LOGIN“Bercanda, Mbak! Itu juga hal yang mustahil. Mbak, kan, sudah memiliki Aris. gak mungkin juga Mbak menyukai pria kere seperti aku.” Malik buru-buru menyela, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ayo, Mbak, kita turun. Sebentar lagi sudah waktunya makan siang,” lanjutnya cepat. Seolah-olah pria itu sengaja memotong pembicaraan karena takut mendengar jawaban Sheila atas perkataannya barusan. Sheila yang menedengar itu langsung terdiam mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Hatinya bergetar hebat saat mendengar Malik merendahkan diri seperti itu. "Loh, enggak ada yang gak mungkin, Malik!" selat Sheila kesal, membuat Malik yang tadinya berniat membalikkan badan seketika membeku kaku. "Gimana, Mbak?" "Ish, udahlah! Ayo turun!" bentak Sheila gemas. "Kamu itu kalau lagi menyukai seseorang, perjuangkan dong! Jangan cuma memikirkan dia milik siapa... tapi lihat juga, apa perempuan itu bahagia bersama pemiliknya? Kalau kelihatannya dia tidak bahagia, rebut dia! Buat dia bahagia di pelukan
Mendengar perkataan pedas Sheila, Malik justru tersenyum manis. Pria itu sama sekali tidak merasa tersinggung sedikit pun. “Maaf, ya, Mbak ... kalau aku terus-terusan membuat Mbak marah,” ujar Malik lembut. Ucapan itu membuat Sheila seketika mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia tak tahu harus membalas apa. “Mbak tumben datang ke kantor? Selama aku bekerja di sini, rasanya belum pernah sekalipun aku melihat Mbak datang,” lanjut Malik, memecah keheningan di antara mereka. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Hanya deru angin yang terdengar menyapu area balkon. Hembusannya menerpa wajah tampan Malik, membuat beberapa helai rambutnya sedikit berantakan. Pemandangan sederhana itu justru membuat Sheila tak kuasa menahan rasa gemas. Diam-diam, ia kembali dibuat terpesona oleh sosok pria di hadapannya. "Ya suka-suka aku dong, Lik! Ini kan kantor Papaku," balas Sheila masih berusaha ketus. Reaksi itu justru membuat Malik semakin gemas. Pria bertubuh tegap itu melangkah maju hingga jarak
Saat Lily melangkah mendekat ke arah Sheila, tiba-tiba tangannya secara agresif langsung menyambar lengan Malik dan menggelayutinya manja. Namun dengan cepat, Malik menepis dan menolak mentah-mentah gelayutan tangan itu. Sheila yang melihat kejadian itu hampir saja meledak tertawa, walau ia berusaha setengah mati menahannya. Netra Sheila menatap lurus ke arah Malik dengan tatapan yang amat sulit diartikan. Malik yang mendapati tatapan itu langsung membatin panik Sheila pasti marah besar! Tapi karena apa? Apakah karena bekalnya tadi gak aku bawa? "Gimana kabarmu, She? Lama tak jumpa... Kamu semakin cantik ya," ucap Lily mengulurkan tangan. Tanpa ragu, Sheila menyambut uluran tangan itu. Kedua tangan mulus seputih pualam itu bersatu di udara, menyalurkan arus permusuhan yang sangat dingin. "Em, anu Mbak Sheila... Bu Lily... Saya izin duluan ke..." "DIAM DI SITU!" Malik seketika tergugu kaku saat mendengar kedua perempuan di hadapannya mengatakan kalimat itu secara s
"Hmmmm..." Sheila bergumam dingin. Entah sejak kapan perempuan itu sudah berdiri di sana, bahkan menguping seluruh ucapan yang baru saja dicurahkan oleh Leo. "Anu... Itu, Bu. Ah, enggak penting kok! Yang penting bukan Pak Aris, suami Mbak, yang begitu," balas Leo merasa canggung. Ia terkekeh sumbang, tak menyangka bahwa wanita di hadapannya ini adalah istri dari atasannya. Jika Leo tahu sejak dulu, ia tentu tidak akan berani mengajak Sheila berdebat saat itu. "Iya, siapa?!" desak Sheila tajam, matanya melotot menuntut jawaban. Ini adalah pertama kalinya Sheila kembali menginjakkan kaki di kantor sejak menikah. Dulu, Aris melarang keras Sheila untuk ikut campur di kantor sang papa dengan alasan agar tidak kelelahan. Dan Sheila, dengan rasa cintanya yang begitu besar kala itu, hanya mengangguk menurut dan setuju-setuju saja. "Maa..." "Malik?!" desak Sheila seolah sudah tak sabar lagi. Tangannya yang tadinya terlipat di dada kini meluruh ke bawah, mengepal erat di
Leo—pria yang memang langganan keceroboh itu—tercekat saat menyaksikan posisi tak terduga di hadapannya. Menang rezeki nomplok si Malik! desis Leo dalam hati. Ia menatap kaku ke arah mereka berdua seraya menggenggam beberapa berkas yang harus diteliti Malik sebelum diserahkan ke atasannya. Glek! Leo menelan ludah kasar saat melihat kecantikan Lily. Walaupun postur tubuhnya terkesan tinggi semampai, kulit putih mulusnya sangat kontras di mata, apalagi bentuk dada mungilnya yang sedikit menggantung tanpa balutan bra—seolah memang sengaja terekspos. "Ya... walaupun cuma sekepal nasi berkat, tapi kayaknya sedap juga," gumam Leo pelan, seolah enggan memalingkan pandangannya. Sementara itu, Malik justru menghela napas lega dan bersyukur Leo datang menolongnya secara tak sengaja. Leo memang tipikal pria seperti itu ,menganggap Malik sahabat karibnya, jadi ia merasa tak perlu mengetuk pintu saat masuk. Meski Malik sudah kerap kali menegurnya, Leo hanya mengiyakan di mulut t
"Malik, ini gimana...?" rengek Lily. Tangan perempuan itu bahkan bergelayut manja di lengan kekar Malik. Malik benar-benar dibuat risi oleh tingkah perempuan satu ini. Sejak tadi pagi, Lily seolah menempel terus dan tak ingin lepas sedetik pun dari sisinya. Pagi tadi saja, Malik sudah menerima pesan dari Lily untuk segera datang ke kantor. Jika tidak, perempuan itu mengancam akan datang menjemputnya langsung ke rumah. Mau tak mau, Malik harus datang lebih awal, sampai-sampai ia lupa membawa bekal buatan Sheila. Di tengah-tengah sesi penjelasan data, ponsel Malik kembali berdering untuk kesekian kalinya. sebenarnya ponselnya sudah berdering sejak tadi, namun Lily terus merengek dan mencecarnya hingga Malik terpaksa mengabaikannya dan kembali fokus pada pekerjaan. hingga panggilan ketiga ini, Malik mendadak merasakan firasat buruk. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar ponselnya dan meminta izin untuk ke toilet demi mengangkat telepon. Mata Malik membulat saat mel







