhasil memejamkan mata.Setelah Keysha masuk kamar, ia kembali duduk di sofa dan membuka mesin pencarian melalui ponselnya. Nama suplemen yang ditemukan di antara barang-barang istrinya dimasukkan ke kolom pencarian.Beberapa hasil segera muncul.Produk tersebut memang suplemen impor untuk menjaga stamina. Komposisi, izin edar, serta toko yang menjualnya tercantum dengan jelas. Tidak ada kandungan aneh seperti yang sempat dicurigainya.Arman kemudian mengambil kartu nama yang ditemukan di dalam tas Keysha.Kartu hitam itu hanya memuat sebuah logo angsa berwarna merah muda, nama Fony Allister, nomor kontak perusahaan, dan tulisan Pink Swan Production.Arman mencari nama perusahaan tersebut.Situs resmi Pink Swan muncul di halaman pertama. Mereka menangani iklan, video musik, pemotretan model, hingga produksi film untuk pasar luar negeri. Portofolionya terlihat cukup besar dan profesional.Alamat kantornya tercantum di Gedung Altama.Semuanya terlihat legal.Namu

  • Main Api   Nama Di Balik Kardus

    Tangan Keysha yang sedang merapikan rambut mendadak berhenti di udara. Melalui pantulan cermin, matanya bertemu dengan tatapan Arman yang berdiri tepat di belakangnya.“Gedung Altama?” ulang Keysha. Wajahnya sempat menegang, tetapi hanya dalam hitungan detik. “Mas ngomong apa, sih? Aku sudah bilang, seharian tadi aku pergi sama teman-temanku.”Arman tidak langsung membantah.Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu membuka foto kiriman Budi. Layar itu disodorkannya ke hadapan Keysha.“Kalau begitu, ini siapa?”Keysha menatap foto tersebut.Gambar itu memang diambil dari kejauhan. Wajah perempuan di dalamnya tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut panjang, serta tas merah yang menggantung di bahunya terlalu familier bagi Arman.Beberapa detik berlalu sebelum Keysha tertawa pendek.“Foto buram begini kamu pakai buat nuduh aku?” Keysha menepis tangan Arman. “Perempuan yang rambutnya panjang dan punya tas merah bukan cuma aku.”“Aku kenal istriku sendiri.”“Dari belakang?”“

  • Main Api   Wanita Di Seberang Jalan

    "Pinter apanya sih, Bud. Ngaco lu, ah! lagian mana mungkin Keysha kerja di tempat elite kayak gitu," tanggap Arman terkekeh pelan, menolak percaya. "Serius Man! Gua tadi liat dia jalan sama cewek berdua, mana cakep banget lagi tuh cewek yang sama dia tadi," ucap Budi makin berapi-rapi. "Bentar, gua kirim fotonya ke WA lu sekarang!" "Haaahh.. Yaudah.. yaudah! kirim coba!" sahut Arman. ​Sambungan telepon langsung terputus dari pihak Budi. Arman mematung di tempatnya, menatap layar ponsel yang baru saja meredup dengan jantung yang mulai berdegup tak karuan. "​Ngapain Budi bohong soal Keysha?" gumam batin Arman cemas. ​Notifikasi obrolan masuk bersamaan dengan sebuah berkas gambar. Arman menurunkan ponselnya, lalu mengusap layar untuk membuka foto kiriman Budi. ​Arman menatap foto itu lebih lama. Wajah perempuan di dalamnya memang tidak terlihat jelas, tetapi gaun, rambut, dan tas yang dibawa Keysha terlalu familiar untuk dianggap kebetulan. Jemarinya berhenti bergerak di

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status