تسجيل الدخولGlek!Maman menelan ludah.Posisi dadanya yang tepat berada di ujung sapu Ririn membuat Maman tak berani bergerak sembarangan.Namun, entah reflek pria normal atau semacamnya, pandangan mata Maman justru tak bisa berhenti melirik ke arah bukit kembarnya Ririn.Gadis di depannya ini hanya mengenakan kaus tipis berwarna putih yang sedikit agak longgar.Karena Ririn sedang emosi dan bernapas memburu, kaus tipis itu menempel kencang mencetak bentuk dua bukit kembar Ririn yang begitu padat, kencang, dan membusung indah.Ditambah lagi, posisi Ririn yang memegang sapu itu dengan kedua tangan terangkat ke atas membuat bagian dada kausnya terangkat semakin ketat."Punya si Ririn padat amat, yak? Beda sama Lisa kayaknya," batin Maman mengagumi keindahan alami gadis galak di depannya."Tapi... kagak pasti juga sih. Kan dia masih pake bra, ya?" batinnya kembali.Ririn yang sadar akan arah pandangan mata Maman menjadi semakin meradang. Pipinya memerah bukan main."Maman! Mata lo ngeliat ke mana, s
Maman kembali teringat bisikan gaib semalam, yang masuk ke telinganya sebelum ia tertidur.Terdapat sebuah benda berharga di halaman belakang rumah seorang gadis yang ibunya pernah kamu tolong saat dijambret preman. Di kampung sebelah.Rumah Ririn di Kampung Suka Maju.Tanpa membuang waktu lagi, Maman melangkah keluar rumah menyusuri jalan setapak menuju Kampung Suka Maju untuk berburu benda berharga selanjutnya.Maman melangkah menyusuri jalan setapak yang membelah persawahan menuju Kampung Suka Maju. Angin pagi yang berembus segar sama sekali tak mampu mendinginkan gejolak di dadanya.Setelah berhasil lolos dari cengkeraman Juragan Surya lewat sandiwara cerdik bersama Lisa, kini pikirannya terbagi menjadi dua.Kekhawatiran akan nasib benihnya di rahim Lisa, dan rasa penasaran luar biasa terhadap petunjuk gaib tentang benda berharga di halaman belakang rumah Ririn.Maman sengaja tidak mengajak Togel. Selain karena tak ingin sahabatnya itu banyak bertanya, ada alasan pribadi lain yang
"MAMAN! KELUAR KAMU!"Suara teriakan yang dipenuhi amarah itu melengking menembus pintu depan.Maman dan Lisa sontak membeku. Wajah Lisa yang tadinya mulai agak tenang kini berubah menjadi sangat pucat, matanya membelalak ketakutan.Lisa mengenali suara bentakan itu dengan sangat jelas."A-Ayah...?" bisik Lisa dengan bibir gemetaran, tubuhnya seketika gemetar ketakutan di dalam pelukan Maman. "Itu suara Ayah, Man... Ayah udah tau aku ada di sini!"Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu depan semakin menjadi-jadi, disusul makian kasar yang membuat suasana pagi itu mendadak tegang luar biasa.Juragan Surya di luar sana tidak datang sendirian. Terdengar derap langkah banyak kaki yang mengepung sekitar rumah Maman."MAMAN! BUKA PINTUNYA! SAYA TAU LISA ADA DI DALAM!" teriak Juragan Surya murka. "Jangan sampai saya dobrak rumah kamu ini!"Di dalam kamar, Lisa menangis sesenggukan. Tubuhnya gemetar hebat sambil memeluk rapat sarung yang menutupi tubuh telanjangnya."Man... gimana ini, Man? Ayah
Ngiiiing!!!Tiba-tiba telinga Maman berdenging keras."Terdapat sebuah benda berharga. Di halaman belakang rumah seorang gadis yang ibunya pernah kamu tolong saat dijambret preman. Di kampung sebelah.""Eh?!" Maman tersentak.Beberapa saat kemudian, suara itu perlahan menghilang. Kamar kembali sunyi, hanya menyisakan suara malam yang samar dari luar rumah.Namun, ucapan terakhir dari bisikan tadi masih terngiang-ngiang di kepala Maman."Bentar... kampung sebelah?" gumamnya dalam hati.Maman seketika teringat pada Kampung Suka Maju.Tempat itu adalah kampung tempat Ririn tinggal, gadis cantik anak Kepala Desa yang ibunya pernah ia tolong saat hampir menjadi korban penjambretan beberapa pekan lalu.Namun semakin dipikirkan, semakin terasa aneh.Bisikan tadi menyebut ada sebuah benda berharga di halaman belakang rumah seorang gadis, tapi sama sekali tidak menjelaskan benda apa yang dimaksud.Maman mengernyitkan dahi. "Benda apa ya kira-kira? Jam saku lagi, kah?"Sayangnya, tubuhnya sudah
Maman menatap dalam-dalam sepasang mata Lisa yang berbinar pasrah. Cahaya lilin di sudut meja bergetar pelan, memantulkan bayangan dua raga yang sedang dimabuk asmara di atas kasur itu.Tak ada lagi keraguan di antara mereka. Rasa cinta yang lama terpendam, serta gelora gairah dewasa yang meledak hebat malam itu meluruhkan segala canggung yang tersisa."Lis..." bisik Maman pelan, mengelus lembut pipi Lisa. "Aku sayang sama kamu..."Lisa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum manis yang penuh kepasrahan. "Aku percaya sama kamu, Man. Malam ini... aku serahin semuanya ke kamu."Tanpa membuang waktu, Maman kembali menyambar bibir indah Lisa. Ciuman mereka berlangsung begitu panas, menyalurkan kehangatan yang merambat cepat ke seluruh aliran darah.Tangan Maman bergerak lembut membuka sisa kancing piyama yang dikenakan Lisa. Kain itu meluncur pelan melewati bahu mulusnya, menyisakan tubuh molek Lisa yang polos tanpa sehelai benang pun di hadapan Maman.Glek!Maman menelan ludah melihat k
"Anjir!" batin Maman. "Nyampe jebol sempak gue!"Karena terlalu fokus pada urusan lain, Maman bahkan belum sempat membeli celana dalam baru.Uang hasil penjualan setrika arang sebelumnya sudah ludes untuk melunasi hutang sang ayah. Kini, dompetnya hanya menyisakan dua puluh juta rupiah setelah terpakai untuk membeli dua ponsel.Ia belum sempat melengkapi kebutuhan pribadi yang mendesak seperti celana dalam, padahal barang itu sangat krusial mengingat ada peliharaan di luar nalar yang bersarang di balik celananya.Maman mencoba menggeser pinggulnya secara perlahan, berusaha agar tidak membangunkan Lisa. Ia berniat membetulkan posisi celananya yang rusak.Namun, tepat saat Maman bergerak beberapa milimeter, tiba-tiba...Srett...Kaki Lisa bergerak spontan dalam tidurnya. Kaki jenjang itu terangkat dan mengangkang tipis, lalu menumpangkan pahanya tepat di atas pangkal paha Maman.Deg!Area sensitif di paha bagian dalam milik Lisa mendarat tepat di atas belutnya Maman yang sedang berdiri







