تسجيل الدخول“Mas ngganteng ini, sopo toh?” tanya mbah Upik yang sampai tidak jadi kabur ketika melihat sosok yang terasa asing di matanya itu.
Awalnya Budi anggap karena wanita tua itu memang sudah pikun, tapi tiba tiba Sinta datang menghampirinya.
“Mas Budi?” sapa wanita itu dengan dahi mengerenyit heran. Ia pandangi tubuh Budi dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia telusuri tubuh pria yang ia rasa berbeda tiba tiba.
Sinta sampai bersedekap, dan bibirnya miring kanan kiri menahan pertanyaan yang mungkin bingung harus ia mulai darimana.
Budi yang masih canggung itu teringat kejadian semalam, terutama ketika tatapan Sinta seolah berhenti sejenak pada belalai mininya yang semalam ia hina dan ia tertawakan dengan begitu membabi buta.
Dari tatapan mata Sinta, itu menggambarkan semua isi hatinya.
“Ya, Bu Sinta. Maaf saya agak telat ikut senam, karena tadi urus rumah dulu. Jadinya—”
“Loh, Mas Budi toh ini? Kok beda? Hahaha!” Mbah Ipah lantas tertawa padanya.
“Beda? Beda apanya, Mbah?” tanya Budi yang masih bingung.
“Itu, kenapa jadi kayak si Bono yang pake gigi emas? Hahaha! Kapan pasangnya?” tanya si mbah yang tertawa sampai perutnya kaku.
Mbah Ipah memang selalu tertawakan gigi emas kakek Bono selama ini, hingga kadang mereka bertengkar seperti remaja puber hingga membuat repot seisi panti.
Mendengar tawa yang menggelegar dari mbah Ipah dan tatapan Sinta yang membenarkan semuanya, Budi langsung bingung dan meraih sebuah kaca yang ada di tangan seorang perawat saat itu. Dibawa memang untuk mendadani beberapa nenek agar lebih rapi.
Budi masih tak percaya, tapi gigi emas itu jelas nyata terpasang pada bagian yang bolong. Pantas saja saat sikat gigi tadi, Budi tidak merasakan perih.
“Gilak!” Budi langsung taruh kaca itu dan ia tinggalkan barisan. Ia lari untuk kembali ke rumah lansia untuk mengecek semua yang terjadi pada dirinya itu.
Tiba di rumah, Budi segera masuk ke kamar mandi dan ia lihat dirinya sendiri di kacar besar.
“Apa? Benar gigi emas! Apa, ini gigi yang diberikan kakek tadi malam?” Budi teringat dengan bungkusan kecil yang belum sempat dibuka dalam mimpinya itu.
Budi melotot, sampai pada akhirnya ia tepuk wajahnya sendiri beberapa kali untuk memastikan bahwa ia sudah bangun dari mimpi. Lalu tatap tubuhnya yang memang ada perubahan, dari wajahnya yang sedikit berisi, lehernya yang sudah tidak kurus lagi sampai bahunya yang tegap walau lengannya belum berotot.
Saat Budi membuka kemeja yang tadi pagi ia rasa sempit itu, ia juga terbelalak saat melihat dadanya yang sudah tidak cungkring lagi dari yang tadinya tulang rusuk sampai terlihat. Perutnya juga sudah tidak cekung seperti orang kurang gizi.
Budi jelas masih tidak percaya. Ia yang nyaris tidak pernah merasakan dapat keberuntungan dalam hidupnya, mendadak dapat gigi emas palsu dengan cara yang ajaib.
Untuk memastikan tentang gigi itu, Budi meraih salah satu gagang sikat gigi untuk mengetuknya beberapa kali.
“Aarrgh! Sakit!” Budi memekik, tapi ia yakin bahwa itu memang asli.
Salah satu perubahan yang Budi rasakan adalah di bagian bawah yang terasa sempit di celana. Budi meraih rudal mininya itu dengan ragu, sampai ia memejamkan mata saat ingin memastikan.
“Mas? Mas Budi di rumah?” Suara seorang wanita muncul tiba tiba di rumah itu.
Pasti Mely. Gadsi berusia 25 itu adalah petugas yang bekerja di bagian dapur. Setiap pagi, ia antar makanan ke rumah lansia untuk sarapan.
Sejak Budi masuk kerja di Griya, Mely adalah yang pertama ramah padanya. Ia selalu menjadi teman Budi ketika kesepian dan butuh teman cerita. Mely pasti mendengar teriakan Budi barusan dan penasaran dengan apa yang terjadi padanya.
