INICIAR SESIÓNKamar mess yang semula hening kini berubah hangat oleh kepulan asap kopi hitam dan aroma minyak angin. Di atas kasur busa yang tergelar di lantai, enam orang satpam Agensi Sentosa itu duduk melingkar.
Tora, Agus, dan Vico, mereka yang bertugas di cabang karaoke terpisah, ikut bergabung setelah mendengar kabar skorsing yang menimpa Gufron.Tora menyandarkan punggungnya ke tembok, menghembuskan napas panjang sembari memijat tengkuknya yang pegal. Rasa lelah masih terasa akibaRino mengecup bibir Luna dengan penuh hasrat. Kali ini Luna membalasnya dengan gairah yang sama. Ia dapat merasakan lidah mereka saling bersilang, keduanya seperti menyatakan perasaan yang sama, rasa takut kehilangan yang sangat jelas. Lelaki itu melepaskan cekalannya yang menahan tangan Luna di atas kepalanya. Tangan besar dan kasar itu kembali menyentuh kulit lembut Luna. Kali ini tepat di dadanya. Ia meremas dengan lembut sebelum lidahnya dengan nakal menari di atas puncak kemerahan di dadanya dan mengecupnya dengan penuh hasrat. Luna mendesah pelan. Rasa gelitik itu terasa mengganggu, namun ia justru menikmatinya. Perempuan itu meremas rambut Rino yang agak panjang.. “Ooough!” Luna mendesis pelan saat pemilik jemari kasar itu menyentuh tubuhnya di bawah sana. Ia dapat merasakan jemari kekarnya menggesek lembut pada kain berenda yang menutup rapat di bagian intinya. Rino tak membuang waktu. Lelaki itu
Luna meletakkan jarinya tepat di bibir Rino. Ia mendorong lelaki itu menjauh dari tubuhnya. “Kamu belum jawab pertanyaanku, Mas,” sahut Luna, “kamu nggak bisa sepelekan masalah ini. Kamu nggak tau kan, betapa tersiksanya aku setiap menghadapi Sekar.” Rino menundukkan kepalanya. Ia menghela napas panjang, sementara tangannya memijat keningnya sendiri yang mulai berdenyut. “Sekar lagi … Sekar lagi,” lirih Rino, “aku harus gimana sama Sekar, Sayang? Kamu tau, kan … dia itu nggak punya tempat tinggal. Nggak mungkin, kan … kalau aku usir dia cuman karena hal kecil gini.”Luna menggeleng pelan. Ia semakin kesal karena Rino masih tak juga memahami masalah ini. “Mas, kamu ini pura pura bodoh, atau memang bodoh, sih?” kesal Luna, “semua orang juga bisa lihat, siapapun juga bisa ngerasain kalo Sekar … perempuan yang kamu anggap adik itu … sebenarnya suka sama kamu. Dia itu benci dan nggak suka sama aku itu, ya … karena dia anggap aku ngerebut d
Rino mengunci pintu kamarnya. Ia menatap wajah Luna yang masih terlihat sedih oleh rasa bersalah. Egonya sebagai seorang lelaki langsung terusik. Ia mengangkat tangannya, menyentuh dagu perempuan di hadapannya untuk mengunci tatapannya. “Luna, jangan ngerasa bersalah. Aku yang sukarela ngelakuin ini,” ujar Rino dengan suara yang lembut, “kamu tau sendiri Sekar seperti apa. Nggak usah dengerin dia, ya.” Luna mengerucutkan bibirnya dengan manja. “Tapi Mas, kalau Mas masih antar aku … dia bakal ngamuk lagi. Aku nggak mau hubungan kalian jadi rusak gara gara aku.” Rino menatap mata Luna yang mulai berkaca-kaca. Perlahan ibu jarinya menyentuh pipi lembut kekasihnya dan mengusapnya. “Nggak akan. Sekar nggak mungkin punya pikiran sepicik itu. Aku sudah mengenalnya cukup lama,” sahut Rino. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan senyuman yang menenangkan bagi kekasihnya. “Percayalah. Nanti juga dia bakal lupa dan seperti biasa.”“Mas,
Siang itu ….Luna menggenggam tangan Rino saat melangkah masuk ke dalam rumah sekaligus kantor Sentosa Agensi. Ia melenggang begitu saja di hadapan beberapa anak baru yang sedang berlatih dengan gigihnya. “Mas Rino!” Suara keras Sekar, segera membuat Rino menghentikan langkahnya. Lelaki itu memutar tubuhnya dan menatap gadis berpotongan rambut cepak itu. Gerakan itu membuat Luna yang masih menggandeng tangannya, terpaksa ikut berhenti. “Ada apa?” tanya Rino tanpa rasa bersalah.“Kamu ini … beneran! Nggak bisa ya, bertanggung jawab dikit,” ketus Sekar, “kamu tuh pemimpin kami di sini!” Rino mengerutkan keningnya. “Maksud kamu apa, Sekar?” “Ya … setidaknya kamu kerjakan tugas kamu. Latih mereka, bukan serahkan semua muanya ke aku,” protes Sekar, “aku harus berangkat kerja. Mbak Vero bisa marah kalo aku terus terusan telat gara gara ngegantiin tugas kamu … sementara kamu sendiri malah milih jadi tukang ojek pribadi ses
Suasana di ruang tamu mess Agensi Sentosa mendadak hening. Gufron yang tertunduk lesu di sudut ruangan perlahan mengangkat wajahnya, menatap Raka dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan. Tanpa diduga, Gufron langsung melangkah ke tengah ruangan dan berlutut di hadapan Raka."Mas Raka ... saya bodoh, Mas …," suara Gufron tercekat, isakannya lolos begitu saja. "Saya benar-benar minta maaf. Saya termakan tipu daya perempuan itu sampai mengorbankan agensi kita. Kalau Mas Raka mau memecat saya secara tidak hormat, saya ikhlas."Raka menatap Gufron sejenak, lalu mengisyaratkan dengan tangannya agar pria itu berdiri. "Bangun, Gufron. Menyesal itu bagus, tapi penyesalan tanpa perbaikan tidak ada artinya. Kesalahanmu sudah dibayar lunas dengan skorsing. Sekarang, kalau kamu benar-benar ingin menebus kesalahanmu pada Agensi Sentosa, dengar baik-baik apa yang akan kita lakukan."Mendengar kata-kata Raka, Gufron mengangguk cepat dan menyeka air matanya, lalu b
Pagi harinya, sinar matahari hangat mulai merayap masuk menembus celah ventilasi mess Agensi Sentosa. Udara dingin kota perlahan berganti tebalnya rasa lelah usai sif malam. Di ruang tamu mess yang sederhana, Parto, Vico, dan Sudar masih mengenakan seragam dinas mereka. Ketiganya sengaja tidak langsung tidur, duduk melingkar menunggu kedatangan Raka untuk melaporkan perkembangan situasi di Jalan Rambutan.Pintu depan mess berderit pelan. Langkah kaki yang menyeret terdengar mendekat.Gufron masuk dengan wajah sangat lesu. Wajahnya layu, matanya sembab, dan kedua bahunya melorot seolah membawa beban seberat gunung.Gufron melepaskan topi petnya, lalu meletakkannya di atas meja. Ia melirik kawan-kawannya yang sedang duduk berkerumun."Gimana ... gimana shift kalian semalam di Jalan Rambutan?" tanya Gufron dengan suara parau yang tertahan. “Ya begitulah, “ sahut Sudar sekenanya.Ia ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya membe
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya