Share

Senyum Tipis Vania

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-08-09 21:39:36
Rudi yang berdiri hanya beberapa langkah di hadapan mereka, terperanjat hingga mulutnya menganga lebar. Matanya mengerjap beberapa kali, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"Seriusan nih anak?! Udah main remes aja. Ngajak-ngajak napa, Man?" batin Rudi bicara, merasa ingin ikutan melihat tangan Maman yang hinggap pada bukit kembarnya Vania.

"M-Mbak Vania... S-sumpah, saya nggak sengaja!" cicit Maman, panik bukan main hingga keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 151

    Rembulan duduk tegak di atas kasur. Matanya putih bersih, wajahnya datar, dan suaranya tidak punya nada sama sekali."Jangan takut. Aku cuma meminjam telinga dan mulut.""Lepaskan anakku!" Ririn berlari, tapi Maman menahan lengannya."Rin, tunggu.""Itu Bulan!""Aku tahu. Tapi kalau kamu langsung menyerbu, kita nggak tahu apa yang dia lakukan."Rembulan menoleh pelan ke arah Maman. "Orang tua yang bijak.""Siapa kamu?""Kamu bisa menyebutku apa saja. Aku tidak punya nama."Dari kepala Bintang, Dasar berbicara cepat. "Jangan bicara terlalu banyak dengannya. Dia memakan perhatian.""Maksudnya?""Makin lama kamu menatapnya, makin sulit kamu mengingat hal lain."Bintang buru-buru memalingkan wajah. Ia memegang boneka Ki Tepi yang bergetar hebat di tangannya."Ki Tepi, kamu nggak apa-apa?""Aku... pusing," jawab boneka itu pelan. "Aku merasa lupa sesuatu. Tapi aku tidak ingat apa.""Jangan dengarkan dia. Fokus ke suaraku.""Aku coba."Pintu kamar terbuka keras. Rudi menerobos masuk sambil

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 150

    Pukul dua belas malam, ruang tamu panti penuh orang. Anak-anak sudah tidur di lantai atas, dijaga Bu Ratmi dan beberapa pengasuh yang masih lemas. Di bawah, semua orang dewasa duduk melingkar di sekitar meja besar.Maman, Ririn, Surya, Lisa, Dina, Sari, Kinanti, dan Rudi sudah hadir. Hartono duduk di ujung meja memakai selimut tipis. Badannya kurus setelah tiga tahun tidur, tapi matanya sudah jernih. Rembulan tertidur di pangkuan Ririn, ditemani boneka Ki Tepi."Aku mulai dari yang kuketahui," kata Hartono. "Pintu ketujuh itu nyata.""Kamu tahu dari mana, Paman?" tanya Maman."Dari dalam tubuhku sendiri. Waktu Si Penolak, maksudku Ki Tepi, tinggal di dadaku, kami sering ngobrol. Dia pernah bilang ada sesuatu yang bahkan para penjaga tidak berani sebut namanya.""Aku bilang begitu?" tanya Ki Tepi dari boneka."Kamu bilang waktu kamu lagi kesal.""Aku sering kesal.""Aku tahu."Rudi mengangkat tangan. "Boleh tanya? Kenapa semua pintu punya penjaga, tapi yang ketujuh nggak?""Karena itu

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 149

    "Dim, ini aku!" Bintang menggenggam bahu sahabatnya. "Bintang! Kita sekelas dari SMP!"Dimas menepis tangannya pelan. "Maaf. Aku nggak kenal.""Kamu takut ayam!""Hah?""Kamu nggak bisa tidur kalau lampu mati. Kamu pernah muntah siomay di lapangan!"Dimas mengerutkan dahi. Ada sesuatu di wajahnya, tapi cepat hilang. "Kenapa kamu tahu semua itu?""Karena kamu sahabatku!"Dari belakang, Jati tertawa kecil sambil memainkan lenteranya. "Percuma. Ingatan yang sudah kuambil tidak akan kembali. Kecuali kalian bisa mengalahkan aku."Di halaman, orang-orang mulai kehilangan arah. Ririn memegang kepala sambil menatap Maman dengan bingung. "Kamu... siapa ya?""Rin, ini aku. Maman.""Maman." Ririn mengulang pelan. "Aku merasa kenal. Tapi aku nggak ingat kenapa."Maman menelan ludah. Tangannya menggenggam tangan istrinya erat-erat, tapi hatinya mulai panik. Surya sudah duduk lemas di tanah, memandang kosong ke langit. Sari memeluk lututnya sambil mengulang nama sendiri berkali-kali tanpa suara."I

