مشاركة

Bab 5

مؤلف: Er_Su
last update تاريخ النشر: 2026-09-24 18:46:03

“Astaga, Mbak Ning!” Budi terbelalak melihat Naning yang sedang tidur di ranjang bersama putra yang masih balita.

Janda cantik itu mengenakan daster pendek, sangat tipis yang sepertinya ia beli di toko serba 35. Bagian atas tubuhnya terbuka, dan terlihat anaknya masih menyusu. Sangking nyenyaknya tidur, ia tak sadar jika bagian bawah daster pendeknya itu juga sudah naik hingga memperlihatkan dalamannya.

Jakun Budi naik turun menatap itu, ia toleh kanan kiri. Pemandangan yang sangat indah dipandang mata, tapi juga tidak baik jika ia nikmati dalam waktu lama. Belum lagi jika ada orang mendadak masuk, disangka ia mau melakukan sesuatu pada Naning nanti.

“Aduh, gimana ini, ya? Bangunin, apa pergi?” galau Budi yang berdiri tepat di depan pintu kamar itu.

Hatinya bimbang. Langkah kakinya perlahan mundur, ia membalik badan dan segera keluar menuju motor tuanya yang terparkir di halaman salon kecil itu.

“Tapi, nanti kalau ada orang lain masuk dan lihat dia dalam keadaan yang begitu, malah jadi bahaya. Nanti terjadi apa apa,” gumam Budi, tak tega.

Akhirnya Budi membalik badan, ia masuk lagi ke rumah itu dan mencari selimut atau kain yang bisa ia pakai untuk menutupi tubuh Naning yang tereksplor jelas itu. Nantinya juga akan tulis keterangan sedang istirahat di depan pintu agar tidak ada yang mengganggu sementara waktu.

Di sofa kusam yang ada di ruang tunggu, Budi menemukan sebuah kain panjang yang biasa untuk menggendong. Ia ambil saja, lalu ia masuk ke kamar Naning untuk menyelimutinya dengan kain tersebut.

“Maaf ya, Mbak,” ucapnya dengan suara yang begitu lirih.

Pelan sekali gerakan Budi menutup tubuh janda cantik kembang Desa itu. Ia sampai tahan napas karena tegang, sangking takutnya jika nanti akan membangunkan salah satu dari mereka berdua.

Tapi saat tangan Budi sudah berada di bagian dada Naning, mendadak mata wanita itu terbuka dan menatapnya lebar.

“Huaaaa!” Budi langsung tersentak kaget, bahkan melompat satu langkah darinya.Wajah Budi langsung panas, apalagi saat kain yang tadi ia pakai menutup di bagian dada itu turun lagi saat Naning duduk.

Napas Budi kembang kempis. Ia panik jika Naning tiba tiba teriak dengan keberadaannya dan berfikir tentang sesuatu yang tidak tidak. “Maaf, Mbak. Saya nggak bermaksud untuk—”

“Eh, Mas Budi. Kenapa, Mas?” tanya Naning dengan matanya belum terbuka dengan sempurna.

Mulut Budi ternganga melihat penampilan Naning dengan rambut yang berantakan, dan dasternya yang turun setelah menyusui itu. Tapi Naning terlihat santai saja merapikan dirinya di depan Budi tanpa kaget sungkan sama sekali.

“Saya tadi abis boboin Arif. Karena sepi, malah ketiduran,” imbuh janda cantik itu padanya sembari garuk garuk leher.

Tubuh Budi sempat bergetar tadi, tapi ia tenang dengan cepat ketika respon Naning justru satai. Mungkin karena mereka sudah akrab dan sering interaksi karena ibu Naning ada di Griya tempat Budi kerja.

Naning janda baru satu tahun. Ia dicerai suaminya yang baru lolos jadi PNS, dan merasa jika Naning yang hanya lulusan SMA itu tak pantas untuknya. Untung saja, Naning bisa bawa putra mereka pergi meski harus bolak balik sidang demi memenangkan tuntutan.

Mereka akrab, karena Naning sering menitipkan anaknya di Griya karena ibunya juga ada di sana. Naning terlihat pendiam, dan kalem. Mungkin karena ia masih banyak trauma terhadap mantan suaminya hingga sulit membuka hati untuk pria.

“I-itu, Mbak. Saya mau cukuran. Tapi kalau Mbak Ning masih ngantuk, yaudah, besok ae nggak papa.” Budi cepat cepat melangkah pergi karena masih tak enak hati.

“Eh!” Naning mengulurkan tanggan dan langsung mencegahnya. “Mau potong rambut aja? Bentar, Ning cuci muka dulu, ya? Mas Bud duduk aja di sana.” Naning tatap tempat duduk yang ada di salon kecilnya yang ia buat di kamar depan.

“Iya, Mbak.” Budi mengangguk. Ia lepaskan tas selempangnya dan segera masuk ke salon.

Budi menatap salon itu. Salon yang semua alatnya masih sederhana, dan beberapa barang Naning beli bekas dari salon tempatnya dulu bekerja ketika gadis. Tapi semuanya masih bagus dan masih bisa dimanfaatkan dengan baik. Naning bisa hidupi putranya dengan salon itu.

“Mau potong yang gimana, Mas?” tanya Naning yang tiba tiba sudah datang di belakang Budi, dan ia mulai merapikan diri mengikat rambutnya yang panjang berwarna merah hati.

Saat kedua tangan terangkat, bagian bawah daster pendeknya juga ikut naik tinggi. Bagian ketiak daster itu juga sangat turun, hingga pinggiran  bawah ketiaknya terlihat. 

Tubuh Budi meremang rasanya, beberapa kali ia alihkan pandangan dari janda cantik itu tapi sulit. Arahnya pasti akan ke sana lagi dan lagi.

“Kok, diem?” tanya Naning yang sudah benar benar dekat dan ada di samping Budi untuk mengenakan kain penutup di tubuhnya.

Budi tersenyum, dan gigi emasnya terlihat oleh Naning. Wanita itu seketika diam, mengatupkan bibirnya dengan kepala tertunduk beberapa detik.

“Emh… aneh ya, Mbak?” tanya Budi pada respon Naning padanya.

“Enggak, Mas. Bagus, kok Makin ngganteng Masnya. Seperti, ada aura yang terbuka.” 

“Ah, Mbak bisa aja.” Budi terkesima dan ia malu malu kucing mendegar pujian Naning padanya.

Kain pendek itu kemudian ia pasangkan dan ia kaitkan di leher Budi, dengan tangan memutar membuat bagian dada Naning tepat lewat di depan matanya. Nyaris menempel ke wajah, tapi kepala Budi dengan cepat mundur menghindar.

Kepala Naning di sebelah wajah Budi saat mengaitkan jepit rambut untuk menahan kain itu. “Mas, makasih yang tadi. Kalau bukan Mas Budi, pasti yang lain akan manfaatin keadaan saat lihat Ning dalam keadaan seperti itu,” bisiknya dengan suara yang begitu lembut dan hangat.

Urat urat tangan Budi menegang, begitu juga dengan rahangnya. Terutama ketika Naning selesai kaitkan jepit itu di kain, ia angkat kepala tatapan yang ia arahkan tepat di wajah Budi. Dekat sekali, hanya berjarak kurang dari lima senti.

Tubuh Budi semakin merinding dibuatnya. “Enggak, dia cuma mau terimakasih aja. Nggak usah mikir macem macem, Bud.” Budi menegur diri sendiri dalam hati.

“Iya, Mbak. Sama sama. Saya nggak enak aja, jadi saya mau tutup. Keburu Mbak Ning bangun.”

Janda cantik itu tersenyum, dan kemudian ia berdiri lagi untuk mulai memotong rambut Budi.

Budi sendiri tidak muluk muluk, mengingat itu salon di pinggiran Desa yang juga modelnya tidak banyak. Yang penting rapi saja, dan ia nyaman ketika dibawa bekerja.

Saat mulai menggunting rambut,  Naning sesekali tatap Budi. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari Budi saat ini, yang terasa lebih dari biasanya.

“Apa, ya? Selain gigi emas tadi yang beda, apalagi? Aku sudah nggak ketemu sama dia berapa lama, coba? Sampai dia berubah begini?” Naning terus bertanya dalam hati sembari perhatikan perubahan pada Budi.

“Mas, potong rambutnya sudah. Tapi, gimana kalau Ning bonusin creambath?” tawarnya dengan tubuh membungkuk dan wajahnya mendekat ke wajah Budi.

Dada Naning ikut  menempel saat itu, kenyal sekali. Mungkin karena ia juga sedang menyusui, hingga rasanya penuh sekali.

“Eh, nggak usah, Mbak. Udah, potong aja. Mbaknya bisa lanjut tidur, atau kerjain yang lain.” Budi menolak dengan halus.

“Udah, nggak papa. Hitung hitung, sebagai ucapan terimakasih atas yang tadi. Nggak boleh nolak rejeki!” Naning tepuk bahu Budi agar patuh padanya.

Mau tak mau Budi iyakan, karena ini memang niat baik dari Naning. Besok jika ada rezeki, ia beri uang ke anaknya untuk jajan sebagai ucapan terimakasih balasan.

Naning melangkah menuju alat bak cuci rambutnya. Alat itu sudah terlihat jadul, warnanya juga sudah kusam. Tapi masih bisa dipakai dengan baik hingga Naning belum menggantinya dengan yang baru. Tidak ada uangnya.

