Home / Male Adult / Marlon Menantu Terhebat / BAB 108: AMBISI SAUDARA KANDUNG 

Share

BAB 108: AMBISI SAUDARA KANDUNG 

last update publish date: 2026-07-18 10:19:23

Mendapat kabar dari Erinka, bahwa Presdir MHG tidak bisa memberikan bantuan hukum untuk Marlon, Sugalih merasa gusar. Ia langsung mengambil keputusan untuk keluar dari tim proyek pembuatan obat pneumonia.

“Konsekuensinya Pak Galih harus turun jabatan kalau tidak mau melanjutkan menjadi pimpinan proyek ini,” ucap Gilbert pada rapat para petinggi MHG siang itu.

“Jangankan turun jabatan, dikeluarkan dari perusahaan pun aku nggak masalah. Aku sudah melalui hal terburuk kehilangan pekerjaan dan keh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 119: JANGAN HINA SUAMIKU

    “Dengan berat hati, aku harus memberitahu kalau aku tidak bisa menemukan obat penawarnya,” ucap Sugalih pada Andhika dan Bagas setelah usahanya melakukan pengujian ulang pada ramuan yellow pil menemui jalan buntu.“Apa?” Andhika tampak panik, demikian pula dengan Bagas yang sedang berkumpul di rumah sakit.“Kamu serius, Galih?” tegas Andhika. Sugalih hanya mengangguk lalu menundukan pandangannya.“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Bagas kepada kedua adiknya.“Sudah pasti mencari orang yang bisa menyembuhkan Ayah, dan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kak Bagas, karena perbuatan Kak Bagas lah Ayah jadi kritis sampai saat ini,” jawab Sugalih sambil membuang pandangannya dari Bagas.“Jaga ucapanmu, Galih! Aku sudah meminta persetujuan Ayah sebelum memberikan obat itu padanya. Jadi, kamu jangan asal bicara ya!” tegas tak terima. “Selama Ayah sakit, apa usaha yang sudah kamu lakukan untuk menyembuhkannya, hah? Semua aku yang uruskan? Kalian berdua tidak ada yang peduli!” S

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 118: SEBUAH KEBOHONGAN? 

    “APA...?”Sugalih terkejut mendengar kabar kalau ayahnya saat ini dalam kondisi kritis.“Benar, Pak... semua ini terjadi setelah Pak Har meminum sample yellow pil yang dibuat oleh Pak Bagas dan Pak Indra,” jelas Gilbert di sana.“Ya ampun...” ujar Sugalih dengan wajah menegang. “Dari awal aku sudah melarang untuk memberikan sampel obat itu pada Ayah, tapi Pak Bagas sama sekali tidak mau mendengar ucapanku. Beginilah jadinya... ” ungkap Sugalih seketika merasa cemas.“Sebenarnya Pak Bagas tidak mau memberitahu hal ini pada Pak Galih, karena takut disalahkan. Tapi demi keselamatan Pak Har, saya ambil inisiatif menelepon Bapak untuk memberitahu masalah ini,” jelas Gilbert.“Jadi, bagaimana sekarang Pak Gilbert? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Sugalih sambil bangkit dari duduknya.“Pak Sugalih harus mencari penawarnya, caranya dengan memeriksa dari kandungan yellow pil itu, bahan mana yang bisa menyebabkan peminumnya jadi tak sadarkan diri seperti yang dialami Pak Hardiyata,” jelas Gil

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 107: KERACUNAN YELLOW PIL

    Dua rumah sakit ternama gempar saat hasil uji coba sampel obat penyakit pneumonia pada para pasien justru membuat kondisi mereka bertambah buruk, bahkan hampir sebagian dari mereka sudah tak sadarkan diri beberapa saat setelah meminumnya.Demikian halnya yang dialami oleh Kakek Har, setelah 5 jam meminum sample yellow pil yang dibuat oleh Bagas dan timnya, kondisi presdir Megah Hardiyata Grup itu kini dalam keadaan kritis.“Tolong ayah saya, Dok...” ucap Bagas sambil mengatupkan tangannya pada sang dokter yang selama ini merawatnya. “Dari awal sudah saya sarankan agar tidak perlu mengambil risiko untuk meminum obat sampel itu. Tapi, saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menolong Pak Hardiyata. Tolong berikan sampel obat pneumonia yang kamu berikan pada ayahmu, saya akan menelitinya di lab,” pinta dokter coba mencari solusi.“Maaf, Dok, kami hanya membuat terbatas obat sample pneumonia itu, jadi kami tidak ada stok lagi,” jelas Bagas.“Wah, susah kalau begini...” ujar dokter menggel

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 116: KENYATAAN PAHIT

    Saat Sugalih sedang menerima kenyataan pahit karena Erinka harus berpisah dengan Marlon, kakak keduanya, Andhika, justru sedang bergembira karena telah berhasil membuat sampel obat yang mulai diuji coba pemakaiannya hari ini pada beberapa pasien penderita penyakit pneumonia.“Menurutmu bagaimana hasilnya nanti, Pak Andhik? Obatnya pasti mujarab, kan?” tanya Adam yang juga begitu antusias menantikan keberhasilan produksi obatnya.“Semua prosedur yang ada di resep buatan Marlon itu sudah kita jalani sebaik mungkin, ditambah masukan dari beberapa pakar untuk menyempurnakan obat ini, jadi jangan ragu Pak, obatnya pasti sangat ampuh,” jelas Andhik coba meyakinkan rekan bisnisnya.“Aku percaya sepenuhnya pada Pak Andhik. Kita harus jadikan penemuan obat pneumonia ini sebagai obat yang fenomenal abad ini,” ujar Adam sambil tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.Andhika pun mengiyakan harapan rekan bisnisnya itu, bahkan karena merasa sangat yakin, ia membuat 100 sampel obat sekaligus un

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 115: DIRI YANG TERGADAIKAN 

    Erinka merasa sangat sedih mengetahui rencana mamanya menjauhkan dirinya dari Marlon, bahkan ponselnya diambil agar tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Bukan itu saja, ia juga tidak dibenarkan keluar dari rumah karena sudah ada dua orang lelaki bayaran yang ditugaskan untuk mengawasi rumah neneknya yang sekarang ia tempati.Tok! Tok! Tok!Siang itu pintu rumah Nek Dewi diketuk seseorang, Erinka yang sedang menemani neneknya memasak di dapur segera bergegas ke pintu depan. Saat ia membuka daun pintu ia sangat terkejut melihat seorang berseragam polisi sudah berdiri di depan pintu.“Inspektur Zakie?” gumam Erinka mendapati lelaki bertubuh tinggi besar itu sudah berada di hadapannya.“Kaget ya aku berada di sini?” ucap Zakie sambil tersenyum. “Aku tahu, pasti mamaku yang memberitahu,” ujar Erinka. “Mau apa kamu ke sini?” tegas Erinka.Belum sempat Zakie menjawab, Nek Dewi sudah berada di belakang Erinka.“Lho, kok tamunya nggak di suruh masuk, Erin?” ucap Nek Dewi menegasi. Eri

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 114: Dilema di Balik Dinding Blok S

    Si gendut yang menyaksikan semua yang terjadi pada Marlon merasa berempati, lalu ia mengajak Marlon untuk segera masuk ke dalam penjara karena kerja mereka telah selesai.Saat makan siang Marlon merasa tidak berselera untuk makan atas insiden yang baru saja dialaminya. Ia memberikan semua makanannya pada si gendut, tentu saja lelaki bertubuh tambun dan berkepala botak itu merasa senang bukan main karena ia benar-benar sedang lapar yang teramat sangat seluruh tenaganya terkuras untuk digunakan bekerja. Tidak lupa, Marlon menagih janjinya untuk meminjam ponsel si gendut, ia harus menghubungi Erinka yang awalnya hanya ingin memastikan kabarnya, kini ia ingin meminta penjelasan atas semua yang tadi diucapkan oleh ibu mertuanya. “Benarkah Erinka berkeinginan meninggalkanku?” batin Marlon resah.Setelah menengok kiri dan kanan, si gendut pun memberikan ponselnya pada Marlon di bawah meja, lalu berjalan bergegas menuju toilet umum di kawasan ruang makan penjara blok S. Lantaran, semua para

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 7: MEMILIKI BLACK CARD 

    Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 6: MENCARI KEBERADAAN MARLON 

    Siapa saja yang mendengar nama Meygi, pasti akan membayangkan seorang wanita cantik tapi memiliki hati yang kejam. Dalam kalangan pebisnis kelas atas, namanya sangat ditakuti karena dia tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang bermasalah dengan dirinya.Seperti halnya para pebisnis lainnya

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 5: WANITA MISTERIUS 

    Erinka masih diliputi dengan cemas atas kejadian di jalan raya akhirnya sampai juga ke hotel bintang lima tempat reuni ditemani Marlon. “Ayo, kita turun...” ucap Erinka saat Marlon sudah mematikan mesin mobil di parkiran basement hotel.“Tunggu dulu, Beb...” ucap Marlon sambil menahan lengan kanan

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 4: MENCARI IDENTITAS MARLON

    “Orang-orang brengsek! Bukannya menolong malah ‘misuh-misuh’ engga jelas!” ucap Tony yang hanya bisa melihat Hendrik terjebak di dalam mobil.“Tolong aku, Bro... kakiku kejepit, sakit sekali nih rasanya...” ujar Hendrik memanggil Tony yang sedang duduk di luar mobil yang posisinya dalam keadaan ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status