مشاركة

Bab 4

مؤلف: Er_Su
last update تاريخ النشر: 2026-09-24 18:37:52

Tubuh Mely jatuh tepat di atas Budi, wajahnya di leher Budi dengan hembusan yang terasa sampai ke telinga dan membuat bulu kuduknya berdiri. Bagian dadanya menempel di telapak tangan Budi saat ini dan gerakan yang naik turun dengan irama napas yang tidak teratur.

Tubuh Budi mematung. Tangannya tremor, tapi ia tetap berusaha untuk menopang tubuh  Mely agar tak semakin ambruk ke tubuhnya. Dan satu yang ia sadari, bahwa ia kuat. Tangannya mampu menahan tubuh itu cukup lama.

Budi termenung sejenak menatap punggung tangan yang terlihat ototnya, bukan urat kurus.

“Mas, maaf. Rupanya malah jatuh sama sama,” ucap Mely padanya, tak enak karena tak berhasil menolong.

Tapi saat akan tegak, Mely baru sadar jika telapak tangan Budi ada di dadanya. Ia yang kaget plus malu itu menarik napas panjang, wajahnya panik dan sudah akan teriak.

“Eh, jangan!” Budi langsung lepas salah satu tangan di dada Mely itu untuk membungkam mulut gadis itu, dan tangan yang satunya masih di tempat tak beranjak sama sekali.

“Eehmmh!” Mely mau tak mau mengangguk dengan permintaan Budi dan ia tak teriak lagi. Lalu Budi lepaskan cengkraman di mulut itu.

Satu tangan Budi juga dilepaskan di bagian dada satunya, mereka hanya sama sama spontan tadi dan syok dengan kejadian itu. Mely juga masih duduk di atas pangkuan Budi, sepertinya masih nyaman hingga enggan beranjak.

“Kamu sih, Mel. Aku udah bilang kalau jagan dipegang, kenapa masih pegang juga?” tanya Budi padanya dengan wajah yang sedikit kesal karena menahan sakit.

“Namanya juga penasaran, Mas. Cuma pegang bagian itu aja, kan? Mel juga ngga pegang bagian yang lain.” Meski ia juga sebenarnya penasaran.

“Heh! Bagian apa maksudnya?” tukas Budi, tapi Mely justru cengar cengir padanya.

“Ah, Mas ini sosoan nggak tahu, ih. Sudah sering dipancing, juga!” Sengaja sekali Mely ini, bergerak menggoyangkan pinggulnya yang masih di atas tubuh Budi.

Posisi kaki mereka menyilang. Satu kaki Mely di luar dan satunya dihimpit kedua kaki Budi. Posisi itu sebenarnya cukup tegang untuk mereka berdua, apalagi Mely yang sambari bicara tak bisa diam terus goyang goyangkan tubuhnya.

“Ayo, Mel. Ngapain di situ terus? Aku masih mau ke lapangan ini,” tegur Budi padanya. “Nggak usah penasaran, nanti kamu malah kecelik sendiri,” imbuhnya dengan nada memperingatkan.

“Kecelik apa? Cuma—” Mendadak Mely merasakan sesuatu yang menonjol di bagian bawah Budi, tepat area yang ia duduki.

Mely terkejut, membulatkan mata dan menarik napas kuat kuat sangking kagetnya. Justru terlihat seperti orang yang takut dengan sesuatu.

“Kamu kenapa, Mel? Udah aku bilang kan, jangan. Kamu nekat,” ucap Budi dengan wajah yang tampak kecewa. Ia juga takut jika tiba tiba Mely langsung mentertwakan rudalnya yang mini itu.

“Aah! Enggak, Mas. Me-Mely pergi dulu, permisi.” Gadis itu langsung bangkit dari pangkuan Budi dan pergi dengan langkahnya yang tergesa gesa.

“Hhhhh!” Budi mendengkus napas pendek. “Kan, beneran. Masih mending dia nggak ngetawain barusan. Tapi, pasti dia ilfeel banget sama si  mini.” Budi duduk dengan wajah yang lesu.

Dia tidak marah, dia juga tidak memanggil Mely untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin akan semakin memperkeruh suasana nanti. Ia hanya tatap kepergian Mely, dan menatap punggungnya yang sudah semakin menjauh.

Tangan Budi mengepal pelan, hanya menahan diri untuk tidak menangis. Ia hanya masih kecewa pada dirinya sendiri akan selalu diremehkan hanya karena belalai mini yang ia miliki.

Tapi saat ia menunduk dengan rasa kecewa itu, ia melihat bagian celananya yang menonjol dengan ukuran yang cukup besar. Ia sampai menelengkan kepalanya sendiri dan memastikan bahwa itu benar benar tonjolan dari rudalnya.

“Bentar bentar!” Budi kemudian menutup pintu kamar mandi dan membuka celananya untuk memastikan yang ada di dalam sana. “Kyaaa!” Budi kaget, ketika rudal mininya kedapatan menjadi lebih besar dari yang biasa.

 “Meskipun tadi sempat terpancing dengan Mely, tapi biasanya tidak sebesar ini. Bahkan ketika dengan Sinta.” Ia teringat kejadian tadi malam lagi. Sinta merayunya gila gilaan, sementara Mely tidak sengaja dan terkesan biasa saja.

Kepala Budi mendadak berat, matanya berkunang kunang dan tubuhnya lemas. Ia lama kelamaan terhuyung, nyaris pingsan sangking kagetnya dengan keajaiban yang lagi lagi terjadi pada tubuhnya itu.

Budi menggelengkan kepala, ia berusaha segera mengembalikan kesadaran dan menarik napas panjang beberapa kali sampai hatinya terasa lega. Tapi Budi tersenyum untuk pertama kalinya sejak kemarin.

“Apa gara gara gigi emas ini? Akhirnya, aku mendapat keberuntungan itu!” ucapnya dengan begitu bangga.

 Tapi Budi tidak bisa menuntaskan kebahagiaannya itu. Mendadak pintu kamar mndi diketuk, pasti para kakek yang sudah pulang dari senam.

 “Mas Bud, maem!” panggil mbah Mul yang memang biasanya dilayani olehnya.

“Ya, Mbah!” Budi menjawab dengan cepat agar si kakek tidak mengetuk terus menerus.

Kemudian ia keluar untuk mulai layani para lansianya yang sudah menunggu sejak tadi. Kakek Mul juga berjalan pelan sekali ketika tahu Budi keluar, duduk perlahan bersama mbah Harjo dan kek Burhan.

“Kenapa kamu di kamar mandi lama sekali? Main tangan kamu, ya?” tukas kek Burhan padanya.

“Heh, main tangan gimana, maksud Kakek?” tanya Budi.

“Heleh, kamu itu bujang, kok nggak tahu main tangan. Pura pura kamu, yo?” ledek pak tua itu padanya. Meski usia sudah 60 tahun, tapi dia masih tetap aktif seolah tak ingat usia.

Budi menggelengkan kepala dengan kelakuan kakek satu itu. Memang omonganya tajam, tapi pada Budi yang selalu merawatnya, ia perhatian dan kadang memberi uang saku untuk membeli rokok.

Kakek Burhan juga selalu dapat kiriman dari cucunya yang di kota, dan kadang dibawakan cemilan tiap sang cucu datang membesuknya. Cemilan itu kemudian dinikmati bersama dengan rekan rekan lansia yang lain, duduk di teras sembari menikmati suasana malam ala Griya Wilasita.

Mengasuh para lansia itu memang memakan waktu dan tenaga. Tapi itu semua sudah keputusan yang diambil oleh Budi dengan  pertimbangan yang begitu matang. Ia juga sudah betah di sana seiring waktu berjalan.

Hari hari Budi jalani dengan semua kegiatannya bersama lansia dengan berbagai karakter itu. Lelah, marah, dan kadang ingin menangis dengan tingkah mereka yang seperti balita.

Hingga tak terasa hari suda mulai sore. Budi mandikan mereka satu persatu, ia gantikan baju dengan yang rapi dan wangi.

“Mau ke mana setelah ini?” goda Budi pada kek Burhan yang sudah pakai baju sendiri, dan memilih kemeja rapi.

“Kok tanya saya. Kamu itu loh, yang harusnya ditanya,” balas kek Burhan padanya.

“Loh, kok saya?” balas Budi, menunjuk diri sendiri dan berhenti sejenak menyisir rambut mbah Harjo.

“Kamu itu, masa kalah sama saya yang sudah tua ini. Saya masih ngganteng dan gagah. Kamu tahu saya punya pacar?”

“Ya, tahu. Nek Lastri, kan?” tanya Budi.

“Hust! Jangan nenek, wong dia masih muda kinyis kinyis kok!” tegur mbah Harjo dengan tegas.

“Iya, Bude.” Budi mau tak mau mengalah demi kedamaian bersama.

“Yo, Bude. Kamu, pacarnya mana? Keburu tuek, sama orang tua terus. Auramu jadi ikut tuek.”

Budi menarik napas panjang. Ucapan itu, membuat Budi kena mental. Tapi, ia harus sabar menghadapi momongannya itu.

