بيت / Male Adult / Mau Lagi, Om? / Bab 6 Mau Lagi, Om?

مشاركة

Bab 6 Mau Lagi, Om?

مؤلف: My Nona
last update تاريخ النشر: 2026-09-17 22:09:36

“Yaudah kalau Om gak mau dibayar pake cara yang aneh-aneh ... Dina bayar pake cara lain.”

Burhan yang tangannya masih memegang setir langsung mengernyitkan dahi. Matanya menyipit tajam menatap gadis di sampingnya.

“Cara lain apaan?” tanya Burhan curiga, nada suaranya terdengar menyelidik. “Jangan bikin Om mikir macam-macam, ya. Cepat jawab!”

“Ih, Om Burhan kepo banget! Pokoknya nanti Dina tunggu pas Om pulang. Dina punya sesuatu yang enak buat Om!”

“Sesuatu yang enak apaan? Dina—”

Belum sempat Burhan menuntaskan kalimatnya, Dina sudah membuka pintu, melompat turun dengan lincah, lalu menyambar keranjang bambunya di bak belakang. 

Dari tepi jalan pasar, Dina sempat melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar tanpa dosa sebelum akhirnya menghilang di antara kerumunan pedagang.

Burhan mematung di balik kemudi. Napasnya terbuang kasar lewat hidung.

“Sesuatu yang enak? Sialan, anak itu beneran bikin pusing,” gumam Burhan sambil memijat pelipisnya.

Mengingat waktu sudah menunjukkan jam buka kantor kecamatan, Burhan menepis rasa penasarannya, memindahkan tuas transmisi, lalu melajukan Jeep hitamnya membelah jalanan pasar.

Namun sepanjang hari itu, Burhan malah tidak fokus kerja. Di hadapan tumpukan berkas sengketa batas lahan kebun teh milik kakeknya, pikiran pria tiga puluh lima tahun itu sama sekali tidak bisa diajak kompromi.

Pemandangan Dina saat mandi di sumur tadi subuh, rasa kasihan pada nasibnya yang mau dijual budenya ke Juragan Sobri, hingga kalimat "punya sesuatu yang enak" terus berputar liar di kepalanya. Otak lelakinya mau tak mau sempat membayangkan hal-hal liar, meski nuraninya langsung menampar pikiran kotor itu.

Menjelang jam tiga sore, konsentrasi Burhan ambyar.

Saat melirik jam tangannya, sudah pukul 3 kurang 10 menit. 

Di desa terpencil ini, bus butut jurusan Jagawarga cuma beroperasi satu kali sehari dan berangkat tepat jam tiga sore dari pangkalan pasar.

“Kalau anak itu sampai ketinggalan bus … dia pasti nyari Mang Maman cuma demi numpang di pikap rongsok itu?!” Dada Burhan mendadak panas membayangkan kepolosan Dina dimanfaatkan lagi oleh pria-pria mesum di kampung.

Akhirnya, Burhan memilih menutup map berkasnya, menyambar kunci mobil di atas meja, lalu pamit pada staf kecamatan.

Burhan menginjak gas Jeep-nya dalam-dalam menuju pangkalan pasar.

Namun sesampainya di sana, lapak tempat biasa Dina mangkal sudah bersih tanpa sisa. Pangkalan bus di sudut pasar pun sudah lengang, menandakan kendaraan umum itu sudah lama berangkat.

“Sialan! Udah kosong!” umpat Burhan kasar sambil memukul setir.

Pikirannya langsung kalut, tapi Burhan menolak pasrah dan langsung tancap gas menyusuri satu-satunya jalan berbatu yang menghubungkan kecamatan dengan Desa Jagawarga. 

Sekitar dua kilometer dari perbatasan pasar, Burhan baru melihat Dina yang sedang berjalan sendirian di tepi jalan sambil memikul keranjang bambunya yang sudah kosong.

Ckiiit!

Burhan menginjak rem mendadak tepat di depan langkah kaki gadis itu.

Pintu kemudi dibanting terbuka. Burhan melangkah turun dengan wajahnya merah padam menahan rasa panik bercampur emosi.

“Kamu ngapain jalan kaki sendirian di tempat sepi kayak gini, Dina?!” bentak Burhan menggelegar. “Kenapa nggak nunggu bus di pasar?!”

