Share

Bab 3-Teman Lama

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-08-12 00:37:43

​"Kamu Malik, kan?" tanya seorang pria, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mengenali orang.

​"Eh... iya?" Malik membalas pertanyaan itu dengan senyuman canggung.

​Pria teman semasa sekolahnya itu langsung tertawa nyaring.

Malik hanya terdiam, berusaha mengabaikan ejekan Andi, orang yang memang kerap merundungnya sewaktu sekolah dulu.

​"Kamu nggak berubah, Lik. Masih kumal. Dan... apa, 'anu'-mu masih gede?" Di sela tawa, Andi bahkan tidak melewatkan hinaan vulgar tersebut.

​Mendengar perkataan itu, rahang Malik mengeras. "Maaf ya, Di, aku gak bisa lama-lama ngobrol sama kamu. Ada urus—"

​"Mau ke mana, sih? Buru-buru banget. Kamu lagi pesan ketoprak, kan? Biar aku yang bayar..."

​"Ah, gak perlu!" potong Malik cepat. "Pak, dibungkus aja ya!" ucapnya beralih pada sang penjual ketoprak.

​Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya pesanan ketoprak selesai dibungkus.

​Dengan cepat Malik berpamitan ingin segera pergi. Namun, lagi-lagi Andi menahannya, seolah belum puas meluapkan hinaannya kepada teman lamanya itu.

​"Kerja apa sekarang, Lik? Pembagi brosur, atau apa nih?" ocehnya yang benar-benar membuat telinga Malik panas bukan main.

​"Denger-denger kamu udah jadi duda, ya? Ini udah jadi rahasia umum, sih. Maya kebetulan kerja di kantor aku, Lik. Dia bilang cerai sama kamu gara-gara menderita diajak susah mulu. Udah mah susah, mana minta dipuasin terus lagi. Ahahaha!" Perkataan Andi benar-benar menguji batas kesabarannya.

​"Maaf, aku harus segera berangkat kerja. Duluan, ya," potong Malik, berbohong. Ia tidak ingin mendengar lebih jauh hinaan tersebut.

​Namun sepertinya, hari apes memang tak pernah mau jauh-jauh dari Malik. Begitu ia sampai di depan rumah kontrakannya, seluruh barang dan pakaian miliknya sudah berserakan di atas tanah, membuat matanya terbelalak.

​"Hah, ada apa ini?"

​"Malik, maaf saya terpaksa harus usir kamu," tiba-tiba suara Pak Budi mengagetkan Malik yang masih sibuk menatap barang-barangnya itu.

​"Pak, kenapa? Kan saya baru nunggak seminggu, tiga hari lagi saya gajian kok," protes Malik, yang merasa aneh karena biasanya jika menunggak seminggu Pak Budi pemilik kontrakan tak akan mempermasalahkannya.

​Apalagi Pak Budi memang begitu dekat dengannya, karena Malik selalu memijat badan Pak Budi jika Pak Budi merasakan encok atau saraf kejepit.

​Wajah Pak Budi terlihat gugup, yang membuat Malik menatap heran, merasakan ada yang janggal. Tapi apa? pikirnya.

​"Iya, Lik, tapi jangan jadi kebiasaan dong! Maaf ya saya gak bisa nampung kamu di sini lagi, apalagi ada orang lain yang mau bayar kamar kamu dengan harga tinggi," jawab Pak Budi dengan nada yang masih terdengar iba.

​Malik menghela napas panjang. Ia tetap berusaha tenang dan tak berniat mendebat.

​"Sekali lagi maaf ya, Lik," ucap Pak Budi yang hanya ditanggapi anggukan saja oleh Malik.

Sekarang Malik benar-benar bingung harus melangkah ke mana. Uang simpanannya pas-pasan, hanya cukup untuk menyambung hidup sampai hari gajian tiba.

​Dengan jempol yang gemetar, ia mulai menelusuri deretan kontak di ponselnya, berharap ada satu nama yang bisa dimintai bantuan.

