MasukMata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tulisan dalam bahasa asing.
“Cincin siapa ini?” batin Raka, “kenapa disimpan di sini? Dianggap sampah? Tapi kenapa di rak paling atas, tempat yang nggak terjangkau. Tapi ....” Raka mengamati logam itu dengan seksama. Tidak ada hal yang aneh selain grafir di bagian dalamnya. Bahkan ada garis tipis berwarna kekuningan yang memperindah tampilan cincin itu. Model yang terlalu biasa, bahkan terlalu sederhana. Lelaki muda itu tanpa ragu, menyematkan benda itu di jarinya. “Semua yang ada di gudang, sudah nggak diperlukan oleh Tante Feli. Berarti … benda ini juga, kan?” Senyuman langsung muncul di bibirnya. Matanya menatap benda mungil yang melingkar di jari manisnya. Raka menyapu seisi ruangan dan mengepel lantainya. Selang satu jam kemudian, kamar itu terlihat bersih. Gudang itu memang jauh lebih lebar dari kamar kosnya. Gudang itu bukan hanya tidak punya kamar mandi dalam, tapi juga lebih pengap tanpa jendela, sirkulasi udara dan penerangan yang layak. Tapi Raka harus tetap bersyukur masih punya tempat berteduh malam itu. Krucuk …. Suara aneh itu terdengar dari perutnya. Memang sejak diusir dari kamarnya, Raka sudah menyibukkan diri mengangkut barangnya yang tak seberapa banyak itu, pindah ke gudang. Raka menghela napas. “Waktunya makan!” Seperti biasa, ia melangkah keluar dari rumah kos, menuju jalan utama yang biasanya dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Mulai dari pedagang sate, tahu bulat, es teh jumbo sampai mie duk duk langganannya. Namun baru saja ia sampai di depan penjual mie duk duk, suara teriakan terdengar dengan begitu jelas. “Tolong! Jambret! Hentikan dia! Tolong!” Seorang lelaki dengan pakaian gelap berlari ke arah Raka. Siku tangannya bahkan sempat menghantam di tulang keringnya saat menyibak kerumunan. Namun aneh, Raka sama sekali tak kesakitan. Tanpa berpikir panjang, Raka justru berlari mengejar. Langkah panjangnya terasa ringan saat menerobos kerumunan pejalan kaki, matanya menatap lurus ke arah lelaki yang masih berlari sekencang mungkin di depannya, lalu ikut rombongan pejalan kaki menyebrangi jalanan. Lampu menyala merah saat Raka sampai. Tapi ia tak sempat menghentikan langkahnya. Matanya mendelik saat sebuah mobil melaju tepat di hadapannya. Tubuh Raka tiba-tiba terasa hangat seperti sejumlah energi yang besar mengalir dalam darahnya. Tubuhnya terasa seringan kapas. Sedetik kemudian sepasang tangannya bertelekan di kap mobil yang melaju itu, tangan itu dengan kuat menolak, membuat tubuhnya melambung dan mendarat tepat di sisi seberang jalanan. Raka masih bisa mendengar gumaman orang yang sempat melihat kejadian itu. “Kamu lihat, apa tadi dia terbang?” “Siapa dia? Nggak takut mati, apa?” “Nggak mungkin! Mustahil dia selamat!” Raka melihat penjambret tadi berlari menyelinap ke sebuah gang sempit. Ia kembali mengejarnya. Langkahnya berhenti saat melihat lelaki kurus dengan kulit gelap itu berdiri seperti menantangnya. Di tangannya terlihat benda logam berkilat yang sengaja diarahkan padanya. “Nggak usah ikut campur, Bang!” ancam lelaki dengan setelan gelap itu, “nggak usah sok-sokan jadi pahlawan.” “Taruh tas itu,” perintah Raka. Tatapannya tajam tak berkedip, menjelaskan auranya yang mengintimidasi. Tapi penjambret tadi masih tak menyerah, bahkan saat ia sudah berada di jalan buntu sekalipun. Lelaki itu melangkah cepat dengan pisau lipatnya yang sudah terhunus. Melihat ujung pisau yang menghujam dengan cepat ke arahnya tak membuat nyali Raka menciut. Ia menangkap lengan lelaki itu dan memutar pergelangan tangannya dengan kuat. “Aaargh!” Suara teriakan terdengar bersamaan dengan suara gemeretak saat tulang itu berganti posisi, disusul suara denting saat logam itu menyentuh paving di bawahnya. “Ampun Bang! Ampun!” teriak lelaki itu kesakitan. Suara ricuh itu menciptakan kerumunan warga sekitar