로그인Budi dan Naning duduk bersama dengan napas yang masih tersengal dan tubuh dipenuhi keringat. Naning sendiri sudah tidak lagi mengenakan kacamatanya karena merasa gerah dan sempit, serta berharap Budi masih mau nambah lagi setelah ini.Janda pulen itu memang tidak ada puasnya.“Mbak Ning,” panggil Budi yang berbaring di atas pangkuan Janda itu dan nyaris tenggelam wajahnya pada melon super punya Naning.“Ya, Mas?” Naning berharap Budi mengatakan hal yang sangat ia inginkan.“Mbak Ning, tahu tentang bu Sari?”“Bu Sari, yang mana?”“Yang istri kepala yayasan Wilasita,” jawab Budi lagi.Naning berfikir sejenak dengan dahi berkerut, dan ia tarik napas panjang ketika mulai ingat. “Oh, Bu Sariyanti? Ning kenal, tapi tidak begitu akrab,” ujarnya.Budi yang berbaring itu langsung menatap Naning dengan kedipan mata penuh tanya.“Dulu itu, dia pernah kerja di salon tempat Ning kerja. Lama dia di sana, sampai Ning menikah dengan bapak Arif. Sampai Ning cerai terus balik lagi, dia masih ada. nggak
Dengan dengkusan napas kesalnya, Naning berjalan menuju sang putra yang mendekat ke arah dapur. “Arif mau apa? Nen?” tanya Naning dengan suara yang sangat lembut.“Au nton Hp, uyeh?” tanya si kecil padanya.“Tapi, yang anteng, ya?” pinta Naning, memberi syarat.Ketika Arif mengangguk, Naning raih Hpnya yang ada di meja makan tempatnya berdiri. Ia mainkannya sebentar membungkuk untuk mencari chanel youtub yang Arif suka.Saat membungkuk seperti itu, bagian bawah mini dressnya tertarik tinggi. Panty hitamnya terlihat, membungkus serabi lempit yang sangat pulen dan menggiurkan. Budi langsung mengecap bibir dibuatnya.Budi lihat bagian kolong meja tertutup rapat, tandanya Arif tak akan lihat jika ia melakukan sesuatu di bawah sana. Budi menyeringai, turun dari kuri lalu merangkak menghampiri Naning.“Ehmmh!” Janda pulen itu langsung membulatkan mata ketika merasakan dua telapak tangan meraba bagian kaki dan naik ke pahanya.“Mama, napa?” tanya Arif dengan wajah polosnya itu.“E-nggak papa
Naning mendengar suara Budi. Ia tak kaget, tapi langsung membalik badan. “Eh, Mas Bud udah datang?” Janda pulen itu langsung menyambutnya dengan senyuman.Penampilannya terlihat berbeda. Rambut baru dengan warna blonde yang membuat wajahnya lebih cerah, alisnya yang cetar membahana hasil pelatihan kemarin juga membuatnya lebih cantik dari biasanya.Biasanya itu, memang sudah cantik.Naning mengenakan mini dress warna putih tulang dengan pakaian dalam warna hitam yang sangat kontras dengan kulit dan mini dress yang ia kenakan. Bayangan yang ada di dalam terlihat jelas, bagaimana serabi lempit dan melon super premiumnya hanya terbungkus setengah dari wadah.“Mas Bud, kok ngelamun?” Naning yang sudah ada di depan Budi itu langsung mengibaskan tangan di wajahnya.Lamunan Budi yang liar itu langsung buyar, dan ia tatap Naning dengan wajah gugupnya. Takut jika ketahuan.“Ah, Mbak Ning. Maaf, tadi agak pangling. Soalnya, kelihatan makin fresh aja.” Budi turunkan pisang yang ia bawa dan maink
“Bu Sari itu, tipe yang suka dipuji. Kalau mas Bud bisa ambil hati beliau, semua urusan pasti akan mudah. Saya akan cari tahu apa saja yang beliau suka,” ucap Tiara, memberi saran.Tapi, sepertinya Budi sudah tahu apa yang wanita itu sukai, terutama setelah melihat pergulatannya dengan pak Jon beberapa hari lalu. Ini bukan hanya tentang ambil hati, tapi yang lain.“Oh, iya, Mbak. Terimakasih atas bantuannya, ya? Mbak sudah sampai mau sejauh ini urusin saya,” balas Budi.“Ini sudah tugas saya, Mas Bud. Saya yang pegang asuransi kek Bono, jadi saya harus urus dengan berbagai cara sampai beres. Ini bukan apa apa.” Tiara kembali membalasnya dengan ramah.Tapi saat keduanya tengah bicara lewat telepon, mendadak tubuh Tiara tegang. Senyum cemerlang Budi terbayang bayang, tubuhnya, ketampanannya dan pesonanya yang luar biasa itu mulai meliar di kepala.Tiara sampai memejamkan mata, bersandar di kursi dan menengadahkan kepala terbayang bayang sentuhan Budi terhadapnya.“Aah! Mas Bud!” Tiara
Semua panenan ikan sudah Budi catat dan dipisah dengan benar sesuai ukuran pesanan. Wadah juga sudah dipisah, tinggal menunggu orang yang memesan datang untuk membelinya.“Bud, kamu kelihatan capek banget.” Sinta datang dengan segala perhatiannya untuk Budi.Melihat Budi dengan tubuh berkeringat dan terlihat seksi itu, ia mendekat. Ia angkat kaos oblong yang ia kenakan untuk usapi wajah Budi dan seka keringat yang ada di wajahnya.Perut rata Sinta terlihat sampai bagian bawah pusarnya, dan ia juga hanya mengenakan leging hitam sangat ketat hingga belahan buah peachnya terlihat.“Eh, Bu?” Budi spontan beralih ke depan Sinta untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.Sinta tersenyum gemas, suka sekali dengan perhatian Budi yang terlihat berusaha melindunginya dari semua orang.“Bud~” panggil Sinta dengan suara lembut mendayu dayu dan telapak tangan mendarat di perut Budi yang berotot itu.“Ya, Bu?” Budi menjawabnya dengan tegukan saliva, merasakan kelembutan tangan Sinta yang merabanya.“Ka
“Udah, Mas Bud. Nggak papa, kok. Ning ikhlas kasihnya, yang penting mas Bud cepet sehat.” Naning menenangkan Budi sembari menyuapi sang putra yang tengah sarapan pagi itu.“Ya, mbak Ning. Makasih sekali lagi. Nanti… saya main ke sana, ya?” ucap Budi padanya.Dada Naning langsung berdesir, ia pegangi dan ia atur debarannya dengan cara menarik hembuskan napas beberapa kali agar segera normal.Tak lama kemudian, Naning matikan panggilan karena Budi pamit duluan. Serasa tak sabar untuk bertemu dengannya nanti.Selepas mandi, Budi ke meja makan dan nikmati bubur yang dibuatkan oleh Mely untuknya. Ia duduk dengan tenang sembari menatap duo Simbah yang anteng menonton tv.Hari itu mereka tak senam. Hanya nanti akan dibawa ke kebun untuk urus tanaman dan melihat kondisi ikan di kolam yang kemungkinan sudah siap untuk dipanen.Terakhir Budi ke kolam, waktu berenang dengan Mely. Ia merasa ikannya sudah besar besar sampai sering kali menabrak di Tegar dengan kasar.“Bud, “ panggil mbah Harjo pada







