Mag-log inBagaimana bisa seorang suami memperlihatkan bagian tubuh sensitif sang istri pada orang lain? Kepalanya benar-benar pusing sekarang.
"Aku tunggu kabar baikmu ya, Lik," ucap Aris membuyarkan lamunannya dengan sedikit menepuk pundak Malik, menatap sendu ke arah pria itu seolah harapan satu-satunya adalah dirinya. Waktu bergulir cepat, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Satu per satu semuanya mulai bubar mengundurkan diri termasuk Malik, kecuali Aris yang masih ingin berada di sana. Setelah pamit pada sahabat dan teman lainnya yang masih tersisa, Malik bergegas pergi dengan motor bututnya itu. Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Sepanjang perjalanan, angin malam menyapu wajahnya yang sedang melamun sambil mengendarai motor bututnya itu. Ia menghela napas beberapa kali, memikirkan perkataan sahabatnya. Ia masih tak habis pikir. Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Aris itu? Ia terkekeh pelan, meski rasa bingung masih menyelimuti benaknya. Namun, tiba-tiba lamunannya buyar. Tepat saat ia hendak melewati sebuah tikungan, sorot lampu mobil menyilaukan matanya. Bruk! Brak! "Aduh!" Semuanya terjadi begitu cepat. Tubuhnya terlambat untuk menghindar. Malik bersama motor bututnya itu terjungkal dan terguling di tikungan jalan yang sepi. Ia meringis sambil berusaha bangkit. "Astaga! Maaf Pak, saya tidak sengaja!" Perempuan itu langsung keluar dari mobilnya, dan berusaha terlihat ingin membantu Malik untuk membangunkan motornya. "Sekali lagi maaf ya, Pak... Ya ampun... motornya rusak, Pak!" perempuan itu kembali memekik saat melihat bagian depan motor Malik sudah porak-poranda. Malik yang mendengar itu langsung menatap ke arah depan, dan benar saja kaca penerang depan motornya rusak total, bahkan hampir lepas dari tempatnya. "Saya akan ganti rugi, Pak!" ucap perempuan itu lagi. Sedangkan Malik hanya bisa meringis. Perempuan itu sedikit berlari kecil ke arah mobilnya. Malik spontan menoleh, otomatis netranya menatap bokong semok perempuan asing yang sedikit menungging condong ke arah mobil. Glek. Matanya membelalak, nyaris tak berkedip saat menangkap pemandangan di hadapannya pada malam selarut ini. Ia segera memalingkan wajah ke arah lain saat melihat perempuan itu kembali melangkah ke arahnya dengan tergesa-gesa, wajahnya dipenuhi kepanikan. "Ini Pak kartu nama saya, dan ini ada sedikit uang untuk memperbaiki mot..." Belum sempat perempuan itu menyelesaikan perkataannya, Malik langsung menyela dengan nada kaget sekaligus tak percaya. "Istrinya Aris?" “Hah?” Perempuan itu spontan menyipitkan mata. Tangannya yang semula hendak menyodorkan kartu nama seketika terhenti di udara. “Kamu kenal saya?” Malik mengangguk kikuk. Ia merutuki dirinya sendiri. Seharusnya tadi ia diam saja, tetapi ia tak mampu menahan ucapan yang telanjur lolos dari bibirnya. “Saya... saya temannya suami Mbak,” jelas Malik, memaksakan senyum tipisnya. Malik melirik kartu nama yang masih berada di tangannya. Sheila Adisty. Jadi, itu namanya. Untuk sesaat, perempuan di hadapannya itu hanya terdiam. Tatapannya yang semula penuh tanda tanya perlahan berubah datar. “Baiklah, itu tidak penting. Tolong terima ini, saya…” "Gak usah Mbak. Ini hanya kerusakan sedikit!" Lagi-lagi Malik menyela, bahkan menolak uang dan kartu nama milik perempuan itu. Namun, Sheila tak mau mendengar. Ia tetap menyodorkan kedua benda itu kepada Malik. Malik terus menolak. Dengan lembut, ia mengangkat tangan untuk mendorong kedua benda itu menjauh darinya. Akhirnya Sheila menyerah. "Baiklah, tapi jika ada kerusakan lebih lanjut, tolong hubungi saya atau suami saya," Malik mengangguk. Bahkan tanpa basa-basi lagi, ia langsung pamit undur diri dengan tergesa-gesa, membuat