بيت / Romansa Pria / Cincin Ajaib Pangeran Terbuang / Bab 1. Tante Galak Yang Bahenol

مشاركة

Cincin Ajaib Pangeran Terbuang
Cincin Ajaib Pangeran Terbuang
مؤلف: Chocoberry pie

Bab 1. Tante Galak Yang Bahenol

مؤلف: Chocoberry pie
last update تاريخ النشر: 2026-06-03 00:32:29

"Baru pulang, Ka?"

"I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya.

Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yang sepi.

Wanita berusia empat puluhan itu selalu membuat Raka salah tingkah saat berpapasan. Ibu kostnya ini meskipun galak, tetapi sangat cantik dan sexy. Bentuk tubuh yang dia miliki, mampu menjadi magnet untuk setiap pria.

Badan tante Feli, montok dan sangat singset. Raka pernah melihat beberapa kali ketika pantat bahenol itu sedang melakukan zumba. Meliuk ke sana kemari, membuat gemas ingin meremasnya. Apalagi tonjolan kembar di dadanya, seakan mau tumpah.

Mungkin itu pula alasan mengapa dada tante Feli terlihat begitu kencang, menonjol, membuat mata terasa gemas, ingin sekali melihat lebih jauh ke balik belahan dada mulus itu. Berapa ya ukurannya, Raka yang tidak pernah melihat dalaman wanita secara langsung, dibuat penasaran. Raka menelan ludah, membayangkan bisa menggapai dan menikmati dada itu.

"Setiap hari selalu pulang malam, keluyuran saja kamu?" Tante Feli menutup majalah yang sedang di bacanya. Dia menatap Raka dengan tajam. "Kamu pikir tante ini penjaga malam, yang tiap hari harus nunggu kamu pulang!"

“Tante Feli …,” desah Raka dalam hatinya. Paha kencang itu terlihat begitu menantang, terekspos dengan hanya celana pendek yang dia kenakan. Saat tante Feli duduk seperti saat ini, celana pendek itu terlihat kecil seperti hanya mengenakan celana dalam.

Tanpa sadar Raka yang masih berdiri di depan pagar kost, memiringkan kepalanya. Penasaran untuk bisa melihat lebih jauh ke dalam celah yang dibuat oleh rongga celana tersebut. Ia ingin menguaknya sedikit dengan tangan, andaikan itu bisa dia lakukan.

Apa warna dalaman tante Feli? Apakah celana dalamnya berwarna sama dengan bra yang dia kenakan? Merah. Tali bra berwarna merah yang bersalipan dengan tali spageti dari atasan tanktop mini yang dikenakannya begitu menggoda, bahkan atasan ketat yang dipakai tante Feli, memamerkan pusar seperti biasanya.

“Raka!”

“I –ya, Tante.” Raka terkejut mendengar tante Fely membentaknya.

“Ditanya, malah bengong,” ujar pemilik suara cempreng itu kesal.

Tante Feli bangun dari duduknya dengan sedikit menghentakkan kaki. Raka menjilat bibirnya, saat hentakan itu membuat paha dalam wanita itu sedikit bergetar. Wanita yang belasan tahun lebih tua darinya itu, berjalan mendekat membuat mata Raka semakin terbelalak.

Dada itu naik turun, tanpa kawat penyangga. Kenyal-kenyal empuk, gatal rasanya tangan Raka ingin meremas, merasakan kelembutannya dalam angan.

“Bengong saja kalau diajak omong orang tua! Kapan kamu mau bayar uang kost?" Sepasang mata wanita itu membulat. "Kamu pikir semua nggak perlu uang! Listrik, air, kebersihan, perawatan gedung."

“I–iya, Tante. Gajian kemarin habis buat bayar uang kuliah dan buku.” Raka berbicara tanpa bisa melepaskan pandangan matanya di dada tante Feli yang montok, kenyal-kenyal empuk.

“Dasar!” Tante Feli memutar dadanya meninggalkan Raka.

Tapi mata Raka kembali terpana menatap ke arah bokong yang padat berisi itu. Kedua bongkahan itu berlenggak-lenggok, membuat imajinasi terliarnya semakin bekerja keras.

Dan benar saja, batangnya sudah mendesak ingin lolos dari celana yang menutupinya. Entah kenapa bagian tubuhnya yang satu ini begitu cepat bereaksi setiap kali melihat tante Feli yang sexy. Postur tubuh dan wajahnya terlihat seperti salah satu artis cantik di televisi, yang … ah, jadi sungkan menyebutkan nama mereka.

“Kunci pagar kalau masuk! Anak aneh!” Tante Feli berteriak galak lagi, sebelum masuk ke dalam rumah yang bersebelahan dengan pintu masuk kost.

“Iya, Tante sexy,” bisik Raka sambil menghela napas karena sesak.

Raka buru-buru menutup pintu pagar. Dia bergegas menuju ke kamar kostnya yang terletak di bangunan terujung, terpisah dari penghuni lain. Raka memang menempati kamar kost yang lebih kecil dari kamar lainnya, tapi kamar itu punya kamar mandi dalam.

Di dalam kamar dia segera melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Batangnya sudah berdenyut sedari tadi, hanya dengan melihat tubuh bahenol tante Feli. Meskipun penampilan Raka culun, sopan dan cenderung pendiam, tetapi dia tetap seorang lelaki yang memiliki fantasi liar seperti lelaki lainnya.

Raka membasahi tangannya dengan sabun sebanyak mungkin dan mulai bermain di bagian miliknya. Naik turun semakin kencang. Bergerak perlahan kemudian semakin cepat.

“Aah … Tante Feli.”

….

"Ka, bapakmu kumat neh …." Suara isakan seorang wanita dengan logat jawanya yang kental terdengar dari ujung sambungan telepon. "Sekarang ada di rumah sakit. Diinpus, disuntik."

"Lah …. Gimana ceritanya kok tiba-tiba kumat, Bune?"

"Bapakmu kondangan kemarin, putrine Bu Narti, Nella. Mantanmu loh." Suara Bu Lastri terdengar sedikit lebih tenang.

"Teman, Bu. Teman!" balas Raka. Dia tak mau Nella terhitung menjadi salah satu historynya karena kisah perselingkuhan gadis itu saat mereka berpacaran dulu. Raka sangat pantang untuk mengingat gadis materialistis itu.

"Yo wes, teman. Nella rabi karo Parto. Bapakmu semalaman lihat wayangan karo bapake si Nella. Dijamu sate kambing sama ketan durian," tutur Bu Lastri.

"Waduh," ucap Raka singkat. Dia tak tahu lagi harus berkata apa mendengar kedua makanan yang seharusnya merupakan pantangan dari bapaknya itu.

"Ka …. Kalau ada uang, kirim ke ibu. Ibu butuh buat bapakmu. Biaya pengobatan sama rawat jalannya nanti pasti buesaar ini."

Raka mendesah pelan. "Astaga, kirim uang. Padahal uang kost masih nunggak dua bulan, kalau uang sisa kukirim juga ke kampung. Artinya aku nunggak lagi sebulan. Terus kalau aku diusir …." Perhelatan di dalam hati Raka terputus ketika mendengar suara ibunya kembali.

"Ka, siapa lagi yang mau bantu kalau bukan kamu, putra satu-satunya."

"Iya Bu, besok Raka kirim sisa tabunganku." Tentu saja Raka tak dapat menolak permohonan dari ibunya.

"Makasih ya, Ka. Maaf, bapak sama ibu ngerepoti kamu. Bukannya dukung kamu kuliah." Suara isakan kembali terdengar dari seberang sana.

"Sssst …," desis Raka. "Wes toh, Bune." Raka berusaha menghentikan tangisan ibunya. Dia tahu perjuangan ibunya saat ini sangat berat. Mengolah sawah sendirian sekaligus memantau suaminya yang sedang mengalami stroke.

Sesaat setelah panggilan itu terputus, Raka mulai melamun tentang cara mencari uang banyak dengan cepat. Merampok atau menjadi perantara penjual narkoba mungkin adalah yang tercepat. Tapi dia tak punya nyali cukup besar untuk melakukan hal semacam itu.

Bekerja part time, dia sudah habis-habisan bekerja di kedai fast food. Apalagi yang bisa dia kerjakan sekarang. "Nggak ada waktu buat santai, pikirkan apa yang bisa menghasilkan uang," batinnya sambil memeluk guling dengan pandangan menghadap ke tembok.

Tembok berposter grup band korea favoritnya, Blackpink dengan pose personilnya yang sangat menggemaskan dan sexy, membuatnya mendesah karena rasa frustasi. Kemolekan paras wajah dan postur tubuhnya yang memukau benar-benar adalah dambaan para kaum adam.

Seketika kepalanya terasa pusing. Bagaimana besok dia akan menghadapi ibu kostnya yang galak itu. Walaupun sebenarnya Raka suka mencuri lihat karena bodynya yang aduhai, tetapi di lain pihak dia tidak suka jika sampai ditegur.

"Ah …. Biarlah. Walaupun diusir juga, tak apa. Lebih baik aku cari kost yang lebih murah, supaya bisa mengirim uang untuk membantu biaya pengobatan bapak di kampung," batin Raka.

Pria muda itu mencoba memejamkan matanya, tapi yang terbayang adalah badan sexy tante kost nya yang tadi menyambut kedatangannya.

….

"Kuat berapa ronde?" tanya Bu Feli tanpa basa - basi.

"M-maksud Tante?"

"Kamu bisa puasin aku berapa ronde?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 297. Tahan Napas

    Suara putaran kunci di lubang pintu terdengar begitu nyaring, memecah keheningan ruang kerja Pak Bambang yang temaram. Sudar merasakan aliran darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak meloncat keluar dari rongga dada.Gawat! Pak Bambang balik lebih cepat dari dugaan! batin Sudar panik.Tidak ada waktu lagi untuk berpikir panjang. Pintu depan sudah mulai berderit terbuka, menampilkan celah cahaya dari koridor luar. Dengan refleks kilat yang luar biasa gesit untuk ukuran tubuhnya yang gempal, Sudar melompat kecil ke sisi belakang meja kerja yang lebar, lalu menjatuhkan diri tiarap di balik tirai beludru panjang yang menjuntai sampai ke lantai untuk menutupi bagian bawah meja.Untung saja meskipun bertubuh paling montok di antara semua anggota agensi, tetapi berkat latihan yang selalu dilakukan setiap hari, Sudar bisa bergerak cukup gesit dan bisa berpikir taktis di kala terjepit.Ceklek.Pintu terbuka lebar. Langkah kaki berat Pak Bambang terdengar memasuki ruan

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 296. Menyusup

    Pak Bambang menurunkan kakinya dan menatap Parto yang tak segera menjawab dengan rasa kesal. Sikap satpam itu yang selalu berpenampilan tenang, cuek dan muka datarnya sungguh mengesalkan bagi manager tersebut.“Cepat bilang ada gangguan keamanan apa!”"Tadi beberapa menit lalu, saat saya melakukan patroli keliling, saya memergoki ada gerak - gerik mencurigakan dari seorang tamu pria mabuk yang mondar - mandir di dekat lorong VIP 4, area tempat Mita biasa bekerja," jelas Parto dengan nada sangat formal dan meyakinkan. "Pria itu terlihat mengawasi Mita dengan gelagat tidak senonoh dan berniat melakukan pelecehan terselubung saat Mita lengah."Mendengar nama Mita dan potensi insiden pelecehan disinggung, Pak Bambang langsung duduk tegak. Sebagai orang yang turut merancang skenario jebakan untuk menjatuhkan satpam, telinganya langsung berdengung mendengar kata 'pelecehan' yang dikaitkan dengan Mita."Apa?! Pelecehan terhadap Mita?!" sergah Pak Bambang

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 295. Malam Di Jalan Rambutan

    Malam perlahan merambat naik, menyelimuti kawasan hiburan malam di Jalan Rambutan. Bauran cahaya neon warna-warni yang berpendar di atas basahnya aspal sehabis hujan sore tadi. Suasana di dalam gedung karaoke tampak mulai sibuk dengan datangnya para pengunjung malam yang memenuhi area lorong utama dan ruang-ruang VIP. Di lorong lantai dua, tepat di dekat area pos pantau utama, Vico menjalankan bagian pertama dari strategi besar yang telah disusun bersama agensi Sentosa saat rapat kemarin malam. Dengan balutan seragam dinas Agensi Sentosa yang sangat rapi dan wibawa khas seorang personel senior, Vico sengaja mengambil posisi berdiri di ruang terbuka yang ramai dilalui oleh para staf, pemandu lagu, serta kasir. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Siska tampak sedang merapikan beberapa dokumen nota di meja kecil dekat lorong dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Vico melangkah mendekat dengan langkah santai namun terukur.

