Share

Malam Kelam di Tempat Karaoke
Malam Kelam di Tempat Karaoke
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Morgan Husama. Aku dan Gery Korla adalah rekan kerja sekaligus "teman berburu".

Istilahnya, kami sering pergi pijat bersama sepulang kerja, sekadar cuci kaki, atau menambah jam layanan.

Kami sangat akrab, bahkan dalam urusan keluarga pun kami saling bantu.

Kebetulan, putri Gery yang bernama Lulu Korla akan merayakan ulang tahun yang ke-20.

Kami berencana merayakannya di tempat karaoke agar dia bisa mulai mengenal kehidupan orang dewasa.

Lulu memiliki suara semerdu burung pipit dan sudah lama ingin bernyanyi di tempat karaoke.

Namun, selama ini Gery tidak pernah setuju, alasannya karena putrinya masih kecil dan tempat karaoke bukan tempat yang baik.

Padahal usianya sudah mau dua puluh tahun. Kalau di zaman kuno, dia mungkin sudah punya dua anak.

Akhirnya Gery luluh, menganggap ini sebagai hadiah kedewasaan.

Karena kami berdua pria tua, dia tidak akan bisa bermain sendirian dengan kami.

Jadi, aku pun mengajak putriku, Meisya Husama.

Begitu mendengar akan merayakan ulang tahun Lulu di tempat karaoke, Meisya melonjak kegirangan.

Dia mengenakan seragam sekolah yang modis dan berangkat bersama kami.

Kami menyewa ruangan untuk empat orang, duduk berderet di sofa. Di atas meja terdapat kue ulang tahun, buah-buahan, camilan, dan bir.

Biasanya, aku dan Gery melarang keras putri kami minum alkohol.

Namun di hari istimewa ini, kami membiarkan mereka bersenang-senang sepuasnya.

Setelah menghabiskan beberapa gelas, entah Gery benar-benar mabuk atau hanya pura-pura, dia tiba-tiba meletakkan tangannya di paha putriku!

Putriku mengenakan rok pendek, pahanya terlihat mulus tanpa penghalang.

Bukankah itu berarti Gery langsung menyentuh kulitnya?

Ini tidak benar, putriku bukan gadis pemandu lagu tempat karaoke.

Aku mendorong kaki Gery.

"Gery, apa yang kamu raba? Itu putriku."

Gery menatapku dengan napas berbau alkohol dan wajah merah padam.

"Putri siapa? Memangnya apa yang aku lakukan?"

Gery benar-benar tidak sadar situasi.

Aku mengabaikannya dan berkata pada putriku, "Sayang, geser dudukmu ke samping Ayah. Jangan terlalu dekat dengan Paman Gery."

Tak disangka, putriku malah melotot padaku dan berkata dengan nada tidak sabar, "Ayah, apa-apaan sih? Jarang-jarang kita bisa main begini, Ayah malah mengusirku?"

Setelah bicara, dia tetap duduk di sana, membiarkan Gery terus meraba pahanya.

Aku melihatnya dengan cemas.

Apa putri cantikku ini akan diterjang oleh si tua, temanku itu?

Aku berdiri hendak memisahkan mereka.

Namun, Lulu yang duduk di sebelahku tiba-tiba menarikku.

"Paman Morgan, ayo temani aku menyanyi."

Tarikannya membuatku jatuh terduduk di sofa, tepat mengenai sepasang payudara indahnya.

Tubuhku merasakan kelembutan yang luar biasa, ukuran payudaranya benar-benar besar!

Seluruh tubuhku langsung merasa segar kembali.

Lulu menyodorkan mikrofon padaku dan berkata, "Paman Morgan, lagu ini hanya cocok dinyanyikan berdua. Ayahku sedang mabuk, temani aku menyanyi, ya."

Ini adalah lagu cinta. Menyanyikannya berdua membuat kami terasa seperti pasangan kekasih, perasaan itu sungguh indah.

Terutama saat Lulu merangkul lenganku, dadanya menekan tepat di bahuku. Hasratku seketika membubung tinggi.

Meski aku sering pergi pijat, tapi biasanya hanya dengan wanita usia tiga puluhan atau empat puluhan.

Aku tidak pernah menyentuh gadis muda usia dua puluh tahun.

Rasanya benar-benar lebih lembut dari kembang gula.

Yang lebih tidak terduga, Lulu justru menarik tanganku dan meletakkannya di dadanya!

Seketika terasa sensasi kenyal dan lembut di telapak tanganku.

Ada juga tonjolan kecil yang mengeras.

Lulu ternyata tidak memakai bra!

Aku terkejut dan segera menarik tanganku, lalu berbisik di telinganya, "Kamu gila ya? Aku ini sahabat ayahmu!"

Saat itu wajah Lulu merah merona, dia menatapku dengan tatapan penuh damba yang seolah tak terpuaskan.

"Paman Morgan, kalau aku minum bir, badanku jadi gatal. Bantu aku menggaruknya, ya. Halangi tubuhku sedikit, jangan sampai ketahuan ayahku."

Melihat gumpalan daging putih di balik kerah bajunya, aku menelan ludah.

Lulu memang sangat cantik, tubuhnya sintal, bahkan lebih montok dari bintang film luar negeri.

Api dalam tubuhku mulai berkobar dan tidak bisa diredam lagi.

Gadis muda pilihan usia dua puluh tahun memintaku melakukan "itu", siapa yang sanggup menahan diri?

Aku melirik Gery. Tangannya sudah menyelinap ke dalam rok putriku.

Putriku bahkan bekerja sama dengan membuka kedua kakinya lebar-lebar sambil sedikit memejamkan mata, wajahnya penuh kenikmatan.

Aku tahu gairah putriku memang cukup besar.

Saat membersihkan kamarnya, aku sering menemukan banyak mainan dewasa di lemarinya.

Terkadang aku sering mendengar suara desahan dari dalam kamar mandinya.

Karena dia sudah dewasa, punya hasrat itu wajar, jadi aku tidak terlalu ikut campur.

Saat ini, melihat sendiri putriku diraba oleh Gery, aku justru merasa terangsang.

Karena dia mempermainkan putriku, jangan salahkan aku kalau aku pun tidak segan terhadap putrinya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 7

    Seketika Gery terdiam kaku, lalu menatap Lulu dengan wajah tak percaya. Lulu tampak menyusut di sudut, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Gery melirikku dan langsung menginterogasiku, "Morgan, kamu benar-benar licik! Mana mungkin putriku menggodamu?!"Melihat Gery tidak percaya, aku menarik Lulu dan mendesaknya, "Cepat katakan, kamu yang menggodaku, ‘kan?"Lulu, seorang gadis muda yang belum pernah menghadapi situasi seperti ini, gemetar hingga bibirnya memucat dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Di tengah suasana yang mencekam itu, putriku yang berdiri di belakang tiba-tiba mengalami tekanan mental. Dia berteriak histeris dan membentakku, "Ayah! Apa yang sebenarnya terjadi antara Ayah dan Lulu?! Apa semua ini benar?!"Melihat putriku yang tampak hancur, aku tidak boleh membuatnya semakin menderita. Aku segera menariknya masuk dan membujuknya dengan lembut, "Putriku sayang, kami tadi hanya bercanda. Jangan dianggap serius."Aku menarik tangan putriku dengan paksa masuk ke da

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 6

    Namun, baru saja aku melangkah keluar pintu, pintu rumah sudah terbuka. Dua orang keluar dari sana satu tinggi dan satu pendek, seorang pria dan seorang wanita. Aku mengerjapkan mata untuk memastikan siapa yang datang.Ternyata Gery yang datang! Di sampingnya, berdiri putrinya, Lulu. Begitu melihatku, Gery yang tampak murka langsung mencengkeram kerah bajuku dan merangsek maju dan hendak memukulku."Bajingan, Morgan! Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku?!"Aku menyentak tangannya hingga terlepas dan membalas dengan kemarahan yang sama besarnya. "Kamu masih berani cari gara-gara denganku? Memangnya kamu nggak sadar apa yang sudah kamu lakukan sendiri, hah?"Mendengar keributan itu, Meisya keluar dari rumah. Dia menatap kami dengan heran dan bertanya dengan hati-hati, "Paman Gery, kenapa Paman ke sini? Apa yang kalian lakukan di sini?"Melihat Meisya, Gery langsung bertanya padanya, "Kamu datang di waktu yang tepat. Ayo, katakan padaku, apa aku melakukan 'hal itu' padamu?"Meisy

