Share

Bab 2. Basah

Penulis: Chocoberry pie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 00:49:02

Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja.

Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadahkan tangannya. "Uang sewa kamar. Sudah dua bulan, loh kamu nunggak."

"Raka belum ada duit, Tante. Kemarin baru dapat kabar Bapak sakit di kampung. Duit yang harusnya buat bayar sewa kamar jadi kepake lagi," sahut Raka. "Kasih Raka waktu lagi, Tan. Gajian bulan depan, Raka bayar."

"Pake alesan!" sahut Tante Feli. "Kalau nggak bisa bayar, keluar dari kos-kosan ini. Banyak yang cari kamar kosong, kok."

"Tante, please. Tante boleh suruh aku lakuin apa saja, asal aku nggak disuruh pindah dari sini." Raka menyatukan kedua tangannya tanda memohon.

Lelaki muda itu terlihat sangat canggung berada di hadapan ibu kos nya yang cantik tapi galak itu. Apalagi penampilannya yang selalu muda lengkap dengan gaun mini dan sandal tingginya. Badannya yang slender tak menampakkan bahwa dia telah memiliki seorang anak gadis berusia belasan tahun.

Hah! Mau disuruh apa? Wanita itu menatap lelaki muda di hadapannya. Matanya menatap Raka dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

"Kuat berapa ronde?" tanya Tante Feli tanpa basa-basi.

"M-maksud Tante?"

"Kamu bisa puasin aku berapa ronde?" hardiknya dengan gemas ketika pria muda itu seakan tak mengerti apa yang dimaksudnya. "Kamu bukan anak kecil. Kamu pasti ngerti apa yang Tante bilang."

Raka menelan kasar salivanya. "T-tapi Tan … a-aku belum pernah …."

"Nggak papah. Sini ... Tante ajarin," ucap wanita itu dengan nada gusar.

Wanita itu melebarkan kakinya. Bagian bawah rok mini bermotif bunga itu menampilkan sesuatu yang sangat didambakan kaum adam. Sebuah belahan indah yang membuat jantung Raka tiba-tiba berdebar kencang. Belahan itu jelas terlihat karena Feli hanya memakai sebuah G-string di dalamnya.

Perlahan lelaki muda itu mendekatinya.

"Duduk. Dan jilatin punyaku sampe aku puas," perintah tante bertubuh sexy itu.

"S-serius, Tan?" tanya Raka dengan rasa sedikit gugup. Dia benar-benar nggak pernah nyangka semua fantasi liarnya selama ini akan seperti gayung bersambut.

Feli membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Raka dengan patuh mulai menyibak kerimbunan sepasang bukit itu, melihat sesuatu yang berwarna kemerahan di dalam lipatannya dan mulai menjulurkan lidahnya.

"Hmm ... Hmmm! Anak pinter," desahnya.

Mendapat pujian seperti itu, Raka semakin bersemangat. Pria muda itu menggerak-gerakkan lidahnya di bagian inti tante cantik pemilik rumah kosnya.

"Aaah …. Ka, terus Ka …" desahnya. Sementara tangannya meraih rambut pria muda itu dan menariknya. Sepertinya Raka belajar dengan cepat. Sekarang dijulurkannya lidahnya sepanjang mungkin masuk ke dalam celah kelembutannya, sementara jemari tangannya mengusap cepat titik sensitif Feli. Tubuh wanita itu bergetar, menegang dan punggungnya terangkat dengan sensual saat mencapai pelepasannya.

Raka menghentikan aksinya. Dirasakan di bawah sana, miliknya mulai berdenyut. Lelaki muda itu menggigit bibirnya ketika melihat belahan yang baru saja dinikmati olehnya begitu basah dan licin.

"Hmm … kamu nunggu apa?" tanya Feli dengan senyum di bibirnya. "Sini … sini. Tante bantuin. Udah sesak gitu."

Tanpa basa-basi Feli memelorotkan boxer lelaki muda itu. Namun ….

Tok! Tok! Tok!

"Rakasya! Buka pintunya!" Suara nyaring Bu Feli terdengar mengalahkan toa masjid yang sedang berbunyi mengumandangkan sholat ashar.

Raka yang masih terbuai dalam mimpinya, langsung tersentak. Ia langsung berdiri dengan gugup mendengar suara wanita dalam mimpinya itu.

Raka menghentikan langkahnya. Ia mendecak saat kulitnya merasakan boxer yang dipakainya yang lengket dan basah. Cepat ia memelorotkan celananya dan menggantinya.

“Rakasyaa! Aku tau kamu di dalam!” teriaknya masih terdengar galak penuh intimidasi.

Raka semakin gugup. Apalagi saat pandangannya tertuju pada sprei yang terlihat basah efek dari mimpinya tadi. Tanpa berpikir panjang, lelaki muda itu menarik kain sprei dan menyimpannya di bawah ranjangnya.

“Raka—”

Suara nyaring itu terdengar lebih kuat saat pintu kamar Raka terbuka. Mata lelaki itu langsung melotot saat pandangannya justru terarah pada tubuh sexy wanita yang berdiri di depannya.