Dengan sigap, Naning bawa bak keramas itu mendekat pada Budi. Kemudian kursi yang Budi duduki ia seting agar pas dengan kepala Budi yang ada di bak itu.

Grek!

Sedikit kuat, tapi Budi tak kaget.

“Nyaman, Mas?” tanya Naning, memecah keheningan di kepala Budi saat itu.

“Ya, Mbak. Nyaman,” jawab Budi yang pandanganya tertutupi dua gundukan  itu, seolah ingin menimpanya sampai kehabisan napas.

Tangan lincah Naning mulai meraih dan menyalakan shower, tak lupa ia cek suhu airnya di tangan sendiri.

“Ini nanti, kalau airnya kepanasan, bilang, ya?” ucap Naning padanya.

“Ya, Mbak.” Budi kembali sangat patuh.

Perlahan rambut Budi Naning siram, tangan satunya Naning taruh di atas kepala Budi dan memijatnya dengan lembut.

Budi awalnya memejamkan mata, tapi ia buka sipit untuk menatap Naning yang sedang keramasi dirinya.

Naning yang tampak fokus itu sepertinya tidak sadar jika sedang diperhatikan oleh Budi. Ia berhenti sebentar dengan showernya, lalu meraih shampo yang ada di meja. Ia gosok gosok di telapak tangan sampai berbusa, lalu ia kembali pada Budi untuk proses keramasnya.

“Ehm… Mas. Ning mau cuci bagian belakang. Bisa angkat kepalanya dikit nggak?” pintanya.

Budi mengangguk dan benar benar angkat kepalanya sedikit. “Gini? Bisa?” tanya Budi.

“Naik, dikit lagi. Ning bantu,” ucap Janda cantik itu dengan tangan yang sudah di kepala belakang Budi, lalu mendorongnya perlahan.

Tapi dorongan itu sepertinya terlalu kuat, justru membuat wajah Budi tenggeleam di dalam diantara dua dadanya.

“Kyaaa!” Budi meronta dalam hati.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 8

    Pertanyaan dan kekagetan bu Puspa saat itu membuat Budi langsung menutup bagian rudalnya. Ia gugup dan wajahnya memerah."Anu Bu, maaf, mungkin ini gara gara kedinginan tadi, jadinya-""Kamu butuh kehangatan?" Bu Puspa memancing dan pandangannya terus tertuju pada rudal itu."Bu-bukan gitu, maksudnya-""Udahlah, kamu ini, kayak sama siapa aja." Bu Puspa langsung mengibaskan tangan ke wajah Budi."Kamu, lihatin punya saya?" Wanita itu melirik mata Budi yang sejak tadi mengarah ke pepaya mengkalnya."Nggak ngelihatin, Bu. Wong kelihatan, gimana?" balas Budi."Kamu tahu, kalau saya nggak pakai kacamata? Hayo!" Mata bu Puspa menyipit, dan Budi langsung salah tingkah dibuatnya.Melihat Budi yang bingung sendiri, bu Puspa tertawa gemas. "Iya, memang nggak pake. Kan, biar gampang bukanya nanti."Wanita itu kemudian duduk membelakangi Budi, lalu menurunkan bagian atas kimononya hingga ke pinggul. Tangannya memegangi bagian depan agar tak ikut melorot.Gluk!Budi terpana dengan kemulusan tubuh

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 7

    Akhirnya, Budi tetap menaikinya. Kakinya dorong motor itu dengan begitu cepat bergerak, hingga ia dan motornya menjauh dari rumah Naning. Setelah itu, ia belok dan masuk ke gerbang Griya.Napas Budi ngos ngosan, tubuhnya berkeringat seperti orang yang baru saja olahraga. Tapi, itu memang olahraga tanpa disengaja.Budi istirahat sebentar, ia standarkan motornya dan ia sendiri duduk di pinggir gerbang untuk normalkan irama napasnya yang masih berat.“Haduh, gila! Ada aja penemuanku dari kemaren. Udahlah mergoki pak kepala, sekarang mergokin Naning main sendiri pula. Hah! Haaah!”Tapi kemudian Budi memegangi rudal mininya lagi, yang sempat menonjol dan tegak dua kali hanya karena dekat dengan Naning. Ia heran, kenapa belakangan ini si mini cepat sekali terpancing dengan hal hal yang kecil.“Aku tahu, kamu sekarang udah lumayan besar dari yang biasa. Tapi aku masih bingung, aku juga masih takut kalau kamu … belum bisa seperti yang aku inginkan.”Budi masih belum percaya diri dengan ukura

