Share

Bab 03

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-09-02 16:39:26

Tidak ada suara isak tangis lagi yang tersisa di tenggorokannya.

Semua air matanya seolah habis terkuras di lorong hotel tadi, menyisakan rongga dada yang terasa kosong dan dingin.

Ia merasa seperti arwah penasaran yang baru saja melihat kuburannya sendiri.

Bodoh.

Dua tahun ia menyalahkan diri sendiri karena mengira suaminya impoten. Dua tahun ia menahan diri, menjaga harga diri pria keparat itu, dan merasa bersalah setiap kali hasrat manusiawinya muncul.

Ternyata, itu semua hanya sandiwara agar Rian bisa leluasa berbagi ranjang dengan istri orang lain. Istri dari pria yang kini duduk di sampingnya.

Devan mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara sebelah tangannya lagi bertumpu di kemudi dalam diam. Pria itu juga tidak membuka suara.

Dan Aira tidak tahu seberapa lama ia terlelap.

Di halaman depan, mobilnya sudah terpatri lima belas menit tadi. Namun keduanya hening dalam kesepian.

"Sudah sampai?" suara Aira parau, nyaris tak terdengar.

"Sudah," balas Devan datar, tidak menoleh.

Aira menatap lurus ke dasbor mobil, lalu menghela napas panjang yang terdengar gemetar. Tangannya meremas baju.

Berkali-kali pertanyaan di kepalanya.

Tidak cukupkah dirinya menjadi istri yang baik?

Kekosongan jiwanya, bagaimana kesepiannya menjadi istri di rumah yang megah. Untuk apa menghabiskan diri jika berselingkuh?

Kenapa tidak mencoba menceraikannya saja?

"Kamu... terlalu baik, Devan," bisik Aira lirih, kepalanya menunduk dalam. “Aku.. minta maaf.”

Devan tidak langsung menjawab. Rahang pria itu mengeras. "Dan kamu juga terlalu baik, Aira," balas Devan akhirnya, suaranya rendah.

"Kamu memberikan kesetiaan pada orang yang salah.”

Aira tertawa sinis, tawa pendek yang terdengar getir.

"Setelah ini, jaga dirimu," ucap Devan tajam, tangannya terulur pelan untuk merapikan sehelai rambut Aira yang menutupi mata. "Jangan terlihat lemah di depan mereka."

“Namun, Aira.”

“Haruskah kita membiarkan mereka hidup bahagia di atas penderitaan kita?" bisik Devan, nada suaranya berubah menjadi sebuah bisikan iblis yang menghipnotis.

Aira terpaku, dadanya bergemuruh hebat mendengar pertanyaan itu. "Maksudmu?"

Devan tersenyum miring, senyum tipis yang jauh lebih berbahaya daripada amarah mana pun.

"Haruskah kita membuat mereka membalasnya?" lanjut Devan pelan, tatapannya menghujam pupil mata Aira tanpa kedip.

"Dengan apa?" tanya Aira terbata, napasnya tercekat.

Devan mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat berikutnya tepat di telinga wanita itu.

"Membalas dendam?”

………….

Tawaran pria itu tadi sungguh berbahaya, berputar-putar di kepalanya seperti racun yang menggoda iman.

Rasanya memang menarik, secercah ide gila untuk membalas setimpal rasa sakit yang ia derita.

Tapi jelas, itu bukan hal yang baik.

Bagaimana bisa ia merendahkan diri sendiri dengan cara menjijikkan seperti itu? Membalas pengkhianatan dengan ikut mengotori tangan?

Tapi ini bukan pilihan yang benar. Ia tidak ingin menjadi bajingan seperti suaminya.

Namun suara ketukan pintu membuatnya tersentak.

Pria itu sudah pulang?

Biasanya tak pernah sepagi itu untuk malam.

"Aira?"

Saat Rian melangkah masuk, pria itu tersenyum tipis. "Kamu belum tidur?" tanya Rian berbasa-basi, berjalan mendekati tepi ranjang. Ia meletakkan jam tangannya di nakas dengan santai.

"Maaf ya tadi ditelepon buru-buru tutup. Saya masih di kantor ngurusin laporan penting bareng tim."

"Tadi... kamu sempat telepon, butuh apa, Aira?" lanjut Rian lagi sambil tersenyum ramah, mencoba mendekatkan wajahnya.

