LOGINMorrigan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Setelah beberapa menit bergelut dengan pikirannya sendiri, ia bangkit berdiri. Ia melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri koridor senyap menuju kamar perawatan khusus tim medis internal di ujung lantai penthouse.Pintu kayu itu terbuka perlahan tanpa suara. Di dalam ruangan yang berbau antiseptik tajam, Silas tampak terbaring di atas ranjang medis dengan berbagai kabel monitor melekat di tubuhnya. Perban putih masih membungkus rapi dada dan lengan kanannya. Silas membuka matanya perlahan ketika mendengar pintu berderit terbuka. Napasnya masih terdengar pendek dan berat.Morrigan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi besi di samping ranjang. "Bagaimana keadaanmu, Silas?"Silas mencoba mengulas senyum tipis, meskipun gurat rasa sakit tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Saya masih bernapas, Alpha."Silas kemudian mengalihkan pandangannya pada Morrigan. Sebagai tangan kanan yan
"Rumor sudah menyebar ke seluruh pack. Anda dan Silas hampir tewas di hutan Frostfall kemarin. Semua itu terjadi hanya karena Anda buta dan egois demi menyelamatkan seorang wanita manusia biasa yang lemah! Apakah itu tindakan pantas bagi seorang Alpha tertinggi?!"Rahang Morrigan mengeras dan urat-urat di lehernya tampak menegang. "Ravenna adalah urusanku. Siapa pun yang berani mengancam apa yang menjadi milikku akan kuhancurkan. Itu adalah hukum pack kita!""Hukum kita adalah menjaga kemurnian dan kekuatan pack, Alpha!"Perdebatan kian memanas saat Jaxon berteriak lebih lantang dan memancing gumaman persetujuan dari anggota klan di belakangnya. "Hukum alam kita mengatakan seorang Alpha sejati hanya akan tunduk pada mate bond darah murni, tapi Anda justru mengabaikan takdir pack dan memperbudak diri Anda di bawah kaki seorang manusia biasa yang tidak memiliki kontribusi apa pun bagi kekuatan Blackmoon!""Jaga bicaramu, Jaxon!" bentak Morrigan.Ia selangkah maju ke depan hingga au
Suasana di lantai utama penthouse terasa begitu sunyi dan mencekam. Lampu gantung kristal tetap memancarkan cahaya hangat yang keemasan, tetapi bagi Morrigan Raventhorn, kehangatan itu tidak lebih dari sekadar ilusi optik yang menipu mata.Sang Alpha berdiri di dekat pintu kaca besar yang mengarah ke balkon, memandangi hamparan lampu kota yang berpendar di balik kabut. Mantel hitamnya tersampir longgar di bahu tegapnya.Pikirannya sepenuhnya tersita oleh wanita yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang berseprai sutra di belakangnya."Morrigan," panggil sebuah suara lembut yang sangat familier.Morrigan berbalik perlahan. Di sana, Ravenna sedang menatapnya. Wanita itu mengenakan gaun tidur satin putih dan rambutnya yang hitam tergerai indah."Mengapa kamu terus berdiri di sana? Kemarilah, duduk di sampingku," ucap Ravenna sembari menepuk sisi ranjang yang kosong. Morrigan melangkah mendekat. Langkah kakinya berat, seolah-olah setiap jengkal lantai kayu itu menahan pergerakannya
Di pinggiran kota Starfield yang selalu diselimuti kabut tebal, sebuah bar tua bernama The Rusty Fang tampak remang-remang. Tempat itu adalah salah satu titik kumpul tersembunyi bagi para petarung dan prajurit kasta rendah dari pack Blackmoon. Bau alkohol murah, asap rokok, dan aroma ketegangan menguar pekat di udara.Di sudut ruangan yang paling gelap, sesosok pria bermantel hitam dengan topi yang diturunkan rendah sedang mengocok segelas wiski. Pria itu adalah Darian yang telah kembali ke kota. Sepasang matanya yang tajam berkilat licik ketika melihat beberapa anggota muda Blackmoon duduk berkumpul di meja panjang tak jauh dari tempatnya.Darian sengaja meletakkan gelasnya dengan dentingan keras dan memancing perhatian. "Sungguh ironis," mulainya dengan suara berat yang sengaja dikeraskan dan cukup untuk membuat obrolan di meja sebelah terhenti. "Pack terkuat di Starfield sekarang dipimpin oleh seorang pria yang rela merangkak di lumpur jurang demi seekor domba lemah."Beberap
Suasana di taman gantung itu mendadak hening. Senyum kepolosan di wajah Ravenna perlahan-lahan memudar dan digantikan oleh ekspresi datar yang amat dingin. "Luar biasa," ucap Ravenna. "Aku sudah meniru dengan sangat sempurna, tapi intuisi seorang wanita tua ternyata sekeras batu." "Kamu monster!" Marva bangkit berdiri dan tubuh tuanya gemetar karena amarah dan rasa takut yang berbaur menjadi satu. "Aku akan memanggil Morrigan! Aku akan memberitahunya bahwa kamu telah mengelabui seluruh isi rumah ini!" Marva berbalik untuk melangkah pergi, namun sebelum ia sempat melangkah, gelombang hawa dingin yang luar biasa pekat mendadak berembus dari belakangnya. Udara di sekitar taman gantung itu bergulung, memancarkan pendaran cahaya ungu temaram yang tak kasatmata bagi manusia di luar area tersebut. Sihir dari Batu Gerhana Abadi dilepaskan tipis oleh Ravenna dan mengunci pergerakan udara di sekitar mereka hingga suara desiran angin pun mendadak lenyap. Marva terengah, dadan
Felix menyambar mantel cokelatnya dan bergegas meninggalkan kantor polisi untuk menemui Marva demi menemukan benang merah yang hilang.Siang itu, Felix Walker berhasil mengatur pertemuan dengan Marva di sebuah ruang tunggu privat tidak jauh dari kompleks penthouse milik Morrigan. Marva duduk dengan anggun namun sisa-sisa kelelahan fisiknya masih membayangi wajah tuanya."Detektif Walker," sapa Marva, menatap pria paruh baya di depannya. "Kuharap kedatanganmu tidak mengganggu masa pemulihanku. Ada urusan mendesak apa sampai Anda mencariku?"Felix meletakkan map usang yang dibawanya ke atas meja kayu di antara mereka. Ia menatap Marva dengan tatapan penuh empati namun tetap profesional. "Saya minta maaf jika harus menyampaikan hal ini, Nyonya Sterling."Felix menghela napas pendek dan menatap Marva lekat-lekat. "Ravenna sama sekali bukan cucu kandung Anda secara biologis."Marva tersentak dan tubuh tuanya mendadak kaku. Detak jantungnya berpacu cepat, rahasia terbesar yang ia sim







