INICIAR SESIÓN"Aww! Sshhh... aduh! Ibu... perut Maudy sakit sekali!" ringis Maudy histeris. Ia memegangi perut besarnya yang mendadak mencengkeram hebat, tubuhnya melemas dan hampir ambruk di atas lantai marmer ruang tengah."Maudy! Anakku!" teriak Ibu Maudy panik luar biasa. Dengan sekuat tenaga, sang Ibu menahan dan menangkap tubuh putrinya yang pucat pasi dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis."Suster Maya! Pak Sopir! Cepat ke sini! Tolong!" panggil Ibu Maudy dengan suara menggelegar ke seluruh penjuru rumah.Suster Maya dan dua asisten rumah tangga berlarian dari arah dapur. Suster Maya seketika membelalak kaget melihat Maudy yang merintih kesakitan sembari memegangi bagian bawah perutnya."Astaga, Bu Maudy! Ini tanda kontraksi dini!" seru Suster Maya panik."Jangan cuma berdiri! Bantu bawa Maudy ke mobil sekarang juga!" perintah Ibu Maudy dengan suara gemetar, air mata kepanikan sudah menggenang di pelupuk matanya.Sopir pribadi dengan sigap membopong Maudy menuju mob
Di meja makan, keheningan yang dingin kembali tercipta setelah piring-piring bersih dirapikan oleh asisten rumah tangga. Bayu bangkit dari duduknya, mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, lalu membungkuk untuk mendaratkan kecupan hangat di dahi Maudy."Aku berangkat ke kantor dulu ya, Sayang," bisik Bayu lembut di telinga istrinya. "Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku. Jangan terlalu banyak jalan.""Iya, Mas. Hati-hati di jalan," jawab Maudy seraya mencium punggung tangan suaminya.Bayu sempat melirik ibu mertuanya yang masih duduk kaku menatap cangkir teh. "Saya berangkat dulu, Bu."Ibu Maudy hanya mengangguk dingin tanpa sepatah kata pun. Bayu mendesah pelan di dalam hati, lalu melangkah mantap keluar rumah menuju mobil dinasnya yang sudah menunggu.Begitu deru mesin mobil Bayu menghilang di balik gerbang utama, suasana di dalam rumah mewah itu mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Sinyal bahaya yang ditahan sang Ibu sejak semalam kini menemukan panggungnya."Ma
Suasana di meja makan lantai bawah pagi itu terasa begitu kaku dan berat. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca besar seolah tak mampu mengusir hawa dingin yang menggantung di antara mereka.Bayu mengunyah sarapannya pelan. Di balik raut wajahnya yang berusaha tetap tenang, ada rasa tidak nyaman yang menusuk dadanya akibat sindiran dan tatapan dingin dari ibu mertuanya. Pria itu tahu betul sang Ibu masih menyimpan kekesalan atas kejadian semalam. Namun, sebagai kepala keluarga yang bijaksana, Bayu memilih untuk memendam ketidaknyamanannya. Ia sama sekali tidak berniat membuka ruang perdebatan di depan Maudy yang baru saja pulih dari rasa mualnya.“Sepertinya aku lebih baik diam tidak menanggapi ucapan mertuaku. Tapi, kenapa aku tidak melihat Cindy?” gumam Bayu di dalam hati.Di sudut hatinya yang lain, Bayu sebenarnya merasa cemas memikirkan kondisi Cindy. Karena sejak matahari terbit, pintu kamar tamu tempat istirahat Cindy belum terbuka sedikit pun. Cindy belum keluar u
Di dalam kamar utama yang redup, keheningan perlahan mengambil alih menggantikan kegaduhan di luar. Bayu mendudukkan tubuh Maudy di atas kasur dengan teramat hati-hati.Dia dengan cepat mengambil wadah dan mengusap pelipis serta leher Maudy menggunakan handuk hangat hingga napas istrinya yang semula tersengal perlahan mulai teratur.Setelah memastikan Maudy jauh lebih tenang, Bayu naik ke atas ranjang. Pria itu menyampingkan tubuhnya, merengkuh Maudy ke dalam pelukan hangatnya yang begitu kokoh. Dia membenamkan wajahnya di leher istrinya, mengisap aroma harum tubuh Maudy yang selalu menjadi penenang jiwanya."Maafkan aku, Sayang..." bisik Bayu dengan suara yang amat dalam dan bergetar."Mas..." lirih Maudy pendek."Maafkan aku," ulang Bayu lagi, merapatkan dekapannya. "Gara-gara aku turun ke bawah, kamu jadi terguncang dan mual seperti ini."Maudy memejamkan matanya, merasakan hangatnya napas Bayu yang menerpa kulit lehernya."Aku sangat mencintai kamu," tutur Bayu lembut. "K
Maudy masih menatap lurus ke dalam manik mata Bayu. Hening yang mencekam seolah menggantung di udara, menunggu keputusan dari mulut Maudy.Namun, sebelum Maudy sempat menguraikan kata-katanya, raut wajahnya mendadak berubah pucat pasi. Matanya terpejam rapat, dan tangannya yang semula berada dalam genggaman Bayu seketika bergerak naik cemas memegangi dadanya.Hueeek!Maudy membungkuk dalam-dalam, menahan gejolak mual yang amat dahsyat yang mendadak mencengkeram perutnya."Maudy!" pekik Bayu panik setengah mati. Pertengkaran dan ketegangan di dapur seketika sirna dari pikirannya. Pria itu langsung merengkuh bahu istrinya erat-erat."A-aku mual, Mas... mual sekali..." rintih Maudy dengan suara yang amat serak."Maudy! Anakku!" seru Ibu Maudy, melangkah tergesa-gesa mendekati mereka dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas luar biasa. "Tuh kan! Kamu kelelahan dan stres gara-gara kejadian ini!"Hueeeek!Maudy kembali terbatuk hebat, menutup mulutnya dengan jemari yang bergetar
Sinar cahaya lampu dapur yang mendadak terang benderang itu terasa menelanjangi suasana di ruangan tersebut. Hening seketika mencekam, hanya diselingi napas Cindy yang tersengal pelan di dalam dekapan Bayu.Menyadari sorot lampu yang menyengat dan banyak pasang mata yang menatap mereka, terutama raut wajah Ibu Maudy yang mendadak berubah mengerikan, kesadaran Cindy seketika terhentak bangun. Rasa pusing yang menghantam kepalanya mendadak menguap, berganti dengan rasa takut dan panik yang luar biasa.Dengan sisa-sisa tenaga dan gerakan yang sangat panik, Cindy berusaha sekuat tenaga mendorong dada Bayu untuk melepaskan diri dari papahan pria itu."M-mas... lepas..." bisik Cindy panik, suaranya gemetar hebat."Cindy, diam dulu, kaki kamu nanti kena kaca!" tahan Bayu."Tidak, Mas! Aku bisa berdiri sendiri!" potong Cindy dengan cepat.Cindy mencoba berdiri merambat pada tepi meja bar. Tangannya gemetaran, matanya bergerak liar menatap orang-orang yang mengepung area dapur."Ibu...
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s
“Saya cuma mau membantu Bu Maudy berdiri. Lantai itu kotor, dan harus saya pel,” ucap Bayu dengan pelan sambil mulai duduk di dekat Maudy. Dia juga sedikit mengulurkan tangan, barangkali Maudy meraihnya. Akan tetapi, yang ada Maudy menepis tangannya dengan kasar lalu melempar sebuah brosur tebal k







