Masuk"Aku enggak nyangka kalian berdua begitu hebat... apalagi Anda, Pak Malik," ucap pria itu tersenyum sinis, menatap Malik dengan tatapan tajam.Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jas warna krem yang melekat rapi dan wangi di tubuhnya. Sangat kontras dengan kondisi Malik maupun Leo—wajah dan pakaian mereka kotor berdebu, dipenuhi peluh dan bercak darah."Ngapain kamu di sini?!" tanya Leo tajam. "Apa kamu di balik semua ini?!" lanjutnya, matanya menyipit menahan amarah.Namun, Rendra tak menjawab. Ia hanya melempar senyum tipis. Kemarahan Leo semakin tersulut. Baru saja ia ingin melangkah maju, beberapa pria mendadak muncul dari balik punggung Rendra—sekitar sepuluh orang—membuat langkah Leo seketika terhenti. Leo menelan ludah kasar, menoleh ke arah Malik yang sejak tadi tak menunjukkan ekspresi apa pun. Pria itu hanya diam, menebar tatapan datar namun menghunus."Lik... kita bakal mati," bisik Leo, tak bisa menyembunyikan ketakutannya.Malik tak membalas bisikan itu. Netranya ber
"Sialan kau, Setan! Beraninya main belakang!"Tepat waktu, Leo melayangkan tendangan keras ke tubuh pria yang menyerang dari belakang. Pria yang memegang balok kayu itu langsung tersungkur, wajahnya bergesekan dengan tanah yang berdebu. Malik mendongak dan meringis saat melihat wajah Leo yang kondisinya juga tidak kalah parah.Namun, ketiga pria itu belum benar-benar kapok. Mereka merangkak bangkit, memancing Malik untuk ikut berdiri. Kini, Malik dan Leo saling memunggungi, bahu dan punggung mereka bertabrakan. Malik menoleh sekilas ke arah Leo, begitu pun sebaliknya. Keduanya saling mengangguk, memasang kuda-kuda kokoh dengan kedua tangan mengepal erat di depan dada.Malik menyapu darah yang mengalir di dahinya, sementara Leo meregangkan otot leher. Leo sempat merinding kecil—postur ketiga pengeroyok itu tinggi dan kekar, tak jauh beda dari Malik, sedangkan tubuhnya sendiri tidak sebesar itu. Namun, mundur bukanlah pilihan."Hiyaaaaa!"Ketiga pengeroyok itu merangsek maju secara ber
Serangan itu langsung menyerbu Malik dan Leo. Keempatnya bergerak bersamaan. Bahkan pria yang baru saja dilempar oleh Leo kembali bangkit untuk membalas dendam. Peta pertempuran terbagi: tiga orang mengeroyok Malik, dan satu orang menghadapi Leo.Tendangan demi tendangan melayang mengincar Malik. Namun, Malik yang memang memiliki dasar bela diri mumpuni tak begitu kesusahan. Pria itu terus menangkis, memukul, dan menendang. Meski begitu, ketiganya jelas bukan lawan sembarangan—mereka mengerti teknik bertarung.Sambil menangkis serangan, Malik menyeringai. Pukulan kerasnya mendarat tepat di wajah salah satu lawan. Dalam hitungan detik, iris matanya menangkap pergerakan lawan lain yang mencoba menghantamnya dari belakang. Malik langsung memutar tubuh dan melayangkan tendangan memutar yang mengenai dada pria tersebut.BUGH! BUGH!Kedua pria itu tersungkur ke tanah. Satu pria berkumis tebal yang berdiri tak jauh dari sana tergagap melihat kelincahan dan dominasi Malik.Namun, pertempuran
Setelah mendapat panggilan telepon dari Leo, Malik langsung berbalik arah hendak pergi. Namun, langkahnya ditahan oleh Nunu. "Pak Malik mau kemana? Sotonya belum habis," ucap Nunu, merasaka kecewa karena soto spesial buatannya baru tersentuh sedikit. "Aduh, Mbak Nunu, maaf banget saya ada urusan penting," balas Malik sambil merogoh saku celananya dan menyerahkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. "Maaf sekali lagi, ya, Mbak Nunu." Setelah menyerahkan uang tersebut, Malik bergegas pergi menjauh dengan tergesa-gesa. Ia sempat tertegun saat melihat jalanan masih macet akibat jam pulang para pekerja. Malik mendesah panjang. Di seberang lokasi proyek, ia melihat salah satu pekerjanya—seorang pemuda yang mengendarai moge—masih nongkrong. Malik langsung mendekatinya dengan langkah tegap dan terburu-buru, membuat pemuda itu seketika menegang khawatir jika dirinya telah melakukan kesalahan hingga didatangi oleh pria tegap tersebut. "Arul, kamu masih mau diam di sini?" tanya Malik.
"Aku benci sama kelakuan si Juki. Kurang ajar memang anak itu. Makanya, kemarin sepulang kerja, aku melabrak rumahnya berniat untuk menghajarnya lagi. Tapi, begitu sampai di gang rumahnya, aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Luka pria asing itu memang sudah mengering, tetapi bengkak dan lebam di wajahnya masih terlihat jelas. Dari kondisinya saja sudah kelihatan kalau orang yang menghajarnya benar-benar beringas," jelas Leo sambil bergidik ngeri.Tiba-tiba, ingatannya kembali pada kejadian ketika Malik menghajarnya sampai demam.Mendengar itu, Malik hanya mengangguk."Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Leo pada Malik, memandanginya penuh rasa penasaran."Aku harus bagaimana? Tapi melihat kelakuannya, aku enggak bisa diam. Juki benar-benar membuatku penasaran, apa alasan dan motifnya?""Mungkin ingin menjatuhkanmu," balas Leo menebak."Bahkan aku belum hebat, apalagi kaya," balas Malik santai. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya hingga redup dan
Pria itu tidak menjawab. Ia justru makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Sheila, bahkan memindahkan kepalanya ke ceruk leher Sheila. Hal itu membuat perempuan itu makin membeku, merasakan perasaan aneh yang pelan-pelan mengelilingi jiwanya. "Ehhmm... Lik?" panggil Sheila. Suaranya terdengar gugup merasakan sapuan napas hangat di lehernya—apalagi keduanya masih telanjang bulat. Namun dengan gerakan tangan kekarnya, Malik menyambar selimut dan menutup tubuh mereka berdua sebatas leher. "Biarkan begini dulu, Mbak, aku mohon. Setelah ini Mbak bebas memakiku, bahkan jika ingin menendangku sekalipun, aku tidak akan marah. Aku akan menerimanya. Tapi untuk malam ini, biarkan seperti ini... Setidaknya untuk beberapa jam saja, sampai kamu tertidur terlelap," ucapnya panjang lebar. Suaranya terdengar serak dan sedikit bergema karena bibirnya masih bersandar di ceruk leher Sheila. Mendengar penjelasan panjang itu, Sheila terdiam makin kaku. Namun, ada perasaan hangat dan aneh yang menyu







