LOGINRakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja.
Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadahkan tangannya. "Uang sewa kamar. Sudah dua bulan, loh kamu nunggak." "Raka belum ada duit, Tante. Kemarin baru dapat kabar Bapak sakit di kampung. Duit yang harusnya buat bayar sewa kamar jadi kepake lagi," sahut Raka. "Kasih Raka waktu lagi, Tan. Gajian bulan depan, Raka bayar." "Pake alesan!" sahut Tante Feli. "Kalau nggak bisa bayar, keluar dari kos-kosan ini. Banyak yang cari kamar kosong, kok." "Tante, please. Tante boleh suruh aku lakuin apa saja, asal aku nggak disuruh pindah dari sini." Raka menyatukan kedua tangannya tanda memohon. Lelaki muda itu terlihat sangat canggung berada di hadapan ibu kos nya yang cantik tapi galak itu. Apalagi penampilannya yang selalu muda lengkap dengan gaun mini dan sandal tingginya. Badannya yang slender tak menampakkan bahwa dia telah memiliki seorang anak gadis berusia belasan tahun. Hah! Mau disuruh apa? Wanita itu menatap lelaki muda di hadapannya. Matanya menatap Raka dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. "Kuat berapa ronde?" tanya Tante Feli tanpa basa-basi. "M-maksud Tante?" "Kamu bisa puasin aku berapa ronde?" hardiknya dengan gemas ketika pria muda itu seakan tak mengerti apa yang dimaksudnya. "Kamu bukan anak kecil. Kamu pasti ngerti apa yang Tante bilang." Raka menelan kasar salivanya. "T-tapi Tan … a-aku belum pernah …." "Nggak papah. Sini ... Tante ajarin," ucap wanita itu dengan nada gusar. Wanita itu melebarkan kakinya. Bagian bawah rok mini bermotif bunga itu menampilkan sesuatu yang sangat didambakan kaum adam. Sebuah belahan indah yang membuat jantung Raka tiba-tiba berdebar kencang. Belahan itu jelas terlihat karena Feli hanya memakai sebuah G-string di dalamnya. Perlahan lelaki muda itu mendekatinya. "Duduk. Dan jilatin punyaku sampe aku puas," perintah tante bertubuh sexy itu. "S-serius, Tan?" tanya Raka dengan rasa sedikit gugup. Dia benar-benar nggak pernah nyangka semua fantasi liarnya selama ini akan seperti gayung bersambut. Feli membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Raka dengan patuh mulai menyibak kerimbunan sepasang bukit itu, melihat sesuatu yang berwarna kemerahan di dalam lipatannya dan mulai menjulurkan lidahnya. "Hmm ... Hmmm! Anak pinter," desahnya. Mendapat pujian seperti itu, Raka semakin bersemangat. Pria muda itu menggerak-gerakkan lidahnya di bagian inti tante cantik pemilik rumah kosnya. "Aaah …. Ka, terus Ka …" desahnya. Sementara tangannya meraih rambut pria muda itu dan menariknya. Sepertinya Raka belajar dengan cepat. Sekarang dijulurkannya lidahnya sepanjang mungkin masuk ke dalam celah kelembutannya, sementara jemari tangannya mengusap cepat titik sensitif Feli. Tubuh wanita itu bergetar, menegang dan punggungnya terangkat dengan sensual saat mencapai pelepasannya. Raka menghentikan aksinya. Dirasakan di bawah sana, miliknya mulai berdenyut. Lelaki muda itu menggigit bibirnya ketika melihat belahan yang baru saja dinikmati olehnya begitu basah dan licin. "Hmm … kamu nunggu apa?" tanya Feli dengan senyum di bibirnya. "Sini … sini. Tante bantuin. Udah sesak gitu." Tanpa basa-basi Feli memelorotkan boxer lelaki muda itu. Namun …. Tok! Tok! Tok! "Rakasya! Buka pintunya!" Suara nyaring Bu Feli terdengar mengalahkan toa masjid yang sedang berbunyi mengumandangkan sholat ashar. Raka yang masih terbuai dalam mimpinya, langsung tersentak. Ia langsung berdiri dengan gugup mendengar suara wanita dalam mimpinya itu. Raka menghentikan langkahnya. Ia mendecak saat kulitnya merasakan boxer yang dipakainya yang lengket dan basah. Cepat ia memelorotkan celananya dan menggantinya. “Rakasyaa! Aku tau kamu di dalam!” teriaknya masih terdengar galak penuh intimidasi. Raka semakin gugup. Apalagi saat pandangannya tertuju pada sprei yang terlihat basah efek dari mimpinya tadi. Tanpa berpikir panjang, lelaki muda itu menarik kain sprei dan menyimpannya di bawah ranjangnya. “Raka—” Suara nyaring itu terdengar lebih kuat saat pintu kamar Raka terbuka. Mata lelaki itu langsung melotot saat pandangannya justru terarah pada tubuh sexy wanita yang berdiri di depannya. Tanktop dengan potongan dada rendah itu seakan tak sanggup menampung gumpalan kenyalnya, membuatnya terlihat seperti mau tumpah. Bahkan belahan di dadanya terlihat begitu jelas, seakan menantang untuk menyelinap di antaranya. “Heh! Rakasya! Mana setorannya? Udah dua bulan loh ini.” Mata dengan bulu lentik itu melebar, seakan hendak menyembunyikan gumpalan putih lem yang menyatukannya. “Uang setorannya, baru Raka kirim ke rumah. Bapak lagi sakit,” sahut Raka dengan wajah memelas. “Raka … minta waktu lagi, Tante.” “Kamu … bawa keluar semua barang kamu sekarang,” ujar Tante Feli masih dengan matanya yang mendelik. “Kasih aku waktu lagi, Tan. Aku nggak tau harus kemana kalau Tante usir aku.” Raka mengatupkan kedua tangannya, memohon belas kasih wanita di hadapannya. “Aku udah kasih kamu waktu. Tapi…” Feli menggelengkan kepalanya. “Aku juga bukan dinas sosial. Cepat kemasi barangmu, atau … aku lempar semuanya keluar.” “Tan, satu bulan. Aku lunasi semuanya bulan depan.” “Raka, banyak kok yang mau sewa kamar ini. Lokasinya enak, harga sewanya murah. Lagian … kamu tau kan … listrik, air, perawatan bangunan itu juga perlu kubayar. Kalau kamu nunggak terus, aku bayar pake apa nanti? Udah, kamu nggak bisa tinggal di kamar ini lagi!” Feli menyilangkan kedua tangannya, bersedekap di dada. Gerakan yang justru membuat Raka semakin sesak saat melihat gumpalan kenyal itu semakin membuncah karena tersanggah oleh sepasang tangan di bawahnya. “Heh! Diem aja! Kamu denger enggak!” “Denger Tan. Tapi sumpah … Raka nggak punya maksud buat nunggak bayar lagi, cuman bapak lagi butuh biaya buat pengobatan.” Tante Feli menghentak kakinya dengan kesal, membuat sepasang gumpalan kenyal itu bergetar seketika. “Ya udah! Sementara malam ini … aku ijinin kamu tinggal di gudang! Kamar kamu ini sudah ada yang sewa. Bereskan barang kamu sekarang.” Setelah memberikan keputusan, Tante Feli langsung berbalik dan melangkah pergi. Raka masih bisa melihat pantatnya yang bulat dan padat itu mengayun ke kiri dan ke kanan setiap kakinya melangkah. Setiap ayunannya membuat batang lelaki muda itu berdenyut hidup. "Tante Feli, oh ... tante Feli." …. Gudang rumah kos itu bukan hanya berdebu, tapi juga separuhnya dipenuhi oleh barang-barang yang tak lagi berfungsi. Entah apa tujuan tante Feli menyimpan berbagai rongsokan alih-alih membuangnya. Raka sudah membersihkan hampir separuh ruangan itu. Ia mengeluarkan barang-barang bekas yang rencananya akan dijual pada penadah kenalan tante Feli. Namun sesaat pandangannya terkunci pada sebuah kotak kecil di rak susunan paling atas. Tempat yang jelas tak akan bisa digapai tanpa perjuangan. Raka berjingkat, tangannya terulur menggapai kotak itu. Namun letaknya terlalu tinggi. Ia mulai memanjat naik dengan satu kaki ke rak yang lebih tinggi. Tangannya terulur, menggapai semampunya. Dapat! Kotak kayu berdebu itu berhasil diraihnya. Ia mengamati ukiran di balik debu tebal yang menutupi kayu merahnya. Tapi … apa isinya?Sebelum berangkat kerja, Raka menyempatkan diri untuk mengunjungi Shakira. Keadaan perempuan itu sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Semenjak anak buah Rino berjaga, Devon tidak bertingkah keterlaluan lagi. Apalagi saat ini pengacara Shakira mulai bekerja keras mempertahankan semua aset yang ditinggalkan sang suami. “Raka, aku mengunjungi kakek.” Shakira bercerita tentang kakek Ryu. “Beliau … kelihatan tidak sehat.” Wajah perempuan cantik itu terlihat sangat lelah. Dia memegang gelas air putih di tangannya, tetapi tak kunjung minum juga semenjak pria itu datang. “Apa kakek sakit?” tanya Raka pelan.Shakira mengangguk. “Kakek terlihat depresi.” “Apa dia bersikap baik padamu?” Raka khawatir kalau tekanan untuk Shakira akan bertambah.“Dia baik padaku, Ka, meskipun tahu kalau Mas Ryu sudah menyerahkan semua padaku. Bahkan dia memberiku semangat untuk mempertahankan semua yang sudah diperjuangkannya sejak muda.” Sha
