공유

218. Bayiku

작가: prasidafai
last update 게시일: 2026-06-28 15:10:36

Jemari Raiden yang hangat mengusap perlahan punggung tangan Naomi yang bebas dari selang infus.

“Tidak apa-apa,” jawab Raiden lembut. “Jangan terlalu dipikirkan. Kalau aku bisa kembali ke sini, berarti aku sudah mendapat izin.”

“Benarkah?” Tatapan Naomi melembut.

Raiden mengangguk.

“Aku tidak akan meninggalkan tugasku sembarangan, Nao.” Sudut bibir Raiden terangkat tipis.

Naomi tertawa pelan meski gerakan itu membuat s
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   218. Bayiku

    Jemari Raiden yang hangat mengusap perlahan punggung tangan Naomi yang bebas dari selang infus. “Tidak apa-apa,” jawab Raiden lembut. “Jangan terlalu dipikirkan. Kalau aku bisa kembali ke sini, berarti aku sudah mendapat izin.” “Benarkah?” Tatapan Naomi melembut. Raiden mengangguk. “Aku tidak akan meninggalkan tugasku sembarangan, Nao.” Sudut bibir Raiden terangkat tipis. Naomi tertawa pelan meski gerakan itu membuat sisi tubuhnya sedikit nyeri. “Baiklah,” jawabnya lirih. Raiden mengecup pelan punggung tangan Naomi sebelum kembali menggenggamnya. Malam itu akhirnya berlalu dengan tenang. Keesokan paginya, suara langkah kaki kecil berlari memenuhi lorong rumah sakit. “Mama!” Pintu kamar perawatan terbuka. Aveline langsung berlari menghampiri ranjang Naomi sebelum Raiden sempat mengejarnya. “P

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   217. Henti Jantung

    Suara gaduh terdengar samar di telinga Naomi.“Tekanan darah turun. Cepat, pindahkan ke ruang operasi!”“Jalur infus kedua sudah terpasang!”Kelopak mata Naomi bergerak pelan.Cahaya lampu yang menyilaukan langsung menyambut Naomi. Pandangannya masih kabur. Langit-langit putih rumah sakit bergerak perlahan di atas kepalanya.Naomi merasa tubuhnya berguncang mengikuti laju brankar yang didorong cepat di sepanjang koridor.Wajah-wajah panik para tenaga kesehatan menjadi pemandangan pertama yang berhasil ditangkap matanya.“Bu? Bu, apa Anda bisa mendengar saya?”Seorang dokter berlari di samping brankar sambil menyorotkan senter kecil ke mata Naomi.Naomi berusaha menjawab. Bibirnya sedikit terbuka. Namun rasa nyeri luar biasa langsung menjalar hingga ke rahangnya.“Ugh ....”Suara yang keluar hanya erangan pelan.“Jangan dipaksa bicara,” ujar dokter itu cepat. “Kami akan menanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   216. Raiden Memanggil

    Naomi menarik napas pendek.“Dante Emilio,” jawab Naomi.Di seberang telepon, Vance langsung terdiam.Beberapa detik kemudian terdengar suara kursi bergeser, seolah pria paruh baya itu baru saja menegakkan duduknya.“Putra pemilik RSPU yang kamu curigai sebagai dalang di balik kecelakaan Clara?” tanya Vance memastikan.“Iya, Pa,” jawab Naomi.Vance mengembuskan napas pelan.“Kalau soal itu, bersabarlah sekitar dua hari lagi,” pinta Vance.“Kenapa?” Naomi mengernyit.“Bukti terakhir sedang diverifikasi,” jawab Vance.Naomi langsung mendesah. “Bukannya tadi Papa bilang bisa menyelesaikannya sebelum aku sampai rumah? Perasaanku tidak enak, Pa. Dante sedang ada di Lavel.”“Dan ...” Naomi menggigit bibir bawahnya. “Dia sepertinya memiliki hubungan dengan Lucy.”Beberapa detik berikutnya tidak ada suara apa pun dari ujung telepon.Keheningan itu justru membuat Naomi semakin