"Oh iya, besok saya harus dinas ke luar kota selama beberapa hari. Jadi, acara keluarga besarmu minggu depan kemungkinan besar saya nggak bisa hadir. Urusan kantor lagi padat-padatnya."

Tanpa menunggu persetujuan Aira, Rian

menunduk lalu mendaratkan kecupan ringan di pelipis wanita itu.

Aira langsung menarik tubuhnya mundur, menjauhkan kepalanya.

Bagaimana bisa ia menciumku... setelah bibir itu baru saja mencium istri orang lain?

Bagaimana bisa lelaki brengsek ini berdiri di depannya dengan senyum munafik itu, seolah dirinya adalah suami paling setia?

Ponsel Rian yang tergeletak di atas nakas tiba-tiba menyala.

Aira melirik sekilas ke arah benda pipih itu. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan masuk tanpa nama kontak yang langsung terbaca jelas di matanya.

‘Jangan lupa, besok bawa baju yang bagus ya. Minta istrimu cuci lebih dulu.’

Aira tertegun, matanya menatap tajam kalimat sarkas itu hingga terasa panas.

Jadi, alasan suaminya minta izin dinas luar kota besok bukanlah untuk bekerja, melainkan bermain dibelakang?

Tuhan…

Jika ia akan menjadi istri durhaka, setidaknya suaminya ikut bersama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Main Belakang   Bab 07

    ​"Hmpph..." ​Kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Devan yang memegang ponsel. Otot lengan pria itu keras seperti batu, tak bergeming sedikit pun meski Aira mengerahkan seluruh sisa tenaganya yang terkuras habis. ​Devan menatapnya lurus. Netra kelam pria itu berkilat penuh seringai yang dingin, menikmati riak ketakutan yang tergambar jelas di paras Aira. ​"Apa sakit?" bisik Devan rendah, bibirnya mendarat seringan bulu di pelipis Aira yang basah oleh keringat. "Memangnya suamimu tidak menyentuhmu Aira? Sampai sesempit ini?"​"Ah... Hah... Dev..." ​Getaran ponsel itu mendadak berhenti. Layar meredup sejenak, meninggalkan keheningan mencekam di antara mereka berdua. ​Napas Aira tertahan. Ia mengira ancaman itu telah lewat, tetapi hanya berselang dua detik, layar ponsel itu kembali berpendar terang diiringi getaran yang lebih panjang. ​Bzzzt... Bzzzt... ​Devan mendengus geli, sebuah tawa sinis lolos dari sudut bibirnya. "Rupanya suamimu cukup gigih malam ini. Jarang seka

  • Main Belakang   Bab 06

    Selama dua tahun pernikahan, tidak pernah ada sentuhan seperti ini. Rian selalu menolaknya dengan alasan lelah, alasan impoten, atau sekadar menghindar setiap kali malam tiba. Aira hidup dalam kekeringan batin dan raga, memendam haus luar biasa yang tidak pernah terpuaskan oleh pelukan hampa suaminya. Dan sekarang, di atas tempat asing ini, ia dijamah begitu intens, seolah dirinya adalah satu-satunya perempuan. Rasa haus itu membuncah, mendesak naik melampaui batas kewarasan. Aira menarik tengkuk Devan kembali, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman putus asa. Batas-batas pakaian bawah mereka akhirnya tanggal dalam sentuhan yang kian tak beraturan, meleburkan dua tubuh yang sama-sama terbakar oleh dendam, kekecewaan, dan hasrat yang lama terkunci. "Aaahhh ..." Aira mendesah saat sentuhan Devan kian intens di bagian bawahnya. Membuat pikirannya melayang tak tentu arah. Tangan Aira meremas kuat rambut Devan, membuat tubuh mereka menyatu dengan begitu dalam. Hentakan demi hent