“Luna ….” Rino meraih tangan gadis itu dan menyatukan keduanya tepat di atas kepala untuk menahannya. “Nikmati saja, aku buat kamu jadi wanita paling bahagia di dunia.” Rino bisa merasakan tubuh Luna yang bergetar. Ia bisa merasakan tangannya yang meronta ingin bebas. Namun Rino tak melepaskannya. Satu tangannya tetap menahan lengan Luna, sementara satu tangan lain tetap bergerak liar di balik kain segitiga berenda Luna yang jelas terlihat basah.“Mas Rino, oough ….” Rintihnya lagi.“Kamu suka, Lun?” Luna tak menjawab. Ia hanya menggigit bibirnya menahan setiap gelitik yang terasa semakin kuat di dalam perutnya. “Aku … ooough …” Rino tak dapat lagi menahan hasratnya. Ia mendekatkan miliknya dan mulai menggesekkan tuasnya yang telah menegang di balik kain berenda yang membatasinya dengan surga dunianya itu. Luna menelan ludahnya. Tubuhnya semakin bergetar. “Luna, kalau kamu belum siap … aku tidak akan mema
Baru saja Raka menginjakkan kakinya ke dalam ruang tamu rumah tinggal Rino, Luna sudah menghampirinya. “Mas Raka, kamu tahu nggak … perempuan yang tinggal di lantai dua itu.” Luna menekan suaranya seolah takut seseorang selain Raka mendengar ucapannya,”... perempuan yang lagaknya macem cowok, yang punya anting di hidungnya itu.” Raka langsung tersenyum. “Maksudmu … Sekar?” Luna menganggukkan kepalanya. “Dia pacarnya Mas Rino, kan? Kenapa Mas Raka bikin aku jadi pengganggu, sih?” Luna masih mengekor di belakang Raka, mengikuti setiap langkah lelaki yang baru saja pulang kerja itu dengan rasa kesal. “Harusnya Mas Raka kasih tau Mas Rino supaya dia jauhin aku. Bukannya selipin aku di antara mereka,” omel Luna. Raka menghentikan langkahnya. Ia mengangkat kepalanya, saat merasa sepasang mata sedang mengawasinya. Matanya bertemu dengan mata Sekar yang sedang berdiri di lantai ata
“Ardy pelanggan ini orang baru. Dia minta dilayani kamu.” Resepsionis memberikan informasi saat Ardy keluar dari ruang tunggu setelah melihat nomernya dipanggil.“Pelanggan baru minta dilayani aku?” Mata Ardy berbinar senang. “Ya. Seperti biasa buat dia bertahan untuk tetap kembali ke panti ini.” “Kamu tahu betapa hebatnya aku mempertahankan klien untuk kalian semua.” Ardy tersenyum angkuh.Dia berjalan menuju ke ruang VIP. Sebelum tamu datang tentu saja terapis sudah harus ada di dalam ruangan dan memastikan semua keperluan sudah siap.Memang ada petugas lain yang mempersiapkan kebutuhan pijat memijat, tetapi tetap tugas seorang terapis untuk mengecek semuanya terlebih dahulu.“Sempurna. Hari ini hariku sempurna!” Ardy menggosok kedua tangannya penuh kegirangan.Pemuda itu mengambil sebutir anggur dan memakannya. Dia duduk dengan santai sampai lampu tanda pelanggan akan masuk nyala. Dan ketika lampu itu menyala, Ardy
Ardy memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang berada di sebelah panti pijat tempatnya bekerja. Pria itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. ( Aku sudah sampai. Apa kamu bawa uangnya?) Pesan itu segera terbalas. ( Kamu di mana? ) Ardy menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menjawab, ( Dalam mobilio warna hitam ) Dia satu-satunya yang parkir dengan ciri mobil tersebut. Ardy memeriksa ke sekelilingnya. Selang satu menit, terlihat seorang perempuan cantik keluar dari dalam kafe. Awalnya dia tidak peduli, karena seharusnya seorang pria yang datang bertransaksi dengannya. Namun, saat perempuan itu mendekat dan mengetuk mobilnya, pria itu menatap ke arah jendela dengan seksama. Dia heran karena merasa tidak ada janji temu dengan seorang wanita. ( Rekanku sekarang di depan mobil menemuimu. Ini akan jauh lebih aman daripada kita bertemu.) Pesan itu
Ardy baru saja selesai mandi saat dia mendengar pesan masuk. Pria itu mengambil benda pipih di atas meja dan membuka pola kunci untuk membaca pesan di ponselnya. Dia mengernyitkan kening saat melihat foto yang dikirim oleh seorang ahli tersebut. “Gila! Benar-benar seperti asli,” gumamnya kagum. Dia memperbesar foto-foto itu dan dibuat kagum karenanya. “Bahkan lubang pori wajahnya pun terlihat nyata,” decaknya penuh kekaguman. Pria itu menggeser satu persatu foto yang dikirim melalui pesan di handphonenya itu. Dia menyeringai lebar melihat setiap gambar yang ada di sana. Semua foto itu adalah lembaran uang yang sangat besar. “Aku akan kaya, sangat kaya,” gumamnya kegirangan. “Mas Ardi.” Suara serak manja penuh nada protes saat tidurnya terganggu oleh suara Ardi. “Susi Sayangku.” Ardy tersenyum lembut. “Mas Ardy lagi ngapain?” Susi membuka matanya dan setengah berbaring sambil m
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin







