MasukSepanjang jalan, Dina tidak bisa diam. Tubuhnya terus menggeliat gelisah, sesekali melirik tonjolan di selangkangan Burhan sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sudah kepalang basah, tak sabar ingin merasakan rasanya ditiduri pria kota yang tampan dan gagah.Tapi mobil yang dikemudikan Burhan justru berhenti di persimpangan jalan tak jauh dari rumah Dina.“Loh, Om ... kok berhenti di sini sih?” sungut Dina heran, bibirnya langsung maju mengerucut manja. “Katanya tadi mau ngajak Dina main di kasur empuk kamar Om? Kok malah belok ke arah rumah Dina?”“Om baru ingat, sore ini ada janji mendadak sama orang kecamatan buat urusan tanah kebun teh. Main di kasurnya besok-besok aja, ya?” sahut Burhan, sambil mengusap kepala Dina dengan telapak tangannya.Mendengar Burhan lagi-lagi menghindar, wajah Dina makin kusut. Gadis itu menatap Burhan curiga, matanya mulai berkaca-kaca menahan kecewa.“Om bohong, ya? Om cuma menghindar, kan?” cicit Dina lirih, suaranya bergetar sedih.Ulu hati Burha
“Dina?” ulang Burhan, alis tebalnya bertaut tajam menatap pria tua di hadapannya.“Iya, Den. Raden kenal sama Neng Dina? Tapi kayaknya, saya baru tahu wajah Raden di desa ini?” tanya Pak Kardi penasaran.“Kemarin gadis itu yang nunjukin arah rumah Pak Budi ke saya pas mobil saya nyasar di jalan kebun,” jawab Burhan datar, menjaga intonasi suaranya tetap tenang.Mendengar nama pemilik lahan perkebunan teh disebut, mata Pak Kardi sontak membulat paham.“Oalah ... Raden ini yang dari kota itu ya? Orang yang diutus Pak Budi buat ngurus jual beli kebun teh?”Burhan hanya manggut-manggut saja, sengaja tidak menjelaskan kalau dirinya ini cucu kandung Kakek Budi. Selain tidak penting untuk diumbar, Burhan juga malas kalau orang-orang desa mendadak jadi segan dan menjaga jarak dengannya. Dia cuma ingin membaur dengan tenang selama berada di desa ini.“Iya, Pak,” sahut Burhan singkat, lalu langsung memotong sebelum obrolan melebar ke mana-mana. “Jadi kenapa sama Dina tadi, Pak? Kenapa Bapak sa
Guncangan di bodi belakang Jeep seketika menyentak Burhan ke alam nyata. Keringat dingin langsung membasahi pelipisnya.“Sialan, ada yang nabrak!” desis Burhan panik, berniat menarik daster Dina untuk menutupi tubuh gadis itu.Namun Dina justru bertindak di luar dugaan. Bukannya merapikan pakaian, jemari lentiknya malah dengan cepat meloloskan tali daster dan bra dari kedua lengannya. Kain tipis itu meluncur jatuh ke lantai kabin, memamerkan tubuh bagian atasnya yang kini benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.“Dina! Jangan gila, ya?!” semprot Burhan tertahan.Krosok ... krosok ...Suara langkah kaki yang menyeret sandal di atas kerikil terdengar mendekat ke arah pintu kemudi.Mata Burhan membelalak. Tanpa berpikir panjang, tangan kekarnya langsung mendorong tubuh mungil Dina ke bawah, ke celah sempit di bawah dasbor dan kolong kemudi. Burhan sendiri langsung melompat naik ke jok supir, buru-buru menaikkan resleting celananya yang sempat melorot dan mengatur napasnya y
Dina menatap lekat mata Burhan, menunggu jawaban dengan bibir basah merekah dan napas yang memburu.Ditatap sedekat itu, kepala Burhan secara sadar menggeleng-geleng pelan mencoba menolak. Nuraninya berteriak keras menyuruhnya menarik tangan. Tapi tangannya justru berkhianat. Kesepuluh jemarinya malah bergerak aktif meremas gundukan padat yang membal kenyal di balik kain daster Dina.Dina yang melihat mulut Burhan sok menolak tapi tangannya justru makin getol meremas dadanya malah tertawa kecil.“Tuh kan... Om geleng-geleng, tapi tangan Om doyan banget remas punya Dina,” goda Dina lirih, matanya berbinar nakal saat merasakan remasan kuat itu.“Ssstt! Kecilkan suaramu... nanti ada yang denger dari luar. Kalau kita ketahuan gimana?” bisik Burhan parau dengan napas terengah-engah.“Biarin aja ketahuan! Justru kalau ketahuan sama orang desa, aku bisa nikah sama Om, nggak jadi dijodohin. Dina maunya sama Om aja!” sahut Dina enteng tanpa rasa takut sedikit pun.Breeemmm! Bremmm!Suara knalp
REV BAB 7“Pasti burungnya Om Burhan bangun gara-gara Dina jilatin ya? Kayaknya burung Om juga gede. Mau Dina jilat juga ngak, Om?”Mata Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menahan napas yang mendadak tercekat di tenggorokan.Dipancing dengan posisi duduk mengangkang di atas pangkuan dan tawaran sefrontal itu di siang bolong, pria normal mana yang darah lelakinya tidak mendidih hebat? Si Joni di balik celana levisnya sontak berkedut liar, menegang keras menekan kain tebal yang kini terasa sangat sempit dan menyiksa.Belum sempat Burhan merespon sikap Dina, jemari lentik Dina sudah meluncur turun. Telapak tangan mungil itu mendarat mulus di selangkangan Burhan, meraba gundukan padat yang menonjol kokoh, lalu mulai mengelus dan meremasnya perlahan naik-turun. “Ya ampun Om, burung Om beneran gede. Padahal masih di celana gini, tapi udah kerasa gagah banget,” celetuk Dina takjub, matanya mengerjap polos melihat ke bawah sana. “Ini kalau masuk gimana rasanya ya, Om? Pasti bakal pen
“Yaudah kalau Om gak mau dibayar pake cara yang aneh-aneh ... Dina bayar pake cara lain.”Burhan yang tangannya masih memegang setir langsung mengernyitkan dahi. Matanya menyipit tajam menatap gadis di sampingnya.“Cara lain apaan?” tanya Burhan curiga, nada suaranya terdengar menyelidik. “Jangan bikin Om mikir macam-macam, ya. Cepat jawab!”“Ih, Om Burhan kepo banget! Pokoknya nanti Dina tunggu pas Om pulang. Dina punya sesuatu yang enak buat Om!”“Sesuatu yang enak apaan? Dina—”Belum sempat Burhan menuntaskan kalimatnya, Dina sudah membuka pintu, melompat turun dengan lincah, lalu menyambar keranjang bambunya di bak belakang. Dari tepi jalan pasar, Dina sempat melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar tanpa dosa sebelum akhirnya menghilang di antara kerumunan pedagang.Burhan mematung di balik kemudi. Napasnya terbuang kasar lewat hidung.“Sesuatu yang enak? Sialan, anak itu beneran bikin pusing,” gumam Burhan sambil memijat pelipisnya.Mengingat waktu sudah menunjukkan jam buk







