로그인She was Eliha Fair, a combative woman, positive in life, and with a work-from-home job. All she wanted was to have her own life and her own family. She was not happy with her life because she was incarcerated even though she was not a prisoner. Until she suddenly traveled in another world. And woke up to marry a vampire. Her dream is to get married. But a strange creature fulfilled her dream. She wants to escape the Vampire World because she still has a mission left in the real world. But she already loves her husband, Keegan Vampyres. Will she still leave Vampire World if she wants to keep her marriage? But can she even leave the world destined for her? And what if the sin was then revealed in another world?
더 보기Arjuna Danajaya, seorang pemuda yang malang. Dia harus kehilangan kedua orangtua dan kakak perempuannya pada kecelakaan tiga tahun silam. Bukan hanya kehilangan orang-orang terdekatnya, Arjuna harus kehilangan kemampuannya untuk berjalan. Dia dinyatakan lumpuh oleh dokter, karena saat kecelakaan kaki terjepit. Sebenarnya dia bisa saja kembali pulih, asal rutin melakukan pengobatan atau terapi.
Namun sayangnya, Arjuna tidak bisa melakukan pengobatan atau terapi. Karena dirinya sekarang diasuh oleh adek sang papa. Dan semua harta kekayaan yang dimiliki papa dan keluarganya, dikuasi oleh oomnya yang bernama Joni.
Jadi, Arjuna yang masih berusia remaja itu hanya bisa menggunakan kursi roda. Dia sama sekalitidak pernah keluar rumah. Bahkan dia pun terpaksa putus sekolah, karena oomnya tidak mau membiayai sekolahnya. Bahkan, kamarnya yang dulu berada di lantai atas, tidak bisa dikunjunginya lagi sejak kecelakaan. Dia hanya di tempatkan di sebuah kamar tamu, yang luasnya tidak begitu besar. Sangat jauh beda dengan kamarnya yang dulu.
“Juna, kerjakan PR gue dong!” seru Dimas, sepupu Arjuna yang sekarang menempati kamarnya.
Sejenak Arjuna memejamkan matanya sejenak, “Dim, gue kan sudah tidak sekolah lagi. Mana bisa gue kerjakan PR lo!”
“Jadi lo nolak permintaan gue? Eits, ini bukan permintaan, tapi perintah Juna! Setiap perintah yang keluar dari mulut gue, harus lo lakukan bagaimana pun caranya. Lagian lo dulu selalu juara kelas, masa kerjakan PR seperti ini tidak bisa, sih?”
“Ta-tapi, Dim. Gue benaran tidak bisa.”
Dimas tersenyum sinis. Dia berjalan mendekati Arjuna yang tengah duduk di kursi roda, “Juna, lo tidak mau kan, kalau laptop lo di sita sama bokap dan nyokap gue? Atau lebih parahnya lagi, gue bisa buat lo di pindahkan ke kamar pembantu yang lebih sempit. Mau?”
Arjuna terdiam, kepalanya tertunduk tidak berdaya. Jika dipindahkan ke kamar yang lebih sempit tidak masalah. Asal kamar mandi masih berada di dalam kamar itu. Tetapi, jika laptopnya di sita. Arjuna tidak mau. Karena hanya dengan laptop, dia bisa mengetahui dunia luar. Dia bisa belajar dan dia bisa berkomunikasi dengan teman-temannya.
“HEI! JANGAN MELAMUN! MAU ATAU KAGAK???” sentak Dimas.
“Ma-mau, Dim! Gue coba kerjakan ya?”
“Nah, gitu kan bagus! Jadi gue gak perlu repot-repot ngarang cerita untuk diadukan kepada papa atau mama! Yaaa, walau bagaimana pun lo masih di butuhkan di sini, Jun! Nanti kalau udah gak di butuhkan lagi, lo bakal pergi kok dengan tenang. Seperti keluarga lo yang pelit itu! Kita hanya menunggu lo cukup umur aja, biar bisa dapatin semuanya!” ujar Dimas santai.
Deg…
Jantung Arjuna seolah terhenti sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Ternyata dia dibiarkan seperti ini, karena mereka semua masih memerlukan dirinya untuk menguasai sepenuhnya harta papanya. Mungkin jika tanda tangan dan kehadirannya tidak berguna lagi, bisa saja dirinya sudah di buang ke pinggir jalan atau juga nyawanya di hilangkan begitu saja.
