ログイン"Sheila, ngapain kamu ada di sini? Terus ngapain lancang banget pakai ngadu segala ke Papaku?!" desis Lily murka. Ia berniat menerjang dan meraih tubuh Sheila. Namun dengan sigap, Malik langsung maju dan berdiri di depan Sheila—menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi perempuan itu. Tentu saja pemandangan tersebut membuat hati Lily bagaikan terbakar bara; ia amat geram melihat pria yang dicintainya sejak pandangan pertama justru membela wanita lain. "Malik! Apa-apaan kamu?!" pekik Lily histeris, menatap tajam penuh kebencian ke arah sang pria. Di balik punggung tegap Malik, Sheila tersenyum puas sembari menatap pria itu. Aroma parfum maskulin yang khas menguar lembut, memenuhi indra penciumannya. Meski Malik baru saja melewati hari yang melelahkan di lapangan, pria itu selalu pandai menjaga kebersihan dan kesegaran tubuhnya. Tak heran jika aroma tubuhnya tetap wangi dan menyenangkan, seolah kelelahan setelah seharian bekerja tak pernah mengurangi pesonanya sedikit pun. "Sa
Perempuan itu adalah Lily. Wanita berambut bondol itu bahkan dengan lancang langsung duduk tepat di hadapan Malik, menghalangi pandangannya ke arah Sheila yang berada cukup jauh dari sana. "Aku gak sendirian, Bu Lily," bohong Malik sambil berusaha melihat ke arah Sheila. Namun, Lily terus menggeser posisi kepalanya mengikuti arah mata Malik, menyulitkan pria itu untuk memantau keberadaan Sheila. "Masa sih? Berdua sama siapa? Ah, jangan bohong, Malik... Aku suka deh sama pria yang jual mahal begini, gak gampangan! Aku justru makin tertantang," ucap Lily blak-blakan. Tatapannya menatap nakal ke arah Malik, menelisik setiap inci tubuh pria itu hingga membuat Malik merasa seolah sedang dikuliti. Malik bingung harus merespons apa. "Gak usah gugup gitu ah..." lanjut Lily seolah sangat paham dengan kecanggokan pria di hadapannya. "Maaf, Bu Lily, sepertinya—" "Cukup ya, Malik! Jangan berusaha menjauh terus dari aku! Aku kurang apa coba buat kamu? Aku cantik, berpendidikan tinggi
"Kenapa, Ris?" "Ah, enggak, Pah... Aku cuma ikut senang aja," balas Aris sambil tersenyum kecil—berbanding terbalik dengan isi hatinya yang begitu panas. Sementara itu, Malik sedang mengunyah roti lapis sambil mengawasi jalannya proyek di tengah jam kerjanya. Pria itu benar-benar bekerja sangat keras. Namun di balik kesibukannya, hubungan antara dirinya dan Sheila justru semakin mencair; keduanya kini bahkan sudah sering bertukar pesan. "Lik, udah makan siang?" Malik tersenyum tipis, pipinya menggembung penuh oleh gigitan roti saat membaca pesan dari istri sahabatnya itu. "Sudah, Mbak. Ini lagi makan roti," balas Malik cepat, lalu menekan tombol kirim. Pesan itu langsung dibaca oleh Sheila detik itu juga. "Pak Malik!" panggil salah seorang pekerja proyek, membuat Malik menoleh dan lekas menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Pria tegap itu bangkit berdiri sambil menyuapkan sisa roti terakhir ke dalam mulutnya. "Ada Pak Arya di depan, Pak," lapor pekerja itu dengan
Melihat pemandangan itu, Sheila melotot kaget. Ia refleks menutup mulut dengan kedua tangannya lalu menggeleng pelan, melemparkan tatapan memohon pada Malik saat netra mereka tak sengaja saling bertemu. Melihat Isyarat itu, Malik mendengus kasar. Ia mengendurkan cengkeramannya dan melepaskan kerah baju Aris. Malik berusaha setengah mati menahan emosi yang nyaris meledak, hanya demi perempuan yang bahkan secara status bukanlah siapa-siapa baginya. "Kali ini aku maafkan kamu, Malik!" desis Aris seraya menoleh sekilas ke arah Sheila, lalu berbalik pergi meninggalkan mereka begitu saja. Tak ada yang tahu bahwa sejak tadi Aris sebenarnya gemetar ketakutan; beruntung Malik masih bisa mengontrol amarahnya. Malik menunduk dalam dengan napas terengah-engah, masih berusaha meredam sisa-sisa amarah luar biasa yang nyaris lepas kendali. "Lik?" panggil Sheila pelan. Ia melangkah mendekat ke arah pria itu. "Mbak... Maaf ya, Mbak. Aku gaak bisa bantu banyak," lirih Malik menunduk, tak be
"Ris!" Malik akhirnya membuka suara, menyuarakan protes keras. Tatapannya menusuk tajam, tangannya mengepal kuat, dan kepalanya menggeleng tegas. Bagi Malik, perintah Aris adalah sebuah penghinaan besar untuk Sheila. Bahkan, Malik selama ini sudah merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya di depan Aris agar pria itu bisa menyaksikan permainannya dengan Sheila—hal yang setengah mati Malik sembunyikan dari Sheila. Dan sekarang, Aris dengan lancang dan terang-terangan melontarkan permintaan bejatnya langsung pada Sheila! Hal itu sukses membuat Malik benar-benar tidak bisa tinggal diam lagi. "Ris, cukup! Kamu sudah benar-benar menghancurkan harga diri istrimu sendiri!" "Lalu apa masalahnya, Malik?! Aku membayarmu, kan?! Jadi lakukan saja! Aku gak minta dengan gratis, kok. Kamu sudah dapat pekerjaan dan uang dari aku, kan?!" Malik menahan napasnya dalam-dalam. Ia menggetakkan giginya, lalu menatap sekilas ke arah Sheila. Perempuan itu hanya mampu menggeleng pelan. Kedua
Genggaman yang terlalu keras itu membuat Sheila meringis kesakitan. Kulit mulus seputih pualam itu terlihat memerah. Malik yang melihatnya tak sanggup lagi menahan rasa kasihan dan amarah. "Oke, oke, Ris! Aku minta maaf, aku salah! Lepaskan tangan Sheila, kamu menyakitinya! Dia istrimu, Ris... Bersikaplah dengan lembut!" ucap Malik cepat. Ia mundur perlahan dan mengangkat kedua tangannya ke udara, menampakkan gestur mengalah, meski pandangannya tak lepas dari wajah Sheila yang terus meringis. "Loh, apa urusannya denganmu?! Dia istriku, bebas terserah aku! Bahkan aku bisa memberikan dia padamu untuk kamu gagahi, kan?! Sekalipun aku menyiksanya, itu hakku!" Mata Malik melotot tajam mendengar perkataan bejat dari mulut sahabatnya itu. "Ris, aku gak nyangka kamu bisa berubah sampai sebegininya... Dulu kamu gak begini, Ris! Apa gara-gara uang kamu berubah?!" Aris tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Malik. Pria itu lantas mengangguk mantap tanpa rasa malu sedikit pun. "Ya,







