เข้าสู่ระบบ"Lik, bagaimana?" tanya Aris tanpa basa-basi. Namun, saat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, ia mengerutkan dahi.
"Di mana istriku, Lik?" tanyanya lagi. Rupanya, sesaat terdengar kunci diputar dari luar, Sheila dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk menyembunyikan dirinya yang masih rapi. Begitu juga dengan Malik yang sengaja menyemprotkan parfum milik Sheila ke tubuhnya. "Dia ke kamar mandi, Ris," balas Malik begitu lancar, seolah mereka benar-benar baru saja melakukannya. Wajah Aris terlihat begitu sumringah. Ia langsung merangsak masuk ke dalam kamar. Apalagi saat mencium aroma tubuh istrinya menempel di tubuh Malik, Aris makin yakin jika keduanya telah berbagi keringat. Aris mengangguk senang. "Bagaimana menurutmu, Lik? Rasanya... apa kamu atau dia puas?" Pertanyaan gamblang itu tak pelak membuat Malik risih. "Jangan sungkan, Lik. Kamu pasti puas, kan? Apalagi kamu sudah lama tidak mendapat sentuhan atau belaian seorang perempuan!" Aris kembali mengoceh, mengira Malik masih malu-malu mengungkapkan apa yang dirasakannya. "Emm..." "Ingat, Lik, kamu bebas memakai tubuh istriku. Selama istriku puas dan bisa hamil, aku tidak akan keberatan," lanjut Aris, bahkan tak memberi ruang sedikit pun bagi Malik untuk menyela. Memperhatikan hal itu, Malik makin yakin kalau pasangan ini memiliki masalah besar. Rasa ibanya pada Sheila kian memuncak; perempuan itu seolah hanya dijadikan alat oleh Aris. Walau belum mengerti akar masalah sebenarnya, tetapi menyuruh istri sendiri dicicipi pria lain jelas menandakan ada hal yang sangat tidak beres. "Berapa kali kalian orgasme? Apa istriku mencapai puncaknya?" Aris terus saja mencecar, membuat Malik semakin tak nyaman. "Ah, sudahlah, Ris. Kamu bisa tanyakan itu nanti pada istrimu," balas Malik cepat, enggan berlama-lama mengobrol dengan sahabatnya yang dulu ia kira sangat baik ini. Bukannya malu, Aris malah terkekeh pelan seraya menepuk pundak Malik beberapa kali. "Haha, aku tahu kamu pasti masih malu-malu. Tenang saja, Lik, ini baru permulaan. Nanti juga kamu bakal leluasa menceritakan seberapa nikmatnya istriku itu," ujarnya. Anehnya perkataan buruk Aris tentang istrinya sendiri justru membuat dada Malik memanas—seolah ia tak terima Sheila direndahkan seperti itu. "Sesuai kesepakatan, besok pagi aku harus segera pergi, Ris, untuk mencari kontrakan. Aku tidak bisa berlama-lama berada di rumah suami ist..." "Ayolah, Lik... kenapa selalu terburu-buru? Anggap saja rumah sendiri. Besok kamu harus masuk kerja, Lik. Nanti saja hari Minggu kamu boleh pergi mencari kontrakan." Mendengar ucapan Aris yang selalu menyela, Malik terdiam. Tetapi, ada benarnya juga; besok ia harus masuk kerja, dan jika terlambat lagi, ia bisa dipecat. Jika sampai dipecat, posisinya akan semakin sulit. Setelah menimbang-nimbang, Malik akhirnya memutuskan untuk mencari kontrakan pada hari Minggu. Itu artinya, ia harus bermalam di rumah ini selama tiga malam lagi. "Jangan terlalu dipikirkan, Lik. Kamu sudah membantuku, dan aku pun tidak akan membiarkanmu kesusahan sendiri," ucap Aris lagi saat melihat wajah Malik yang kebingungan karena tak punya banyak pilihan. "Makasih, Ris. Kalau begitu aku duluan ke kamarku ya?" sahut Malik, berusaha mengakhiri percakapan aneh ini. "Tentu saja! Selamat beristirahat ya, Lik!" Aris kembali menepuk bahu kokoh Malik. Malik mengangguk, lalu berlalu meninggalkan kamar suami istri tersebut. Sementara itu, di dalam kamar mandi, Sheila bersikap seolah-olah baru selesai mandi. Ia melamun cukup lama di sana, memikirkan langkah apa yang harus ia ambil. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Hal itu ia lakukan berulang kali demi mengikis rasa gugup, kesal, dan amarah yang tertahan. Begitu membuka pintu kamar mandi, kondisi kamar ternyata sudah hening. Tak ada seorang pun di sana, baik Malik maupun Aris. Sheila mengerutkan dahi seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, hingga sayup-sayup terdengar suara seseorang dari arah balkon. Didorong rasa penasaran, ia melangkah pelan mendekati sumber suara. Rupanya itu Aris, suaminya, yang tampak sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Karena posisinya membelakangi kamar, awalnya Sheila tak mau ambil pusing dan hendak berbalik tak peduli. Namun, saat ia berputar, suara kekehan manja seorang wanita mendadak menusuk telinganya. Sheila seketika membeku, lalu spontan membalikkan badan kembali ke arah suaminya. "Aku sangat merindukanmu. Ayolah, kapan kita bisa bertemu?" ucap suara manja perempuan di balik layar ponsel itu. Sialnya, dari posisinya Sheila tak bisa melihat wajah si perempuan. "Tenang saja, kita pasti akan bertemu. Aku juga sudah merindukan belaianmu... kamu selalu bisa membuatku senang," balas Aris begitu lembut, sukses membuat dada Sheila serasa terbakar. "Istrimu itu deh sepertinya yang bermasalah, Sayang. Kamu gagah kok, kamu mampu membuatku beberapa kali orgasme! Kok bisa-bisanya dia tidak pernah puas denganmu? Sakit itu istrimu!" Betapa syoknya Sheila mendengar apa yang diucapkan wanita asing itu. Napasnya mendadak memburu, dadanya kian bergemuruh hebat diselimuti emosi yang siap meledak. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jadi... dia sudah melakukannya dengan perempuan lain? Netranya menatap dingin dan tajam ke arah punggung sang suami, seolah tatapan itu sanggup menembus tubuh Aris. "Baiklah, Aris. Jika itu maumu, akan aku imbangi permainan gila ini!" desisnya tajam.Kini Malik terkapar tak berdaya di atas ranjang ruang perawatan rumah sakit. Pasca insiden penembakan mencekam itu, Sheila sempat menangis histeris. Malik yang bersimbah darah berusaha setengah mati memperingatkan Sheila agar tidak berteriak. Malik benar-benar khawatir Sheila akan dijadikan sasaran empuk seperti halnya Leo. Bahkan di saat dirinya sedang menahan rasa sakit yang luar biasa akibat luka tembak, pikiran Malik masih dipenuhi oleh keselamatan Sheila dari ancaman pria misterius yang belum benar-benar ia ketahui identitasnya itu. Kini, Sheila dan Leo duduk berdekatan di sebelah ranjang tempat Malik berbaring. Luka tembak yang dialami Malik tergolong cukup dalam, namun beruntung peluru itu hanya bersarang di lengan atasnya sehingga lengannya masih bisa diselamatkan lewat tindakan medis cepat. Sementara itu, Leo juga telah mendapatkan penanganan atas luka-luka lebam di wajahnya. "Kalian ini sebenarnya ada masalah apa, sih? Kenapa kamu bisa diculik... Dan kenapa Malik bi
Leo yang menyaksikan pemandangan itu seketika menegang. Matanya membelalak kaku tanpa berkedip.Sementara itu, air dari hoodie basah Malik mulai merembes ke pakaian Sheila, membuat perempuan itu ikut basah kuyup. Namun, keduanya masih dalam posisi yang sama, tak bergeming menatap satu sama lain."Malik, are you okay?! Aku... aku enggak bisa duduk tenang sejak tadi!" ucap Sheila spontan.Perempuan itu langsung memeluk erat tubuh tegap Malik. Wajah cantiknya menempel pas di dada bidang Malik yang terbungkus hoodie basah. Sheila sama sekali tak merasa terganggu oleh dinginnya air hujan yang meresap.Malik membeku. Ia tak pernah menyangka akan mendapat respons dan perlakuan semanis ini dari Sheila. Perasaan hangat seketika menjalar ke seluruh aliran darahnya, seolah menyuplai ulang energinya yang sempat terkuras habis akibat dikeroyok tujuh orang tadi.Tangan Malik yang melingkar di pinggang Sheila semakin mempererat pelukannya. Ia menarik tubuh Sheila agar menempel sepenuhnya dalam pangk