Tanktop dengan potongan dada rendah itu seakan tak sanggup menampung gumpalan kenyalnya, membuatnya terlihat seperti mau tumpah. Bahkan belahan di dadanya terlihat begitu jelas, seakan menantang untuk menyelinap di antaranya.

“Heh! Rakasya! Mana setorannya? Udah dua bulan loh ini.” Mata dengan bulu lentik itu melebar, seakan hendak menyembunyikan gumpalan putih lem yang menyatukannya.

“Uang setorannya, baru Raka kirim ke rumah. Bapak lagi sakit,” sahut Raka dengan wajah memelas. “Raka … minta waktu lagi, Tante.”

“Kamu … bawa keluar semua barang kamu sekarang,” ujar Tante Feli masih dengan matanya yang mendelik.

“Kasih aku waktu lagi, Tan. Aku nggak tau harus kemana kalau Tante usir aku.” Raka mengatupkan kedua tangannya, memohon belas kasih wanita di hadapannya.

“Aku udah kasih kamu waktu. Tapi…” Feli menggelengkan kepalanya. “Aku juga bukan dinas sosial. Cepat kemasi barangmu, atau … aku lempar semuanya keluar.”

“Tan, satu bulan. Aku lunasi semuanya bulan depan.”

“Raka, banyak kok yang mau sewa kamar ini. Lokasinya enak, harga sewanya murah. Lagian … kamu tau kan … listrik, air, perawatan bangunan itu juga perlu kubayar. Kalau kamu nunggak terus, aku bayar pake apa nanti? Udah, kamu nggak bisa tinggal di kamar ini lagi!”

Feli menyilangkan kedua tangannya, bersedekap di dada.

Gerakan yang justru membuat Raka semakin sesak saat melihat gumpalan kenyal itu semakin membuncah karena tersanggah oleh sepasang tangan di bawahnya.

“Heh! Diem aja! Kamu denger enggak!”

“Denger Tan. Tapi sumpah … Raka nggak punya maksud buat nunggak bayar lagi, cuman bapak lagi butuh biaya buat pengobatan.”

Tante Feli menghentak kakinya dengan kesal, membuat sepasang gumpalan kenyal itu bergetar seketika.

“Ya udah! Sementara malam ini … aku ijinin kamu tinggal di gudang! Kamar kamu ini sudah ada yang sewa. Bereskan barang kamu sekarang.”

Setelah memberikan keputusan, Tante Feli langsung berbalik dan melangkah pergi.

Raka masih bisa melihat pantatnya yang bulat dan padat itu mengayun ke kiri dan ke kanan setiap kakinya melangkah. Setiap ayunannya membuat batang lelaki muda itu berdenyut hidup.

"Tante Feli, oh ... tante Feli."

….

Gudang rumah kos itu bukan hanya berdebu, tapi juga separuhnya dipenuhi oleh barang-barang yang tak lagi berfungsi. Entah apa tujuan tante Feli menyimpan berbagai rongsokan alih-alih membuangnya.

Raka sudah membersihkan hampir separuh ruangan itu. Ia mengeluarkan barang-barang bekas yang rencananya akan dijual pada penadah kenalan tante Feli.

Namun sesaat pandangannya terkunci pada sebuah kotak kecil di rak susunan paling atas. Tempat yang jelas tak akan bisa digapai tanpa perjuangan.

Raka berjingkat, tangannya terulur menggapai kotak itu. Namun letaknya terlalu tinggi. Ia mulai memanjat naik dengan satu kaki ke rak yang lebih tinggi. Tangannya terulur, menggapai semampunya.

Dapat! Kotak kayu berdebu itu berhasil diraihnya. Ia mengamati ukiran di balik debu tebal yang menutupi kayu merahnya.

Tapi … apa isinya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 8. Main Aman Aja

    Malam yang dingin, restoran yang sepi dari pengunjung, para karyawan pun dengan segera membereskan restoran, berharap bisa segera pulang.Raka bekerja sebagai kasir bersama dengan Lira. Pekerjaan menghitung uang bukanlah hal yang susah untuk Raka.“Ka, malam ini kamu ada acara?” bisik Lira dengan tubuh yang sangat dekat dengan Raka.“Tidak ada.” Napas Raka tercekat ketika merasakan salah satu melon besar Lira menempel di lengannya.Setelah menjamah, meremas dan merasakan nikmatnya milik tante Feli, Raka lebih mudah membayangkan isi dalaman dari melon besar milik Lira. Pasti rasanya empuk dan nikmat sekali. Tidak terasa celana dalamnya menjadi semakin sesak.“Anterin aku pulang ya,” rajuk Lira manja.“Memangnya kamu tidak bawa motor.” Panas dingin rasanya, saat bagian tubuh Lira yang kenyal itu semakin menempel di kulitnya.“Lagi di service, kemarin habis mogok. Tadi aku pakai kojek, loh ke sini.”Raka menoleh ke arah Lira, menemukan wajah gadis itu sangat dekat dengannya. Duh, ingin s

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 7. Mau Berapa Ronde?

    Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin tubuh sexy yang luar biasa legit ini," batinnya. "Tante … emangnya Tante udah lama nggak main?" tanya Raka tanpa basa-basi. "Suami Tante kemana? Kok selama Raka nge kos, nggak pernah keliatan, sih? Jangan-jangan …." "Hayoo … kamu mikir apa?" Feli mencubit puting Raka dengan gemas. "Suami Tante udah meninggal lima tahun lalu. Dia ninggalin beberapa rumah buat Tante. Lalu … kakak ipar Tante yang kerja di kilang minyak, nikahin Tante buat ambil alih tanggung jawab adiknya. Tapi dia jarang banget pulang.” "Oh …. Kirain Tante udah nggak punya suami." Raka tertawa pelan mengetahui pikirannya yang keliru. "Pantas aja, rumah kos ini besar. Pasti banyak pengeluarannya. Tapi kilang minyak, past

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 6. Kusimpan Perjakamu

    Raka masih merasa sangat canggung. Dia melihat mata ibu kos cantiknya itu melotot. Perasaan dikagumi itu membuatnya menjadi bangga.Batangnya memang terlihat membesar seperti tubuhnya. Dia menjadi semakin percaya diri melihat kilau kekaguman dan hasrat di mata sang ibu kos. Raka lebih terkejut lagi saat merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Darahnya langsung berdesir hebat dan tubuhnya bergetar merasakan sensasi baru itu.Perempuan itu benar-benar tak mau buang-buang waktu. Dipegangnya benda berotot yang berdiri menantang itu. Raka melihat tangan ibu kosnya pun tak bisa menutupi satu bagian tubuhnya itu secara penuh.Pria itu mendesah saat merasakan gerakan mengusap ke atas dan ke bawah yang dilakukan perempuan cantik dan matang itu. Wanita itu jelas sangat ahli dan terlatih melakukan itu.Raka yang merasakan napasnya makin memburu. Dia sering memegang miliknya sendiri saat berfantasi, tetapi rasanya sangat berbeda saat seorang wanita yang

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 5. Sini, Tante Ajarin.

    “Aku mau kamu jadi simpananku.” Raka mengira ia salah dengar. Tapi tante Feli mengucap kalimat yang sama, dengan sangat jelas. Dia tak menyangka kalau perempuan yang biasanya judes itu bisa mengucapkan kalimat seperti yang diimpikannya. Pemuda itu masih tercengang dengan hati yang bersorak.Melihat Raka terdiam, Tante Feli semakin gemas. “Kamu bukan anak kecil, Raka. Kamu ngerti apa yang aku maksud.” Wanita itu meraih tangan Raka tanpa malu-malu. “Ikut aku!” perintahnya. Mau tak mau, Raka berdiri dan mengikuti langkah ibu kos cantiknya. Berada selangkah di belakangnya, membuat jantung Raka berdebar lebih kencang. Bukan karena takut, tapi karena fantasinya yang semakin menggila memikirkan permintaan gila ibu kosnya tadi.Tante Feli berhenti di depan pintu kamarnya. Tangannya memutar kenop dan mendorongnya hingga terbuka. Tanpa basa-basi, ia menarik tangan Raka mengikutinya masuk. Ruangan beraroma mentol itu mempunyai sebuah ranjang klasik dari jati merah. Bukan hanya itu, semua pe

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 4. Perubahan Besar

    Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya sudah ditempa latihan keras bertahun-tahun. Kulitnya menjadi bersih dan lebih cerah. Dan lebih dari semua itu, bagian tubuhnya di bawah sana. Bagaimana mungkin bisa bertumbuh hanya dalam waktu semalam! Apa mungkin semua ini cuma mimpi? Tidak! Jika ia mengingat semuanya. Keanehan ini dimulai sejak ia menemukan cincin aneh di gudang. Cincin dalam kotak kayu dengan grafir tulisan aneh di bagian dalamnya. “Raka! Kamu ngapain di dalam? Pindah tidur apa mati?” Suara nyaring dan ketus itu sangat jelas di telinganya. Raka segera meraih handuk dan melingkarkan di pinggang untuk menutup sebagian tubuhnya sebelum membuka pintu kamar mandi. Tante Feli yang berdiri di depan kamar mandi, langsung m

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 3. Cincin Aneh

    Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tulisan dalam bahasa asing. “Cincin siapa ini?” batin Raka, “kenapa disimpan di sini? Dianggap sampah? Tapi kenapa di rak paling atas, tempat yang nggak terjangkau. Tapi ....” Raka mengamati logam itu dengan seksama. Tidak ada hal yang aneh selain grafir di bagian dalamnya. Bahkan ada garis tipis berwarna kekuningan yang memperindah tampilan cincin itu. Model yang terlalu biasa, bahkan terlalu sederhana. Lelaki muda itu tanpa ragu, menyematkan benda itu di jarinya. “Semua yang ada di gudang, sudah nggak diperlukan oleh Tante Feli. Berarti … benda ini juga, kan?” Senyuman langsung muncul di bibirnya. Matanya menatap benda mungil yang melingkar di jari manisnya. Raka menyapu seisi ruangan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status