Dina yang terkejut langsung menyapu peluh di keningnya. Namun melihat wajah garang Burhan, senyum polos justru merekah lebar di bibir manisnya.

“Om Burhan kenapa marah-marah?” tanya Dina tenang.

“Gimana Om nggak marah?! Ini jalanan sepi begini! Kalau ada orang jahat lewat terus narik kamu ke semak-semak gimana, hah?!”

“Enggak bakal ada yang narik Dina kok, Om,” sahut Dina santai sambil menurunkan keranjang kosongnya ke tanah. “Dagangan Dina jam dua tadi udah diborong habis. Dina sengaja jalan kaki ke arah jalan sepi ini biar bisa nyegat mobilnya Om Burhan pas pulang kerja.”

Dina melangkah maju setengah jengkal, merogoh saku kain lusuhnya, lalu menyodorkan sebuah bungkusan daun pisang yang masih terasa hangat bersama beberapa lembar uang kertas dua puluh ribuan yang lecek.

“Nih, Om ... Ini sesuatu yang enak yang Dina janjiin tadi pagi. Dina beliin klepon anget buat Om Burhan. Sama ini, ada uang empat puluh ribu dari hasil jualan Dina buat bayar tumpangan mobil Om tadi pagi.”

Burhan mematung. Matanya menatap bungkusan daun pisang dan lembaran uang lecek di tangan mungil yang kasar itu.

“Kamu ... sengaja jalan kaki berkilo-kilo cuma buat nungguin Om dan kasih ini?” tanya Burhan tercekat.

Dina mengangguk dengan mata berbinar tulus. “Iya, Om. Kan tadi Dina udah janji mau bayar pake cara lain. Kata Om Burhan semalem, badan Dina gak boleh dimainin sembarangan lagi. Jadi kalau sama orang baik kayak Om yang udah tulus bantuin Dina, ya Dina bayarnya pake makanan anget sama uang keringat Dina sendiri.”

Deg.

Perkataan lugu itu telak membungkam mulut Burhan. Seluruh prasangka buruk dan amarahnya seketika runtuh tak bersisa. 

Burhan berdehem keras menutupi rasa salah tingkahnya. Ia menolak uang itu dan menyuruh Dina menyimpannya, lalu mengambil bungkusan klepon dan menyuruh Dina naik ke mobil.

Begitu keduanya duduk di dalam mobil, Dina langsung menyuruh Burhan segera memakan klepon yang baru dibelinya.

“Om, cepet makan keleponnya, mumpung masih anget,” seru Dina riang sambil membuka bungkus klepon miliknya, lalu melahapnya. “Mmm! Manis, gurih, enak banget, Om?”

Melihat wajah ceria itu, Burhan tersenyum tipis. Ia mengambil satu butir klepon yang ukurannya cukup besar dan masih terasa hangat di jemarinya. Namun, tepat saat Burhan menggigit klepon kenyal itu tanpa hati-hati ...

CROT!

Gula merah cair yang melimpah di dalamnya meletus kencang. Semburan cairan pekat manis itu muncrat deras keluar, membasahi bibir, dagu, hingga menciprat ke leher dan dada Burhan sendiri.

Dina yang kaget langsung menoleh ke arah Burhan. Matanya yang bulat membelalak polos, lalu celetukan spontan meluncur dari bibir tipisnya:

“Aduh, Om ... punya Om muncrat!”

UHUKK! UHUKK!

Burhan tersedak hebat sampai terbatuk-batuk. Wajahnya seketika merah padam, kaget bukan main mendengar kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari mulut gadis itu.

Melihat noda lengket kecoklatan yang menempel di leher dan dadanya sendiri, Burhan panik mencari tisu atau kain lap di dasbor, tapi nihil. Tidak ada selembar tisu pun di dalam Jeep-nya.

Alhasil, Burhan berniat menarik bagian bawah kaosnya untuk mengelap leher dan dadanya sendiri, tapi Dina mendadak menahan tangan kekar Burhan.

“Jangan dilap pake baju, Om ... nanti bajunya Om yang kotor dan lengket. Biar Dina jilat aja ya, Om ... sayang gula merahnya manis.”

Tanpa aba-aba, Dina langsung naik ke pangkuan Burhan. Gadis itu menjulurkan lidahnya, menjilat muncratan gula merah di pipi Burhan sebelum merayap turun menjilati leher pria itu dengan sapuan basah yang telaten.

Burhan mematung syok, darah lelakinya seketika mendidih hebat.

Bersamaan dengan jilatan itu, pinggul Dina tanpa sadar bergerak maju-mundur, menggesek tongkat lelakinya di balik celana levis hingga berkedut pelan dan menegang keras, merespon gerakan gadis itu.

Merasakan benda keras menyodok di bagian bawah tubuhnya, Dina seketika menghentikan jilatannya.

Gadis itu mendongak, menatap wajah Burhan yang memerah tegang.

“Om, ini apa? Kok ada yang ganjel ndusel-ndusel keras banget di bawah daster Dina?” celetuk Dina takjub, matanya berbinar polos menatap Burhan.

“Wah ... burungnya Om Burhan bangun gara-gara Dina jilatin ya? Kok kayaknya burungnya Om gede banget sih? Mau Dina jilat juga?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mau Lagi, Om?   Bab 11 Mau Lagi, Om?

    Sepanjang jalan, Dina tidak bisa diam. Tubuhnya terus menggeliat gelisah, sesekali melirik tonjolan di selangkangan Burhan sambil menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sudah kepalang basah, tak sabar ingin merasakan rasanya ditiduri pria kota yang tampan dan gagah.Tapi mobil yang dikemudikan Burhan justru berhenti di persimpangan jalan tak jauh dari rumah Dina.“Loh, Om ... kok berhenti di sini sih?” sungut Dina heran, bibirnya langsung maju mengerucut manja. “Katanya tadi mau ngajak Dina main di kasur empuk kamar Om? Kok malah belok ke arah rumah Dina?”“Om baru ingat, sore ini ada janji mendadak sama orang kecamatan buat urusan tanah kebun teh. Main di kasurnya besok-besok aja, ya?” sahut Burhan, sambil mengusap kepala Dina dengan telapak tangannya.Mendengar Burhan lagi-lagi menghindar, wajah Dina makin kusut. Gadis itu menatap Burhan curiga, matanya mulai berkaca-kaca menahan kecewa.“Om bohong, ya? Om cuma menghindar, kan?” cicit Dina lirih, suaranya bergetar sedih.Ulu hati Burha

  • Mau Lagi, Om?   Bab 10 Mau Lagi, Om?

    “Dina?” ulang Burhan, alis tebalnya bertaut tajam menatap pria tua di hadapannya.“Iya, Den. Raden kenal sama Neng Dina? Tapi kayaknya, saya baru tahu wajah Raden di desa ini?” tanya Pak Kardi penasaran.“Kemarin gadis itu yang nunjukin arah rumah Pak Budi ke saya pas mobil saya nyasar di jalan kebun,” jawab Burhan datar, menjaga intonasi suaranya tetap tenang.Mendengar nama pemilik lahan perkebunan teh disebut, mata Pak Kardi sontak membulat paham.“Oalah ... Raden ini yang dari kota itu ya? Orang yang diutus Pak Budi buat ngurus jual beli kebun teh?”Burhan hanya manggut-manggut saja, sengaja tidak menjelaskan kalau dirinya ini cucu kandung Kakek Budi. Selain tidak penting untuk diumbar, Burhan juga malas kalau orang-orang desa mendadak jadi segan dan menjaga jarak dengannya. Dia cuma ingin membaur dengan tenang selama berada di desa ini.“Iya, Pak,” sahut Burhan singkat, lalu langsung memotong sebelum obrolan melebar ke mana-mana. “Jadi kenapa sama Dina tadi, Pak? Kenapa Bapak sa

  • Mau Lagi, Om?   Bab 9 Mau Lagi, Om?

    Guncangan di bodi belakang Jeep seketika menyentak Burhan ke alam nyata. Keringat dingin langsung membasahi pelipisnya.“Sialan, ada yang nabrak!” desis Burhan panik, berniat menarik daster Dina untuk menutupi tubuh gadis itu.Namun Dina justru bertindak di luar dugaan. Bukannya merapikan pakaian, jemari lentiknya malah dengan cepat meloloskan tali daster dan bra dari kedua lengannya. Kain tipis itu meluncur jatuh ke lantai kabin, memamerkan tubuh bagian atasnya yang kini benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.“Dina! Jangan gila, ya?!” semprot Burhan tertahan.Krosok ... krosok ...Suara langkah kaki yang menyeret sandal di atas kerikil terdengar mendekat ke arah pintu kemudi.Mata Burhan membelalak. Tanpa berpikir panjang, tangan kekarnya langsung mendorong tubuh mungil Dina ke bawah, ke celah sempit di bawah dasbor dan kolong kemudi. Burhan sendiri langsung melompat naik ke jok supir, buru-buru menaikkan resleting celananya yang sempat melorot dan mengatur napasnya y

  • Mau Lagi, Om?   Bab 8 Mau Lagi, Om?

