LOGINWajah Rio sedikit berubah, ada kilatan ketidaksabaran yang muncul sekilas di matanya. Namun ia segera menutupinya dengan anggukan pelan yang patuh. "Tentu, Maudy. Aku mengerti. Ambillah waktu sebanyak yang kamu butuh. Aku akan menunggumu di rumah, menyiapkan segala sesuatunya untuk kepulanganmu,” jawab Rio dengan tenang.Ibu Maudy mengusap puncak kepala putrinya, mencoba memberikan senyum yang ia anggap menenangkan dan tentunya mendukung sekali niat Rio untuk membangun kembali rumah tangga mereka."Pikirkan baik-baik, Nak. Ingat nama baik keluarga dan masa depanmu. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu,” sahut Ibunya dengan sangat lembut. Setelah itu, Ibunya berpamitan untuk pulang sebentar mengambil pakaian ganti untuk Maudy. Sementara Rio, dia berpamitan untuk membelikan Maudy makanan.Mendengar Rio dan Ibu mertuanya hendak keluar, Bayu segera beranjak dari tempatnya berdiri di balik pintu. Dia tidak mau membuat keributan lagi hingga membuat Maudy makin tertekan.Setelah mereka b
Drama yang dipentaskan Rio ternyata memiliki kekuatan besar bagi ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu, yang selama ini mendambakan menantu dari kelas sosial yang ia anggap setara, tampak luluh dengan perkataan Rio. Sekarang, kebenciannya pada Bayu jauh lebih besar daripada rasa jijiknya terhadap kebusukan Rio.Ibu Maudy melangkah mendekati brankar, tangannya yang mulai keriput mengusap lembut dahi putrinya untuk membujuknya.“Maudy... lihat suamimu. Dia sudah mengakui kesalahannya. Semua itu dilakukan karena dia terlalu mencintaimu dan tertekan oleh tuntutan orang tuanya. Dia hanya ingin kita tetap dipandang terhormat,” ujar Ibu Maudy menasehati putrinya.Maudy hanya bisa terdiam, matanya menatap kosong ke arah plafon rumah sakit. Kata-kata ibunya terasa seperti sembilu yang menyayat luka yang baru saja menganga akibat keguguran itu."Lupakan masa lalu, Nak. Anggap saja keributan ini adalah ujian rumah tangga. Kembalilah seperti dulu, sebelum ada Bayu yang datang mengacaukan semua
Suasana di ruang perawatan itu mendadak menjadi sangat dingin, lebih dingin dari hembusan pendingin ruangan yang menusuk tulang. Maudy, dengan sisa tenaga yang ia miliki, mencoba bangkit dari posisi berbaringnya. Napasnya masih terasa berat, dan rasa nyeri di perutnya akibat keguguran tadi masih menyisakan denyut yang menyiksa. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sarat akan permohonan, sebuah tatapan yang menuntut kesadaran."Ibu... lihatlah,Bayu sudah menunjukkan semuanya. Bahkan sebelum ini, di depan seluruh keluarga waktu bapak masih ada, dan waktu Papa mama Rio belum di penjara, di depan kalian semua Bayu sudah bicara jujur. Tapi Ibu menutup telinga. Ibu lebih memilih percaya pada pria yang sudah menjual rahim anak Ibu sendiri seharga lima ratus juta. Bahkan dia mengangsurnya seperti kredit motor Bu! Apakah itu menantu idaman yang Ibu banggakan?" Seru Maudy dengan suara serak, bahkan nyaris tenggelam oleh isak tangis yang tertahan.Ibu Maudy terdiam, jemarinya yang memegang ca
Malam itu, di dalam ruang kerja pribadinya yang terasa dingin, Bayu duduk di depan layar monitor yang memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang kaku. Jemarinya diam mematung di atas tetikus, menatap sebuah dokumen digital yang selama ini ia simpan rapat-rapat sebagai saksi bisu penghinaan terhadap Maudy.Ia tahu, mengungkap ini berarti membuka luka lama dan mempertaruhkan martabatnya sendiri sebagai pria yang pernah dibeli. Namun, melihat Maudy yang hancur lebur dihujat oleh warganet karena ulah Rio, Bayu tidak punya pilihan lain. Ia harus menghancurkan topeng Rio, meski tangannya sendiri harus ikut kotor."Ini untukmu, Maudy. Agar dunia tahu siapa iblis sebenarnya. Aku tidak peduli dengan nama baikku di masa lalu, asal nama baikmu di masa depan kembali bersih,” gumam Bayu pelan.Dengan satu klik yang mantap, Bayu mengunggah serangkaian dokumen ke akun media sosial resminya yang kini diikuti jutaan orang.Unggahan pertama adalah foto lembaran kertas bermeterai yang dia simpan baik
Suasana di koridor rumah sakit itu mendadak hening. Namun keheningan yang menyakitkan. Bayu berdiri mematung di depan pintu ruang tindakan, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Rahangnya mengeras, menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Ia ingin sekali menerjang Rio, menghancurkan wajah pria itu hingga tak berbentuk. Namun ia sadar akan satu kenyataan pahit: di atas kertas, ia kalah telak.Secara hukum, Rio adalah suami sah yang memiliki hak penuh atas keputusan medis dan keberadaan Maudy di rumah sakit itu. Sementara Bayu hanyalah orang asing yang secara legal tidak memiliki ikatan apa pun dengan janin yang baru saja dinyatakan meninggal tersebut."Kau dengar itu, Bayu? Anak haram itu sudah tidak ada. Dan sekarang, kau tidak punya alasan lagi untuk berada di sini. Pergilah sebelum aku memanggil keamanan rumah sakit untuk mengusirmu karena mengganggu ketenangan keluarga kami!” seru Rio sambil melangkah mendekat, suaranya pelan tapi penuh racun
Seketika, kolom komentar pada siaran langsung itu meledak. Ribuan pasang mata terpaku pada wajah Rio yang mendadak pias.Rio tidak bisa menyembunyikan ekspresinya. Wajahnya memerah padam antara malu dan murka. Ia segera bersilat lidah, berteriak di depan ponselnya untuk menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya. "Bohong! Itu semua fitnah! Netizen, lihatlah bagaimana seorang penipu berbicara! Dia hanya ingin menghancurkan namaku karena dia tahu dia tidak punya hak atas Maudy! Aku punya surat dokter yang menyatakan aku sehat!" seru Rio. Dia ingin segera mengakhiri live itu karena sudah merasa terpojok. Tapi, Bayu menghalangi.Ibu Maudy pun tak tinggal diam. Ia menunjuk-nunjuk wajah Bayu dengan jari yang gemetar untuk membela menantunya."Kamu jangan mengarang cerita! Rio itu menantu idaman, dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Kamu yang sudah menyihir anak saya, dan sekarang kamu mau memfitnah suaminya? Harta harammu itu benar-benar sudah meracuni otakmu!" bentak Ibunya Maudy d