Mely takut terjadi sesuatu Budi saat ini. Gadis itu ingat betul bagaimana cerita sedih Budi yang ditinggal calon istri dan barusan ditinggal kakek Bono yang sudah seperti kakek sendiri.
Gadis itu perlahan masuk, bertemu di ambang pintu dengan Budi yang tadinya mau keluar menghampirinya di luar.
“Ah! Mas… Budi?” kaget gadis itu saat melihat Budi, tak ubahnya seperti mereka yang ada di lapangan tadi.
“Dek Mely, baru anter nasi, ya?” tanya Budi padanya.
“Iya, Mas. Tadi agak telat, soalnya Ina nggak masuk.” Mely menjawab seperti biasa, tapi tatapannya pada Budi tidak bisa dihindari lagi pada beberapa bagian tubuh yang membuatnya nyaris lupa berkedip.
Wanita dengan kemeja dan celana bahannya itu masih menggunakan celemek dapur. Tubuhnya penuh aroma lauk tapi tetap harum, rambutnya dibungkus rapi, hingga lehernya yang mulus berkeringat itu terlihat jejang dan seksi.
Mely gadis yang cantik. Kulitnya sawo matang, matanya belo dan alisnya tebal. Tubuhnya juga tinggi semampai, kakinya sangat indah dengan pinggul seperti biola. Jika tersenyum, lesung pipitnya terlihat indah sekali.
Gadis itu suka dengan Budi sejak lama, dan semua orang bisa melihat itu dari caranya menatap dan bahkan saat sengaja menggoda Budi. Bahkan kadang Mely sengaja membahas hal dewasa pada Budi, dengan pancingan pancingan ala Mely. Niatnya agar Budi tergoda.
Tapi, Budi selalu insecure pada diri sendiri dan masih sulit membuka hati. Terutama dengan belalainya yang mini.
“Mas, kenapa. Kok teriak?” tanya Mely padanya.
“Ah, nggak papa. Tadi itu cuma kaget dikit,” bohong Budi padanya. Tapi, gadis itu seolah tak begitu mendengar dan justru terus menatap tubuhnya.
“Mel baru sadar, kalau badan Mas Budi sebagus ini. Apa karena Mas pakai baju besar, jadi badanya ketutup dan terlihat kurus?” tanya Mely yang langsung terpesona.
Padahal Budi juga baru tahu dengan perubahan ini, tapi ia tak tahu harus menjelaskannya dengan cara apa. Gadis itu pasti tak percaya jika semuanya adalah sebuah keajaiban.
“Heheh, jadi malu.” Budi berusaha menutupi tubuhnya dari gadis itu lagi.
Tapi rasa penasaran Mely tidaklah bisa sirna begitu saja. Semakin Budi berusaha mengelak darinya, semakin gadis itu bertanya tanya dan kagum padanya.
Mely ulurkan tangan, ia bergerak meraih lengan Budi yang memang sedikit membesar itu. Mereka dekat sekali sampai perubahan begitu terlihat bagi Mely, lalu ia elus-elus lengan itu dengan gerakan lembut.
“Mel, jangan!” Budi merasa tak nyaman.
“Bentar, Mas. Aku penasaran sama ini, kok gede? Perasaan, kemarin nggak gini, Mas?” tanya gadis itu dengan seringainya pada kegugupan Budi.
Tangan Budi coba tepis sentuhan itu berkali kali, tapi Mely justru mencebik dan memberinya tatapan tajam. Hingga makin lama, rasa penasaran Mely semakin jauh dan ia raih dada Budi dengan kemeja yang terbuka.
“Mas, ada ototnya! Kemarin nggak ada juga, kan? Mas kapan olahraga? Kok nggak ajak Mely?” tanya gadis itu lagi.
“Nggak ada, Mel. Jangan, ah!”
Budi gugup, wajahnya panas dingin dan pasti sudah merah. Hanya saja, perhatian Mely masih tertuju pada dada dan perutnya yang menggoda itu. Itu membuat Budi merinding saat ini.
“Ih, badannya bagus kayak Gege China.” Mely sampai menggigit bibirnya.
Budi dibuatnya semakin gugup, ia takut Mely semakin menjadi dan ke area lain nantinya. Kadang, semakin dilarang justru akan semakin penasaran.
Budi sampai mundur satu langkah demi bisa hindari gadis itu, tapi Mely justru maju dua langkah sampai tubuh keduanya begitu dekat. Bahkan dua bukit kembar Mely yang terbungkus rapat di kemeja nyaris menempel dengan erat.
Budi takut, tapi bukan takut pada Mely. Tapi ia takut jika kejadian tadi malam terulang lagi. Ia tak mau Mely terlalu jauh bergerak, terpancing dan pada akhirnya ia kecewa jika yang membuatnya penasaran tidak sesuai dengan kenyataan.
Budi takut, hal itu justru akan menjadi jarak untuk hubungan keduanya.
“Mel, jangan Mel. Nanti ada yang lihat, dikiranya kita lagi ngapain.” Budi terus menolak dan mundur lagi beberapa langkah darinya.
“Mas kayak sama siapa aja, sih!” tukas gadis itu padanya.
Tapi apes, di kamar mandi itu ada mainan salah satu kakek yang lolos dari pembersihan yang Budi lakukan. Mainan itu terinjak oleh Budi, membuat tubuhnya limbung dan ia tak dapat mengendalikan diri.
“Eh, Mas!” Mely kaget saat tubuh Budi tersungkur ke belakang. Awalnya ia berniat baik, ia raih kemeja Budi dan menahannya agar tidak jadi jatuh. Tapi, pada akhirnya mereka tersungkur bersama.
Brugh!
“Wuaduuuh!” Budi meringis dengan pinggang yang sakit dan bokongnya terkena kereta api kecil milik mbah Harjo.
Tapi, saat itu Budi juga merasakan sesuatu di kedua telapak tangan saat tubuh Mely jatuh di atasnya. “Aah! Apa ini?” Budi kaget ketika ia membuka mata.
Pertanyaan dan kekagetan bu Puspa saat itu membuat Budi langsung menutup bagian rudalnya. Ia gugup dan wajahnya memerah."Anu Bu, maaf, mungkin ini gara gara kedinginan tadi, jadinya-""Kamu butuh kehangatan?" Bu Puspa memancing dan pandangannya terus tertuju pada rudal itu."Bu-bukan gitu, maksudnya-""Udahlah, kamu ini, kayak sama siapa aja." Bu Puspa langsung mengibaskan tangan ke wajah Budi."Kamu, lihatin punya saya?" Wanita itu melirik mata Budi yang sejak tadi mengarah ke pepaya mengkalnya."Nggak ngelihatin, Bu. Wong kelihatan, gimana?" balas Budi."Kamu tahu, kalau saya nggak pakai kacamata? Hayo!" Mata bu Puspa menyipit, dan Budi langsung salah tingkah dibuatnya.Melihat Budi yang bingung sendiri, bu Puspa tertawa gemas. "Iya, memang nggak pake. Kan, biar gampang bukanya nanti."Wanita itu kemudian duduk membelakangi Budi, lalu menurunkan bagian atas kimononya hingga ke pinggul. Tangannya memegangi bagian depan agar tak ikut melorot.Gluk!Budi terpana dengan kemulusan tubuh
Akhirnya, Budi tetap menaikinya. Kakinya dorong motor itu dengan begitu cepat bergerak, hingga ia dan motornya menjauh dari rumah Naning. Setelah itu, ia belok dan masuk ke gerbang Griya.Napas Budi ngos ngosan, tubuhnya berkeringat seperti orang yang baru saja olahraga. Tapi, itu memang olahraga tanpa disengaja.Budi istirahat sebentar, ia standarkan motornya dan ia sendiri duduk di pinggir gerbang untuk normalkan irama napasnya yang masih berat.“Haduh, gila! Ada aja penemuanku dari kemaren. Udahlah mergoki pak kepala, sekarang mergokin Naning main sendiri pula. Hah! Haaah!”Tapi kemudian Budi memegangi rudal mininya lagi, yang sempat menonjol dan tegak dua kali hanya karena dekat dengan Naning. Ia heran, kenapa belakangan ini si mini cepat sekali terpancing dengan hal hal yang kecil.“Aku tahu, kamu sekarang udah lumayan besar dari yang biasa. Tapi aku masih bingung, aku juga masih takut kalau kamu … belum bisa seperti yang aku inginkan.”Budi masih belum percaya diri dengan ukura