“Jun, klo mau tahu sesuatu tidak? Sini gue bisikin!” ujar Dimas mendekati wajahnya ke telinga Arjuna. “Ternyata buat keluarga pelit lo mati itu kagak susah ya? Hanya melakukan satu hal saja, sudah buat mereka kecelakaan dan mati! Cuma yang gue sesali kenapa lo kagak ikutan mati sih? Eh, tapi jangan dulu deh lo mati! Kalau lo mati, semua harta kekayaan keluarga lo larinya ke panti asuhan dan panti jompo. Sia-sia dong kerja ringan gue dan keluarga gue!” bisik Dimas.
“Dimaaaasss…” desis Arjuna mengepalkan tangannya kuat.
“Ya, gue di sini, Juna. Lo kenapa, mau marah? Mau benci? Mau mukul gue? Emang bisa dengan kaki lo yang lumpuh itu? Sini merangkak kearah gue,” sahut Dimas melangkah mundur menjauh dari Arjuna. “Gak bisa kan? Jadi, kalau lo gak mau menderita, lo harus turuti semua perintah gue. Jangan lupa kerjaian PR gue ya? Nanti malam gue ambil. Awas saja kalau itu belum selesai!”
Dimas keluar dari kamar Arjuna. Dia sama sekali tidak peduli jika saudara sepupunya merasa emosi karena mendengar perkataannya. Lagian, Arjuna tidak akan lama lagi berada di rumah itu. Hanya dua tahun lagi, setelah itu dia akan di tendang jauh dari rumah.
Sepeninggalan Dimas, Arjuna hanya bisa terdiam menahan amarah dalam hatinya. Selama beberapa tahun ini, dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orangtua dan kakaknya. Dia selalu berandai-andai, jika dirinya tidak meminta makan di luar. Mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Dan papa, mama serta kakaknya masih hidup sekarang.
Tapi, kenyataannya lebih sakit dari kata andainya itu. Kecelakaan yang merenggut keluarganya itu mungkin di sebabkan oleh orang terdekat, yaitu keluarga oom-nya sendiri.
“Gak, gue gak boleh nyerah. Gue harus cari dan kumpulkan bukti-bukti! Gue akan membuat mereka semua mendapatkan balasan setimpal!” gumam Arjuna.
Dia memutuskan untuk tidak menjadi orang yang lemah walau kakinya lumpuh. Orangtua dan kakaknya harus menerima keadilan jika memang kematian mereka di sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang.
Saat memikirkan itu semua, mata Arjuna teralih pada sebuah buku yang tergeletak di samping laptopnya. Buku PR yang harus dia kerjakan dan harus selesai sebelum malam tiba. Tidak ingin membuang waktu, Arjuna mendorong kursi rodanya menuju meja belajarnya.
“Soal seperti ini saja tidak bisa!” lirih Arjuna.
Arjuna mengerjakan soal matematika itu dengan serius. Namun, dia berhenti pada soal nomor 4.
“Kenapa gue harus jawab dengan benar? Manfaat untuk gue apa? Kagak ada kan? Mendingan gue jawab asal-asalan saja!” gumam Arjuna.
Untuk soal nomor 4 dan seterusnya, Arjuna jawab asal-asalan. Yang penting selesai tepat waktu dan untuk salah serta benarnya itu masalah Dimas sendiri.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
“JUNA!!! ARJUNA!!! LO DIMANA? KELUAR!!!”
Seorang wanita berusia 40 tahunan keluar dari sebuah kamar. Dia menatap anak sulungnya yang baru pulang sekolah dengan wajah merah padam.
“Dimas, kamu kenapa nak?”
“Arjuna, ma! Dia ngerjain aku?”
“Ngerjain kamu bagaimana? Dia kan tidak pernah keluar rumah. Bagaimana bisa ngerjain kamu?”
“Mama tidak ngerti!” sungut Dimas. Dia menunjuk lengannya dan wajahnya yang merah. Bukan hanya merah karena emosi saja. Tetapi merah karena paparan sinar matahari. “Karena dia, aku di jemur di lapangan, ma. Mama tahu sendiri, hari ini panas sekali kan?”
“Jadi kamu di jemur di lapangan karena Arjuna?”
“Iya, ma. Karena jawab PR aku asal-asalan. Aku dapat nilai rendah, makanya aku di jemur. Aku kepanasan, ma. Aku juga malu di tonton murid lain!” adu Dimas.
“Sialan tuh Arjuna! Bukannya dia pintar, kok bisa dia jawab asal-asalan kayak gitu?”
Kepala Dimas menggeleng, “mana aku tahu, ma. Mungkin dia kesal sama aku, karena kamarnya aku ambil!”
“Ya, tidak bisa gitu sayang! Dia kan lumpuh, mana bisa naik turun tangga. Gila aja tuh, Juna. Sudah dikasih hati malah minta jantung!” sungut Marisa, mamanya Dimas sekaligus istri dari oom-nya Arjuna. “Sudah, kamu masuk ke kamar! Biar mama yang urus Arjuna!”
“Bener, ma? Makasih ya, ma. Mama emang mama yang terbaik!” ucap Dimas mengecup pipi mamanya sekilas, sebelum akhirnya dia naik ke lantai dua masuk ke kamar milik Arjuna.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Byuuurrr…
Satu gayung air membasahi wajah Arjuna yang baru saja terlelap.
“Bagus ya? Anak saya di hukum panas-panasan, kamu malah enak-enakan tidur di sini!” seru tante Marisa dengan tangan berkacak di pinggang.
Arjuna terbangun dengan keadaan bingung. Dia menatap sekelilingnya yang tampak asing bagi dirinya. Belum lagi di dekatnya berdiri wanita asing yang sama sekali tidak dia kenali.
“Hei, malah melongo! Bangun kamu!!!”
“Anda siapa? Kenapa saya ada di sini?” tanya Juna dengan wajah bingung.
Tante Marisa semakin merasa kesal dengan keponakannya, dia berjalan mendekati dan hendak memberikan keponakannya pelajaran.
“ARJUNAAAAA!!!” desis Tante Marisa sambil mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Arjuna.
“Anda mau mukul saya? Anda siapa?”
“Ka-kamu beneran lupa dengan tante? Kamu Arjuna kan?”
Dahi Arjuna mengernyit, “Arjuna? Saya Arjuno!”
“Hah? Sinting kamu!” seru tante Marisa keluar dari kamar Arjuna yang merasa jika keponakan suaminya iru tengah berakting. Padahal tanpa dia tahu, jika memang ada hal yang aneh pada Arjuna. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Arjuna kembali seperti biasa, bukan seperti Arjuno. Dia yang cukup kesal dengan tingkah keponakan dari suaminya, mulai merencanakan sesuatu. Sesuatu yang bisa memberikan pelajaran kepada Arjuna tanpa disadari oleh pemuda lumpuh itu.
Kasalukuyan akong nasa terrace."Hi."Napalingon ako kay Keegan. "Ikaw pala. Kumusta ka na? Alam kong hindi naging madali ang pagluluksa mo para kay Eliha."Nagulat ako nang bigla niya akong yakapin. 'Yung yakap na sobrang higpit. "Matagal kang naging mabuti sa akin, Keegan. Kaya nandito lang ako para makinig sa 'yo.""Walang katumbas na salita kapag ika'y yakap ko, Eliha." Hinimas niya ang buhok ko. "Maraming salamat."Huminga lamang ako ng malalim. Humiwalay ako kay Keegan. "Keegan, mayroon akong sasabihin. Alam kong hindi ka maniniwala at hindi mo maiintindihan pero... gusto ko pa ring sabihin sa 'yo."Hinawakan niya ang kanan kong pisnge. "Handa pa rin akong makinig. Habambuhay akong makikinig sa 'yo."Mariin ko siyang tinitigan, "Keegan, patawarin mo ako sa nagawa ko noon. Mahirap man na sabihin 'to at paniwalaan, naging tao ka noon."Ikinuwento ko ang lahat kay Keegan. Simula sa pag-aabang nila sa amin ng members niya. At ang malala na naging laban namin."Hindi rin pala magan
**"Keha! Anak!"Kanina ko pa hinahanap ang anak ko. "Mama!" masayang sigaw ng aking prinsesa mula sa likod ko. Pagharap ko, nakita ko siya with Keegan. Dalaga na kaagad ang anak ko. Ang bilis niyang lumaki. Ganu'n talaga kapag bampira. Nahirapan ako sa panganganak sa kanya noon, pero masasabi kong worth it."Mama! Alam mo ba, nagpaunahan kami ni papa na tumakbo papunta sa lugar na may nyebe!""Talaga, anak? Sobrang saya mo 'no?""Yes mama! Sobra! Sa susunod, gusto ko na kasama ka na namin ni papa."Ngumiti lang ako sa kanya. Matagal na kaming hindi nag-uusap ni Keegan. Pero kapag kasama si Keha, kahit papaano ay nag-uusap kami. Biglang um-appear si Kein sa harapan naming tatlo. "Kein!" masayang tawag ni Keha kay Kein. Kumaway si Kein kay Keha at binigyan niya ng malaking ngiti ang aking anak."Eliha, ang aking am-" hindi natuloy ni Kein ang sasabihin niya.Sumulpot si king Keg sa harapan namin. Ngumisi siya sa amin. Tinitigan niya ng mabuti ang aking anak.Tumitig si Kein sa a
Ang taong nakita ko na napatay ko dati na leader yata ng gangster group na inabangan kami ay walang iba kundi si Keegan.Kaya ba nakatadhana na magkita kami para makahingi rin ako ng tawad sa kanya sa kasalanan ko noon? Na kung tutuusin ay hindi ko naman talaga sinasadya. Na na-provoke lang ako at ang mga kasamahan ko na lumaban. Pero kasalanan pa rin ang pumatay ng tao. Nasa kwarto ako ngayon, nagkukulong. Sumipa ang baby sa tyan ko, nararamdaman niya siguro na sobrang lungkot ko. Anak, pasensya na kung noong tao pa kami ng papa Keegan mo, aksidente ko siyang napatay. Sobra akong nakokonsensya dahil iniisip ko palagi na baka marami pang gustong gawin sa buhay niya 'yong napatay ko. Pero kasi, ang yayabang nila, ano ba naman ang laban naming mga babae. Hindi rin naman namin akalain na makakapatay talaga kami. Walang araw na hindi ako hinabol ng konsensya ko dahil kasalanan sa Diyos ang nagawa ko.So, si Keegan ay na-reborn bilang bampira. Hindi ko talaga inaasahan na magtatagpo p
Iminulat ko ang mga mata ko dahil naramdaman kong sumipa si baby. Umupo muna ako sa kama pero mayroon akong napansin sa bintana. May nilalang kaya roon na sumisilip sa akin?Lumapit ako sa bintana. Laking gulat ko dahil bumungad sa akin si Keegan na may dalang 'di ko alam na pangalan ng prutas. "A-ano bang ginagawa mo rito?!""P'wede ba na makasama kita kahit ngayong gabi lang?" pakiusap niya. "Ano bang sinasabi mo?! Gagawin mo ba akong kabit?""H-hindi sa gano'n-""Gano'n 'yun, Keegan! Sana naman ay isipin mo ang mararamdaman ng asawa mo at ang nararamdaman ko ngayon!""H-hindi ako aalis rito, gusto ko na makasama ka at ang ating magiging anak.""Ayaw ko.""Gusto ko.""Wala akong pakialam sa gusto mo.""Pero, Keegan! Hindi ikaw ang masusunod."Hindi siya sumagot. Bagkus niyakap niya ako nang mahigpit. Napapikit ako dahil 'yun ang gusto kong gawin niya pero hindi naman ako selfish.Itinulak ko siya. "Kung gusto mo akong makasama ay huwag kang tatabi sa kama ko. Matulog ka sa baba at
Eliha's POV:Boluntaryo akong naghugas ng mga baso nila na may blood kahit na marami silang maid dito. Mayroon kasing dumating na mga pinsan ni Keegan. Ang nakakainis ay grabe sila tumingin sa akin. Habang naghuhugas ako ay pakiramdam ko'y mayroong kakaibang nilalang sa likod ko.Hanggang sa bigla
Eliha's POV:Ilang oras akong nakatingin sa langit. Hindi ko na napigilang umiyak dahil natatakot na ako. Si Keegan kasi ang lumigtas sa akin kahapon. Oo isa siyang bampira, normal na gano'n ang war or fight action nila pero nakaka-trauma para sa akin. At nakakapagtaka dahil bakit hindi sumisikat an
Eliha's POV:Nagising ako dahil sa sobrang init at sa pawis ko na tumutulo. Napangiti akong umupo sa kama dahil alam kong nasa bahay na ako. Pero nagulat ako dahil nasa isang madilim na kwarto ako habang nakaupo sa malaking kama. Tanging kandila lang ang nagbibigay ng liwanag. Ganito 'yung.."Aking
Eliha's POV:Nagulat ako dahil may biglang humila sa mga paa ko. Nang imulat ko ang mga mata ko ay nakita ko siya."Bitawan mo ako, Dad!""Manahimik ka! Akala mo ba ay hindi kita mahahanap dito?"Hindi na lang ako sumagot. Habang hinihila niya ang mga paa ko ay natatamaan ang likod ko kaya sobrang s












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
리뷰