MasukWaktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapapun, membawa perubahan besar yang menandai babak baru bagi seluruh anggota keluarga besar Hardiyata. Di bawah langit kota Jakarta yang perlahan mulai cerah seiring dengan menurunnya angka infeksi pandemi, sebuah pemandangan yang sangat kontras terjadi di dua tempat yang berbeda. Roda kehidupan akhirnya berputar dengan sangat nyata dan adil di bawah langit Hardiyata, memberikan balasan yang setimpal bagi setiap perbuatan manusia yang telah menanam benih di masa lalu. Hukum alam yang tidak pernah salah alamat kini mempertontonkan bagaimana sebuah kejayaan sejati dan kehancuran total bisa terjadi dalam satu waktu yang bersamaan di dalam satu lingkaran keluarga yang sama.Di satu sisi, Marlon dan Sugalih menikmati penghormatan dunia yang luar biasa tinggi atas keberhasilan Yellow Pil membawa Megah Hardiyata Group ke puncak kejayaan internasional yang belum pernah tercapai oleh korporasi mana pun di Asia. Aula utama gedung pusat kendali op
Aroma cairan antiseptik yang menyengat langsung menyambut kedatangan keluarga besar Hardiyata di lorong lantai khusus ruang ICU Rumah Sakit Pusat Megah Medika. Lampu indikator merah di atas pintu kaca besar itu menyala dengan konstan, menandakan bahwa di dalam ruangan tersebut sedang berlangsung perjuangan hidup dan mati yang sangat kritis. Langkah kaki yang terburu-buru dari para perawat dan dokter spesialis saraf yang keluar masuk ruangan semakin menambah pekat suasana ketegangan yang menyelimuti area tunggu sejak pagi buta. Di sudut lorong, Sugalih duduk dengan kedua tangan yang menopang wajah tuanya yang tampak sangat layu, kehilangan seluruh wibawa seorang CEO yang baru saja diraihnya di dunia bisnis internasional.Ketika pintu lift terbuka dengan dentingan yang nyaring, Marlon melangkah keluar dengan ekspresi wajah yang tenang namun waspada, mendampingi Erinka yang berjalan dengan tubuh yang limbung karena syok. Erinka menangis histeris saat mendapati ibunya sudah terkapar tid
Sejak fasilitas mewahnya ditarik dan status sosialnya dihancurkan oleh dewan keluarga besar Hardiyata, Kemala menghabiskan sebagian besar waktunya terkurung di dalam kamar. Kamar yang dahulu menjadi simbol kemewahan dan tempatnya memamerkan koleksi perhiasan mahal, kini terasa laksana sel penjara bawah tanah yang pengap dan sunyi, dipenuhi oleh tumpukan surat tagihan utang yang belum terbayar.Kemala duduk di tepi tempat tidur dengan gawai di tangannya—satu-satunya alat komunikasi yang tersisa setelah semua fasilitas premium miliknya diblokir oleh perusahaan. Dengan jemari yang gemetar karena menahan luapan emosi yang terpendam, ia mulai membuka aplikasi berita harian nasional dan internasional untuk melihat perkembangan situasi di luar sana. Namun, apa yang terpampang di layar gawai tersebut justru menjadi awal dari malapetaka terbesar dalam hidupnya.Puncaknya terjadi saat Kemala membaca berita harian yang menampilkan kejayaan internasional Megah Hardiyata Group dengan tajuk utama
Suara deru mesin mobil-mobil mewah yang biasanya mengantar jemput para tamu sosialita kini telah lenyap, digantikan oleh kesunyian mencekam setelah tim logistik perusahaan menarik seluruh fasilitas kendaraan kemarin sore. Di dalam ruang tengah yang luas itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden besar seolah enggan menyentuh sosok Kemala yang duduk sendirian di sudut sofa, meratapi nasibnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kabut kemarahan yang mendalam.Namun, di tengah keterpurukan sosialnya yang begitu nyata di hadapan publik dan keluarga besar, Kemala sama sekali menolak berkaca pada kesalahannya sendiri yang telah menghancurkan reputasinya. Alih-alih menyadari bahwa konspirasi busuknya bersama Zakie adalah penyebab utama dari segala penderitaan ini, hati wanita paruh baya itu justru semakin mengeras dan tertutup rapat oleh dinding keangkuhan yang semu. Pikiran Kemala telah menyimpang jauh dari kenyataan obyektif yang sedang terjadi di sekelilingnya, men
"Buka matamu lebar-lebar, Kemala! Lihat apa yang sudah kamu perbuat pada kehormatan nama baik kita!" bentak Sugalih dengan suara yang menggelegar, membanting pintu ruang tengah rumah utama mereka hingga bergetar hebat. Wajah pria tua itu tampak merah padam, menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun setelah menghadiri pertemuan darurat dewan keluarga besar Hardiyata.Kemala yang sedang duduk meringkuk di atas sofa dengan mata sembab hanya bisa tersentak kaget. Tubuhnya gemetar melihat kemarahan suaminya yang belum pernah terjadi sekeras ini selama puluhan tahun mereka membina rumah tangga. "Pah, kumohon dengarkan penjelasanku dulu. Aku melakukan semua ini juga demi masa depan...""Masa depan apa?! Masa depan di dalam penjara?!" potong Sugalih dengan nada suara yang sangat sinis dan penuh penekanan yang menembus dada. "Pertemuan keluarga besar tadi benar-benar seperti panggung pembantaian bagiku! Semua kerabat, dari yang dekat sampai yang jauh, menunjuk wajahku dan mencaci-maki kelak
"Kumohon, angkat teleponnya, Zakie! Jangan membuatku gila seperti ini!" jerit Kemala dengan suara yang serak dan tubuh yang gemetar hebat di dalam kamar apartemennya yang berantakan. Ia terus menekan tombol panggil pada gawainya, namun hanya suara operator yang menjawab secara berulang-ulang.Di atas meja riasnya yang mewah, tumpukan surat tagihan utang dari bank dan beberapa rentenir pasar gelap sudah menggunung dengan cap merah bertuliskan peringatan terakhir. Kemala berjalan mondar-mandir laksana singa kelaparan yang terkurung di dalam kandang sempit, dengan napas yang memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh gaun sutranya."Ini tidak mungkin terjadi! Semuanya sudah aku atur dengan sangat rapi! Zakie seharusnya sudah berhasil membawa Erinka pergi dan memeras Sugalih untuk menyerahkan takhta perusahaan hari ini!" ratap Kemala, air matanya mulai merusak riasan wajahnya yang tebal hingga tampak sangat mengerikan.Tepat pada saat itu, layar televisi besar di sudut kamarnya y
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia