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 294. Sepuluh Juta Buat Yang Nemuin!

    Hadi, Dimas, dan Seno masih berdiri kikuk di tempat mereka sebelumnya. Beberapa anak buah yang baru datang juga berhenti di teras. Mereka semua mendadak tegang karena ekspresi Rino yang tidak santai. “Ada apa ini ya? Apa si jalang itu cerita sama dia? Sialan! Kupikir wanita jalang itu mudah banget dirayu tapi ternyata enggak! Tamat sudah riwayatku!” Hadi membatin kalut. Ia takut usahanya untuk mengacau akan jadi sia- sia. Di sisi lain, Seno dan Dimas juga merinding begitu sosok Rino berada di hadapan mereka. Keduanya pun saling melirik satu sama lain. Sama-sama cemas. “Apa nih? Apa nih? Kenapa dia keliatan murka? Apa karena latihanku yang terlihat malas-malasan tadi? Tapi, jujur banget badanku udah mau remuk padahal masih latihan aja. Duh…gimana ini.” Seno membatin gelisah. Takut ditendang dari agensi ini. “Kok balik - balik keliatan marah? Apa ada ancaman?” Dimas membatin penuh semangat tanpa sebab. “Semuan

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 293. Luna Hilang?

    Rino sudah memegang kunci motor ketika sebuah motor besar hitam berhenti di depan pagar. Raka turun dengan jaket setengah terbuka, wajahnya datar seperti biasa. Raka mengerutkan dahinya. “Mau ke mana? Kita masih ada banyak kerjaan ya.” “Luna hilang!” Rino menyahut sambil tidak menoleh. “Aku harus cari dia secepatnya!” “Oh ya? Mungkin dia lagi keluar sebentar,” ujar Raka. Rino berhenti. Ia berjalan mendekati Raka. “Dengan koper yang juga ikut menghilang? Jelas dia pergi dari sini! Atau mungkin dia diculik! Bisa saja kan?” Raka memutar bola mata. “Dia pergi karena keinginannya sendiri kan? Kenapa kamu harus repot sih? Aku yakin, kalau masalah dia selesai, dia bakalan pulang ke sini lagi. Udah. Biarin aja dia sendiri dulu.” Rahang Rino mengeras. “Aku membiarkannya? Ka, Luna pergi! Aku nggak mungkin dong diam aja! Masalah? Kami nggak ada masalah sama sekali!” Raka menyandarkan punggu

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 292. Bukan Aku!

    “Luna Honey?” Tidak ada jawaban. Mata Rino mengedar mengitari kamar itu. Alisnya naik satu. Tampak kasur itu rapi. Lemari terbuka separuh. Rino berlari menuju lemari dan membukanya lebar-lebar. Seketika matanya membulat saat melihat koper Luna tidak ada di tempatnya. “Luna!” Rino berteriak memanggil nama Luna sambil mengecek kamar mandi, balkon, dapur, garasi. Nomor ponsel Luna di telepon. Nada sambung tetapi mati kemudian. Rino pun mencoba lagi. Tidak aktif! Tubuh Rino lesu seketika. Tangannya gemetar. “Tidak mungkin kan kamu ninggalin aku?” Ia pun bergegas turun ke halaman dengan wajah pucat. Ketiga anggota baru itu mengerutkan kening saat melihat Rino gelisah. “Latihan bubar! Apa ada yang lihat Luna keluar rumah?” Rino mengusap wajahnya dengan kasar. Mereka bertiga saling pandang. Dimas dan Seto menggelengkan kepala pelan. Sementara Hadi menggelengkan kepala dengan cepat. “Nggak, Boss. Kita di sini terus dari tadi.” “Iya, Boss. Kita semua capek dan dari tadi nggak a

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 4. Perubahan Besar

    Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 3. Cincin Aneh

    Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 2. Basah

    Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah

  • Cincin Ajaib Pangeran Terbuang   Bab 7. Mau Berapa Ronde?

    Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status