yang ingin tahu. Mereka tak berani melerai, justru sibuk mendokumentasi kejadian itu. “Kamu balikin tasnya sekarang … atau sekalian kupatahin tanganmu.” Seorang gadis menyeruak di antara para penonton yang menutupi pintu jalanan buntu itu. “Tasku!” teriaknya sembari meraih tas jinjing putih yang serasi dengan setelan pakaian putihnya. Gadis itu segera membuka dan memeriksa isi di dalamnya. “Lengkap! Masih lengkap. Syukurlah.” Raka melepaskan cekalan tangannya saat dua pria berseragam di belakang gadis tadi datang untuk menangkap si penjambret. “Mas, makasih ya. Kalau nggak ada Mas, berkas penting di dalam tasku pasti udah nggak selamat,” ucap gadis itu dengan wajah malu-malu. Gadis di hadapannya sangat cantik. Sama sekali berbeda standarnya dengan rekan kerja wanitanya di kedai ayam goreng tempat kerja part time nya, tidak bisa dibandingkan juga dengan teman di kos wanita, atau bahkan teman mahasiswinya. Bukan cuma wajah cantiknya yang terlihat anggun, tapi bentuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol. Sepasang gumpalan kenyal di dadanya yang terlihat padat menantang, lekuk pinggangnya yang ramping. Semuanya tetap terlihat dengan jelas dalam balutan setelan formalnya yang rapi dan sangat berkelas. “Mas?” Suara lembut itu mengusik konsentrasi Raka yang masih tak lepas mengagumi kemolekan tubuh gadis itu. “Euh … nggak papa. Aku cuma … kebetulan saja ada di situ,” sahut Raka. Kalimatnya jelas canggung, saking paniknya kepergok mengamati tubuh indah di hadapannya. "siapapun pasti menolongmu." "Tapi ... buktinya cuma Mas yang kejar jambret itu buat aku. Aku … nggak tau gimana harus balas Mas. Jadii …” Gadis itu mengeluarkan selembar kartu nama dan memberikannya pada Raka. “gini aja. Mas bisa hubungi aku kapan saja kalau Mas butuh bantuan.” “Shakira Diartha.” Raka membaca nama di atas kertas itu. “Kira.” Gadis itu mengulurkan tangannya, jelas mencari tahu nama penolongnya malam ini. “Rakasya Gutawa,” sahutnya, menyambut uluran tangan itu. “Raka. Aku tinggal di dekat sini.” Raka dapat merasakan lembutnya tangan gadis itu. Juga aroma samar manisnya vanila yang menguar dari tubuhnya. Dan satu bagian di tubuhnya yang mulai terasa menyesak.Sebelum berangkat kerja, Raka menyempatkan diri untuk mengunjungi Shakira. Keadaan perempuan itu sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Semenjak anak buah Rino berjaga, Devon tidak bertingkah keterlaluan lagi. Apalagi saat ini pengacara Shakira mulai bekerja keras mempertahankan semua aset yang ditinggalkan sang suami. “Raka, aku mengunjungi kakek.” Shakira bercerita tentang kakek Ryu. “Beliau … kelihatan tidak sehat.” Wajah perempuan cantik itu terlihat sangat lelah. Dia memegang gelas air putih di tangannya, tetapi tak kunjung minum juga semenjak pria itu datang. “Apa kakek sakit?” tanya Raka pelan.Shakira mengangguk. “Kakek terlihat depresi.” “Apa dia bersikap baik padamu?” Raka khawatir kalau tekanan untuk Shakira akan bertambah.“Dia baik padaku, Ka, meskipun tahu kalau Mas Ryu sudah menyerahkan semua padaku. Bahkan dia memberiku semangat untuk mempertahankan semua yang sudah diperjuangkannya sejak muda.” Sha
“Luna ….” Rino meraih tangan gadis itu dan menyatukan keduanya tepat di atas kepala untuk menahannya. “Nikmati saja, aku buat kamu jadi wanita paling bahagia di dunia.” Rino bisa merasakan tubuh Luna yang bergetar. Ia bisa merasakan tangannya yang meronta ingin bebas. Namun Rino tak melepaskannya. Satu tangannya tetap menahan lengan Luna, sementara satu tangan lain tetap bergerak liar di balik kain segitiga berenda Luna yang jelas terlihat basah.“Mas Rino, oough ….” Rintihnya lagi.“Kamu suka, Lun?” Luna tak menjawab. Ia hanya menggigit bibirnya menahan setiap gelitik yang terasa semakin kuat di dalam perutnya. “Aku … ooough …” Rino tak dapat lagi menahan hasratnya. Ia mendekatkan miliknya dan mulai menggesekkan tuasnya yang telah menegang di balik kain berenda yang membatasinya dengan surga dunianya itu. Luna menelan ludahnya. Tubuhnya semakin bergetar. “Luna, kalau kamu belum siap … aku tidak akan mema