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 148

    Ririn memeluk Rembulan lebih erat. "Kamu bukan Nyi Lupa. Kamu anakku.""Aku juga anakmu, Bu," jawab Rembulan dengan suara halus. Matanya masih biru, tapi senyumnya lembut. "Aku bukan mau mengambil tubuh Bulan. Aku sudah ada di dalam dia sejak lahir.""Sejak lahir?""Wiratama menaruh ingatanku di dalam jiwa bayi yang akan lahir lima ratus tahun kemudian. Bulan yang kecil itu masih ada di sini. Dia cuma sedang tidur.""Aku mau bicara sama dia.""Boleh."Rembulan memejamkan mata. Saat membukanya lagi, biru di matanya memudar jadi cokelat. Ia mengerjap, menguap, dan menatap sekeliling dengan bingung."Ibu? Kenapa kita di sini?"Ririn menahan tangis. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?""Bulan ngantuk." Rembulan mengusap mata. "Kak Tepi mana?"Bintang cepat-cepat menyodorkan boneka kelinci itu. Rembulan memeluknya erat."Kak Tepi tadi Bulan cari.""Aku di sini," kata Ki Tepi dengan suara serak. "Maaf aku tidak menjagamu.""Nggak apa-apa. Tante yang cantik tadi baik kok. Dia nyanyi buat Bulan."Se

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 147

    "Putar balik, Rud!" teriak Maman."Aku sudah putar balik dari tadi, Man!" Rudi memegang setir dengan dua tangan, wajahnya tegang. "Kalau kecepatannya ditambah lagi, ban van ini lepas!""Tambah!""Itu bukan saran yang aman!""Rembulan di sana!"Rudi menelan ludah dan menginjak gas lebih dalam. Van tua itu menderu di jalan berkelok, melewati kendaraan lain dengan klakson panjang.Di kursi tengah, Ririn menggenggam tangan Maman erat-erat. Wajahnya pucat dan matanya basah, tapi ia tidak menangis. Bintang duduk di sebelahnya sambil memeluk boneka Ki Tepi. Dimas di sampingnya terus mencoba menelepon panti, tapi tidak ada yang menjawab.Di kursi paling belakang, Kinanti duduk bersandar ke jendela. Gaun putih lusuhnya masih berdebu, dan napasnya berat."Kamu bilang Laras dikendalikan," kata Maman sambil menoleh. "Dikendalikan siapa?""Penjaga pintu keempat. Namanya Nyi Lupa.""Nyi Lupa?" Rudi hampir tertawa. "Namanya aneh banget. Kayak nama tokoh sinetron.""Rud, fokus nyetir," kata Ririn."S

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 146

    *** TIGA TAHUN KEMUDIAN ***"Rembulan! Jangan lari di dalam rumah!"Teriakan Ririn tidak ada gunanya. Anak perempuan berumur hampir tiga tahun itu sudah menyelinap lewat kolong meja makan, membawa boneka kelinci biru yang hampir sama besar dengan badannya."Kak Tepi mau main kejar-kejaran!" teriak Rembulan."Kak Tepi itu boneka, Sayang.""Bukan! Kak Tepi hidup!""Aku memang hidup," kata suara berat dari dalam boneka itu. Ia terdengar pasrah. "Tapi aku tidak pernah bilang mau main kejar-kejaran."Rembulan tertawa dan lari ke ruang tamu. Maman menangkapnya di pintu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi."Ketangkap!""Ayah curang!""Ayah nggak curang. Ayah cuma lebih tinggi.""Itu curang!"Bintang turun dari tangga sambil menguap. Umurnya tujuh belas tahun sekarang, tingginya sudah hampir menyamai ayahnya. Seragam SMA-nya kali ini dipakai dengan benar."Pagi.""Pagi, Kak!" Rembulan melambai dari gendongan Maman."Pagi, Bul. Sudah makan?""Belum. Ibu bikin nasi goreng.""Pasti keasinan.""Itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status