LOGINSeharian penuh berjalan di bawah bayang-bayang amarah bukan perkara mudah. Aira dan Devan menghabiskan waktu berjam-jam menguntit setiap langkah Rian dan Clara.
Setiap detik pemandangan itu terekam jelas di kepala Aira, sementara jemarinya tak pernah lelah membidik kamera ponsel untuk mengumpulkan bukti kebusukan suaminya. Hingga malam beranjak larut, langkah keduanya menggiring mereka masuk ke dalam area bar hotel yang temaram dan bising oleh dentuman musik bas. Kepalanya mendadak pening, bukan hanya karena lelah mengitari hotel seharian, tapi karena beban mental yang menghimpit dadanya tanpa henti. Selama ini ia hidup sebagai istri rumahan yang patuh, lurus, dan tidak pernah menyentuh dunia malam. Tapi melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain membuat akal sehatnya perlahan runtuh. Ia bisa saja bukan menjadi istri yang nakal. Tapi melihatnya semenjijikan ini semudah ini? Memang patut diceraikan! Tanpa pikir panjang, Aira memesan gelas demi gelas. Minuman yang tak pernah ia sentuh sekalipun kini ditegaknya agar lega. "Kamu sudah terlalu banyak minum, Aira," tegur Devan datar dari sampingnya. "Diam, Devan," desis Aira, suaranya sudah mulai parau tersendat efek alkohol yang langsung menghantam saraf kepalanya. Kepala Aira berputar hebat, dunianya terasa miring. Saat Rian dan Clara beranjak meninggalkan bar, tubuh Aira ikut limbung begitu ia berdiri. Devan dengan siggap merengkuh pinggang wanita itu agar tidak tersungkur ke lantai. "Kita sudahi hari ini.” Namun di tengah remang koridor, pertahanan Aira sepenuhnya muak. "Kalau suamiku bisa tidur dengan perempuan lain... kenapa aku tidak boleh membalasnya dengan orang yang tepat?” Devan menatapnya tajam, menahan gejolak di dadanya sendiri. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi, melainkan memapah Aira berjalan cepat menyusuri sisa lorong hingga sampai depan unitnya. Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, suasana mendadak senyap. Aira menyandarkan punggungnya pada daun pintu, nafasnya naik turun tidak beraturan. Ada keraguan yang tiba-tiba mencengkram dadanya saat kesadaran akibat alkohol itu berbenturan dengan sisa kewarasannya. Ia menatap Devan yang berdiri tepat di hadapannya, mematung dalam jarak yang terlampau dekat. Ternyata tidak ada gunanya mengikuti suaminya yang berselingkuh. Aira lelah. Dan lebih muak lagi kalau dirinya di belakang layar. Air matanya luruh. Pria itu hanya menatap Aira lekat-lekat, membiarkan keheningan malam dan deru nafas mereka mengisi ruangan yang temaram. Alih-alih merengkuh, Devan justru mundur selangkah, memberi ruang bagi wanita itu untuk berpikir jernih. “Kamu tidak akan tahu, Devan... bagaimana kalau kita bisa jauh lebih buruk dari mereka?" Devan tertegun sesaat sebelum sebelah alisnya terangkat tajam. Pria itu menggeleng pelan, memberi jarak. "Jangan berikan ide buruk, Aira. Kalau kamu lelah, malam ini kita akhiri. Besok kita kembali ke kenyataan masing-masing, dan aku akan mengurus perceraian istriku. Jaga dirimu baik-baik." Devan berbalik hendak melangkah menuju pintu keluar. Tapi tepat saat tangan pria itu meraih gagang pintu, Aira justru mendengus sinis, memotong langkah itu dengan suara parau penuh tantangan. "Kalau mereka bisa memulai permainan..." Aira melangkah pelan mendekati punggung lebar Devan. "...kenapa kita tidak coba mainkan sekalian?" Devan menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh perlahan, mendapati Aira sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Tanpa ragu, Aira menelusuri bidang dada Devan dengan jemarinya, meraba kemeja yang membungkus otot di balik kemeja itu. Sentuhan itu merayap turun perlahan melewati kancing kemeja “Seperti ini?” Sadar situasi mulai berbahaya, Devan buru-buru menangkap pergelangan tangan Aira. “Kamu mabuk. Dan saya tidak bermain dengan wanita yang mabuk.” “Saya pamit.” Begitu Devan kembali memutar gagang pintu, Aira yang kehilangan kendali langsung menarik kerah jas pria itu kasar, memutar tubuhnya hingga punggung Devan membentur pintu. Tanpa memberi kesempatan bicara, Aira berjinjit dan menyambar bibir Devan dalam ciuman yang menuntut—membuang jauh-jauh sisa akal sehat yang mereka miliki. Devan membiarkan ciuman itu meruntuhkan sisa pertahanan terakhir yang ia miliki. Tangannya yang tadinya menahan pergelangan tangan Aira kini beralih merengkuh pinggang wanita itu, mengangkatnya tanpa susah payah hingga kaki Aira melingkar di pinggulnya. “Kamu tahu resikonya, Aira?” Bibir mereka berdua terkunci rapat dalam lumatan yang semakin liar. Di sela desahan, Aira mengangguk meski matanya sayu terbakar alkohol. Tidak ada lagi sisa akal sehat. Yang ada hanya dua orang manusia yang sama-sama hancur, saling mencari pelarian di atas tubuh satu sama lain. Langkah kaki mereka yang limbung membawa tubuh itu menjauh dari pintu, terhuyung hingga jatuh menimpa ranjang. Jemari Devan merayap turun dari rahang Aira, menyusuri leher jenjang, lalu berhenti di kancing teratas blus yang dikenakan wanita itu. Aira tidak tinggal diam. Jemarinya yang gemetar mencengkeram kerah kemeja Devan, menariknya kasar hingga kancing-kancing kemeja pria itu terlepas dan berhamburan. Saat kain itu tersingkap sepenuhnya, telapak tangan Aira meraba bidang dada bidang Devan, merasakan otot-otot kencang yang menegang di bawah sentuhannya. Aira terpaku menatap langit-langit kamar hotel, sementara Devan berhenti sejenak, menatap lekat mata wanita di bawahnya. “Mau.. coba?”"Hmpph..." Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Devan yang memegang ponsel. Otot lengan pria itu keras seperti batu, tak bergeming sedikit pun meski Aira mengerahkan seluruh sisa tenaganya yang terkuras habis. Devan menatapnya lurus. Netra kelam pria itu berkilat penuh seringai yang dingin, menikmati riak ketakutan yang tergambar jelas di paras Aira. "Apa sakit?" bisik Devan rendah, bibirnya mendarat seringan bulu di pelipis Aira yang basah oleh keringat. "Memangnya suamimu tidak menyentuhmu Aira? Sampai sesempit ini?""Ah... Hah... Dev..." Getaran ponsel itu mendadak berhenti. Layar meredup sejenak, meninggalkan keheningan mencekam di antara mereka berdua. Napas Aira tertahan. Ia mengira ancaman itu telah lewat, tetapi hanya berselang dua detik, layar ponsel itu kembali berpendar terang diiringi getaran yang lebih panjang. Bzzzt... Bzzzt... Devan mendengus geli, sebuah tawa sinis lolos dari sudut bibirnya. "Rupanya suamimu cukup gigih malam ini. Jarang seka
Selama dua tahun pernikahan, tidak pernah ada sentuhan seperti ini. Rian selalu menolaknya dengan alasan lelah, alasan impoten, atau sekadar menghindar setiap kali malam tiba. Aira hidup dalam kekeringan batin dan raga, memendam haus luar biasa yang tidak pernah terpuaskan oleh pelukan hampa suaminya. Dan sekarang, di atas tempat asing ini, ia dijamah begitu intens, seolah dirinya adalah satu-satunya perempuan. Rasa haus itu membuncah, mendesak naik melampaui batas kewarasan. Aira menarik tengkuk Devan kembali, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman putus asa. Batas-batas pakaian bawah mereka akhirnya tanggal dalam sentuhan yang kian tak beraturan, meleburkan dua tubuh yang sama-sama terbakar oleh dendam, kekecewaan, dan hasrat yang lama terkunci. "Aaahhh ..." Aira mendesah saat sentuhan Devan kian intens di bagian bawahnya. Membuat pikirannya melayang tak tentu arah. Tangan Aira meremas kuat rambut Devan, membuat tubuh mereka menyatu dengan begitu dalam. Hentakan demi hent
Seharian penuh berjalan di bawah bayang-bayang amarah bukan perkara mudah. Aira dan Devan menghabiskan waktu berjam-jam menguntit setiap langkah Rian dan Clara.Setiap detik pemandangan itu terekam jelas di kepala Aira, sementara jemarinya tak pernah lelah membidik kamera ponsel untuk mengumpulkan bukti kebusukan suaminya.Hingga malam beranjak larut, langkah keduanya menggiring mereka masuk ke dalam area bar hotel yang temaram dan bising oleh dentuman musik bas.Kepalanya mendadak pening, bukan hanya karena lelah mengitari hotel seharian, tapi karena beban mental yang menghimpit dadanya tanpa henti. Selama ini ia hidup sebagai istri rumahan yang patuh, lurus, dan tidak pernah menyentuh dunia malam. Tapi melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain membuat akal sehatnya perlahan runtuh. Ia bisa saja bukan menjadi istri yang nakal. Tapi melihatnya semenjijikan ini semudah ini?Memang patut diceraikan!Tanpa pikir panjang, Aira memesan gelas demi gelas. Minuman yang tak pernah ia
Aira masih duduk mematung di atas seprai, menatap layar ponsel suaminya yang tergeletak bisu di nakas. Rasa jijik dan amarah yang bergemuruh di dada Aira mendesak naik, membuat napasnya tersengal hebat. Tawaran gila Devan semalam sempat membuat nalar sehatnya menolak mentah-mentah. Bagaimana bisa ia merendahkan diri dengan cara rendahan seperti itu? Saat Rian keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya, Aira tidak lagi memasang wajah pasrah seperti biasanya. Ia menatap lekat suaminya yang tengah merapikan kemeja kerja di depan cermin besar."Katanya mau dinas luar kota minggu depan, Mas?" tanya Aira dengan suara tenang, namun tatapannya menguliti gerak-gerik suaminya tanpa ampun. "Sebenarnya dinas ke mana? Berapa hari?"Rian sedikit tersentak, terbiasa dengan Aira yang selalu manggut-manggut tanpa banyak tanya. “Kenapa mendadak jadi pengen tahu urusan kantor?""Nggak apa-apa. Supaya aku tahu kalau butuh sesuatu," balas Aira datar, menyembunyikan kepalan tangannya
Tidak ada suara isak tangis lagi yang tersisa di tenggorokannya. Semua air matanya seolah habis terkuras di lorong hotel tadi, menyisakan rongga dada yang terasa kosong dan dingin. Ia merasa seperti arwah penasaran yang baru saja melihat kuburannya sendiri. Bodoh.Dua tahun ia menyalahkan diri sendiri karena mengira suaminya impoten. Dua tahun ia menahan diri, menjaga harga diri pria keparat itu, dan merasa bersalah setiap kali hasrat manusiawinya muncul. Ternyata, itu semua hanya sandiwara agar Rian bisa leluasa berbagi ranjang dengan istri orang lain. Istri dari pria yang kini duduk di sampingnya. Devan mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara sebelah tangannya lagi bertumpu di kemudi dalam diam. Pria itu juga tidak membuka suara.Dan Aira tidak tahu seberapa lama ia terlelap.Di halaman depan, mobilnya sudah terpatri lima belas menit tadi. Namun keduanya hening dalam kesepian."Sudah sampai?" suara Aira parau, nyaris tak terdengar."Sudah," balas Devan datar, tidak men
Aira mematung. Kalimat Devan menggema di telinganya.Setahunya, Clara, istri Devan yang selama ini terlihat elegan dan tak tersentuh.Mengapa wanita itu mau saja bermadu?“Mau ikut denganku?” lanjut Devan dingin sembari menyodorkan sebuah kartu kunci.Aira memandangi tangan Devan dengan perasaan ragu. Akalnya terus menolak pengkhianatan sang suami, tetapi cara Devan menjelaskan terlihat sangat meyakinkan. Mungkin setidaknya, ini bisa jadi alasan mereka harus bercerai.“Kenapa harus aku?” bisik Aira, suaranya tercekat. Matanya beralih menatap wajah Devan yang kaku. “Kalau kamu tahu mereka di sana, kenapa tidak kamu yang melihatnya. Kamu suaminya”Devan tersenyum tipis, sebuah senyum dingin tanpa humor yang justru membuat bulu kuduk Aira meremang.“Karena melihat mereka hancur sendirian terasa kurang adil,” sahut Devan datar, suaranya berbisik.“Rian mengambil milikku, dan dia menghancurkan kepercayaanmu. Masih tidak mau?”Kata-kata Devan bagai sulutan api yang menyambar bensin di dada







