Masuk"Lik, bagaimana?" tanya Aris tanpa basa-basi. Namun, saat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, ia mengerutkan dahi. "Di mana istriku, Lik?" tanyanya lagi. Rupanya, sesaat terdengar kunci diputar dari luar, Sheila dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk menyembunyikan dirinya yang masih rapi. Begitu juga dengan Malik yang sengaja menyemprotkan parfum milik Sheila ke tubuhnya. "Dia ke kamar mandi, Ris," balas Malik begitu lancar, seolah mereka benar-benar baru saja melakukannya. Wajah Aris terlihat begitu sumringah. Ia langsung merangsak masuk ke dalam kamar. Apalagi saat mencium aroma tubuh istrinya menempel di tubuh Malik, Aris makin yakin jika keduanya telah berbagi keringat. Aris mengangguk senang. "Bagaimana menurutmu, Lik? Rasanya... apa kamu atau dia puas?" Pertanyaan gamblang itu tak pelak membuat Malik risih. "Jangan sungkan, Lik. Kamu pasti puas, kan? Apalagi kamu sudah lama tidak mendapat sentuhan atau belaian seorang perempuan!" Aris kembali mengoc
Namun, setelah mengatakan hal demikian, napas Sheila tiba-tiba memburu. Dengan gerakan cepat tapi lemas, perempuan itu mendudukkan diri di atas meja rias dengan bahu merosot. Malik mengerutkan dahi, merasa ada yang janggal dengan sikap perempuan di hadapannya itu. "Mbak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Malik. Namun, ia tetap menjaga jarak, tak berani mendekat. Sheila mendesah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan merengkuh di atas meja rias. "Tidak, ini belum saatnya!" ucap Sheila. Ia kembali berdiri, menatap Malik dengan pandangan rapuh yang tak pernah ia perlihatkan pada Aris sekalipun. "Sepertinya ada masalah? Mbak duduk dulu, tenangkan diri. Aku akan mengambilkan minum," balas Malik. Ia berjalan ke arah meja di sebelah ranjang. Malik menuangkan segelas air putih, lalu dengan ragu-ragu menyerahkan gelas itu. Sheila menerima gelas tersebut, lalu mendudukkan bokongnya di atas ranjang yang super empuk. Hening. Selama beberapa menit, suasana begitu senyap. Keheni
Malik membalikkan badan, menatap Sheila dengan raut bingung. Apalagi yang harus dikatakan? Bukannya semuanya sudah jelas? batinnya bertanya-tanya. Malik mengangguk tegas. "Katakan, Mbak, ada apa?" Sheila masih terdiam, namun tanpa Malik sadari, kedua tangan perempuan itu terkepal kuat sejak tadi. "Apa Mbak baik-baik saja?" tanya Malik lagi. Kali ini ia melangkah satu pijakan, mencoba mendekati Sheila. Namun, perempuan itu langsung mundur menjauh, membuat Malik tertegun. ‘Kenapa dengan perempuan ini? Tadi dia memaksaku, tapi sekarang seolah tak sudi?’ "Begini..." ucap Sheila. Suaranya terdengar gugup, tetapi aura ketegasannya masih mendominasi. Malik mengangguk pelan, setia menunggu apa yang akan Sheila katakan padanya. "Aku... emm, soal yang tadi..." "Nyonya..." Tiba-tiba teriakan nyaring dari arah belakang menyela perkataan Sheila. Rupanya itu asisten rumah tangga yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Keduanya spontan menoleh ke arah asisten tersebut.
Atmosfer di taman belakang itu seketika membeku. Tak ada satu pun dari kedua pria itu yang mengira jika Sheila tak sekadar menerima permintaan gila ini—ia bahkan balik memegang kendali dan menantang keinginan suaminya dengan taruhan yang jauh lebih besar. "Sayang?" Aris tercekat. Ia melepaskan genggamannya pada kedua bahu Sheila. Sheila tersenyum dan bahkan mengangguk yakin. "Kamu benar, Mas. Aku memang butuh dipuaskan. Aku menerima tawaran itu..." "Tunggu, tunggu..." sela Malik, merasa terhimpit dengan kedua pasangan suami istri itu. "Kalian ngomong apa? Bahkan aku belum mengatakan apa pun pada kalian," ucapnya dengan menatap keduanya bergantian. "Apa uang seratus juta itu masih kurang? Bahkan kamu bisa sambil tinggal beberapa hari di sini sebelum kamu mencari kontrakan yang layak!" Kali ini Sheila maju mendekat pada Malik sambil mengatakan perkataan tersebut. Aris semakin melongo dengan perlakuan Sheila yang begitu frontal itu. Di luar dugaan, istrinya justru balik mem
"Kamu menyuruh orang lain untuk memuaskanku, Mas? Yang benar saja!" Sheila melangkah cepat menghampiri suaminya. Wajahnya merah padam, meluapkan protes keras atas ucapan Aris yang dengan gampangnya menawarkan dirinya pada pria asing bagi dirinya. Tidak peduli ada Malik di sana. "Ini demi kebaikan kita, Sheila! Kamu tidak pernah puas dengan permainanku. Setidaknya sekali dalam seumur hidupmu, kamu harus merasakan kepuasan yang sebenarnya!" balas Aris lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun saat melontarkan kalimat gila itu. Sheila menelan ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya mendadak terasa amat kering. Memang benar... batin Sheila mengakui. Jauh di dalam hatinya, ia harus jujur bahwa ia sudah terlalu muak setiap kali Aris mengundangnya ke ranjang. Permainan suaminya selalu monoton, singkat, dan teramat membosankan. Tidak pernah ada letupan gairah yang bisa memuaskannya. Secara refleks, netra Sheila bergulir menatap Malik. Wanita itu mengamatinya dengan tatapan menyelidi
"Siapa, Sayang?" Tiba-tiba, saat Malik baru saja ingin mengatakan sesuatu, suara Aris samar-samar terdengar dari seberang telepon. "Ini, Mas. Kayaknya temanmu menelepon." "Malik?" "Halo, Lik? Ada apa?" Tiba-tiba suara Aris kembali terdengar nyaring. Karena tak ada jalan lain, Malik akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan seluruh kemalangan yang baru saja menimpanya. Mendengar penuturan sahabatnya, Aris tanpa ragu langsung menyuruh Malik untuk tinggal di kediamannya untuk sementara waktu. Tentu saja Malik menolak keras. Ia hanya ingin meminjam sedikit uang untuk membayar DP kontrakan baru sampai hari gajian tiba. Namun, Aris memang punya watak keras kepala sejak dulu—selalu ingin didengar dan dituruti. Malik bahkan kesulitan meyakinkan Aris bahwa uang itu pasti akan ia kembalikan tiga hari lagi. "Aku bukannya gak percaya, Lik. Kita ini sahabat. Aku tahu kamu, dan kamu tahu jelas aku seperti apa. Udahlah, sementara tinggal aja di sini," ucap Aris terus me