  • Main Belakang   Bab 05

    Seharian penuh berjalan di bawah bayang-bayang amarah bukan perkara mudah. Aira dan Devan menghabiskan waktu berjam-jam menguntit setiap langkah Rian dan Clara.Setiap detik pemandangan itu terekam jelas di kepala Aira, sementara jemarinya tak pernah lelah membidik kamera ponsel untuk mengumpulkan bukti kebusukan suaminya.Hingga malam beranjak larut, langkah keduanya menggiring mereka masuk ke dalam area bar hotel yang temaram dan bising oleh dentuman musik bas.Kepalanya mendadak pening, bukan hanya karena lelah mengitari hotel seharian, tapi karena beban mental yang menghimpit dadanya tanpa henti. Selama ini ia hidup sebagai istri rumahan yang patuh, lurus, dan tidak pernah menyentuh dunia malam. Tapi melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain membuat akal sehatnya perlahan runtuh. Ia bisa saja bukan menjadi istri yang nakal. Tapi melihatnya semenjijikan ini semudah ini?Memang patut diceraikan!Tanpa pikir panjang, Aira memesan gelas demi gelas. Minuman yang tak pernah ia

  • Main Belakang   Bab 04

    Aira masih duduk mematung di atas seprai, menatap layar ponsel suaminya yang tergeletak bisu di nakas. Rasa jijik dan amarah yang bergemuruh di dada Aira mendesak naik, membuat napasnya tersengal hebat. Tawaran gila Devan semalam sempat membuat nalar sehatnya menolak mentah-mentah. Bagaimana bisa ia merendahkan diri dengan cara rendahan seperti itu? Saat Rian keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya, Aira tidak lagi memasang wajah pasrah seperti biasanya. Ia menatap lekat suaminya yang tengah merapikan kemeja kerja di depan cermin besar."Katanya mau dinas luar kota minggu depan, Mas?" tanya Aira dengan suara tenang, namun tatapannya menguliti gerak-gerik suaminya tanpa ampun. "Sebenarnya dinas ke mana? Berapa hari?"Rian sedikit tersentak, terbiasa dengan Aira yang selalu manggut-manggut tanpa banyak tanya. “Kenapa mendadak jadi pengen tahu urusan kantor?""Nggak apa-apa. Supaya aku tahu kalau butuh sesuatu," balas Aira datar, menyembunyikan kepalan tangannya

  • Main Belakang   Bab 03

    Tidak ada suara isak tangis lagi yang tersisa di tenggorokannya. Semua air matanya seolah habis terkuras di lorong hotel tadi, menyisakan rongga dada yang terasa kosong dan dingin. Ia merasa seperti arwah penasaran yang baru saja melihat kuburannya sendiri. Bodoh.Dua tahun ia menyalahkan diri sendiri karena mengira suaminya impoten. Dua tahun ia menahan diri, menjaga harga diri pria keparat itu, dan merasa bersalah setiap kali hasrat manusiawinya muncul. Ternyata, itu semua hanya sandiwara agar Rian bisa leluasa berbagi ranjang dengan istri orang lain. Istri dari pria yang kini duduk di sampingnya. Devan mengemudikan mobil dengan satu tangan, sementara sebelah tangannya lagi bertumpu di kemudi dalam diam. Pria itu juga tidak membuka suara.Dan Aira tidak tahu seberapa lama ia terlelap.Di halaman depan, mobilnya sudah terpatri lima belas menit tadi. Namun keduanya hening dalam kesepian."Sudah sampai?" suara Aira parau, nyaris tak terdengar."Sudah," balas Devan datar, tidak men

  • Main Belakang   Bab 02

    Aira mematung. Kalimat Devan menggema di telinganya.Setahunya, Clara, istri Devan yang selama ini terlihat elegan dan tak tersentuh.Mengapa wanita itu mau saja bermadu?“Mau ikut denganku?” lanjut Devan dingin sembari menyodorkan sebuah kartu kunci.Aira memandangi tangan Devan dengan perasaan ragu. Akalnya terus menolak pengkhianatan sang suami, tetapi cara Devan menjelaskan terlihat sangat meyakinkan. Mungkin setidaknya, ini bisa jadi alasan mereka harus bercerai.“Kenapa harus aku?” bisik Aira, suaranya tercekat. Matanya beralih menatap wajah Devan yang kaku. “Kalau kamu tahu mereka di sana, kenapa tidak kamu yang melihatnya. Kamu suaminya”Devan tersenyum tipis, sebuah senyum dingin tanpa humor yang justru membuat bulu kuduk Aira meremang.“Karena melihat mereka hancur sendirian terasa kurang adil,” sahut Devan datar, suaranya berbisik.“Rian mengambil milikku, dan dia menghancurkan kepercayaanmu. Masih tidak mau?”Kata-kata Devan bagai sulutan api yang menyambar bensin di dada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status