Share

Bab 2 

Penulis: Muriaz
Putriku terus merengek dan aku tidak bisa menolaknya. Pada akhirnya, aku hanya bisa menunjukkan video itu padanya dengan tersipu.

Rasanya seperti membuka kembali kenangan yang sudah lama terlupakan. Di video itu, aku dan suamiku yang masih begitu hidup terlihat begitu bergairah. Melihat diriku yang tenggelam dalam kenikmatan dalam video itu, tubuhku seolah kembali ke momen itu. Aku dapat merasakan kenikmatan dibelai oleh tangan seorang pria.

Kenikmatan yang sudah lama kulupakan kembali menyelimutiku. Sebelum aku menyadarinya, tubuhku terasa panas membara dan area di antara kedua kakiku menjadi basah.

Menyadari hal ini, wajahku memerah. Aku juga secara refleks merapatkan kakiku dan merasa malu karena basah. Bagaimanapun juga, aku masih ada di depan putriku.

Namun, putriku tidak menyadarinya. Setelah menontonnya, dia sepertinya sudah mengerti, "Ibu, aku sudah paham. Bukan salahku kami nggak bisa melakukannya. Dia yang bermasalah."

"Ada apa dengannya?"

"Ukurannya terlalu besar, jauh lebih besar daripada punya Ayah!" Putriku terlihat seperti menyadari sesuatu dan ekspresinya berubah menjadi agak cemas. "Ukurannya ... kelihatan seperti nggak mungkin bisa dimasukkan."

"Itu nggak mungkin." Aku tertegun sejenak, lalu menggeleng. "Aku belum pernah melihat ada pria yang begitu menakutkan."

Putriku terdiam sejenak, lalu meraih tanganku dan berbicara dengan ekspresi serius, "Ibu, aku akan suruh dia datang kemari. Coba kamu bantu aku periksa apakah dia memang bermasalah."

Apa? Putriku ingin aku memeriksa pacarnya, apalagi di area itu! Ma ... mana bisa begitu!

Hanya membayangkan sensasi terbakar saat tanganku menyentuh area itu saja sudah membuat kakiku lemas. Bahkan tenggorokanku pun sudah mulai kering.

"Ibu, bukannya kamu seorang dokter? Memeriksa tubuh orang itu hal yang biasa. Apa salahnya?"

Ah, benar juga. Aku ini seorang dokter.

Sejujurnya, aku pernah menemui situasi di mana aku perlu memeriksa area itu saat memeriksa mahasiswa. Aku tidak boleh mendiskriminasi orang hanya karena orang itu pacar putriku.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba mendapatkan kembali ketenanganku. "Baiklah. Kalau begitu, suruh dia datang kemari waktu dia punya waktu luang."

Putriku menciumku, lalu pergi dengan gembira.

Melihatnya pergi, aku akhirnya tidak mampu bertahan lagi. Kakiku langsung lemas dan aku pun jatuh terduduk. Keinginan yang bergejolak di dalam diriku hampir membuatku hancur. Menjaga ketenangan saat berbicara dengan putriku sudah merupakan batasnya.

Aliran hangat menyebar dari perut bagian bawahku, lalu berputar dan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasa seperti ada serangga kecil yang merayap di kulitku sehingga membuatku merasa lemas dan geli.

Aku tidak seharusnya menonton video itu. Video itu telah membangkitkan kembali ingatan mengenai kenikmatan yang kulupakan. Kini, tubuhku yang sudah lama tak tersentuh terasa bagaikan kayu bakar kering yang bertemu dengan api yang berkobar. Sekali menyala, api itu pun tak terbendung. Aku tak sanggup menahan diri lagi.

Biasanya, tidak ada mahasiswa yang datang pada jam seperti ini. Aku pun menyelinap ke sebuah bilik kecil, lalu mengeluarkan beberapa video lama yang kurekam bersama suamiku, dan menontonnya dengan tenang.

Pandanganku tertuju pada tubuh pria dalam video. Ketika tangannya menyentuhku, aku juga secara refleks mengangkat tanganku. Aku mengikuti gerakannya dalam video dan mulai membelai tubuhku.

Tangan itu dengan cekatan membuka kancing bajuku sambil bermain-main dengan bagian pribadiku yang sensitif dari luar pakaianku. Tangannya yang lain mengangkat rokku, lalu menyentuh area yang sudah basah kuyup melalui celana dalamku. Ujung jarinya bermain di titik sensitifku.

Aku mengerang, persis seperti dalam video itu.

Dalam video itu, wajahku terlihat merah. Aku berlutut di atas tempat tidur dengan rambut tergerak dan mata dipenuhi ekstasi.

"Sayang ... hebat. Kamu hebat banget ...."

Suamiku tertawa, lalu meraih daguku dan memasukkan dua jarinya dalam mulutku. Dia menggerakkan jarinya dengan kuat hingga air liur menetes di daguku. Aku secara tidak sadar mengangkat pinggulku dan menggoyangkan tubuhku secara perlahan. Aku benar-benar seperti wanita yang sedang birahi ....
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Penuh Gairah dengan Pacar Putriku   Bab 9 

    Kali ini, ekspresi ketakutan yang nyata muncul di wajah Leo. Dia buru-buru meraih tanganku. "Jangan, jangan lapor polisi! Aku mohon, aku benar-benar nggak tahu sebanyak itu. Orang lain yang beri aku obat ini."Aku menatapnya dengan dingin dan tajam. "Kalau begitu, coba katakan apa sebenarnya niatmu mendekatiku? Jangan coba-coba menipuku dengan bilang 'aku menyukaimu' dan sejenisnya."Ekspresinya tidak berhenti berubah, antara takut, malu, dan kesal. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk waktu yang lama."Karena kamu nggak mau ngomong, katakan saja pada polisi.""Jangan! Aku akan beri tahu kamu. Dok Bella ... ini semua taruhan yang kubuat dengan teman-temanku. Kamu begitu cantik. Jadi, aku bertaruh dengan teman-temanku bahwa aku bisa memenangkan hatimu dalam tiga bulan. Tapi, kamu selalu bersikap acuh tak acuh padaku. Lalu ... aku tahu Molly itu putrimu. Aku pun ingin manfaatkan dia untuk mendekatimu." Di bawah tatapan tajamku, Leo menambahkan dengan tergagap, "Kemudian, aku ...

  • Malam Penuh Gairah dengan Pacar Putriku   Bab 8

    Mahasiswa yang masuk setelahnya sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.Flirting di depan para mahasiswa lain membuatku merasa sangat tidak bermoral. Namun, itu juga terasa sangat mendebarkan.Jam sepuluh malam itu, Leo datang seperti yang dijanjikan. Begitu bertemu, dia langsung berjalan ke belakangku dan memelukku erat-erat. Napasnya yang hangat menggelitikku dan membuat jantungku berdebar."Dok Bella, kamu lagi tunggu aku, 'kan?" Berhubung isi hatiku terbongkar, aku merasa malu sekaligus marah. Aku menepis tangannya yang merabaku dan bertanya, "Apa yang terjadi antara kamu dan putriku?""Bukannya aku sudah putus sama dia sesuai dengan perintahmu?""Apa yang kamu katakan? Apa maksudmu dengan sesuai perintahku?" Aku mulai marah. "Macam aku saja yang suruh kamu putus sama dia.""Iya, iya, aku salah bicara." Leo tersenyum meminta maaf. Tangannya menempel lagi di punggungku, lalu bergerak ke bawah. Dia bahkan mencubit bokongku.Dia benar-benar berbakat dalam hal ini dan

  • Malam Penuh Gairah dengan Pacar Putriku   Bab 7

    Apa? Leo tetap tidur dengan putriku? Dasar bajingan! Jika dia tidak berniat untuk bersama Molly, kenapa dia masih mempermainkan perasaan Molly?Pengalaman pertama sangat penting bagi seorang gadis. Dasar bajingan! Kali ini, aku benar-benar marah. Sambil menggenggam tangan putriku erat-erat, aku berujar, "Bawa aku pergi temui dia! Aku akan beri pelajaran pada bajingan itu! Dia sudah goda kamu, tapi malah campakkan kamu lagi. Dia nggak pantas disebut manusia!" Melihatku yang murka, putriku ketakutan dan dengan gugup menarikku. "Ibu, jangan pergi. Ini bukan salahnya. Ini semua salahku karena nggak bisa memuaskannya." Bahkan pada saat ini, putriku masih membela Leo."Molly, dua orang bersama bukan cuma tentang hal semacam ini. Selain itu, kepuasan dalam hal seperti ini juga bukan cuma untuk laki-laki. Dia sama sekali mengabaikan perasaanmu. Itu artinya dia sama sekali nggak mencintaimu. Kamu sudah dimanipulasi sama dia!""Duh, Ibu, bukan seperti itu. Hari ini, aku kemari ... justru untu

  • Malam Penuh Gairah dengan Pacar Putriku   Bab 6 

    Terutama area intim Leo yang terlihat begitu tegak dan penuh gairah, seolah-olah ingin menunjukkan dominasinya.Tanganku gemetar karena terkejut. Kenapa dia tiba-tiba mengirim foto-foto ini? Rasa malu dan gairah yang kurasakan sebelumnya kembali dalam sekejap. Wajahku sangat merah.[ Jangan kirim foto-foto begini lagi. Aku sudah mau tidur. ]Meskipun marah dengan perilakunya, entah kenapa, aku merasa egoku sedikit terpuaskan. Kurasa aku pasti sudah gila. Bagaimana mungkin aku memiliki perasaan seperti itu terhadap pacar putriku?Aku segera mencari video lamaku dan suamiku, tetapi tidak bisa menontonnya karena perasaanku kacau. Yang ada di benakku hanyalah foto-foto yang bisa membuat orang tersipu itu. Leo terlebih dahulu menyukaiku. Dia mendekati putriku demi aku. Aku terus mengulangi kata-kata itu pada diriku sendiri.Keesokan paginya, aku bangun dengan kepala yang sangat pusing. Aku tidak tidur nyenyak sepanjang malam dan mengalami serangkaian mimpi yang sangat liar.Memikirkannya l

  • Malam Penuh Gairah dengan Pacar Putriku   Bab 5 

    Pada saat ini, aku sudah berhenti berpikir. Aku hanya merasakan antisipasi yang luar biasa besar dan suara hati yang berseru, 'Tunjukkan saja kehebatanmu.'Tiba-tiba, pintu dibuka. Selanjutnya, terdengar seruan putriku, "Ibu, Leo, apa yang kalian lakukan?" Pada saat ini, aku benar-benar terkejut hingga jiwaku terasa seperti akan melayang. Aku segera menutupi bokongku dan menatap putriku dengan ekspresi panik.Wajah putriku terlihat merah. Matanya dipenuhi amarah, keterkejutan, dan ketidakpercayaan. Kemudian, dia mengentakkan kakinya dengan marah dan berlari pergi.Aku sangat panik dan segera bangkit untuk mengejarnya, tetapi Leo menahanku, "Jangan pergi." Aku merasa malu dan marah, juga tidak mengerti bagaimana aku bisa begitu terlena dalam hasrat. Dalam amarah yang meluap, aku mengangkat tanganku untuk menamparnya. "Apa kamu sudah puas sekarang? Sudah puas?"Namun, bagaimana mungkin aku yang lemah ini bisa melawannya? Tanganku yang terulur ditangkapnya dengan mudah. Tanganku yang le

  • Malam Penuh Gairah dengan Pacar Putriku   Bab 4

    Aku terkejut dan mau tak mau menatap ke atas. Sudut pandang ini sangat aneh. Dia berdiri dan aku berjongkok di depannya, seolah-olah aku sedang ...."Dok Bella, kekuatanmu sedikit terlalu kuat."Wajahku memerah dan aku segera melepaskannya, "Ka ... kamu nggak apa-apa. Kamu sudah boleh kembali."Pada saat ini, aku merasakan kekosongan yang mendalam menyelimutiku. Namun, benda yang luar biasa itu memenuhi seluruh pandanganku. Aku tak bisa mengalihkan pandangan.Tiba-tiba, Leo melangkah maju dan tubuhnya langsung menyentuh wajahku. Sensasi aneh itu membuatku terkejut hingga aku bergerak mundur dan jatuh terduduk."Apa ... apa maumu?"Dia berjongkok. Di bawah cahaya redup, dia terlihat sangat memikat. "Dok, aku mau mendekat supaya kamu bisa periksa dengan lebih teliti." Tubuhnya yang panas menyelimutiku sepenuhnya. Jantungku berdebar kencang. Tanpa terasa, aku sudah berada di bawah kendalinya."Kamu .... Lepaskan aku."Aku meronta dan menggeliat dalam pelukannya. Namun, tubuhnya benar-ben

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status