Compartir

Bab 05

Autor: D.N.A
last update Fecha de publicación: 2026-09-02 16:41:32

Seharian penuh berjalan di bawah bayang-bayang amarah bukan perkara mudah. Aira dan Devan menghabiskan waktu berjam-jam menguntit setiap langkah Rian dan Clara.

Setiap detik pemandangan itu terekam jelas di kepala Aira, sementara jemarinya tak pernah lelah membidik kamera ponsel untuk mengumpulkan bukti kebusukan suaminya.

Hingga malam beranjak larut, langkah keduanya menggiring mereka masuk ke dalam area bar hotel yang temaram dan bising oleh dentuman musik bas.

Kepalanya mendadak pening, bukan hanya karena lelah mengitari hotel seharian, tapi karena beban mental yang menghimpit dadanya tanpa henti. 

Selama ini ia hidup sebagai istri rumahan yang patuh, lurus, dan tidak pernah menyentuh dunia malam. Tapi melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain membuat akal sehatnya perlahan runtuh. 

Ia bisa saja bukan menjadi istri yang nakal. Tapi melihatnya semenjijikan ini semudah ini?

Memang patut diceraikan!

Tanpa pikir panjang, Aira memesan gelas demi gelas. Minuman yang tak pernah ia sentuh sekalipun kini ditegaknya agar lega.

"Kamu sudah terlalu banyak minum, Aira," tegur Devan datar dari sampingnya.

"Diam, Devan," desis Aira, suaranya sudah mulai parau tersendat efek alkohol yang langsung menghantam saraf kepalanya.

Kepala Aira berputar hebat, dunianya terasa miring. Saat Rian dan Clara beranjak meninggalkan bar, tubuh Aira ikut limbung begitu ia berdiri. Devan dengan siggap merengkuh pinggang wanita itu agar tidak tersungkur ke lantai.

"Kita sudahi hari ini.”

Namun di tengah remang koridor, pertahanan Aira sepenuhnya muak.

"Kalau suamiku bisa tidur dengan perempuan lain... kenapa aku tidak boleh membalasnya dengan orang yang tepat?”

Devan menatapnya tajam, menahan gejolak di dadanya sendiri. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi, melainkan memapah Aira berjalan cepat menyusuri sisa lorong hingga sampai depan unitnya.

Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, suasana mendadak senyap.

Aira menyandarkan punggungnya pada daun pintu, nafasnya naik turun tidak beraturan. 

Ada keraguan yang tiba-tiba mencengkram dadanya saat kesadaran akibat alkohol itu berbenturan dengan sisa kewarasannya. 

Ia menatap Devan yang berdiri tepat di hadapannya, mematung dalam jarak yang terlampau dekat.

Ternyata tidak ada gunanya mengikuti suaminya yang berselingkuh.

Aira lelah.

Dan lebih muak lagi kalau dirinya di belakang layar.

Air matanya luruh.

Pria itu hanya menatap Aira lekat-lekat, membiarkan keheningan malam dan deru nafas mereka mengisi ruangan yang temaram. 

Alih-alih merengkuh, Devan justru mundur selangkah, memberi ruang bagi wanita itu untuk berpikir jernih. 

“Kamu tidak akan tahu, Devan... bagaimana kalau kita bisa jauh lebih buruk dari mereka?"

Devan tertegun sesaat sebelum sebelah alisnya terangkat tajam. Pria itu menggeleng pelan, memberi jarak. 

"Jangan berikan ide buruk, Aira. Kalau kamu lelah, malam ini kita akhiri. Besok kita kembali ke kenyataan masing-masing, dan aku akan mengurus perceraian istriku. Jaga dirimu baik-baik."

Devan berbalik hendak melangkah menuju pintu keluar. Tapi tepat saat tangan pria itu meraih gagang pintu, Aira justru mendengus sinis, memotong langkah itu dengan suara parau penuh tantangan.

"Kalau mereka bisa memulai permainan..." Aira melangkah pelan mendekati punggung lebar Devan. "...kenapa kita tidak coba mainkan sekalian?"

Devan menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh perlahan, mendapati Aira sudah berdiri sangat dekat di belakangnya.

Tanpa ragu, Aira menelusuri bidang dada Devan dengan jemarinya, meraba kemeja yang membungkus otot di balik kemeja itu. 

Sentuhan itu merayap turun perlahan melewati kancing kemeja

“Seperti ini?”

Sadar situasi mulai berbahaya, Devan buru-buru menangkap pergelangan tangan Aira. “Kamu mabuk. Dan saya tidak bermain dengan wanita yang mabuk.”

“Saya pamit.”

Begitu Devan kembali memutar gagang pintu, Aira yang kehilangan kendali langsung menarik kerah jas pria itu kasar, memutar tubuhnya hingga punggung Devan membentur pintu. 

Tanpa memberi kesempatan bicara, Aira berjinjit dan menyambar bibir Devan dalam ciuman yang menuntut—membuang jauh-jauh sisa akal sehat yang mereka miliki. 

Devan membiarkan ciuman itu meruntuhkan sisa pertahanan terakhir yang ia miliki. 

Tangannya yang tadinya menahan pergelangan tangan Aira kini beralih merengkuh pinggang wanita itu, mengangkatnya tanpa susah payah hingga kaki Aira melingkar di pinggulnya. 

“Kamu tahu resikonya, Aira?”

Bibir mereka berdua terkunci rapat dalam lumatan yang semakin liar. 

Di sela desahan, Aira mengangguk meski matanya sayu terbakar alkohol.

Tidak ada lagi sisa akal sehat. Yang ada hanya dua orang manusia yang sama-sama hancur, saling mencari pelarian di atas tubuh satu sama lain.

Langkah kaki mereka yang limbung membawa tubuh itu menjauh dari pintu, terhuyung hingga jatuh menimpa ranjang.

Jemari Devan merayap turun dari rahang Aira, menyusuri leher jenjang, lalu berhenti di kancing teratas blus yang dikenakan wanita itu. 

Aira tidak tinggal diam. Jemarinya yang gemetar mencengkeram kerah kemeja Devan, menariknya kasar hingga kancing-kancing kemeja pria itu terlepas dan berhamburan. 

Saat kain itu tersingkap sepenuhnya, telapak tangan Aira meraba bidang dada bidang Devan, merasakan otot-otot kencang yang menegang di bawah sentuhannya. 

Aira terpaku menatap langit-langit kamar hotel, sementara Devan berhenti sejenak, menatap lekat mata wanita di bawahnya. 

“Mau.. coba?”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Main Belakang   Bab 101

    Pintu gudang terbuka pelan, kaki Aira melangkah masuk perlahan menyapu setiap sudut ruangan yang terlihat temaram. Pandangan tajam, menatap sudut gelap tempat persembunyian Maya berada."Maya!" teriak Aira. "Keluar kamu! Jangan terus bersembunyi!" Hening. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya desau angin yang menjawab teriakan Aira. Wanita itu terdiam, tangannya mencengkeram kuat senter yang ia genggam."May!" Di balik tumpukan karung, Maya meringkuk ketakutan. Gaun pesta minimnya kini robek di bagian bawah dan kotor oleh noda tanah merah. Riasan tebal di wajahnya luntur bercampur air mata dan keringat.​Melihat Aira berdiri tegap di ambang pintu dengan sorot mata dingin tanpa belas kasihan, Maya seketika merangkak keluar dari persembunyiannya.​"Ai ... Aira ..." bisik Maya gemetar, kedua tangannya terangkat memohon. "Aira, tolong, jangan bunuh aku. Aku minta maaf, Ai ... aku benar-benar minta maaf!"​Aira menatap wanita di bawah kakinya itu tanpa berkedip. Tidak ada lagi sisa kehang

  • Main Belakang   Bab 100

    ​Lutut Aira mendadak kehilangan daya. Ia merosot perlahan, bertumpu pada pinggiran meja kayu peninggalan ayahnya. Napasnya terasa sesak, sementara dadanya terasa nyeri akibat ketegangan yang baru saja lewat.​"Sudah kubilang, jangan langsung lemas begitu musuh pergi," celetuk Kael seraya melangkah santai ke arah jendela, melongokkan kepala untuk memastikan halaman benar-benar bersih. "Akan terlihat menyedihkan bila seperti itu." ​Aira mendongak, matanya yang basah menatap punggung tegap pria itu dengan bibir gemetar. "Kamu ... kamu hampir mati tertembak tadi, Kael! Bagaimana bisa kamu sesantai itu?"​Kael berbalik, menyandarkan pinggulnya ke kusen jendela seraya bersedekap. "Kalau aku panik, apa peluru Devan bakal otomatis berbalik arah? Lagipula, aku tahu dokter cerewet ini ada di dekat sini."​Arga yang tengah menginjak puntung rokok di dekat pintu mendengus geli. "Jangan bawa-bawa namaku seolah kau memperhitungkan kedatanganku, El. Kau cuma beruntung Sarah mengancam tidak akan mem

  • Main Belakang   Bab 99

    Tubuh Aira menegang hebat saat manik matanya bertabrakan dengan sorot tajam Devan. Wanita itu melangkah mundur, mencari perlindungan di balik tubuh tinggi Kael.Hal itu mengundang bara yang berkobar dalam diri Devan, ia tidak terima wanita yang selama ini ia incar berpihak pada musuh yang berusaha ia tumbangkan bertahun-tahun lamanya."Keluar dari balik punggungnya, Aira," desis Devan dingin, suaranya bergetar menahan luapan murka yang siap meledak. Matanya menyala menatap jemari Aira yang meremas ujung jaket kulit Kael. "Kamu pikir pria itu bisa menyelamatkanmu selamanya, hah?"​Aira tidak bergeming. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya di balik bayang-bayang punggung lebar Kael, menatap Devan dengan tatapan penuh kebencian yang dalam.​"Aku lebih baik mati daripada harus kembali padamu, Devan!" balas Aira lantang, suaranya menggema membelah ketegangan di ruang tamu itu.​Devan tertawa sumbang, tawa hampa yang sarat racun kegilaan. "Mati bersamanya? Semudah itu kamu menyerahkan kese

  • Main Belakang   Bab 98

    Udara pagi desa Sukasari menyambut kedatangan Aira, luasnya perkebunan teh menjadi saksi betapa besarnya pengaruh keluarga Aira di kampung ini. Tangan Aira terkepal perlahan di atas pangkuan.Mungkin, bila tidak bertemu Rian, dia tidak mungkin merasa seburuk ini menjadi wanita. Mobil hitam Kael berhenti tepat di depan pagar kayu pekarangan rumah Aira. Deru mesin mati, menyisakan desau angin pegunungan yang seharusnya damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika oleh dentuman musik disko yang menggelegar dari dalam rumah.​Alis Kael terangkat satu, melirik Aira di kursi penumpang. "Penyambutan yang meriah untuk kepulangan sang pemilik rumah."​Aira mematung, keningnya berkerut dalam. Matanya menatap halaman depan yang dipenuhi puntung rokok, botol-botol minuman keras berserakan, dan dua mobil yang terparkir di halaman depan.​"Apa-apaan ini," gumam Aira bergetar, rasa syok seketika menyengat dadanya.​Tanpa menunggu Kael, Aira mendorong pintu mobil dan melangkah cepat menaiki anak tangg

  • Main Belakang   Bab 97

    Api berkobar di manik mata Aira, menari-nari liar di atas kertas foto yang perlahan menghitam dan melengkung dimakan bara. Bau gosong menyengat memenuhi halaman belakang, dari sebuah tong besar tempat pembakaran sampah. Tatapan Aira tak beralih sedikit pun dari lidah api yang melahap wajah Devan hingga menjadi serpihan abu.​Flashdisk perak kecil di genggamannya terasa dingin dan beku. Dengan kepalan yang mengerat, Aira melemparkan benda itu tepat ke tengah bara yang sedang membakar lembaran terakhir.​Cangkang plastik di dalam komponen flashdisk itu meleleh, melepaskan asap tipis kelabu yang langsung terisap angin sore. Seluruh rekaman terkutuk, rasa takut yang membelenggunya berhari-hari, dan jaminan ancaman Devan lebur menjadi debu tak berharga di dalam tong itu.​Aira mengembuskan napas panjang yang gemetar, namun kali ini punggungnya tegak sempurna.​"Sudah habis," bisik Aira parau, suaranya mantap menembus kesunyian ruangan. "Tidak ada lagi yang tersisa."​Sarah menatap sisa abu

  • Main Belakang   Bab 96

    Hampir satu minggu Aira berada di kediaman ini, sering kali wanita itu tidak keluar kamar dan lebih memilih duduk diam di sisi jendela sambil menatap jalanan sepi di depannya. Aira terlalu takut untuk keluar kamar, rasa percayanya terkikis pada setiap orang.Rasa sesak itu hadir tanpa permisi, menghimpit rongga dada Aira hingga ia mencengkeram erat kusen kayu jendela.Setiap kali matanya menatap dedaunan yang bergoyang di halaman luar, bayangan Devan yang mengurungnya berputar di dalam kepalanya tanpa henti. Bahkan di malam hari, Aira sering kali mimpi buruk.Sentuhan paksa, obat penenang, dan aroma parfum cendana itu seolah masih menempel pekat di kulitnya, membuatnya merasa kotor setiap detik. ​Ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan lamunan kelam itu.​"Aira? Aku bawakan sup ayam jagung hangat," suara Sarah terdengar lembut dari balik daun pintu yang terbuka sedikit.​Wanita berwajah ramah itu melangkah masuk membawa nampan kayu. Senyumnya teduh, namun sorot matanya tak bisa menye

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status