LOGINAira masih duduk mematung di atas seprai, menatap layar ponsel suaminya yang tergeletak bisu di nakas.
Rasa jijik dan amarah yang bergemuruh di dada Aira mendesak naik, membuat napasnya tersengal hebat. Tawaran gila Devan semalam sempat membuat nalar sehatnya menolak mentah-mentah. Bagaimana bisa ia merendahkan diri dengan cara rendahan seperti itu? Saat Rian keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya, Aira tidak lagi memasang wajah pasrah seperti biasanya. Ia menatap lekat suaminya yang tengah merapikan kemeja kerja di depan cermin besar. "Katanya mau dinas luar kota minggu depan, Mas?" tanya Aira dengan suara tenang, namun tatapannya menguliti gerak-gerik suaminya tanpa ampun. "Sebenarnya dinas ke mana? Berapa hari?" Rian sedikit tersentak, terbiasa dengan Aira yang selalu manggut-manggut tanpa banyak tanya. “Kenapa mendadak jadi pengen tahu urusan kantor?" "Nggak apa-apa. Supaya aku tahu kalau butuh sesuatu," balas Aira datar, menyembunyikan kepalan tangannya di balik selimut. “Sekalian siapkan baju yang bagus sekalian ya untuk saya cuci dan rapikan hari ini. Biar nanti kamu tidak repot." Aira tertawa kecil. “Kamu memang istri yang paling pengertian. Terima kasih sudah mengertiku.” Kalimat pujian itu terdengar begitu menjijikkan di telinga Aira, bagaikan racun yang membakar kerongkongannya. Di luar kamar, Aira meraih ponselnya, membuka kontak yang sudah ia salin di ponsel suaminya lalu mengetikkan sebuah pesan singkat dengan jemari yang bergetar hebat. “Kamu masih serius dengan tawaranmu semalam, Devan?” Tidak butuh waktu lama hingga ponselnya bergetar balasan. “Aku tidak akan memaksamu, Aira. Keputusan ada di tanganmu.” Pria itu memberikannya ruang untuk bernapas dan memegang kendali atas pilihannya sendiri, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari pernikahan hampa selama dua tahun ini. “Aku tidak ingin berselingkuh. Tapi aku mau ngasih tau, kalau istrimu akan liburan dengan suamiku. “ Tiba-tiba berdering nyaring, menampilkan nama Devan di layar. Aira menelan ludah, lalu mengangkat panggilan itu tanpa suara. “Kapan?” "Besok," jawab Aira parau. Ada suara helaan sebelum suara itu bersua, “Besok ikut denganku.” Aira termenung. “Kalau aku ikut memangnya gapapa?” “Gapapa. Tapi jangan salahkan saya kalau setelah ini kamu tidak ingin kembali pada suamimu.” …. Aira diam-diam memesan tiket pesawat dan kamar hotel yang sama. Di balik kacamata besar yang membingkai wajahnya dan rambut ikal yang dibiarkan tergerai tanpa ikatan, ia menyamar jadi turis biasa. Rencananya, ia akan bertemu Devan di lobi sesuai kesepakatan. Namun begitu kakinya menginjak lantai lobi hotel. Semua kamar terisi penuh. "Maaf, Bu, kamar untuk hari ini sudah full booked," Di saat bersamaan, suara suara berisik dari pintu masuk bikin bulu kuduknya meremang. Dari sudut mata, ia melihat Rian berjalan santai sambil merangkul pinggang Clara, sementara di arah berlawanan, Devan baru saja sampai melangkah masuk lewat pintu samping. "Mbak, saya mohon, cariin cara apa aja..." bisik Aira panik, keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. "Iya, sebentar, Bu, sistemnya sedang—" Belum sempat kalimat itu rampung, Aira langsung menyambar kartu akses lalu bergegas lari menuju area lift tanpa memedulikan teriakan protes petugas di belakang. Jantungnya berdegup. Sosok Devan mendadak muncul dari tikungan. Tanpa buang waktu, Aira langsung menerjang lengan pria itu, menarik jasnya kuat-kuat, lalu menyeret tubuh jangkung tersebut masuk ke dalam kamar terdekat yang tidak terkunci. Brak! Di depannya, Devan merapikan kerah jas yang kusut akibat tarikan Aira tadi. Pria itu menatap sekeliling kamar remang-remang ini dengan dahi berkerut. Seprai di atas ranjang tampak berantakan, ditambah ada aroma parfum menyengat yang memenuhi udara ruangan. "Kamar ini sudah disewa orang lain," tegur Devan pelan. "Kamu main tarik saja." "Di bawah ada suamiku!" balas Aira setengah berbisik, menatap tajam pria di depannya. "Resepsionis bilang kamarnya penuh, makanya aku panik saat melihat mereka." Devan menghela napas pendek. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjangnya dengan santai. "Tidak masalah kalau hotel ini penuh. Saya bisa pesan vila di Puncak." Devan menatap lurus ke arah Aira. "Atau apartemen pribadi, jika kamu butuh tempat yang lebih layak." Aira mematung. Matanya melebar menatap pria jangkung tersebut. "Kita ke sini untuk menangkap mereka berdua, Devan.” "Lalu apa rencanamu sekarang?" balas Devan tenang. "Mau mendobrak kamar mereka tanpa persiapan apa pun?" Aira terdiam. Amarahnya memang meledak-ledak sejak berangkat tadi, namun dia sama sekali tidak memiliki rencana matang. Pikirannya mendadak buntu. Di dalam kepala Aira, perang batin itu kembali muncul. Kalau dia benar-benar melangkah lebih jauh bersama Devan di dalam kamar ini, apakah dia akan berakhir sama buruknya dengan Rian? Dia sangat membenci sebuah pengkhianatan. Aira segera menepis pikiran tersebut. Suaminya sudah merusak segalanya lebih dulu. Dia berhak mencari keadilannya sendiri, apapun caranya. “Itu urusanku.”"Hmpph..." Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Devan yang memegang ponsel. Otot lengan pria itu keras seperti batu, tak bergeming sedikit pun meski Aira mengerahkan seluruh sisa tenaganya yang terkuras habis. Devan menatapnya lurus. Netra kelam pria itu berkilat penuh seringai yang dingin, menikmati riak ketakutan yang tergambar jelas di paras Aira. "Apa sakit?" bisik Devan rendah, bibirnya mendarat seringan bulu di pelipis Aira yang basah oleh keringat. "Memangnya suamimu tidak menyentuhmu Aira? Sampai sesempit ini?""Ah... Hah... Dev..." Getaran ponsel itu mendadak berhenti. Layar meredup sejenak, meninggalkan keheningan mencekam di antara mereka berdua. Napas Aira tertahan. Ia mengira ancaman itu telah lewat, tetapi hanya berselang dua detik, layar ponsel itu kembali berpendar terang diiringi getaran yang lebih panjang. Bzzzt... Bzzzt... Devan mendengus geli, sebuah tawa sinis lolos dari sudut bibirnya. "Rupanya suamimu cukup gigih malam ini. Jarang seka
Selama dua tahun pernikahan, tidak pernah ada sentuhan seperti ini. Rian selalu menolaknya dengan alasan lelah, alasan impoten, atau sekadar menghindar setiap kali malam tiba. Aira hidup dalam kekeringan batin dan raga, memendam haus luar biasa yang tidak pernah terpuaskan oleh pelukan hampa suaminya. Dan sekarang, di atas tempat asing ini, ia dijamah begitu intens, seolah dirinya adalah satu-satunya perempuan. Rasa haus itu membuncah, mendesak naik melampaui batas kewarasan. Aira menarik tengkuk Devan kembali, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman putus asa. Batas-batas pakaian bawah mereka akhirnya tanggal dalam sentuhan yang kian tak beraturan, meleburkan dua tubuh yang sama-sama terbakar oleh dendam, kekecewaan, dan hasrat yang lama terkunci. "Aaahhh ..." Aira mendesah saat sentuhan Devan kian intens di bagian bawahnya. Membuat pikirannya melayang tak tentu arah. Tangan Aira meremas kuat rambut Devan, membuat tubuh mereka menyatu dengan begitu dalam. Hentakan demi hent
Seharian penuh berjalan di bawah bayang-bayang amarah bukan perkara mudah. Aira dan Devan menghabiskan waktu berjam-jam menguntit setiap langkah Rian dan Clara.Setiap detik pemandangan itu terekam jelas di kepala Aira, sementara jemarinya tak pernah lelah membidik kamera ponsel untuk mengumpulkan bukti kebusukan suaminya.Hingga malam beranjak larut, langkah keduanya menggiring mereka masuk ke dalam area bar hotel yang temaram dan bising oleh dentuman musik bas.Kepalanya mendadak pening, bukan hanya karena lelah mengitari hotel seharian, tapi karena beban mental yang menghimpit dadanya tanpa henti. Selama ini ia hidup sebagai istri rumahan yang patuh, lurus, dan tidak pernah menyentuh dunia malam. Tapi melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain membuat akal sehatnya perlahan runtuh. Ia bisa saja bukan menjadi istri yang nakal. Tapi melihatnya semenjijikan ini semudah ini?Memang patut diceraikan!Tanpa pikir panjang, Aira memesan gelas demi gelas. Minuman yang tak pernah ia
Aira masih duduk mematung di atas seprai, menatap layar ponsel suaminya yang tergeletak bisu di nakas. Rasa jijik dan amarah yang bergemuruh di dada Aira mendesak naik, membuat napasnya tersengal hebat. Tawaran gila Devan semalam sempat membuat nalar sehatnya menolak mentah-mentah. Bagaimana bisa ia merendahkan diri dengan cara rendahan seperti itu? Saat Rian keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya, Aira tidak lagi memasang wajah pasrah seperti biasanya. Ia menatap lekat suaminya yang tengah merapikan kemeja kerja di depan cermin besar."Katanya mau dinas luar kota minggu depan, Mas?" tanya Aira dengan suara tenang, namun tatapannya menguliti gerak-gerik suaminya tanpa ampun. "Sebenarnya dinas ke mana? Berapa hari?"Rian sedikit tersentak, terbiasa dengan Aira yang selalu manggut-manggut tanpa banyak tanya. “Kenapa mendadak jadi pengen tahu urusan kantor?""Nggak apa-apa. Supaya aku tahu kalau butuh sesuatu," balas Aira datar, menyembunyikan kepalan tangannya
Tidak ada suara isak tangis lagi yang tersisa di tenggorokannya. Semua air matanya seolah habis terkuras di lorong hotel tadi, menyisakan rongga dada yang terasa kosong dan dingin. Ia merasa seperti arwah penasaran yang baru saja melihat kuburannya sendiri. Bodoh.Dua tahun ia menyalahkan diri sendiri karena mengira suaminya impoten. Dua tahun ia menahan diri, menjaga harga diri pria keparat itu, dan merasa bersalah setiap kali hasrat manusiawinya muncul. Ternyata, itu semua hanya sandiwara agar Rian bisa leluasa berbagi ranjang dengan istri orang lain. Istri dari pria yang kini duduk di sampingnya. Devan mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara sebelah tangannya lagi bertumpu di kemudi dalam diam. Pria itu juga tidak membuka suara.Dan Aira tidak tahu seberapa lama ia terlelap.Di halaman depan, mobilnya sudah terpatri lima belas menit tadi. Namun keduanya hening dalam kesepian."Sudah sampai?" suara Aira parau, nyaris tak terdengar."Sudah," balas Devan datar, tidak men
Aira mematung. Kalimat Devan menggema di telinganya.Setahunya, Clara, istri Devan yang selama ini terlihat elegan dan tak tersentuh.Mengapa wanita itu mau saja bermadu?“Mau ikut denganku?” lanjut Devan dingin sembari menyodorkan sebuah kartu kunci.Aira memandangi tangan Devan dengan perasaan ragu. Akalnya terus menolak pengkhianatan sang suami, tetapi cara Devan menjelaskan terlihat sangat meyakinkan. Mungkin setidaknya, ini bisa jadi alasan mereka harus bercerai.“Kenapa harus aku?” bisik Aira, suaranya tercekat. Matanya beralih menatap wajah Devan yang kaku. “Kalau kamu tahu mereka di sana, kenapa tidak kamu yang melihatnya. Kamu suaminya”Devan tersenyum tipis, sebuah senyum dingin tanpa humor yang justru membuat bulu kuduk Aira meremang.“Karena melihat mereka hancur sendirian terasa kurang adil,” sahut Devan datar, suaranya berbisik.“Rian mengambil milikku, dan dia menghancurkan kepercayaanmu. Masih tidak mau?”Kata-kata Devan bagai sulutan api yang menyambar bensin di dada