    Dina menatap lekat mata Burhan, menunggu jawaban dengan bibir basah merekah dan napas yang memburu.Ditatap sedekat itu, kepala Burhan secara sadar menggeleng-geleng pelan mencoba menolak. Nuraninya berteriak keras menyuruhnya menarik tangan. Tapi tangannya justru berkhianat. Kesepuluh jemarinya malah bergerak aktif meremas gundukan padat yang membal kenyal di balik kain daster Dina.Dina yang melihat mulut Burhan sok menolak tapi tangannya justru makin getol meremas dadanya malah tertawa kecil.“Tuh kan... Om geleng-geleng, tapi tangan Om doyan banget remas punya Dina,” goda Dina lirih, matanya berbinar nakal saat merasakan remasan kuat itu.“Ssstt! Kecilkan suaramu... nanti ada yang denger dari luar. Kalau kita ketahuan gimana?” bisik Burhan parau dengan napas terengah-engah.“Biarin aja ketahuan! Justru kalau ketahuan sama orang desa, aku bisa nikah sama Om, nggak jadi dijodohin. Dina maunya sama Om aja!” sahut Dina enteng tanpa rasa takut sedikit pun.Breeemmm! Bremmm!Suara knalp

  • Mau Lagi, Om?   Bab 7 Mau Lagi, Om?

    REV BAB 7“Pasti burungnya Om Burhan bangun gara-gara Dina jilatin ya? Kayaknya burung Om juga gede. Mau Dina jilat juga ngak, Om?”Mata Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menahan napas yang mendadak tercekat di tenggorokan.Dipancing dengan posisi duduk mengangkang di atas pangkuan dan tawaran sefrontal itu di siang bolong, pria normal mana yang darah lelakinya tidak mendidih hebat? Si Joni di balik celana levisnya sontak berkedut liar, menegang keras menekan kain tebal yang kini terasa sangat sempit dan menyiksa.Belum sempat Burhan merespon sikap Dina, jemari lentik Dina sudah meluncur turun. Telapak tangan mungil itu mendarat mulus di selangkangan Burhan, meraba gundukan padat yang menonjol kokoh, lalu mulai mengelus dan meremasnya perlahan naik-turun. “Ya ampun Om, burung Om beneran gede. Padahal masih di celana gini, tapi udah kerasa gagah banget,” celetuk Dina takjub, matanya mengerjap polos melihat ke bawah sana. “Ini kalau masuk gimana rasanya ya, Om? Pasti bakal pen

  • Mau Lagi, Om?   Bab 6 Mau Lagi, Om?

    “Yaudah kalau Om gak mau dibayar pake cara yang aneh-aneh ... Dina bayar pake cara lain.”Burhan yang tangannya masih memegang setir langsung mengernyitkan dahi. Matanya menyipit tajam menatap gadis di sampingnya.“Cara lain apaan?” tanya Burhan curiga, nada suaranya terdengar menyelidik. “Jangan bikin Om mikir macam-macam, ya. Cepat jawab!”“Ih, Om Burhan kepo banget! Pokoknya nanti Dina tunggu pas Om pulang. Dina punya sesuatu yang enak buat Om!”“Sesuatu yang enak apaan? Dina—”Belum sempat Burhan menuntaskan kalimatnya, Dina sudah membuka pintu, melompat turun dengan lincah, lalu menyambar keranjang bambunya di bak belakang. Dari tepi jalan pasar, Dina sempat melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar tanpa dosa sebelum akhirnya menghilang di antara kerumunan pedagang.Burhan mematung di balik kemudi. Napasnya terbuang kasar lewat hidung.“Sesuatu yang enak? Sialan, anak itu beneran bikin pusing,” gumam Burhan sambil memijat pelipisnya.Mengingat waktu sudah menunjukkan jam buk

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status