Share

Untung Dan Rugi

Penulis: CH. Blue Lilac
last update Tanggal publikasi: 2026-02-05 20:31:10

Rhevan menghembuskan napas berat. Ia bangkit dari kursinya, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap kota. Lalu ia kembali bersuara, “Kalau kita tolak apa risikonya?” tanya Rhevan tanpa menoleh.

Andre terdiam sejenak. “Kemungkinan besar mereka akan mundur dan mencari perusahaan lain.”

Rhevan mengepalkan tangan.

“Dan kita kehilangan kesempatan terbesar yang pernah kita punya,” imbuh Andre kemudian.

Ruangan kembali hening. Di satu sisi, Rhevan melihat jelas bahaya di balik kerja sama ini. Di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Christina Galingging
3 bab nya aku skip, cuma pengen tau perkembangan hub Dirga dan Nadine aja. Apalagi yg dibahas Rhevan sama Amanda, aku gak tertarik baca kisah mereka.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ingin Menikah

    "Kamu telan harga diri kamu dan selamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.” Ucapan Pak Wijaya menggantung di udara. Perintahnya itu terlalu solid untuk dibantah. Sementara putranya, hanya berdiri diam di posisinya. Tatapannya kosong ke depan, tampak nanar. Rahangnya masih mengeras. Tangannya mengepal lalu perlahan mengendur. Untuk pertama kalinya Rhevan benar-benar berada di posisi yang tak bisa menolak. Semua suara itu kembali terngiang di kepalanya. Pak Andrew. Amanda. Papanya. Semua mengatakan hal yang sama. Membuat Rhevan tidak punya cukup alasan untuk menolak ataupun menghindar. Suami Amanda itu langsung menghela nafas panjang. “Kalau aku datang,” ucapnya pelan akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, “nggak ada jaminan dia bakal mau nego.” Pak Wijaya tidak langsung menjawab. “Tapi itu satu-satunya peluang yang kita punya sekarang,” balasnya tegas. Rhevan terdiam lagi. Beberapa detik berlalu. Ia menutup mata sejenak, seolah menelan sesuatu yang sangat pahit.

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Sebuah Jebakan

    "Bagaimana kalau ini akal-akalan Pak Andrew saja? Bagaimana kalau feelingku benar. Dia hanya menjebakku?"Ucapan itu membuat Pak Wijaya terdiam sejenak. Wajahnya berubah— dari marah ke kaget. Matanya menatap Rhevan tajam, seolah mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.“Kamu masih menyalahkan dia?” nada suaranya terdengar lebih pelan. Terselip tanda tanya di sana.Rhevan menatap balik sang Papa. “Kalau dia memang bertanggung jawab,” lanjut Rhevan dingin, “dia nggak akan pergi di tengah situasi kayak gini.”Pak Wijaya mengernyit. “Apa maksud kamu?”Rhevan melangkah satu langkah ke depan. Suaranya tetap rendah, tapi penuh tekanan. “Perusahaan ini sedang di ujung tanduk, Pa. Dirga hampir ambil semuanya,” ucapnya. “Dan dia malah mengundurkan diri.” Tatapannya mengeras. “Orang yang benar-benar bertanggung jawab itu nggak akan bertindak seperti ini. Jelas dia akan bertahan,” lanjutnya. “Bukan kabur seperti pengecut.”Kalimat itu membuat ekspresi Pak Wijaya berubah drastis. Bukan lag

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jangan Asal Tuduh

    "Tapi orang kepercayaan Papa itu juga yang buat aku hancur dan perusahaan ini hancur, Pa!" Mendengar itu, tamparan keras kembali mendarat di pipi Rhevan. PLAK!! Tamparan itu membuat kepala Rhevan kembali terhempas ke samping. Beberapa detik ia hanya diam. Rahangnya mengeras. Napasnya berat, terasa panas memenuhi dada. Sementara di depannya Pak Wijaya berdiri dengan amarah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. “Dengar baik-baik, Rhevan!” bentaknya, suaranya bergetar penuh emosi. “Jangan pernah kamu lempar kesalahan ke orang lain hanya karena kamu tidak mampu menghadapi kenyataan!” Rhevan menatapnya tajam, tapi kali ini tidak ada bantahan yang langsung keluar. Ia hanya menatap sang Papa yang tampak terengag-engah karena emosi. “Kamu bilang dia yang bikin perusahaan hancur?!” lanjut Pak Wijaya, suaranya meninggi. “Kamu pikir kamu sudah cukup teliti selama ini?!” katanya dengan nada tinggi. Pak Wijaya melangkah mendekat. Jarak mereka kini begitu dekat—tekanannya terasa m

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jangan Asal Tuduh!

    "Tapi orang kepercayaan Papa itu juga yang buat aku hancur dan perusahaan ini hancur, Pa!"Mendengar itu, tamparan keras kembali mendarat di pipi Rhevan.PLAK!!Tamparan itu membuat kepala Rhevan kembali terhempas ke samping. Beberapa detik ia hanya diam. Rahangnya mengeras. Napasnya berat, terasa panas memenuhi dada.Sementara di depannya Pak Wijaya berdiri dengan amarah yang jauh lebih besar dari sebelumnya.“Dengar baik-baik, Rhevan!” bentaknya, suaranya bergetar penuh emosi. “Jangan pernah kamu lempar kesalahan ke orang lain hanya karena kamu tidak mampu menghadapi kenyataan!”Rhevan menatapnya tajam, tapi kali ini tidak ada bantahan yang langsung keluar. Ia hanya menatap sang Papa yang tampak terengag-engah karena emosi.“Kamu bilang dia yang bikin perusahaan hancur?!” lanjut Pak Wijaya, suaranya meninggi. “Kamu pikir kamu sudah cukup teliti selama ini?!” katanya dengan nada tinggi. Pak Wijaya melangkah mendekat. Jarak mereka kini begitu dekat—tekanannya terasa menyesakkan.“Kam

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jadi Korban Rhevan

    “Semua sudah terlambat, Pak.” Kalimat itu menggantung di udara.Mendengar ucapan Pak Andrew, emosi Rhevan seketika meledak. “Apa maksud kamu?” suaranya rendah, tapi jelas berbahaya. "Terlambat?"Pak Andrew sedikit mengernyit. “Saya hanya menyampaikan kondisi yang—”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—BRUK!Rhevan tiba-tiba menarik kerah baju Pak Andrew dengan kasar. Tubuh pria itu terdorong ke depan.“TERLAMBAT?” ulang Rhevan dengan suara yang naik tajam. “Kamu bilang semuanya terlambat?!”Pak Andrew sedikit terhuyung, tapi tidak melawan. Tangannya refleks menahan pergelangan tangan Rhevan yang mencengkeramnya. “Pak—”“Selama ini kamu ngapain aja, hah?!” bentak Rhevan. Matanya memerah, amarahnya membuncah. “Kamu itu asistenku atau cuma pajangan?!”“Pak, tolong tenang dulu!” Pintanya pada Rhevan, tapi sayangnya pria itu tidak peduli dan kembali memukulnya.BUK!Satu pukulan mendarat di wajah Pak Andrew.Suara itu terdengar keras di dalam ruangan yang sunyi.Tubuh Pak Andrew terdo

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Merendah

    Amanda menyilangkan tangan di dada. “Aku tahu. Kamu harus datang ke Dirga. Ngomong baik-baik. Minta maaf kalau perlu.”“Minta maaf?” suara Rhevan naik. “Ke dia?”Amanda menatapnya lurus. “Iya. Ke Dirga. Siapa lagi menurut kamu.”Beberapa detik hanya tatapan penuh emosi yang saling beradu di antara mereka. Namun Amanda tetap tenang. “Menurutku nggak ada yang salah,” lanjutnya. “Selama itu bisa nyelametin perusahaan kita.”Rhevan menggeleng pelan. “Kamu benar-benar nggak mikirin harga diri kita sama sekali ya.”Amanda menghela napas kecil. “Harga diri itu nggak akan ada gunanya kalau kita kehilangan semuanya, Mas.”Kalimat itu tajam dan menusuk. Membuat Rhevan terdiam sesaat. Namun sebelum ia sempat membalas, Amanda kembali bicara.“Atau…” ia memiringkan kepala sedikit, menatap Rhevan lebih dalam, “kamu lebih milih kelihatan ‘tinggi’ di depan Dirga, tapi jatuh?”Rhevan mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Aku lagi berusaha!” bentaknya.“Aku juga tahu!” balas Amanda tidak kalah tegas. “Tapi

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kenapa Kamu Di Sini?

    “Mas Rhevan…” Nadine masih sesenggukan dalam tidurnya.“Iya… ini aku.”“Mas Rhevan…” Tangis Nadine makin menjadi. “Kenapa kamu jahat banget sama aku, Mas? Kenapa kamu gak pernah peduli sedikit pun padaku?”Dirga terhenyak. Ia menahan napas ketika Nadine mengeluarkan uneg-unegnya secara tak sadar.“

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Nadine Pingsan

    “Nadine?!” Dirga menempelkan wajahnya lebih dekat ke kaca jendela. Matanya melebar begitu melihat tubuh Nadine tergeletak di lantai ruang tamu. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan dari gerak dada yang naik-turun pun terlihat betapa napasnya berat. “Ya Tuhan, Nadine!” desisnya panik. Tanpa p

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Mengingat Sentuhan Pria Lain

    Malam makin larut. Lampu kamar menyala redup, hanya menyisakan cahaya kekuningan yang hangat. Nadine baru saja selesai menata tempat tidur ketika Rhevan keluar dari kamar mandi. Pria berkulit putih itu hanya mengenakan kaus abu dan celana tidur.“Udah Mas mandinya?” tanya Nadine lembut, mencoba mem

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Struk Belanja

    Nadine bangun dari duduknya dan berniat membereskan gelas kopi yang tadi suaminya pakai. Tapi saat baru saja ia hendak menuju wastafel, matanya tidak sengaja menemukan sesuatu yang janggal di dekat kursi."Ini kan?"Tangannya bergetar pelan saat memungut kertas kecil itu."Struk belanja?"Kertasnya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status