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   215. Tukang Ngambek

    “Tante ....”Suara Naomi nyaris tidak terdengar.Melihat wanita yang selama bertahun-tahun selalu tampak tegar kini menangis tanpa mampu mengendalikan diri, dada Naomi terasa sesak.Tanpa berpikir panjang, Naomi bangkit dari kursinya. Dia perlaahan memeluk Tasya.Pelukan itu membuat Tasya sesaat membeku. Detik berikutnya, seluruh pertahanan wanita paruh baya itu runtuh.“Maaf ... maaf ....” Isaknya pecah semakin keras.Tasya membalas pelukan Naomi sambil menangis tanpa suara. Bahunya bergetar hebat. Air mata terus mengalir hingga membasahi bahu dan dada pakaian Naomi.Naomi hanya mengusap pelan punggung wanita paruh baya itu.Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kadang, tangisan adalah cara terbaik untuk mengeluarkan semua penyesalan yang terlalu lama dipendam.Naomi memejamkan mata.Selama ini Naomi selalu berpikir bahwa orang-orang yang menyakitinya harus menerima balasan dari tanga

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   214. Dihukum

    Naomi perlahan meletakkan sendoknya.“Papa hanya ingin Raiden fokus pada kasus,” ucap Naomi tenang. “Dan supaya Raiden bisa fokus, tentu Papa harus melindungi orang-orang yang Raiden sayang.”Tasya mengangguk pelan.Senyum tipis muncul di bibir wanita paruh baya itu, tetapi matanya masih menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.“Ya,” balas Tasya lirih. “Untuk itu saya sangat berterima kasih. Namun tetap saja, sepertinya sebanyak apa pun kami meminta maaf dan berterima kasih, itu tetap tidak akan setimpal dengan apa yang terjadi pada Naomi.”Naomi hanya membalas dengan senyum tipis yang terasa canggung.Bagaimanapun juga, orang yang sedang meminta maaf kepadanya tidak tahu bahwa Naomi yang dibicarakan sedang duduk tepat di depannya.Keheningan kembali memenuhi meja makan.“Kenapa saya merasa Tante seperti orang yang berbeda dibanding saat hari pemakaman Lucy, bahkan dibanding saat kita bertemu di rumah sakit

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   213. Seperti Putri Sendiri

    Pisau di tangan Tasya berhenti tepat di tengah potongan wortel. Bahu Tasya sedikit menegang. Mata yang tadi tenang kini tampak berkaca-kaca.Tasya berbalik menatap Naomi sambil tersenyum. Senyum yang begitu tulus hingga membuat Naomi sedikit kehilangan kata-kata.“Tidak perlu,” jawab Tasya lembut. “Kecuali kamu mau istirahat, silakan pakai kamar depan.”Naomi berkedip. Reaksi itu sama sekali tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.Kalau ini terjadi sembilan tahun lalu, Tasya mungkin sudah menyerahkan sapu, pel, lap meja, dan daftar pekerjaan rumah lain sebelum Naomi sempat duduk.Namun sekarang? Wanita paruh baya itu justru mempersilahkannya beristirahat.“Kenapa kami diperlakukan berbeda?”Pertanyaan itu keluar begitu saja.Tasya terdiam.Sementara Naomi menggenggam sandaran kursi. Sebenarnya bukan itu yang ingin dia tanyakan.Yang ingin Naomi ketahui adalah kenapa Tasya berubah? Kenapa wanita

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   39. Paman Aveline yang Perhatian

    Nicolle berhenti mengunyah. Dia menatap Dante selama beberapa detik. “Tidak mungkin.” Nicolle meletakkan sendoknya. “Jangan merusak nafsu makanku, Dante. Lebih baik ceritakan padaku, bagaimana perjalananmu kali ini?” Nicolle tidak ingin menyentuh topik tentang Raiden

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   38. Jaraknya Sangat Tipis

    Sendok logam di tangan Nicolle beradu dengan kotak makan, menimbulkan suara yang cukup keras. Nicolle bahkan tidak berusaha menahannya. Dia menyendok nasi dan lauk dengan sedikit kasar, lalu memasukkan semuanya ke mulut dan mengunyah dengan cepat. Di seberang meja, D

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   36. Jam Istirahat

    Kartu ucapan itu masih berada di tangan Nicolle ketika wanita itu menoleh ke kanan. “Di boks makanan kamu, ada kartu ucapan seperti ini?” tanya Nicolle pelan, tidak mau menarik perhatian yang lain. Nicolle mengangkat sedikit kartu yang tadi dia temukan.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   35. Penggemar Rahasia atau Penggemar Berat?

    Nicolle spontan tersenyum tipis. Namun dia segera menghapusnya. “Dasar tidak tahu diri,” gumam Nicolle pelan. Dia meraih catatan itu, menggumpalkannya dalam genggaman, dan membuangnya ke tempat sampah di bawah meja. Kemudian Nicolle mengambil ponselnya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status