perempuan itu sedikit merasa aneh. "Sialan, Malik! Dia istri Aris, sahabatmu sendiri!" umpatnya pada diri sendiri sambil menepuk jidatnya keras-keras. Namun, semakin ia mencoba menghapusnya, bayangan blus ketat dan tatapan Sheila di bawah remang lampu jalanan justru makin membakar pikirannya. Ia menelan ludah beberapa kali. Malam yang sepi, angin yang semakin lama semakin menusuk kulit, dan disuguhkan perempuan berperawakan bak gitar Spanyol benar-benar menguji imannya. Sejak tadi ia begitu gelisah, apalagi ia menatap dada Sheila yang tertutup blus namun sangat membusung ke depan, membuat ingatannya kembali melayang pada saat Aris memperlihatkan foto perempuan itu yang hanya memakai bra yang kekecilan. Hingga tak terasa, karena sepanjang perjalanan ia terus membayangkan lekuk tubuh dari istri sahabatnya itu, ia sudah sampai di depan kosannya yang kecil dan sumpek. Ia segera memasukkan motornya ke dalam rumah, membersihkan diri, lalu merebahkan tubuh di atas ranjang. "Ah, sudahlah. Jangan terus dipikirkan," gumamnya. Tanpa disadarinya, karena terus memikirkan perkataan sahabatnya dan bayangan tubuh sintal istri sahabatnya itu, Malik akhirnya terlelap. . . . "Wah, ternyata sebesar ini..." Sheila tersenyum menggoda, tangannya meremas pelan. Napas Malik tersentak. "Mbak, jangan—" Belum selesai bicara, bibir lembut itu sudah menyapu habis. Malik mendongak terengah, matanya terpejam rapat. Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menjalar seketika, membuat seluruh tubuhnya melemas sekaligus menegang. "Ah... benar-benar hebat..." desisnya gemas, semakin tak tertahankan saat ritme makin cepat dan panas. Malik gemetar hebat, rasa meledak di perutnya kian memuncak... Kring! Kring! Kring! Tiba-tiba saja suara alarm Malik yang ternyata sudah berdering sepuluh kali itu, kini sukses membangunkan Malik. Ia langsung terperanjat bangun dari tidurnya. "Sial, ternyata mimpi!" rutuknya. Wajahnya benar-benar menggambarkan kekecewaan yang mendalam. Dengan perasaan yang campur aduk, netranya tak sengaja memandang ke arah ponsel. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. "Astaga!" pekiknya. Malik langsung melompat dari kasur dan menyambar handuknya secepat kilat. Setelah bersiap seadanya, ia tancap gas dengan membawa motor yang bekas jatuh semalam. Namun sialnya, kedatangannya yang sangat terlambat langsung dipergoki oleh sang bos. Tanpa basa-basi, ia dipaksa pulang hari itu juga. Dengan perut yang keroncongan, Malik membelokkan motornya, ke salah satu pedagang kaki lima di seberang jalan dekat persimpangan lampu merah. "Pak, pesan satu—" "MALIK!" Tiba-tiba suara teriakan nyaring dari arah jalan memotong ucapannya, membuat Malik spontan menoleh ke asal suara.Setelah mendapat panggilan telepon dari Leo, Malik langsung berbalik arah hendak pergi. Namun, langkahnya ditahan oleh Nunu. "Pak Malik mau kemana? Sotonya belum habis," ucap Nunu, merasaka kecewa karena soto spesial buatannya baru tersentuh sedikit. "Aduh, Mbak Nunu, maaf banget saya ada urusan penting," balas Malik sambil merogoh saku celananya dan menyerahkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. "Maaf sekali lagi, ya, Mbak Nunu." Setelah menyerahkan uang tersebut, Malik bergegas pergi menjauh dengan tergesa-gesa. Ia sempat tertegun saat melihat jalanan masih macet akibat jam pulang para pekerja. Malik mendesah panjang. Di seberang lokasi proyek, ia melihat salah satu pekerjanya—seorang pemuda yang mengendarai moge—masih nongkrong. Malik langsung mendekatinya dengan langkah tegap dan terburu-buru, membuat pemuda itu seketika menegang khawatir jika dirinya telah melakukan kesalahan hingga didatangi oleh pria tegap tersebut. "Arul, kamu masih mau diam di sini?" tanya Malik.
"Aku benci sama kelakuan si Juki. Kurang ajar memang anak itu. Makanya, kemarin sepulang kerja, aku melabrak rumahnya berniat untuk menghajarnya lagi. Tapi, begitu sampai di gang rumahnya, aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Luka pria asing itu memang sudah mengering, tetapi bengkak dan lebam di wajahnya masih terlihat jelas. Dari kondisinya saja sudah kelihatan kalau orang yang menghajarnya benar-benar beringas," jelas Leo sambil bergidik ngeri.Tiba-tiba, ingatannya kembali pada kejadian ketika Malik menghajarnya sampai demam.Mendengar itu, Malik hanya mengangguk."Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Leo pada Malik, memandanginya penuh rasa penasaran."Aku harus bagaimana? Tapi melihat kelakuannya, aku enggak bisa diam. Juki benar-benar membuatku penasaran, apa alasan dan motifnya?""Mungkin ingin menjatuhkanmu," balas Leo menebak."Bahkan aku belum hebat, apalagi kaya," balas Malik santai. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya hingga redup dan
Pria itu tidak menjawab. Ia justru makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Sheila, bahkan memindahkan kepalanya ke ceruk leher Sheila. Hal itu membuat perempuan itu makin membeku, merasakan perasaan aneh yang pelan-pelan mengelilingi jiwanya. "Ehhmm... Lik?" panggil Sheila. Suaranya terdengar gugup merasakan sapuan napas hangat di lehernya—apalagi keduanya masih telanjang bulat. Namun dengan gerakan tangan kekarnya, Malik menyambar selimut dan menutup tubuh mereka berdua sebatas leher. "Biarkan begini dulu, Mbak, aku mohon. Setelah ini Mbak bebas memakiku, bahkan jika ingin menendangku sekalipun, aku tidak akan marah. Aku akan menerimanya. Tapi untuk malam ini, biarkan seperti ini... Setidaknya untuk beberapa jam saja, sampai kamu tertidur terlelap," ucapnya panjang lebar. Suaranya terdengar serak dan sedikit bergema karena bibirnya masih bersandar di ceruk leher Sheila. Mendengar penjelasan panjang itu, Sheila terdiam makin kaku. Namun, ada perasaan hangat dan aneh yang menyu
Malik maupun Sheila melengguh panjang. Tubuh Malik yang lelah serta pikirannya yang dipenuhi beban seolah benar-benar membutuhkan pelepasan yang hebat malam ini.Tanpa membuang waktu, Malik membalikkan tubuh Sheila kembali terlentang. Ia menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman panas di setiap inci kulit mulus Sheila. Perempuan itu melengkungkan tubuhnya, merinding merasakan sentuhan, hisapan, dan jilatan halus yang membakar dari bibir Malik."Engghh... Malik..." erang Sheila pasrah. Tangannya terangkat menjambak pelan rambut tebal Malik saat bibir pria itu merayap makin turun, menyusuri paha dalamnya dengan lembut penuh perasaan.Malik seolah meluapkan seluruh rasa lelah dan beban pikiran yang menghantamnya selama beberapa hari terakhir ke dalam setiap sentuhannya. Ia mulai menjulurkan lidahnya, memanjakan pusat keintiman Sheila yang sudah membasah.Sheila mengerang makin keras dalam kenikmatan yang membubung tinggi. Tubuhnya terangkat ke atas, paha mulusnya menjepit kepala Malik yang ber
Mendengar itu, Malik tanpa banyak bicara langsung melepaskan pakaian atasnya di hadapan Sheila. Seketika, Sheila terperangah. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada tubuh tegap Malik, dengan garis-garis otot di dada dan perut yang kini terlihat jelas. Untuk sesaat, ia bahkan lupa harus berkata apa. Perempuan itu seolah tak bisa lagi menahan diri. Apalagi setelah panggilan video tempo hari, Sheila terus merasa gelisah dan membayangkan tubuh kekar yang selalu menindihnya dengan kehangatan yang membakar. Malik terdiam membeku, menatap wajah sayu Sheila yang seolah benar-benar terpikat oleh pesonanya. "Mbak..." panggil Malik gugup. Namun tiba-tiba, tangan halus Sheila terangkat. Jari-jari lentiknya mengelus lembut deretan otot perut Malik yang keras bahkan di sana masih ada sisa-sisa jejak lebam, membuat pria itu memekik dan menahan napas seketika. Sentuhan hangat itu merambat cepat, memicu getaran liar yang membuat Malik memejamkan mata rapat-rapat. Otot-otot tubuhnya makin men
"Kamu lagi di jam kerja?" tanya Sheila setelah keduanya berada di dalam mobil dan melaju ke jalan raya. Malik mengangguk tegas. "Aris melarangku untuk meminta jemput padamu, tapi lihatlah, dia sendiri yang menyuruhmu menjemputku. Mau dia apa, sih?" omelnya sambil melipat tangan di dada. Mendengar itu, Malik hanya tersenyum tipis dengan tangan tetap sibuk mengemudi. "Mungkin dia ingin kamu menurut padanya, Mbak. Dia..." "Udah deh, diam! Kalau cuma mau membela sahabatmu, mending diam!" sela Sheila tajam. Ia menoleh cepat ke arah Malik, lalu baru menyadari jika wajah Malik masih terlihat lebam. "Sekarang katakan, kenapa itu bisa begitu? Hobi banget perasaan lebam-lebam!" omelnya lagi, menatap penuh ke arah Malik. Ia berusaha bersikap tak peduli, namun seolah tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. "Tidak apa-apa, Mbak. Ini hanya kesalahan kecil dan aku gak apa-apa," balas Malik lembut. Ia menoleh ke arah Sheila, membalas tatapan tajam itu dengan kelembutan yang membuat She