Tapi, yang dibilang kek Burhan ada benarnya juga. Budi menatap wajahnya sendiri di kaca, rambut berantakan dan wajahnya terlihat kusam. Ia butuh permak sepertinya.

“Iya, aku setidaknya harus merapikan diri. Nanti potong rambut, ah. Sambil jalan buat cari seragam baru. Seragamku sempit sekali rasanya,” gumam Budi dalam hati.

Kek Burhan yang baru menceramahinya itu langsung pergi begitu saja dengan mulut yang tak berhenti bersenandung.

Setelah semua lansianya rapi, ia titip sebentar para perawat lain untuk pergi sebelum hari mulai malam.

“Mau kemana kamu?”’ tanya Cipto, salah satu perawat yang ia hampiri.

“Ke tukang jahit, bentar aja!” ucap Budi yang lari kecil menuju motornya itu.

Budi keluar dari gerbang, celingukan sana sini berjaga siapa tahu mbah Ipah kabur lagi. Ketika aman, ia baru pergi dari panti.

“Tapi… potong rambut dulu apa, ya? Itu, salon mbak Naning masih buka,” lirik Budi pada salon kecil yang ada di depan panti itu.

Tanpa pikir panjang, Danu belok dan segera menghentikan motornya tepat di depan salon. Ia ketuk pintu salon itu beberapa kali, tapi tak ada yang keluar dari dalam.

“Mbak! Mbak Naning! Mau potong rambut, Mbak!” panggil Budi beberapa kali, tapi tidak membuahkan hasil.

Karena sudah biasa dan sudah akrab dengan pemilik salonnya, Budi perlahan masuk sendiri dan mencari keberadaan Naning di dalam rumah. Ia telusuri, hingga langkahnya terhenti di sebuah kamar dengan gorden yang terbuka separuh.

“Astaga, Mbak Ning!”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 8

    Pertanyaan dan kekagetan bu Puspa saat itu membuat Budi langsung menutup bagian rudalnya. Ia gugup dan wajahnya memerah."Anu Bu, maaf, mungkin ini gara gara kedinginan tadi, jadinya-""Kamu butuh kehangatan?" Bu Puspa memancing dan pandangannya terus tertuju pada rudal itu."Bu-bukan gitu, maksudnya-""Udahlah, kamu ini, kayak sama siapa aja." Bu Puspa langsung mengibaskan tangan ke wajah Budi."Kamu, lihatin punya saya?" Wanita itu melirik mata Budi yang sejak tadi mengarah ke pepaya mengkalnya."Nggak ngelihatin, Bu. Wong kelihatan, gimana?" balas Budi."Kamu tahu, kalau saya nggak pakai kacamata? Hayo!" Mata bu Puspa menyipit, dan Budi langsung salah tingkah dibuatnya.Melihat Budi yang bingung sendiri, bu Puspa tertawa gemas. "Iya, memang nggak pake. Kan, biar gampang bukanya nanti."Wanita itu kemudian duduk membelakangi Budi, lalu menurunkan bagian atas kimononya hingga ke pinggul. Tangannya memegangi bagian depan agar tak ikut melorot.Gluk!Budi terpana dengan kemulusan tubuh

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 7

    Akhirnya, Budi tetap menaikinya. Kakinya dorong motor itu dengan begitu cepat bergerak, hingga ia dan motornya menjauh dari rumah Naning. Setelah itu, ia belok dan masuk ke gerbang Griya.Napas Budi ngos ngosan, tubuhnya berkeringat seperti orang yang baru saja olahraga. Tapi, itu memang olahraga tanpa disengaja.Budi istirahat sebentar, ia standarkan motornya dan ia sendiri duduk di pinggir gerbang untuk normalkan irama napasnya yang masih berat.“Haduh, gila! Ada aja penemuanku dari kemaren. Udahlah mergoki pak kepala, sekarang mergokin Naning main sendiri pula. Hah! Haaah!”Tapi kemudian Budi memegangi rudal mininya lagi, yang sempat menonjol dan tegak dua kali hanya karena dekat dengan Naning. Ia heran, kenapa belakangan ini si mini cepat sekali terpancing dengan hal hal yang kecil.“Aku tahu, kamu sekarang udah lumayan besar dari yang biasa. Tapi aku masih bingung, aku juga masih takut kalau kamu … belum bisa seperti yang aku inginkan.”Budi masih belum percaya diri dengan ukura