​Namun, hasil gulirannya nihil. Di dunia yang keras ini, ia memang tidak memiliki siapa-siapa lagi—selain Aris.​

Kekacauan di benak Malik semakin menjadi-jadi saat netranya terpaku pada nama Aris di layar ponsel.

​Duh, aku malu kalau harus meminta tolong padanya, batinnya bergejolak. Tangannya gemetar , menggenggam ponsel .

Namun, Malik sadar ia tak punya pilihan lain. Dengan menebalkan rasa malu, akhirnya mau tak mau Malik harus kembali merepotkan sahabatnya itu.

​Tut... tut...

​"Halo?"

​Jantung Malik seakan berhenti berdetak. Suara yang menyahut di seberang sana bukanlah suara berat Aris, melainkan suara Sheila.

​Malik spontan menjauhkan ponsel dari telinganya, Ia benar-benar tak menyangka Sheila lah yang akan mengangkat panggilan ini.

​"Halo?" Sheila kembali bersuara, nada bicaranya terdengar tidak sabar karena Malik hanya diam membisu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 143—Tiga Lawan Satu

    Serangan itu langsung menyerbu Malik dan Leo. Keempatnya bergerak bersamaan. Bahkan pria yang baru saja dilempar oleh Leo kembali bangkit untuk membalas dendam. Peta pertempuran terbagi: tiga orang mengeroyok Malik, dan satu orang menghadapi Leo.Tendangan demi tendangan melayang mengincar Malik. Namun, Malik yang memang memiliki dasar bela diri mumpuni tak begitu kesusahan. Pria itu terus menangkis, memukul, dan menendang. Meski begitu, ketiganya jelas bukan lawan sembarangan—mereka mengerti teknik bertarung.Sambil menangkis serangan, Malik menyeringai. Pukulan kerasnya mendarat tepat di wajah salah satu lawan. Dalam hitungan detik, iris matanya menangkap pergerakan lawan lain yang mencoba menghantamnya dari belakang. Malik langsung memutar tubuh dan melayangkan tendangan memutar yang mengenai dada pria tersebut.BUGH! BUGH!Kedua pria itu tersungkur ke tanah. Satu pria berkumis tebal yang berdiri tak jauh dari sana tergagap melihat kelincahan dan dominasi Malik.Namun, pertempuran

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 142—Penyerangan

    Setelah mendapat panggilan telepon dari Leo, Malik langsung berbalik arah hendak pergi. Namun, langkahnya ditahan oleh Nunu. "Pak Malik mau kemana? Sotonya belum habis," ucap Nunu, merasaka kecewa karena soto spesial buatannya baru tersentuh sedikit. "Aduh, Mbak Nunu, maaf banget saya ada urusan penting," balas Malik sambil merogoh saku celananya dan menyerahkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. "Maaf sekali lagi, ya, Mbak Nunu." Setelah menyerahkan uang tersebut, Malik bergegas pergi menjauh dengan tergesa-gesa. Ia sempat tertegun saat melihat jalanan masih macet akibat jam pulang para pekerja. Malik mendesah panjang. Di seberang lokasi proyek, ia melihat salah satu pekerjanya—seorang pemuda yang mengendarai moge—masih nongkrong. Malik langsung mendekatinya dengan langkah tegap dan terburu-buru, membuat pemuda itu seketika menegang khawatir jika dirinya telah melakukan kesalahan hingga didatangi oleh pria tegap tersebut. "Arul, kamu masih mau diam di sini?" tanya Malik.

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 141—Kenapa Dengan Leo?

    "Aku benci sama kelakuan si Juki. Kurang ajar memang anak itu. Makanya, kemarin sepulang kerja, aku melabrak rumahnya berniat untuk menghajarnya lagi. Tapi, begitu sampai di gang rumahnya, aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Luka pria asing itu memang sudah mengering, tetapi bengkak dan lebam di wajahnya masih terlihat jelas. Dari kondisinya saja sudah kelihatan kalau orang yang menghajarnya benar-benar beringas," jelas Leo sambil bergidik ngeri.Tiba-tiba, ingatannya kembali pada kejadian ketika Malik menghajarnya sampai demam.Mendengar itu, Malik hanya mengangguk."Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Leo pada Malik, memandanginya penuh rasa penasaran."Aku harus bagaimana? Tapi melihat kelakuannya, aku enggak bisa diam. Juki benar-benar membuatku penasaran, apa alasan dan motifnya?""Mungkin ingin menjatuhkanmu," balas Leo menebak."Bahkan aku belum hebat, apalagi kaya," balas Malik santai. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya hingga redup dan