“Uh, lembut banget. Memang selembut ini kah, rasanya? Meski aroma asi, tapi justru kenapa wangi sekali? Aku seperti berada di surga!” Budi terus meracau dalam hati.Budi mungkin sedang berkhayal bahwa ia berada diantara bantalan empuk yang sangat nyaman, ia bisa tidur sepuasnya tanpa gangguan dari para lansia seperti biasa.Aroma asi yang keluar dari melon super itu, juga seperti menjadi relaksasi untuk Budi yang sempat stres ditekan pekerjaan. Belum lagi dengan semua hinaan semalam yang masih terngiang di kepala.“Oh, maaf, Mas Bud. Kekencengan, ya?” tanya Naning.Sontak saja semua khayalan Budi dengan semua kenikmatan yang ia rasakan jadi buyar. Ia langsung melepaskan kepalanya dari cengkraman melon jepang yang seolah akan menghisap wajahnya sampai kehabisan napas.“Enggak, Mbak Ning. Terusin aja, nggak papa.” Budi sendiri berusaha untuk tetap tenang.Wanita itu wajahnya bersemu merah, ia takut jika Budi salah paham padanya hanya karena kejadian ini.“Yaudah, kita lanjutin, ya?” lanj
“Astaga, Mbak Ning!” Budi terbelalak melihat Naning yang sedang tidur di ranjang bersama putra yang masih balita.Janda cantik itu mengenakan daster pendek, sangat tipis yang sepertinya ia beli di toko serba 35. Bagian atas tubuhnya terbuka, dan terlihat anaknya masih menyusu. Sangking nyenyaknya tidur, ia tak sadar jika bagian bawah daster pendeknya itu juga sudah naik hingga memperlihatkan dalamannya.Jakun Budi naik turun menatap itu, ia toleh kanan kiri. Pemandangan yang sangat indah dipandang mata, tapi juga tidak baik jika ia nikmati dalam waktu lama. Belum lagi jika ada orang mendadak masuk, disangka ia mau melakukan sesuatu pada Naning nanti.“Aduh, gimana ini, ya? Bangunin, apa pergi?” galau Budi yang berdiri tepat di depan pintu kamar itu.Hatinya bimbang. Langkah kakinya perlahan mundur, ia membalik badan dan segera keluar menuju motor tuanya yang terparkir di halaman salon kecil itu.“Tapi, nanti kalau ada orang lain masuk dan lihat dia dalam keadaan yang begitu, malah jad
Tubuh Mely jatuh tepat di atas Budi, wajahnya di leher Budi dengan hembusan yang terasa sampai ke telinga dan membuat bulu kuduknya berdiri. Bagian dadanya menempel di telapak tangan Budi saat ini dan gerakan yang naik turun dengan irama napas yang tidak teratur.Tubuh Budi mematung. Tangannya tremor, tapi ia tetap berusaha untuk menopang tubuh Mely agar tak semakin ambruk ke tubuhnya. Dan satu yang ia sadari, bahwa ia kuat. Tangannya mampu menahan tubuh itu cukup lama.Budi termenung sejenak menatap punggung tangan yang terlihat ototnya, bukan urat kurus.“Mas, maaf. Rupanya malah jatuh sama sama,” ucap Mely padanya, tak enak karena tak berhasil menolong.Tapi saat akan tegak, Mely baru sadar jika telapak tangan Budi ada di dadanya. Ia yang kaget plus malu itu menarik napas panjang, wajahnya panik dan sudah akan teriak.“Eh, jangan!” Budi langsung lepas salah satu tangan di dada Mely itu untuk membungkam mulut gadis itu, dan tangan yang satunya masih di tempat tak beranjak sama seka
“Mas ngganteng ini, sopo toh?” tanya mbah Upik yang sampai tidak jadi kabur ketika melihat sosok yang terasa asing di matanya itu.Awalnya Budi anggap karena wanita tua itu memang sudah pikun, tapi tiba tiba Sinta datang menghampirinya.“Mas Budi?” sapa wanita itu dengan dahi mengerenyit heran. Ia pandangi tubuh Budi dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia telusuri tubuh pria yang ia rasa berbeda tiba tiba. Sinta sampai bersedekap, dan bibirnya miring kanan kiri menahan pertanyaan yang mungkin bingung harus ia mulai darimana.Budi yang masih canggung itu teringat kejadian semalam, terutama ketika tatapan Sinta seolah berhenti sejenak pada belalai mininya yang semalam ia hina dan ia tertawakan dengan begitu membabi buta.Dari tatapan mata Sinta, itu menggambarkan semua isi hatinya.“Ya, Bu Sinta. Maaf saya agak telat ikut senam, karena tadi urus rumah dulu. Jadinya—”“Loh, Mas Budi toh ini? Kok beda? Hahaha!” Mbah Ipah lantas tertawa padanya.“Beda? Beda apanya, Mbah?” tanya Budi yang