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 5

    Sepertinya pertemanan ini harus berakhir. Jika benar begitu, aku pasti akan menjebloskan Gery ke penjara. Melihat ekspresiku yang aneh, putriku segera bertanya, "Ayah, ada apa? Wajah Ayah pucat sekali."Aku memegang bahu Meisya dan bertanya dengan cemas, "Coba kamu pikirkan baik-baik sekarang, apa ada perasaan nggak nyaman di bagian bawahmu?"Meisya merenung sejenak, lalu berkata, "Rasanya ... bagian bawahku agak pegal dan penuh. Ayah, kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Itu ‘kan sangat pribadi."Mendengar jawaban putriku, hatiku terasa dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku terduduk lemas di lantai. Meisya segera membantuku berdiri. "Ayah! Ayah kenapa?"Aku melambaikan tangan dengan lemas. "Putriku ... si Gery itu ... dia memerkosamu saat kamu mabuk!"Mendengar kalimat itu, Meisya menutup mulutnya karena terkejut. Dia menatapku dengan penuh kengerian. "Nggak mungkin! Paman Gery seharusnya bukan orang seperti itu. Rasanya pegal mungkin karena aku minum terlalu banyak dan in

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 4

    Terakhir kali kami pergi ke tempat pijat, Gery pernah berkata padaku, "Sekarang di panti pijat isinya cuma 'daun kering', nggak ada gadis muda sama sekali. Aku benar-benar ingin cari yang segar satu kali saja."Sepertinya sejak saat itu dia sudah mengincar putriku. Pantas saja kali ini dia setuju merayakan ulang tahun Lulu di tempat karaoke, ternyata tujuannya adalah agar putriku juga ikut datang. Melihatku menatapnya dengan tatapan tajam dan bengis, Gery justru tampak bingung."Morgan, jelas-jelas kamu yang menyentuh putriku, kenapa malah menatapku begitu?"Aku ingin sekali menumpahkan segalanya saat itu juga. Namun, aku berpikir kembali, putriku dan Lulu ada di sini. Jika aku membongkar semuanya terlalu terang-terangan, semua orang akan menanggung malu. Aku terpaksa menelan amarah itu dan berkata pada Gery, "Bukan apa-apa. Acara ulang tahun hari ini sampai di sini saja. Aku dan Meisya pulang duluan."Gery menatapku dengan amarah yang meluap. Saat aku hendak pergi, dia bahkan sem

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 3

    Sambil berbicara, satu tangannya dengan mahir membuka resleting celanaku. Dia langsung menyelinap masuk! Genggaman tangan kecilnya yang lembut, membuat seluruh kerangka tubuhku terasa lemas. Aku tidak lagi berniat menyelamatkan putriku, mataku hanya tertuju pada Lulu.Dia memegang "milikku" dan membimbingku duduk kembali ke sofa. Aku hanya bisa pasrah membiarkannya bermain. Dia berlutut di sampingku, mengeluarkan alat itu dari celanaku. Sambil menatapku, dia berkata, "Sebenarnya aku sudah lama ingin mencoba ini. Hari ini akhirnya ada kesempatan melakukannya."Setelah berkata demikian, dia segera menundukkan kepalanya dan membuka mulut kecilnya yang semerah ceri.Seketika, bagian bawah tubuhku merasakan sensasi yang hangat, ketat, dan basah. Benar-benar terbungkus dengan rapat. Harus diakui, meski Lulu masih muda, "keahliannya" benar-benar hebat. Darahku seolah mendidih dan mengalir deras ke seluruh tubuh. Kakiku gemetar tak terkendali, posisiku berubah-ubah antara terbuka dan

  • Malam Kelam di Tempat Karaoke   Bab 2

    Aku menoleh menatap Lulu dan bertanya pelan, "Bagian mana yang ingin Paman garuk?" Lulu menunjuk roknya dengan malu-malu, matanya menatapku dengan sayu. "Tolong garuk bagian bawahku, tapi jangan sampai Ayah lihat."Sambil bicara, dia dengan sengaja membuka kedua kakinya. Sepertinya dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Gery, posisiku saat ini sangat pas untuk menghalangi pandangan. Aku mulai menyentuh kakinya, putih dan licin, teksturnya sangat nyaman. Lulu menggigit bibirnya dengan tegang, wajahnya terlihat sangat menggoda sekaligus polos.Awalnya aku merasa sedikit bersalah. Bagaimanapun juga, aku melihat Lulu tumbuh besar sejak kecil, sudah seperti putriku sendiri. Namun, setelah melihat Gery meraba putriku, rasa bersalah itu hilang tak berbekas. Digantikan oleh kegembiraan yang luar biasa.Tanganku menyelinap ke balik roknya, dan aku terkejut bukan main. Lulu bukan hanya tidak memakai bra, celana dalamnya pun kosong! Aku langsung menyentuh bagian yang paling lembut. Lu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status