Baru saja Raka menginjakkan kakinya ke dalam ruang tamu rumah tinggal Rino, Luna sudah menghampirinya. “Mas Raka, kamu tahu nggak … perempuan yang tinggal di lantai dua itu.” Luna menekan suaranya seolah takut seseorang selain Raka mendengar ucapannya,”... perempuan yang lagaknya macem cowok, yang punya anting di hidungnya itu.” Raka langsung tersenyum. “Maksudmu … Sekar?” Luna menganggukkan kepalanya. “Dia pacarnya Mas Rino, kan? Kenapa Mas Raka bikin aku jadi pengganggu, sih?” Luna masih mengekor di belakang Raka, mengikuti setiap langkah lelaki yang baru saja pulang kerja itu dengan rasa kesal. “Harusnya Mas Raka kasih tau Mas Rino supaya dia jauhin aku. Bukannya selipin aku di antara mereka,” omel Luna. Raka menghentikan langkahnya. Ia mengangkat kepalanya, saat merasa sepasang mata sedang mengawasinya. Matanya bertemu dengan mata Sekar yang sedang berdiri di lantai ata
“Ardy pelanggan ini orang baru. Dia minta dilayani kamu.” Resepsionis memberikan informasi saat Ardy keluar dari ruang tunggu setelah melihat nomernya dipanggil.“Pelanggan baru minta dilayani aku?” Mata Ardy berbinar senang. “Ya. Seperti biasa buat dia bertahan untuk tetap kembali ke panti ini.” “Kamu tahu betapa hebatnya aku mempertahankan klien untuk kalian semua.” Ardy tersenyum angkuh.Dia berjalan menuju ke ruang VIP. Sebelum tamu datang tentu saja terapis sudah harus ada di dalam ruangan dan memastikan semua keperluan sudah siap.Memang ada petugas lain yang mempersiapkan kebutuhan pijat memijat, tetapi tetap tugas seorang terapis untuk mengecek semuanya terlebih dahulu.“Sempurna. Hari ini hariku sempurna!” Ardy menggosok kedua tangannya penuh kegirangan.Pemuda itu mengambil sebutir anggur dan memakannya. Dia duduk dengan santai sampai lampu tanda pelanggan akan masuk nyala. Dan ketika lampu itu menyala, Ardy
Ardy memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang berada di sebelah panti pijat tempatnya bekerja. Pria itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. ( Aku sudah sampai. Apa kamu bawa uangnya?) Pesan itu segera terbalas. ( Kamu di mana? ) Ardy menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menjawab, ( Dalam mobilio warna hitam ) Dia satu-satunya yang parkir dengan ciri mobil tersebut. Ardy memeriksa ke sekelilingnya. Selang satu menit, terlihat seorang perempuan cantik keluar dari dalam kafe. Awalnya dia tidak peduli, karena seharusnya seorang pria yang datang bertransaksi dengannya. Namun, saat perempuan itu mendekat dan mengetuk mobilnya, pria itu menatap ke arah jendela dengan seksama. Dia heran karena merasa tidak ada janji temu dengan seorang wanita. ( Rekanku sekarang di depan mobil menemuimu. Ini akan jauh lebih aman daripada kita bertemu.) Pesan itu
Ardy baru saja selesai mandi saat dia mendengar pesan masuk. Pria itu mengambil benda pipih di atas meja dan membuka pola kunci untuk membaca pesan di ponselnya. Dia mengernyitkan kening saat melihat foto yang dikirim oleh seorang ahli tersebut. “Gila! Benar-benar seperti asli,” gumamnya kagum. Dia memperbesar foto-foto itu dan dibuat kagum karenanya. “Bahkan lubang pori wajahnya pun terlihat nyata,” decaknya penuh kekaguman. Pria itu menggeser satu persatu foto yang dikirim melalui pesan di handphonenya itu. Dia menyeringai lebar melihat setiap gambar yang ada di sana. Semua foto itu adalah lembaran uang yang sangat besar. “Aku akan kaya, sangat kaya,” gumamnya kegirangan. “Mas Ardi.” Suara serak manja penuh nada protes saat tidurnya terganggu oleh suara Ardi. “Susi Sayangku.” Ardy tersenyum lembut. “Mas Ardy lagi ngapain?” Susi membuka matanya dan setengah berbaring sambil m
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin







