Home / Male Adult / Mau Berapa Ronde? / Bab 4. Perubahan Besar

Share

Bab 4. Perubahan Besar

last update publish date: 2026-06-03 08:34:38

Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi.

Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah!

Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya sudah ditempa latihan keras bertahun-tahun. Kulitnya menjadi bersih dan lebih cerah.

Dan lebih dari semua itu, bagian tubuhnya di bawah sana. Bagaimana mungkin bisa bertumbuh hanya dalam waktu semalam!

Apa mungkin semua ini cuma mimpi?

Tidak! Jika ia mengingat semuanya. Keanehan ini dimulai sejak ia menemukan cincin aneh di gudang. Cincin dalam kotak kayu dengan grafir tulisan aneh di bagian dalamnya.

“Raka! Kamu ngapain di dalam? Pindah tidur apa mati?” Suara nyaring dan ketus itu sangat jelas di telinganya.

Raka segera meraih handuk dan melingkarkan di pinggang untuk menutup sebagian tubuhnya sebelum membuka pintu kamar mandi.

Tante Feli yang berdiri di depan kamar mandi, langsung melotot saat melihat lelaki muda itu keluar. Aroma maskulin yang segar menguar dari tubuh berototnya, membuat wajahnya memanas.

Ia sama sekali tak menduga kalau Raka, mahasiswa miskin itu sangat menarik. Wajahnya terlihat tampan, tidak bisa dibandingkan dengan Joko, pria tua yang ia nikahi.

“Raka! Mau kemana?” Tante Feli langsung menegur, namun kali ini suaranya lebih lembut dari biasanya. “Aku mau bicara.”

Raka menghentikan langkah dan berbalik menatap wanita dengan setelan favoritnya, tanktop dan celana pendeknya. Setelan yang selalu membuat imajinasinya jadi liar.

Ia menelan ludahnya saat tatapannya tertuju pada sesuatu yang menonjol di balik tanktop pemilik rumah kos itu. Sepasang bulatan itu tercetak jelas, membuat fantasi Raka melambung seketika.

Jika Tante Feli sengaja tidak memakai branya, mungkin saja ia juga sedang tidak memakai celana dalamnya. Seperti apa bentuknya?

“Heh! Ngelamun apa?”

“Enggak Tan. Nggak ngelamun,” sanggah Raka.

“Raka, Tante tau. Kamu lagi kesulitan uang,” ujar Tante Feli. Suaranya sangat lembut, saking lembutnya terasa begitu aneh di telinga Raka.

“Kamu … urus barang bekas yang udah kamu keluarkan dari gudang, jual ke penadah. Uangnya ambil saja buat tambahan kamu,” lanjutnya.

“Tapi Tan—”

“Kenapa? Masih kurang?”

“Eh … enggak. Cukup Tan.”

Raka masih tak percaya pada pendengarannya. Tante Feli yang biasanya galak, tiba-tiba saja berubah lembut. Bukan hanya itu, wanita yang terkenal kikir itu bahkan memberikan rongsokan dari gudang itu padanya.

Feli menganggukkan kepalanya. Sesaat tatapannya berhenti pada handuk yang membalut setengah bagian bawah tubuh Raka sebelum berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.

…..

Hari sudah sore saat rongsokan terakhir diangkut dari halaman belakang rumah kos.

“Ini, totalnya tujuh ratus ribu.”

Raka menerima beberapa lembar uang berwarna biru. “Rejeki anak soleh,” ucapnya pada sang penadah, “makasih Bang.”

Raka masih memperhatikan barang-barang itu saat dinaikkan ke atas pick up. Ia sama sekali tak menduga kalau Tante Feli diam-diam memperhatikan gerak geriknya.

“Udah beres semua, Ka?”

Mendengar suara tante Feli, spontan membuat Raka berbalik. Ia langsung menelan ludah saat melihat wanita empat puluhan itu.

Tante Feli tidak terlihat seperti biasanya. Kali ini tubuh indah itu terbalut dengan gaun tidur tipis. Saking tipisnya, Raka dapat melihat dengan jelas bukan hanya lekuk indah tubuhnya, tapi juga sepasang puncak kemerahan di dadanya.

“U–udah Tan,” sahut Raka gugup.

Raka menundukkan kepalanya, bukan karena segan atau takut. Tapi ia tak sanggup mengontrol fantasinya yang semakin liar apalagi saat melihat pemandangan di depannya saat ini.

Tubuh tante Feli begitu indah. Raka takut jika tidak bisa mengontrol tangannya yang ingin sekali merasakan lembut dan kenyalnya sepasang gumpalan kenyal di dadanya.

“Kalau gitu, kamu ikut Tante sebentar. Tante mau minta tolong sama kamu.”

Tante Feli langsung memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Raka mengangkat wajahnya. Namun lagi-lagi tatapannya terpaku pada pantat bahenol yang meliuk ke kiri dan ke kanan dengan lincahnya. Raka ingin sekali menepuknya lalu meremasnya dengan gemas.

“Raka! Kamu ngapain di situ?” Suara tante Feli membuatnya tersentak. Ia langsung melangkah mendekat.

“Ka, Tante tau gaji kamu kerja part time di kedai ayam goreng itu nggak bakal cukup buat bayar sewa kos yang kamu tunggak. Belum lagi buat makan kamu tiga kali sehari. Ditambah lagi uang kuliah kamu.” Tante Feli menyilangkan kedua tangannya bersedekap di dada.

Gerakan sepele yang membuat konsentrasi Raka berantakan. Tangan itu seperti menyangga sepasang gumpalan itu, hingga terlihat lebih tinggi, lebih montok dan lebih menggemaskan.

“Lalu apa rencana kamu?” lanjut Tante Feli.

Perempuan itu menatap Raka dari ujung rambut ke ujung kaki. Ada aura yang berbeda pada lelaki itu, aura yang dulu tak pernah ia sadari keberadaannya.

Ia masih tak bisa melupakan peristiwa pagi tadi. Ia tak bisa melupakan pesona Raka. Tubuh indah yang dipenuhi otot itu, seolah menantang untuk disentuh. Dan … sesuatu yang terlihat menonjol di balik handuk putihnya pagi tadi, benar-benar membuatnya penasaran.

Benarkah yang dilihatnya pagi tadi?

“Jangan khawatir, Tan. Raka pasti bayar,” sahut Raka yang kembali bimbang. Semua yang dikatakan tante Feli tidak keliru. Ia tidak bisa mengandalkan gaji part time yang nggak seberapa itu. Tapi ia juga masih belum siap untuk pergi.

“Apa … kamu mau bantu Tante?” tanya Feli setengah ragu. Matanya menatap Raka dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah menafsir jawaban yang mungkin akan keluar dari bibir lelaki itu.

“Bantu … apa Tan?”

Raka mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tak bisa menebak isi pikiran ibu kosnya itu. Terlalu banyak perubahan membuatnya tak tahu harus bersikap apa pada wanita cantik itu.

“Raka, kamu tahu … Joko, suami Tante jarang sekali pulang. Dia bahkan sudah hampir setahun nggak pulang,” tutur Tante Feli, “tante … sebagai wanita normal, tetap butuh sentuhan, kasih sayang, dan rasa dibutuhkan.”

“Tapi Om Joko … memperlakukan Tante sudah seperti yang seharusnya, kan?”

Feli menepuk sofa di sebelahnya. “Duduk sini. Biar kamu bisa ngerti maksud Tante.”

Raka melangkah mendekat dan duduk di sisi wanita yang hampir seumuran ibunya itu. Ia menatap ragu wanita cantik berhidung mancung itu.

“Suami tante jarang pulang. Dia tidak bisa memberikan apa yang Tante mau,” tutur Tante Feli, “dia kerja di kilang minyak. Selain uang, yang dia berikan tak pernah membuat Tante puas.”

Raka menelan ludahnya. Ia tak menyangka Tante Feli bahkan menceritakan masalah rumah tangganya dengan begitu blak-blakan. Tanpa ragu ataupun malu.

“Jadi … maksud Tante—-”

Tante Feli menyentuh rahang Raka. Ia tersenyum dan menatap wajah lelaki muda itu.

“Aku mau kamu jadi simpananku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Marick Gbm
bagus ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 168. Mau Kamu

    Rino langsung mendorong tubuh Luna ke dinding kamar itu. Ia mendekatkan bibirnya ke leher jenjang Luna. Ia menarik napas, menikmati aroma manis parfum kekasihnya. Hembusan napas hangat itu menyentuh leher Luna, membuat tubuh perempuan cantik itu menegang seketika. Alkohol benar-benar membuat keduanya hilang kendali. Sentuhan basah itu mendarat di leher jenjang Luna, memaksa bibirnya mendesah pelan menikmati hasrat yang semakin membakar tubuhnya. Hembusan napas Rino seperti api saat menyentuh jejak basah yang ditinggalkannya. Luna mengangkat kedua tangannya melingkarkannya di leher Rino sementara satu tangan lainnya meremas rambut lelaki itu agar tak berhenti menyentuhnya. “Luna … Lunaku.” Lirih Rino di telinga Luna. Luna masih memejamkan matanya. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Sentuhan Rino bagai candu baginya. Ia selalu merindukan saat tangan kasar lelaki itu menyentuh kulitnya seperti saat ini. Jemari itu menyentuh di

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 167. Tukimin

    Tukimin tersenyum lebar, memamerkan gigi - gigi besar yang maju ke depan. Pria itu berjalan dengan membawa dus besar dengan satu tangannya, layaknya pramusaji.Dia senang sekali dengan semua tatapan yang tertuju padanya. Baru kali ini Tukimin merasakan bagaimana jadi pusat perhatian. Pria itu lalu berdiri di dekat Vero sambil menunjukkan kardu di tangannya. “Non Vero, lihat saya bawa ini. Ditaruh di sini kah?” tanya pria itu dengan senyum dan gaya yang sok kuat. “Apaan ini Min?” Vero tidak merasa meminta Tukimin membeli sesuatu. “Itu tadi ada Mas ganteng dan Mbak cantik yang belanja di taruh di depan.” Ekor mata Tukimin menangkap sosok seseorang, dia lalu menoleh dan langsung menunjuk ke arah Luna. “Ini dia mbak cantiknya.”Luna yang ditunjuk dengan ucapan cantik itu pun tersenyum dengan sikap malu-malu. Dia menyampirkan helaian rambut panjangnya ke belakang telinga. “Ya tanya dia Min, mau ditaruh di mana,” sahut Vero acuh.

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 166. Cinta Segitiga

    Mata Sekar berputar malas melihat Rino masuk dengan masih memeluk pinggang Luna. Wajahnya yang sejak tadi ceria pun langsung berubah cemberut. Vero langsung menangkap perubahan itu. Awalnya dia tidak tahu apa yang menyebabkan raut wajah Sekar muram, tetapi ketika melihat gadis itu melirik ke arah pasangan yang baru saja masuk, gadis berbulu itu langsung paham.Ternyata Sekar yang cantik dan mandiri juga bisa sakit hati. Vero dengan cepat mengambil sepotong semangka yang dibeli oleh Ratih tadi dan memberikannya pada gadis itu. “Makan ini biar segaran.” “Makasih, Kak.” Sekar tersenyum tipis. “Suhuuuu!” Rino yang sejak tadi memeluk Luna pun melepaskan pelukan nya hanya untuk memeluk Raka. Pemuda itu mendekap si pemilik rumah, seolah lama tak pernah bertemu.“Eh, kamu ini ngapain sih!” Raka jadi jengah di buatnya. “Suhuuu aku kangen sekali. Biarkan aku memelukmu sebentar.” Rino menyandarkan kepalanya di dada Raka d

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 165. Astagfirullah!

    Bel berbunyi tepat saat nasi sudah matang dan ikan sudah dibakar oleh para pria. Ratih dan Gufron pun sudah selesai membuat aneka macam sambal, sementara si Mbok dan Tukimin sibuk menutup semua jendela dan gorden.“Masih ada tamu lagi ternyata, Min,” ujar si Mbok. “Bukain dah Mbok, biar Tukimin yang beresin semua,” ujar pria kurus itu dengan cekatan. Si Mbok pun bergegas menuju ke pintu untuk membukakan pintu sebelum bel ketiga berbunyi lagi. Ketika pintu terbuka perempuan tua itu terkejut dibuat.“Astagfirullah!” Bagaimana tidak terkejut saat melihat seorang gadis dengan dress mini dan tali kecil di bahunya berada dalam pelukan seorang pria bertubuh tinggi dan kekar. Bukan postur mereka dan pakaiannya yang membuat perempuan tua itu kaget, melainkan ….“Mas Rino sudahan, ah.” Luna mendorong manja dada Rino ketika sudut matanya melihat seseorang sudah membuka pintu kamar.Rino tidak begitu saja melepaskan pelukan dan c

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 164. Keruwetan Di Dapur

    “Kakak … ayo kita lihat di dapur dulu saja. Masa dari tadi bersihin ikan gak kelar-kelar.” Sekar langsung menarik tangan Vero agar segera meninggalkan Parto. Sekar bisa menangkap dengan jelas apa yang akan dikatakan oleh Parto. Dia tidak mau teman gengnya itu sampai keceplosan bicara. Gadis itu tak mau Vero mendengarnya dan sakit hati. Sekar pikir Raka itu berbeda dengan pria lain. Bisa melihat perempuan dengan cara yang lain juga. Namun, dari arah pembicaraan tadi, dia bisa menangkap kalau Suhu mereka sama saja dengan pria lain, yang suka perempuan lemah dan hanya bisa mengandalkan pria. Suka atau tidak Vero pada Raka, tetapi Sekar akan menjaga perasaannya. Dia tidak mau sampai kakak barunya ini sakit hati dan kecewa seperti yang dirasakannya pada Rino. Sesampainya di dapur Sekar dan Vero tercengang. Dapur yang ukurannya tidak seberapa besar itu dipenuhi dengan Gufron, Totok dan Vico yang sedang menger

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 163. Berlian Yang Tak Terlihat

    “Loh, Suhu ini gimana sih. Masa mau dibilang karung goni?” Vico menoleh ke arah teman-teman yang ada di dekatnya. “Karung goni apa biola?” “Ya jelas biola lah. Dadanya penuh, pantatnya pun berisi, terus pinggangnya kecil.” Parto menggambarkan semuanya dengan jelas. Hah? Raka mengernyitkan keningnya dan dia menatap Vero yang ada di balik dinding kaca pembatas. Dia memperhatikan tubuh gadis itu dan menyadari sekarang keanehan saat melihat temannya itu. Raka baru menyadari kalau perbedaan yang dia lihat pada Vero sejak tadi adalah, teman kampusnya itu sudah jauh lebih kurus. Ukuran tubuhnya turun drastis. Raut wajahnya tidak lagi bulat besar, tetapi sekarang sudah tampak lebih lonjong. Rambut merah kecoklatannya membuat Vero terlihat lebih modern. Meskipun, bulu-bulu halus yang dua kali lebih tebal dari gadis biasa, tetap tak bisa menutupi paras dasarnya yang ayu.“Baru sadar kalau ada berlian di sisi Suhu?” goda Sudar dengan y

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 2. Basah

    Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 1. Tante Galak Yang Bahenol

    "Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 3. Cincin Aneh

    Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli

  • Mau Berapa Ronde?   Bab 7. Mau Berapa Ronde?

    Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status