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 140—Sebuah Bukti

    Pria itu tidak menjawab. Ia justru makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Sheila, bahkan memindahkan kepalanya ke ceruk leher Sheila. Hal itu membuat perempuan itu makin membeku, merasakan perasaan aneh yang pelan-pelan mengelilingi jiwanya. "Ehhmm... Lik?" panggil Sheila. Suaranya terdengar gugup merasakan sapuan napas hangat di lehernya—apalagi keduanya masih telanjang bulat. Namun dengan gerakan tangan kekarnya, Malik menyambar selimut dan menutup tubuh mereka berdua sebatas leher. "Biarkan begini dulu, Mbak, aku mohon. Setelah ini Mbak bebas memakiku, bahkan jika ingin menendangku sekalipun, aku tidak akan marah. Aku akan menerimanya. Tapi untuk malam ini, biarkan seperti ini... Setidaknya untuk beberapa jam saja, sampai kamu tertidur terlelap," ucapnya panjang lebar. Suaranya terdengar serak dan sedikit bergema karena bibirnya masih bersandar di ceruk leher Sheila. Mendengar penjelasan panjang itu, Sheila terdiam makin kaku. Namun, ada perasaan hangat dan aneh yang menyu

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 139—Lik Are You Oke?

    Malik maupun Sheila melengguh panjang. Tubuh Malik yang lelah serta pikirannya yang dipenuhi beban seolah benar-benar membutuhkan pelepasan yang hebat malam ini.Tanpa membuang waktu, Malik membalikkan tubuh Sheila kembali terlentang. Ia menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman panas di setiap inci kulit mulus Sheila. Perempuan itu melengkungkan tubuhnya, merinding merasakan sentuhan, hisapan, dan jilatan halus yang membakar dari bibir Malik."Engghh... Malik..." erang Sheila pasrah. Tangannya terangkat menjambak pelan rambut tebal Malik saat bibir pria itu merayap makin turun, menyusuri paha dalamnya dengan lembut penuh perasaan.Malik seolah meluapkan seluruh rasa lelah dan beban pikiran yang menghantamnya selama beberapa hari terakhir ke dalam setiap sentuhannya. Ia mulai menjulurkan lidahnya, memanjakan pusat keintiman Sheila yang sudah membasah.Sheila mengerang makin keras dalam kenikmatan yang membubung tinggi. Tubuhnya terangkat ke atas, paha mulusnya menjepit kepala Malik yang ber

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 138-Sentuhan Tangan Sheila

    Mendengar itu, Malik tanpa banyak bicara langsung melepaskan pakaian atasnya di hadapan Sheila. Seketika, Sheila terperangah. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada tubuh tegap Malik, dengan garis-garis otot di dada dan perut yang kini terlihat jelas. Untuk sesaat, ia bahkan lupa harus berkata apa. Perempuan itu seolah tak bisa lagi menahan diri. Apalagi setelah panggilan video tempo hari, Sheila terus merasa gelisah dan membayangkan tubuh kekar yang selalu menindihnya dengan kehangatan yang membakar. Malik terdiam membeku, menatap wajah sayu Sheila yang seolah benar-benar terpikat oleh pesonanya. "Mbak..." panggil Malik gugup. Namun tiba-tiba, tangan halus Sheila terangkat. Jari-jari lentiknya mengelus lembut deretan otot perut Malik yang keras bahkan di sana masih ada sisa-sisa jejak lebam, membuat pria itu memekik dan menahan napas seketika. Sentuhan hangat itu merambat cepat, memicu getaran liar yang membuat Malik memejamkan mata rapat-rapat. Otot-otot tubuhnya makin men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status