Share

Bab 229-Jangan Ganjen!

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-10-29 21:25:18

Aris yang mendapatkan tatapan itu seketika merasakan firasat buruk. Seolah-olah sesuatu yang tidak menyenangkan akan segera terjadi.

Setelah panggilan terputus, Arya bangkit dari duduknya.

“Aris, ikut Papa ke belakang,” titahnya tegas sebelum melangkah lebih dahulu, meninggalkan ruangan.

“Ck!” Aris berdecak kesal. Tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Sheila maupun Malik, ia segera menyusul Arya dengan wajah masam.

Sheila hanya bisa terdiam menyaksikan kepergian mereka. Ia bahkan t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 232-Datang Ke Kantor

    ​"Hmmmm..." ​Sheila bergumam dingin. Entah sejak kapan perempuan itu sudah berdiri di sana, bahkan menguping seluruh ucapan yang baru saja dicurahkan oleh Leo. ​"Anu... Itu, Bu. Ah, enggak penting kok! Yang penting bukan Pak Aris, suami Mbak, yang begitu," balas Leo merasa canggung. Ia terkekeh sumbang, tak menyangka bahwa wanita di hadapannya ini adalah istri dari atasannya. Jika Leo tahu sejak dulu, ia tentu tidak akan berani mengajak Sheila berdebat saat itu. ​"Iya, siapa?!" desak Sheila tajam, matanya melotot menuntut jawaban. ​Ini adalah pertama kalinya Sheila kembali menginjakkan kaki di kantor sejak menikah. Dulu, Aris melarang keras Sheila untuk ikut campur di kantor sang papa dengan alasan agar tidak kelelahan. Dan Sheila, dengan rasa cintanya yang begitu besar kala itu, hanya mengangguk menurut dan setuju-setuju saja. ​"Maa..." ​"Malik?!" desak Sheila seolah sudah tak sabar lagi. Tangannya yang tadinya terlipat di dada kini meluruh ke bawah, mengepal erat di

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 231-Sekepal Nasi Berkat

    Leo—pria yang memang langganan keceroboh itu—tercekat saat menyaksikan posisi tak terduga di hadapannya. ​Menang rezeki nomplok si Malik! desis Leo dalam hati. Ia menatap kaku ke arah mereka berdua seraya menggenggam beberapa berkas yang harus diteliti Malik sebelum diserahkan ke atasannya. ​Glek! ​Leo menelan ludah kasar saat melihat kecantikan Lily. Walaupun postur tubuhnya terkesan tinggi semampai, kulit putih mulusnya sangat kontras di mata, apalagi bentuk dada mungilnya yang sedikit menggantung tanpa balutan bra—seolah memang sengaja terekspos. ​"Ya... walaupun cuma sekepal nasi berkat, tapi kayaknya sedap juga," gumam Leo pelan, seolah enggan memalingkan pandangannya. ​Sementara itu, Malik justru menghela napas lega dan bersyukur Leo datang menolongnya secara tak sengaja. Leo memang tipikal pria seperti itu ,menganggap Malik sahabat karibnya, jadi ia merasa tak perlu mengetuk pintu saat masuk. Meski Malik sudah kerap kali menegurnya, Leo hanya mengiyakan di mulut t

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 230-Genit

    ​"Malik, ini gimana...?" rengek Lily. Tangan perempuan itu bahkan bergelayut manja di lengan kekar Malik. ​Malik benar-benar dibuat risi oleh tingkah perempuan satu ini. Sejak tadi pagi, Lily seolah menempel terus dan tak ingin lepas sedetik pun dari sisinya. ​Pagi tadi saja, Malik sudah menerima pesan dari Lily untuk segera datang ke kantor. Jika tidak, perempuan itu mengancam akan datang menjemputnya langsung ke rumah. Mau tak mau, Malik harus datang lebih awal, sampai-sampai ia lupa membawa bekal buatan Sheila. ​Di tengah-tengah sesi penjelasan data, ponsel Malik kembali berdering untuk kesekian kalinya. sebenarnya ponselnya sudah berdering sejak tadi, namun Lily terus merengek dan mencecarnya hingga Malik terpaksa mengabaikannya dan kembali fokus pada pekerjaan. hingga panggilan ketiga ini, Malik mendadak merasakan firasat buruk. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar ponselnya dan meminta izin untuk ke toilet demi mengangkat telepon. ​Mata Malik membulat saat mel

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 229-Jangan Ganjen!

    Aris yang mendapatkan tatapan itu seketika merasakan firasat buruk. Seolah-olah sesuatu yang tidak menyenangkan akan segera terjadi. Setelah panggilan terputus, Arya bangkit dari duduknya. “Aris, ikut Papa ke belakang,” titahnya tegas sebelum melangkah lebih dahulu, meninggalkan ruangan. “Ck!” Aris berdecak kesal. Tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Sheila maupun Malik, ia segera menyusul Arya dengan wajah masam. Sheila hanya bisa terdiam menyaksikan kepergian mereka. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa, terlebih setelah melihat tatapan sang papa yang begitu dingin kepada Aris. Tatapan yang jarang sekali Arya tunjukkan kepada menantu kesayangannya itu. Ada apa sebenarnya? batin Sheila, diliputi kebingungan. Namun seketika, senyum mengembang muncul di bibir manis Sheila. Perempuan itu seolah berharap agar sang papa terus-menerus merasa kecewa pada Aris. Bagi Sheila, kemarahan dan kekecewaan papanya adalah satu-satunya hal yang bisa membebaskan dirinya dari jeratan

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 228-Tatapan Murka Pak Arya

    Baru saja Pak Arya hendak menjelaskan, suara deru mesin mobil lain terdengar mendekat. Kebetulan mobil Pak Arya belum sepenuhnya masuk ke dalam garasi. Dengan inisiatif cepat, Malik langsung meminta izin untuk memarkirkan mobil sang bos—yang tentu saja disambut anggukan ramah serta serahan kunci mobil dari Pak Arya. ​Saat Malik memundurkan mobil Pak Arya agar mobil Aris bisa masuk, Aris yang baru tiba mendesis sinis di balik kemudi, "Cih... Cari muka!" ​Aris dengan cepat turun dari mobilnya. ​"Aris itu beruntung sekali punya sahabat seperti Malik. Pria itu sangat perhatian, gesturnya sopan, dan tampan lagi," puji Pak Arya yang tak sengaja terdengar oleh Aris. ​Pria itu langsung terdiam kaku, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan emosi. Sementara Sheila yang mendengar pujian sang ayah hanya bisa terkekeh tipis. ​"Pah..." panggil Aris mendekat, menyalami tangan sang mertua dan berusaha bersikap sopan seperti biasanya. ​"Ris, baru pulang? Bagaimana pekerjaan hari in

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 227-Merasa Kalah Saing

    Lily berteriak histeris merasakan hangatnya sisa roti bakar beserta semburan ludah Aris di wajahnya. Dengan cepat, perempuan itu berlari ke arah toilet, menundukkan kepala sambil mengumpat habis-habisan di dalam hati. ​Malik yang menyaksikan insiden itu kaget bukan main, begitu pula dengan Aris. ​"Ris! Apa yang kamu lakukan?!" tanya Malik. ​"Kamu nyalahin aku?! Ini tuh salah kamu, Lik!" tegas Aris tak mau kalah, membuat Malik makin mengerutkan dahi heran. ​"Lik, ada apa sih? Tadi aku lihat nona cantik itu berteriak dan berlari ke toilet dengan wajah yang..." ​Perkataan Leo yang baru saja datang mendadak terhenti saat matanya tak sengaja menatap Aris yang wajahnya sudah merah padam menahan malu sekaligus amarah yang memuncak. ​"Kenapa kamu natap-natap saya?! Sana masuk ruangan! Jam berapa ini, cepat!" bentak Aris melampiaskan emosinya pada Leo, membuat pria itu terperanjat kaget karena mendadak jadi sasaran empuk. ​Aris kembali menghadap Malik. "Kenapa kamu yang bimbing d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status