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 6

    “Uh, lembut banget. Memang selembut ini kah, rasanya? Meski aroma asi, tapi justru kenapa wangi sekali? Aku seperti berada di surga!” Budi terus meracau dalam hati.Budi mungkin sedang berkhayal bahwa ia berada diantara bantalan empuk yang sangat nyaman, ia bisa tidur sepuasnya tanpa gangguan dari para lansia seperti biasa.Aroma asi yang keluar dari melon super itu, juga seperti menjadi relaksasi untuk Budi yang sempat stres ditekan pekerjaan. Belum lagi dengan semua hinaan semalam yang masih terngiang di kepala.“Oh, maaf, Mas Bud. Kekencengan, ya?” tanya Naning.Sontak saja semua khayalan Budi dengan semua kenikmatan yang ia rasakan jadi buyar. Ia langsung melepaskan kepalanya dari cengkraman melon jepang yang seolah akan menghisap wajahnya sampai kehabisan napas.“Enggak, Mbak Ning. Terusin aja, nggak papa.” Budi sendiri berusaha untuk tetap tenang.Wanita itu wajahnya bersemu merah, ia takut jika Budi salah paham padanya hanya karena kejadian ini.“Yaudah, kita lanjutin, ya?” lanj

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 5

    “Astaga, Mbak Ning!” Budi terbelalak melihat Naning yang sedang tidur di ranjang bersama putra yang masih balita.Janda cantik itu mengenakan daster pendek, sangat tipis yang sepertinya ia beli di toko serba 35. Bagian atas tubuhnya terbuka, dan terlihat anaknya masih menyusu. Sangking nyenyaknya tidur, ia tak sadar jika bagian bawah daster pendeknya itu juga sudah naik hingga memperlihatkan dalamannya.Jakun Budi naik turun menatap itu, ia toleh kanan kiri. Pemandangan yang sangat indah dipandang mata, tapi juga tidak baik jika ia nikmati dalam waktu lama. Belum lagi jika ada orang mendadak masuk, disangka ia mau melakukan sesuatu pada Naning nanti.“Aduh, gimana ini, ya? Bangunin, apa pergi?” galau Budi yang berdiri tepat di depan pintu kamar itu.Hatinya bimbang. Langkah kakinya perlahan mundur, ia membalik badan dan segera keluar menuju motor tuanya yang terparkir di halaman salon kecil itu.“Tapi, nanti kalau ada orang lain masuk dan lihat dia dalam keadaan yang begitu, malah jad

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 4

    Tubuh Mely jatuh tepat di atas Budi, wajahnya di leher Budi dengan hembusan yang terasa sampai ke telinga dan membuat bulu kuduknya berdiri. Bagian dadanya menempel di telapak tangan Budi saat ini dan gerakan yang naik turun dengan irama napas yang tidak teratur.Tubuh Budi mematung. Tangannya tremor, tapi ia tetap berusaha untuk menopang tubuh Mely agar tak semakin ambruk ke tubuhnya. Dan satu yang ia sadari, bahwa ia kuat. Tangannya mampu menahan tubuh itu cukup lama.Budi termenung sejenak menatap punggung tangan yang terlihat ototnya, bukan urat kurus.“Mas, maaf. Rupanya malah jatuh sama sama,” ucap Mely padanya, tak enak karena tak berhasil menolong.Tapi saat akan tegak, Mely baru sadar jika telapak tangan Budi ada di dadanya. Ia yang kaget plus malu itu menarik napas panjang, wajahnya panik dan sudah akan teriak.“Eh, jangan!” Budi langsung lepas salah satu tangan di dada Mely itu untuk membungkam mulut gadis itu, dan tangan yang satunya masih di tempat tak beranjak sama seka

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 3

    “Mas ngganteng ini, sopo toh?” tanya mbah Upik yang sampai tidak jadi kabur ketika melihat sosok yang terasa asing di matanya itu.Awalnya Budi anggap karena wanita tua itu memang sudah pikun, tapi tiba tiba Sinta datang menghampirinya.“Mas Budi?” sapa wanita itu dengan dahi mengerenyit heran. Ia pandangi tubuh Budi dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia telusuri tubuh pria yang ia rasa berbeda tiba tiba. Sinta sampai bersedekap, dan bibirnya miring kanan kiri menahan pertanyaan yang mungkin bingung harus ia mulai darimana.Budi yang masih canggung itu teringat kejadian semalam, terutama ketika tatapan Sinta seolah berhenti sejenak pada belalai mininya yang semalam ia hina dan ia tertawakan dengan begitu membabi buta.Dari tatapan mata Sinta, itu menggambarkan semua isi hatinya.“Ya, Bu Sinta. Maaf saya agak telat ikut senam, karena tadi urus rumah dulu. Jadinya—”“Loh, Mas Budi toh ini? Kok beda? Hahaha!” Mbah Ipah lantas tertawa padanya.“Beda? Beda apanya, Mbah?” tanya Budi yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status