Bugh!Bugh!Brakkk!Malik lagi-lagi melumpuhkan kedua pria terakhir itu dengan gerakan tubuh yang cepat dan efisien. Pukulan menggelegar dilayangkan tepat ke rahang musuh, disusul gerakan menangkis serangan yang amat presisi.Bahkan saat tinju dari salah satu musuh nyaris menghantam wajahnya, Malik dengan cepat memiringkan kepala ke samping—membuat pukulan keras itu hanya meninju angin.Memanfaatkan celah tersebut, Malik langsung merendahkan tubuhnya, menjatuhkan diri, dan mengayunkan sapuan kaki (sweep kick) yang menghantam keras kedua pergelangan kaki musuh! Kedua pria bertubuh besar itu seketika kehilangan keseimbangan, terhuyung, dan terjerembap keras ke tanah yang basah."Kurang ajar! Kaparat!" teriak salah seorang pengeroyok seraya meringis menahan perih luar biasa di kakinya.Namun, Malik hanya menatap mereka dengan tatapan datar. Saat ini, yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Leo secepat mungkin. Anak buah pria asing itu terlihat cukup banyak, jadi Malik tidak boleh me
Malik menatap tajam wajah-wajah ganas di sekelilingnya satu per satu. Tanpa rasa gentar sedikit pun, ia kembali memasang kuda-kudanya.Seorang musuh menyerang maju dengan pukulan bertubi-tubi. Dengan sigap, Malik menangkis serangan demi serangan dari kelima orang itu secara beruntun. Leo yang menyaksikan dari kejauhan merasa waswas luar biasa, terlebih hujan di luar gedung tua ini mengucur kian deras.Pukulan dan tendangan saling berbalas. Namun harus diakui, dikeroyok lima pria berbadan besar sekaligus cukup menguras stamina Malik. Sebuah tendangan samping yang melayang cepat berhasil menembus pertahanan dan menghantam rusuknya!"Ah!"BRUK!Malik mengerang saat tubuhnya terdorong ke belakang, menghantam meja kayu lapuk hingga hancur berkeping-keping."Enghh..."Malik meringis, menahan nyeri hebat yang menjalar di punggung dan perutnya.Melihat Malik terhempas, Leo kian panik. Secara sembunyi-sembunyi, jemari tangan Leo yang terikat di belakang kursi mulai bergerak giat mencoba melong
Malik membalas tatapan pria itu dengan tatapan yang begitu tajam. Namun, ada satu hal yang membuat Malik merasa aneh sekaligus gusar—ia seperti tidak asing dengan tempat ini. Malik membuka pintu mobilnya, lalu membantingnya hingga tertutup dengan keras. Pria itu melangkah maju menghampiri mereka dengan gestur tubuh yang tegap dan rahang yang mengeras kaku. Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku hoodie hitamnya. Tatapan matanya menggelap, namun seolah menyalakan kilat berbahaya di tengah pekatnya malam dan bayangan tudung hoodie yang menutupi sebagian wajahnya. Kondisi Leo saat ini sungguh mengkhawatirkan. "Siapa kalian? Kenapa menyakitinya dan dari mana kalian mengenalku?" tanya Malik tanpa berniat basa-basi sedikit pun. Pria itu terkekeh pelan. Ia merasa tertantang melihat keberanian Malik yang berdiri tegak tanpa menyiratkan rasa takut sedikit pun di matanya. "Kamu akan segera mengetahuinya..." balas pria itu. Tanpa peringatan, ia mengarahkan moncong pistolnya te
Di layar ponsel itu, tampak Leo terikat di atas kursi dengan tangan kebelakang dan wajah yang sudah babak belur."Cepat ke sini! Aku akan memberikan alamatnya. Jika telat dalam sejam, kamu akan menemukan dia tinggal nama," ucap pria misterius di balik ponselnya.Malik melotot tajam. Rahangnya semakin mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut menahan amarah."Saya tidak main-main, Malik. Kalau saja kamu telat..."Pria itu berjalan mundur perlahan, lalu mencengkeram dan menarik rambut Leo dengan kuat hingga kepala sahabatnya itu mendongak menghadap kamera. Wajah Leo sangat memprihatinkan—sudah babak belur dan lebam di mana-mana.Tangan Malik yang menggenggam ponsel meremasnya dengan sangat kuat."Pilihan ada di tanganmu, Malik: membiarkan sahabatmu mati atau menolongnya. Waktu dimulai dari sekarang! Aku tidak main-main... Telat beberapa menit saja, pria sialan ini akan mati!"Tuuut!Panggilan video itu terputus begitu saja. Malik membelalakkan matanya.Ting!Sebuah notifikasi masuk.







