LOGIN"Mas... Serius kamu mengatakan hal sekeji itu padaku?!" tanya Sheila dengan suara bergetar hebat—antara sakit hati yang mendalam dan emosi yang sudah meluap-luap. Untuk pertama kalinya, Malik merasa dirinya begitu pengecut karena tak bisa bertindak bebas. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin melayangkan bogeman mentah untuk menghantam wajah Aris dengan kepalan tangannya. "Ris... Apa yang kamu katakan? Sheila bukan barang yang bisa kamu lempar ke sana-sini dengan bebas!" desis Malik. Ia berusaha tetap bersikap sopan, meski nada suaranya begitu berat. Aris memang sangat suka memancing emosi Malik dan selalu menunggu momen puncaknya. Namun sayangnya, Malik bukanlah pria impulsif. Jika akal sehatnya masih bisa dipergunakan, mengapa harus mengedepankan emosi semata? "Sheila sepertinya jauh lebih menikmati saat bersamamu, Lik... Tapi sayang sekali, aku gak boleh melupakan hakku atas dirinya. Masa kamu terus yang 'memakainya'?" provokasi Aris berani. "Ris, cuku
Mendengar pertanyaan itu, Malik membeku. Ia menelan ludah dengan kasar, bingung harus menjawab apa karena sekujur tubuhnya terasa kaku seketika. "Malik..." panggil Sheila lagi, membuat pria itu perlahan menoleh menatap manik mata Sheila yang tampak sayu dan berkaca-kaca. Sheila menghela napas panjang, begitu pula dengan Malik. Keduanya sama-sama dilanda kebingungan harus bersikap dan merespons seperti apa. "Enggak kok, Mbak..." jawab Malik gugup. Ia memang tak terbiasa berbohong, membuat hatinya merasa sangat gelisah. Malik seolah tengah berperang dengan batinnya sendiri, mencoba membenarkan sekaligus menyalahkan apa yang ia saksikan. Ia menundukkan kepala. Kedua tangannya mengepal begitu kuat , membuat Sheila yang melihatnya merasa semakin gelisah. "Malik, ngomong dong ?! Bisu, hah?" Sheila, yang memang tak pernah sabar menghadapi keheningan, akhirnya kembali membuka suara setelah keduanya sempat terdiam dengan pikiran masing-masing. "Mbak ... aku bingung harus menja
Malik melotot tajam karena kaget, Dengan jantung yang bergemuruh hebat, Malik cepat-cepat membalikkan badan, menuruni tangga dengan tergesa-gesa, lalu duduk di ruang utama,posisi tempat ia bisa melihat tangga menuju kamar Sheila dan Aris dengan sangat jelas. Beberapa kali Malik mencoba mengatur napasnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mendengus kasar berulang kali, dan membenarkan posisi duduknya. Ia benar-benar merasa gelisah luar biasa; kedua tangannya saling bertaut erat di atas paha. "Sialan!" umpatnya seraya mengeluarkan sebatang rokok pemberian Leo yang waktu itu sama sekali belum tersentuh. Kini Malik membukanya. Ia menatap sebatang rokok itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Malik meraup napas dalam, seolah-olah udara di sekitarnya mendadak hilang. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Malik menyelipkan rokok itu pada bibir tipisnya lalu menyalakan pemantik. Setelah ujungnya menyala, ia menyesapnya dalam-dalam, meresapi setiap gulungan asap yang memenuhi teng
Di sana, Malik melihat bagaimana bibir mungil Sheila tengah bermain melayani milik Aris. Jantung Malik seolah berhenti berdetak. Ia sangat ingin melangkah pergi, namun kakinya seolah terpaku di ambang pintu. Wajah Sheila memerah saat mendongak menatap Aris. Pria itu berdiri membelakangi Malik, dengan kepala terangkat ke atas. Di antara mereka, desahan napas terdengar begitu nyaring. Kepala Sheila digenggam erat oleh Aris, mendorongnya makin dalam ke pangkal pahanya membuat Aris semakin mendesis nikmat merasakan sapuan lidah Sheila. "Sheila, ayolah cepat... Bersikaplah binal, biasanya kamu suka!" desis Aris sambil menjambak rambut Sheila. Perempuan itu mengerang ,bukan karena kenikmatan, melainkan karena rasa sakit akibat jambakan kasar di kepalanya. Pipinya sedikit menggembung, wajahnya kian memerah saat Aris terus menjejalkannya lebih dalam hingga membuat Sheila sangat tersiksa. Tak hanya itu, tangan Aris merayap turun meremas dada Sheila yang padat, membuat perempuan itu meri
"Kenapa kaget begitu? Kamu pikir aku bodoh, hah?!" cemooh Sheila lagi. Ia mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, menatap suaminya dengan penuh keberanian dan tatapan bengis.Namun Aris tak peduli. Ia mencengkeram tangan Sheila dengan sangat kuat hingga perempuan itu meringis kesakitan.Detik itu juga, Sheila tak bisa menahan dirinya untuk membandingkan perlakuan Aris dengan Malik—pria yang bahkan tak pernah bersikap sekasar ini padanya."Dengar, Sheila! Aku ini masih suamimu! Aku punya hak atas tubuhmu!" bentak Aris tajam.Gertakan itu membuat Sheila terperanjat, hingga secara refleks ia menghentakkan tangannya demi melepaskan cengkeraman Aris."Ah!" pekik Sheila saat kuku tajam Aris tak sengaja menggores kulit mulusnya hingga berbekas merah."Kamu memang tidak pernah puas cuma dengan durasi sebentar, kan, She? Jadi apa salahnya kalau aku meminta perempuan lain untuk memuaskan hasratku?! Bersamamu, aku seolah tak pernah merasa puas, She!"Jedeerrr!Kalimat itu bagaikan sambaran petir di s
"Jangan besar kepala! Tidak ada yang menang di antara kita!" teriak Eko menggelegar dari kejauhan.Seruan itu membuat tubuh Malik yang sempat menegang waspada kembali melonggar. Ia tak membalas ucapan Eko dengan kata-kata, melainkan hanya mengibaskan tangannya di udara secara santai.Setelah itu, Malik benar-benar melangkah pergi meninggalkan lokasi. Ia sengaja tak menghentikan taksi dan memilih berjalan kaki, seolah merindukan masa-masa lamanya saat ia harus melangkah ke mana-mana tanpa sepeser pun uang ongkos di saku—masa di mana batasan transportasinya mentok hanya mampu naik angkot.Malik menyusuri trotoar jalan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku hoodie. Kupluk hoodie yang tadinya menutupi kepala kini sudah ia turunkan.Cuaca sore yang lumayan sejuk seolah mendukung setiap pijakan langkah Malik, membuatnya tak merasa kepanasan ataupun kelelahan.Sesampainya Malik di area gerbang, pak satpam yang sedang menikmati kopi di depan pos mendadak menyemburkan minumannya karena k