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 6

    “Uh, lembut banget. Memang selembut ini kah, rasanya? Meski aroma asi, tapi justru kenapa wangi sekali? Aku seperti berada di surga!” Budi terus meracau dalam hati.Budi mungkin sedang berkhayal bahwa ia berada diantara bantalan empuk yang sangat nyaman, ia bisa tidur sepuasnya tanpa gangguan dari para lansia seperti biasa.Aroma asi yang keluar dari melon super itu, juga seperti menjadi relaksasi untuk Budi yang sempat stres ditekan pekerjaan. Belum lagi dengan semua hinaan semalam yang masih terngiang di kepala.“Oh, maaf, Mas Bud. Kekencengan, ya?” tanya Naning.Sontak saja semua khayalan Budi dengan semua kenikmatan yang ia rasakan jadi buyar. Ia langsung melepaskan kepalanya dari cengkraman melon jepang yang seolah akan menghisap wajahnya sampai kehabisan napas.“Enggak, Mbak Ning. Terusin aja, nggak papa.” Budi sendiri berusaha untuk tetap tenang.Wanita itu wajahnya bersemu merah, ia takut jika Budi salah paham padanya hanya karena kejadian ini.“Yaudah, kita lanjutin, ya?” lanj

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 5

    “Astaga, Mbak Ning!” Budi terbelalak melihat Naning yang sedang tidur di ranjang bersama putra yang masih balita.Janda cantik itu mengenakan daster pendek, sangat tipis yang sepertinya ia beli di toko serba 35. Bagian atas tubuhnya terbuka, dan terlihat anaknya masih menyusu. Sangking nyenyaknya tidur, ia tak sadar jika bagian bawah daster pendeknya itu juga sudah naik hingga memperlihatkan dalamannya.Jakun Budi naik turun menatap itu, ia toleh kanan kiri. Pemandangan yang sangat indah dipandang mata, tapi juga tidak baik jika ia nikmati dalam waktu lama. Belum lagi jika ada orang mendadak masuk, disangka ia mau melakukan sesuatu pada Naning nanti.“Aduh, gimana ini, ya? Bangunin, apa pergi?” galau Budi yang berdiri tepat di depan pintu kamar itu.Hatinya bimbang. Langkah kakinya perlahan mundur, ia membalik badan dan segera keluar menuju motor tuanya yang terparkir di halaman salon kecil itu.“Tapi, nanti kalau ada orang lain masuk dan lihat dia dalam keadaan yang begitu, malah jad

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 4

    Tubuh Mely jatuh tepat di atas Budi, wajahnya di leher Budi dengan hembusan yang terasa sampai ke telinga dan membuat bulu kuduknya berdiri. Bagian dadanya menempel di telapak tangan Budi saat ini dan gerakan yang naik turun dengan irama napas yang tidak teratur.Tubuh Budi mematung. Tangannya tremor, tapi ia tetap berusaha untuk menopang tubuh Mely agar tak semakin ambruk ke tubuhnya. Dan satu yang ia sadari, bahwa ia kuat. Tangannya mampu menahan tubuh itu cukup lama.Budi termenung sejenak menatap punggung tangan yang terlihat ototnya, bukan urat kurus.“Mas, maaf. Rupanya malah jatuh sama sama,” ucap Mely padanya, tak enak karena tak berhasil menolong.Tapi saat akan tegak, Mely baru sadar jika telapak tangan Budi ada di dadanya. Ia yang kaget plus malu itu menarik napas panjang, wajahnya panik dan sudah akan teriak.“Eh, jangan!” Budi langsung lepas salah satu tangan di dada Mely itu untuk membungkam mulut gadis itu, dan tangan yang satunya masih di tempat tak beranjak sama seka

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 3

    “Mas ngganteng ini, sopo toh?” tanya mbah Upik yang sampai tidak jadi kabur ketika melihat sosok yang terasa asing di matanya itu.Awalnya Budi anggap karena wanita tua itu memang sudah pikun, tapi tiba tiba Sinta datang menghampirinya.“Mas Budi?” sapa wanita itu dengan dahi mengerenyit heran. Ia pandangi tubuh Budi dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia telusuri tubuh pria yang ia rasa berbeda tiba tiba. Sinta sampai bersedekap, dan bibirnya miring kanan kiri menahan pertanyaan yang mungkin bingung harus ia mulai darimana.Budi yang masih canggung itu teringat kejadian semalam, terutama ketika tatapan Sinta seolah berhenti sejenak pada belalai mininya yang semalam ia hina dan ia tertawakan dengan begitu membabi buta.Dari tatapan mata Sinta, itu menggambarkan semua isi hatinya.“Ya, Bu Sinta. Maaf saya agak telat ikut senam, karena tadi urus rumah dulu. Jadinya—”“Loh, Mas Budi toh ini? Kok beda? Hahaha!” Mbah Ipah lantas tertawa padanya.“Beda? Beda apanya, Mbah?” tanya Budi yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status